
Keadaan mereka masih sama, saling berpelukan. Brandon tak henti-hentinya menenangkan Casy yang nampak masih gemetar ketakutan.
Setelah cukup lama, akhirnya Casy mulai tenang. Brandon melepaskan pelukannya perlahan, guna melihat wajah Casy. Direngkuhnya wajah Casy dengan tangannya.
"Kamu kenapa sampai takut kayak gini" tanya Brandon.
Brandon merasa penasaran. Ia ingin mendengar penjelasan langsung dari istri tercintanya ini. Mendengar pertanyaan dari suaminya, Casy kembali terisak.
Namun ia berusaha membuka mulutnya untuk menjelaskan.
"Tadi aku dihubungi nomor gak dikenal Kak" ucapnya terjeda, masih dengan isakan.
Brandon menatap lekat Casy, menunggu Casy menjelaskan kelanjutan ceritanya.
"Terus katanya dari pihak rumah sakit, hiks ... hiks ... katanya suami aku kecelakaan lalu dibawa ke rumah sakit." jelasnya terjeda lagi.
Brandon langsung menarik Casy dalam pelukannya lagi. Ia tahu bagaimana kegundahan hati Caya jika ada informasi seperti itu.
"Kamu tau Kak, rasanya dunia aku berhenti tadi waktu denger info itu." ucap Casy di dalam pelukan Brandon.
"Makanya kamu nangis kayak gini?" tanya Brandon. Dan dijawabi anggukan oleh Casy.
"Tapi kamu lihatkan? aku baik-baik aja Sayang. Jadi jangan sedih lagi." Ujar Brandon.
Sebenarnya Casy tadi memang dalam perjalanan menuju pulang. Ketika itu, tiba-tiba hujan turun dengan sangat lebat. Namun tiba-tiba ponsel Casy berdering, terpaksa ia menghentikan mobilnya dan menepi di jalan.
Ketika mendengar suara dari seberang sambungan telepon, dunia Casy terasa runtuh. Apa lagi saat pihak rumah sakit mengatakan bahwa pasien yang telah berusaha mereka tolong, harus pergi meninggalkan dunia ini.
Ketika mendengar itu, jantungnya seakan berhenti berdetak. Dunianya hancur dan runtuh. Ia seolah tak sanggup untuk bernafas. Casy menangis sejadi-jadinya, bahkan ia tidak kepikiran sama sekali untuk pergi ke rumah sakit memastikannya.
Ia menangis pilu dan tergugu. Ia menyesali sikapnya dua hari ini yang marah pada Brandon. Ia menyesal tadi pergi tanpa izin suaminya. Casy menyesali semua kesalahannya pada suami tercintanya itu.
Kini suaminya telah ... Casy tak sanggup meneruskan pemikirannya. Ia masih tidak percaya, bahkan ia tidak akan percaya. Suaminya akan selalu berada si sisinya. Casy tidak terima dengan kabar itu.
Ia tak sanggup bila harus benar-benar terjadi hal seperti itu. Tapi ini benar-benar pihak rumah sakit yang menghubunginya. Casy tak sanggup menahan kesedihannya bahkan ia hampir pingsan.
Namun di sela-sela keterpurukan itu, ponselnya berdering kembali. Ternyata dari nomor yang menghubungi ia tadi, pihak rumah sakit. Di seberang, seseorang itu mengatakan bahwa tadi salah nomor. Dia salah menempatkan satu angka dalam nomor itu.
Casy yang mendengarnya, tampak kelegaan dalam hatinya. Namun ia juga kesal, mengapa mereka bisa salah menghubungi seseorang. Ia ingin marah, namun ingatannya seolah melarangnya untuk melakukan itu.
Ia yakin, semua hal di dunia ini terjadi atas kehendak-Nya. Sepertinya Allah ingin mengingatkan Casy seberapa penting dan berharganya Brandon untuknya. Casy juga sudah berbuat salah pada suaminya itu.
