
Matahari telah menampakkan sinarnya. Seolah menyambut hari yang begitu menenangkan bagi jiwa.
Casy sedang berada di ruang keluarga bersama Naya. Nampaknya dua bulan telah terlewati begitu cepat.
Casy sudah menyelesaikan waktu belajarnya tentang ibadah dan syariah dalam dua bulan ini. Namun ia masih belum juga siap untuk menutup auratnya.
Naya mengerti dan memahami, jadilah ia tak akan meminta Casy dengan dengan pemaksaan.
"Cas, apa yang ingin kakak sampaikan ke kamu udah selesai dalam 6 bulan ini. Jadi untuk sisanya kamu belajar sendiri ya. Kakak gak akan bimbing kamu seperti kemarin. Mungkin kakak hanya memantau kamu aja, kalau suatu saat kamu ada yang kelupaan." Ucap Naya menjelaskan.
"Iya kak, seterusnya aku akan belajar sendiri nanti. Makasih ya kak selama ini udah bantuin aku." Jawab Casy pada Naya.
Naya tersenyum, "oh iya Cas. Masalah kamu yang tentang kakak kelas kamu itu nanti ya setelah kamu selesai ujian semester aja. Kakak gak mau fokus kamu terganggu." Ucap Naya memberi pengertian.
"Iya kak kapan pun aku siap kok." Tersenyum.
Memang sekitar dua Minggu lagi, Casy akan menghadapi ujian semester ganjil. Casy benar-benar harus fokus untuk membuat bangga kedua orangtuanya.
Dan selama kurang lebih enam bulan ini, Casy setiap hari belajar untuk memahami segala materi. Tak lupa juga ia selalu berdoa memohon kemudahan dalam memahami pelajaran kepada Allah.
Dan tak pernah lupa pula, Casy selalu mendoakan kedua orangtuanya. Sepertinya Casy sudah sangat siap menghadapi ujian semester ganjil ini. Dan membuat kedua orangtuanya bangga.
💐💐💐
Di belahan bumi lain, tepatnya di Belanda.
Seorang wanita paruh baya tengah menangisi anaknya yang terbujur kaku di dalam peti peristirahatan nya.
Menangis pilu, itulah yang hanya bisa dilakukan wanita paruh baya itu. Wanita itu tampak menjerit histeris menyesali dirinya yang terlalu mengekang anak semata wayangnya.
Yang akhirnya anaknya itu memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Orang-orang yang berada di sana pun ikut merasa sedih melihat wanita itu. Tak terkecuali seorang wanita yang kini duduk menggengam erat tangan suaminya.
Seolah menyalurkan kesedihannya dalam genggaman itu. Wanita yang tahun ini baru genap berusia 40 tahun.
Tak mampu menahan air matanya, ia pun memeluk suami yang tadi ia genggam tangannya.
Mengelus punggungnya, suami wanita itu tampak mencoba menenangkan dan seolah meyakinkah semua akan baik-baik saja.
Tangisannya semakin terisak. Takut menggangu orang-orang yang berada di sekitarnya, sang suami mengajak istrinya itu untuk keluar dari rumah tersebut.
Sampailah mereka di luar rumah keluarga berduka istrinya masih tampak menangis, terlihat masih enggan untuk mengeluarkan suaranya.
Akhirnya sang suami mengajaknya pulang ke rumah mereka. Menuntun sang istri untuk duduk, sang suami kembali menenangkannya.
Akhirnya sang istri pun membuka mulutnya dan berucap.
"Ayo pulang pa. Aku kangen sama Casy." Ungkapnya berderai air mata.
__ADS_1
Suaminya mengangguk dan mencoba menghubungi asistennya. Untuk mengatur kepulangan nya segera.
Ternyata mereka adalah Mama dan Papa Casy. Setelah melihat bagaimana penyesalan seorang ibu dengan kematian anaknya, hati mama seolah tersentuh.
Ia tak mau menyesal seperti ibu paruh baya tadi. Hatinya sakit kala mengingat perlakuan nya terhadap anak semata wayangnya.
Nampaknya Mama dan Papa Casy mendapat hidayah dari Allah. Tak akan pernah sia-sia seorang hamba yang berdoa dan memohon kepada-Nya.
Kini Allah mengabulkan doa Casy. Bukan karena Casy yang rajin beribadah, sehingga doanya dikabulkan. Namun karena Rahmat Allah begitu luas.
Dan karena Allah akan selalu mengabulkan doa-doa hamba yang memohon dan menyerahkan diri kepada-Nya.
Mama mencoba menghubungi telepon rumah. Diangkat lah oleh Bik Murti. Bik Murti menjelaskan bahwa Casy sedang menginap di rumah teman wanita. Tidak tinggal di rumah selama kurang lebih enam bulan.
mama semakin terisak mendengar penuturan Bik Murti. Di seberang sana, Bik Murti tidak menjelaskan bahwa Casy pernah pulang bersama teman-teman sekolahnya untuk mengerjakan tugas sekolah.
