
Melihat Brandon yang keluar dari pintu utama, Casy pun mengikuti dari belakang. Terlihat Brandon duduk terdiam di bangku taman sendirian. Casy yakin, Brandon pasti marah pada dirinya.
Akhirnya ia mendekati Brandon dengan langkah pelan. "Kak" sapanya dengan lembut dan tersenyum, kala sudah tepat berada di depan Brandon.
Brandon yang disapa, tak merespon sedikit pun. Ia nampak diam dan mengabaikan Casy. Sedang Casy yang merasa diabaikan, memberanikan diri duduk di samping Brandon.
"Maaf Kak, soal kemarin yang menolak ketemu kakak" ucapnya merasa bersalah dengan menunduk.
Brandon menoleh pada Casy sekilas, dan tersenyum sinis. "Ehm" hanya deheman yang keluar dari Brandon.
"Kakak masih marah?" tanya Casy nampak kecewa menerima respon Brandon.
"Masuklah ke dalam. Kita belum halal, takut dosa kalau berdua-duaan." ucapnya datar mengusir Casy secara halus. Sebenarnya dia menyindir Casy, tepatnya.
Menghela nafas, Casy mencoba menahan gemuruh hatinya yang mulai terbawa emosi. "Lusa kita akan menikah kak, aneh kalau kita gak akur gini." Jelasnya mencoba memberi pengertian.
"Masuklah, aku akan pergi duluan. Ada urusan kantor yang harus aku selesaikan." Ucapnya dengan langsung bangkit berusaha menghindari Casy. Dia melangkah masuk ke dalam untuk berpamitan.
Memang ada sedikit masalah di kantornya, hal ini juga yang mempengaruhi kondisi emosionalnya. Apalagi besok ia sudah mulai mengambil cuti untuk pernikahan. Jadilah ia harus lembur malam ini.
Namun Casy yang tidak mengetahui permasalahannya, hanya bisa berfikir bahwa Brandon berusaha menghindarinya.
Selain karena ada masalah, sebenarnya Brandon memang sedang menghindari Casy atas insiden kemarin. Ia masih kecewa dengan Casy. Sebenarnya bisa saja ia bertanya agar semuanya jelas. Namum cemburunya yang terlalu tinggi, membuat ia beramsusi sendiri dan tak mau mendengar penjelasan apapun.
Tinggal menunggu sehari saja, Casy akan seutuhnya menjadi miliknya seorang. Saat waktu itu tiba Ia tidak perlu takut dan cemburu, karena Casy hanya miliknya.
Casy masih diam membeku di tempatnya. Ia tidak beranjak sama sekali. Dapat dilihatnya, Brandon keluar dari pintu utama rumahnya. Sepertinya Lelaki itu baru saja berpamitan untuk pulang duluan, lebih tepatnya kembali ke kantor.
Brandon melewati taman begitu saja, tanpa menoleh sedikitpun pada Casy yang masih diam di tempatnya. Casy merasa sedih atas sikap Brandon, haruskah sampai semarah itu hanya karena tak mau bertemu?.
Terdengar suara mobil Brandon meninggalkan area rumahnya. Mengetahui hal itu, mata Casy nampak berkaca-kaca. Ia kecewa dengan perlakuan Brandon ini. Tak pernah sekalipun Brandon seperti ini. Apa Brandon merasa menyesal akan menikahinya?, atau Brandon bosan dengan dirinya?.
__ADS_1
Otak Casy nampak dipenuhi pikiran-pikiran negatif. Meski ia ingin sekali menumpahkan air matanya, sebisa mungkin ia tahan. Dia pun memutuskan kembali masuk ke dalam.
Semua keluarga sudah kembali pulang, tinggal Casy dan Mama Papa. Casy kembali ke kamar dan memaksakan diri untuk tidur.
Pada pukul 03:00, ia terbangun karena alarm yang ia pasang. Segera mengambil air wudhu, ia melaksanakan shalat tahajud. Ia mengadukan segala kegundahan hatinya atas Brandon. Ia meminta solusi atas permasalahannya kepada Allah SWT.
💐💐💐
Hari ini, seperti rutinitas sehari-hari selama sebulan belakangan ini. Brandon nampak sedang menikmati sarapannya di meja makan bersama Carrel, Naya, dan Kiren.
Brandon akan libur bekerja untuk cuti pernikahan, selama seminggu. Tapi jika ada acara bulan madu, ia akan mengambil cuti sampai sebulan. Toh itu juga perusahaannya sendiri, sebebas dia mau libur berapa hari. Namun ia juga tak hisa melepas tanggung jawab begitu saja, kalau terlalu lama cuti.
Setelah pertemuan perjodohan waktu itu, Carrel memang meminta Brandon untuk tinggal bersamanya lagi sebelum benar-benar menikah dengan Casy dan menempati rumahnya sendiri. Agar mudah mengawasi hubungan Brandon dan Casy, pikir Carrel.
Carrel sudah berangkat ke kantor bersama Kiren untuk sekolah, sedangkan Brandon masih menikmati sarapannya. Naya yang dari kemarin curiga dengan Brandon dan Casy, akhirnya membuka suara. Jiwa kepekaannya tak dapat dibohongi.
"Bran, kamu sedang ada masalah sama Casy?." Tanya Naya to the point.
Setelah menetralkan keterkejutannya, Brandon mencoba berdusta. "Enggak kak, kami baik-baik aja kok." Dengan tersenyum ia menjawab Naya untuk meyakinkan.
Naya tak dapat dibohongi begitu saja, tapi dia tidak berhak ikut campur terlalu dalam. Baiklah, ia hanya akan memberi saran saja pada adiknya ini.
"Kakak cuma mau bilang, kalau ada masalah selesaikan berdua secara baik-baik dan dengan hati tenang. Jangan dengan emosi. Kalian harus belajar diskusi untuk menyelesaikan masalah, besok kalian udah sah jadi suami-istri. Kunci pernikahan itu KOMUNIKASI dan KEPERCAYAAN." Jelas Naya dengan menekankan dua kata itu.
Brandon mengangguk mengerti untuk mengiyakan nasehat Naya.
"Iya Kak, makasih Kak" ucapnya pada Naya.
Setelahnya Naya pergi ke rumah Casy. Jarak rumah mereka yang tidak jauh, memudahkan mereka untuk bertemu. Memang jika di rumah hanya ada Brandon dan dirinya, Naya kurang nyaman. Jadilah ia selalu mencari kesibukan di luar rumah.
Meski mereka tidak benar-benar berdua di rumah, karena ada art dan babysitter. Tapi Naya tetap kurang merasa nyaman.
__ADS_1
"Kak Naya?" Casy nampak terkejut melihat Naya di ruang keluarga bersama Mama.
"Hai Cas" ucapnya tersenyum kepada Casy.
"Perasaan baru tadi malem kakak ke sini, tumben udah ke sini lagi?" tanya Casy penasaran.
"Kamu kayak gak suka gitu kakak ke sini" Ucapnya sok-sokan ngambek.
Casy mendekat dan duduk di samping Naya, "gak gitu kak, biasanyakan kakak ke sini gak sering-sering. Ya aku penasaran aja." Jelas Casy memberi alasan.
"Iya iya, kakak emang ada perlu sama kamu" jawabnya terkekeh.
Seperti biasanya, Mama menyirami tanaman di pagi hari. Naya dan Casy mengobrol di pinggir kolam renang samping rumahnya.
Tak jauh berbeda dengan Brandon, Casy juga diberikan banyak nasehat dan petuah oleh Naya. Naya tak ingin ikut campur dengan urusan mereka. Naya yakin mereka sudah cukup dewasa untuk menyelesaikan masalah mereka.
Naya memberi banyak petuah seputar kehidupan rumah tangga. Rupanya tak hanya Naya yang memberikan petuah-petuah seperti itu, ternyata kemarin-kemarin Mama dan Papa juga sudah memberikan banyak nasehat dan petuah.
Dengan banyaknya petuah-petuah yang ia dapat dari para senior, membuat Casy menjadi sedikit gugup dan khawatir. Kehidupan rumah tangga seolah perjalanan yang perlu dijalani dengan berat dan sulit. Apakah ia mampu kelak menjalaninya sampai akhir?.
Namun Casy menepis semua rasa khawatir dan takutnya. Ia akan menjalani kehidupannya kedepan dengan sepenuh hati, supaya tak ada beban sama sekali.
Namun, ia kembali teringat sikap Brandon kemarin malam. Apakah ia bisa tenang dan biasa saja kalau Brandon sedang marah padanya?.
💐💐💐
Pada malam harinya, kini berganti Brandon yang mendapat petuah dari Carrel dan Naya. Brandon merasa pusing dengan banyaknya nasehat-nasehat yang seperti tata tertib. Namun Brandon akan berusaha melaksanakan nasehat-nasehat itu dengan baik kedepannya.
Setelahnya, mereka semua tidur. Menanti tibanya waktu besok, dimana ia akan menghalalkan Casy dan mensucikan ikatan diantara mereka. Di mana ia juga akan memiliki Casy sepenuhnya, seutuhnya.
NEXT.......
__ADS_1