Casy sudah enam bulan tidak tinggal di rumah?. Kata Bik Murti menginap di rumah seorang teman wanita.
Siapa? Mama tau Casy tak memiliki teman sama sekali. Lalu teman yang mana? Apa Bik Murti bicara jujur? Apa Casy tidak berbohong?.
pikiran-pikiran negatif mulai menguasai mama. Mama takut Casy melakukan hal yang sama dengan anak wanita tadi. Tidak! Casy tidak akan melakukan itu.
Mama tidak akan sanggup hidup jika sampai itu terjadi.
"Bik di mana rumah temannya itu?. Dan kenapa bibi mengizinkannya?, kenapa tak bilang kepada saya?." Tanya mama menahan isakannya.
"Maaf Nyonya kata non Casy sudah diizinkan oleh Tuan. Jadi saya percaya Nyonya." Jelas Bik Murti takut-takut.
"Pa! papa di mana!?."
Teriaknya mencari Papa.
Papa pun muncul dari luar.
"Iya kenapa ma?." Jawab Papa dengan panik.
"Apa papa yang mengizinkan Casy untuk menginap di rumah temannya? teman yang mana pa?." Tanya mama tak sabar.
Papa menuntun mama untuk duduk dan menjelaskannya. Bahwa Casy menginap di rumah istri partner bisnisnya.
Awalnya mama tidak terima, tapi setelah dijelaskan nama partner kerjanya itu. Barulah mama lega dan percaya.
Waktu berlalu, nampak Mama dan Papa sudah siap akan pulang kembali ke Indonesia. Mama tak sabar menemui Casy.
💐💐💐
Kembali pada kehidupan Casy.
Seperti biasanya Casy pulang sendiri mengendarai mobilnya. Hari ini ia tidak kursus karena seminggu yang lalu adalah hari terakhir kursusnya.
__ADS_1
Dan nanti di semester genap barulah kursus nya akan dimulai kembali. Mengendarai mobilnya dengan pelan, Casy berhenti di toko buku.
Kebiasaan barunya sekarang adalah gemar membaca dan membeli buku. Kali ini ia membeli buku tentang hijab. Untuk semakin memantapkan hatinya.
Memasuki gerbang rumah Naya, Casy terheran melihat mobil terparkir di depan rumah Naya.
membuka pintu mobilnya, Casy melangkah menuju pintu utama yang terbuka. Casy yakin pasti ada tamu..pikirnya.
Melangkah pelan menuju pintu utama, langkahnya terhenti. bibirnya bergetar .
Lidahnya tampak kelu. Matanya berkaca-kaca.
Air matanya luruh dengan bebasnya dari pelupuk mata. Tubuhnya membeku, kala tubuhnya ditubruk oleh sosok wanita yang selama ini dirindukan nya.
Nyaman, itu yang ia dapat dalam dekapan MAMAnya. Wanita itu adalah Mama Casy.
"Maafkan mama Casy, maaf kan mama."
Mama terisak memeluk Casy.
Casy masih terdiam tanpa bersuara, namun tangannya membalas pelukan itu.
Ia pun ikut terisak.
"Casy kangen sama mama." Ucapnya dengan air mata.
Papa yang dari tadi hanya melihat, berjalan pelan ikut merangkul dua wanita berharga di depannya.
"Maafkan papa juga Casy." Ucap papa bersalah.
Casy pun memeluk keduanya.
Setelah drama tangis-tangisan berakhir, kini mereka sudah duduk kembali di sofa ruang tamu Naya.
Sebelum Casy datang, Naya sudah menceritakan semuanya pada mama dan papa. Mereka sangat berterima kasih pada Naya.
Bahkan mama meminta Naya untuk menganggapnya sebagai ibunya. Dan memanggil mereka dengan sebutan "mama" dan "papa".
Setelah selesai berbincang, akhirnya Casy memutuskan ikut pulang ke rumah bersama orangtuanya.
"Makasih ya kak selama ini udah bantuin aku. Aku bakal sering main ke sini buat ketemu sama Kakak dan Kiren." Casy nampak menitikkan air matanya di pelukan Naya.
"Iya Cas, pintu rumah Kakak selalu terbuka lebar buat kamu." Ucapnya tersenyum sambil melepas pelukannya.
Mereka pun berpamitan. mama pun juga ikut memeluk Naya.
"Mama pulang ya Nay. Maafin Casy yang udah ngerepotin kamu." Ucapnya merasa tak enak.
"Iya ma, Casy sama sekali gak ngerepotin Naya kok." Ucapnya tersenyum.
__ADS_1
NEXT.......