__ADS_1
Kini genahan air mata yang belum sempat kering, kembali lagi mengalir. Kini bukan airmata kesedihan, melainkan airmata penyesalan. Ia menyesal mengabaikan Brandon. Ia tidak akan sanggup jika hal buruk itu benar-benar terjadi pada suaminya.
Ia sangat merindukan Brandon sekarang, detik ini juga ia ingin memeluknya dengan erat. Ia benar-benar menyesal telah menyakiti Brandon.
Maaf
kata itu terus terucap dalam hatinya.
"Ternyata salah sambung tadi Kak. Aku benar-benar syok, aku gak sanggup kalau itu beneran terjadi. Aku gak mau kehilangan Kakak hiks hiks." jelasnya sambil menangis.
Brandon mengeratkan pelukannya.
"Kamu gak akan kehilangan aku Sayang."
"Tapi tadi aku hubungi kamu gak bisa Sayang. Aku pikir habis baterai." tanyanya.
"Ia Kak, memang handphone aku habis baterainya. Jadi aku bawa handphone dari kantor." Jelasnya.
Casy terdiam sejenak, kemudian ia mendongak menatap Brandon lekat.
"Kak, maafin aku ya udah marah sama kamu. Tadi gak izin juga sama kamu. Terus kemarin juga ngabaiin kamu." Ucapnya tulus.
"Aku udah maafin kamu Sayang. Mana bisa aku marah sama kamu."
"Aku juga minta maaf masalah kemarin, maafin aku ya". lanjutnya.
Casy mengeratkan pelukannya, merebahkan kepalanya pada Brandon.
"Aku juga udah maafin Kakak. Kemarin aku cuma sebel aja karena Kakak udah buat aku sedih. Tapi sekarang aku gak kesel lagi."
Mereka menikmati waktu berdua dan berpelukan cukup lama. Hujan lebat di luar, seakan menjadi pengiring kebahagiaan mereka.
"Ya udah, pulang yuk." Ajak Brandon.
"Kita sendiri2?. Aku maunya satu mobil aja Kak." Ujar Casy.
"Kita akan satu mobil, Sayang. Nanti biar mobil aku di ambil temen aku. Tadi emang udah aku rencanain gitu." Jelasnya.
Casy masih belum paham, ia menatap Brandon dengan menaikkan sebelah alisnya. Menyadari tatapan bingung Casy, Brandon berucap.
"Dia mau minjem mobil aku." Terang Brandon. Casy menanggapnya dengan ber o ria.
__ADS_1
Akhirnya mereka pulang semobil menggunakan mobil yang dikendarai Casy.
💐💐💐
Sesampainya di rumah, mereka disambut Papa dan Mama yang nampak khawatir.
Mama memeluk Casy, menunjukkan bahwa ia benar-benar khawatir pada anak semata wayangnya itu. Mama ingin mengintrogasi apa yang sebenarnya terjadi, namun Papa melarangnya.
"Ma, biarkan Brandon dan Casy bersih-bersih diri dulu. Casy pasti lelah karena kerja seharian" Ujar Papa.
Mama pasrah saja.
"Ya udah, kalian masuk ganti baju dulu."
Mereka menganguk dan bergegas menuju kamar. Sama-sama membersihkan diri bergantian. Setelahnya mereka menemui Mama dan Papa di ruang keluarga.
"Kamu udah makan Sayang?" tanya Mama pada Casy.
"Belum Ma, nanti aja." jawabnya. Mama mengangguk menanggapinya.
Akhirnya mereka berbincang-bincang tentang kejadian tadi. Mereka tampak agak terkejut juga ikut sedih. Tapi juga lucu mendengar cerita Casy.
Setelahnya, mereka memutuskan untuk segera tidur. Brandon dan Casy pergi ke kamar mereka. Mereka merebahkan diri di ranjang. Casy melepaskan jilbabnya, kebiasaan Casy tak akan melepas hijab kecuali di dalam kamarnya saja.
Ia meletakkan ponselnya di nakas samping tempat tidur, posisinya kini membelakangi Brandon. Tiba-tiba, terasa tubuhnya direngkuh oleh sebuah tangan. Siapa lagi kalau bukan suaminya.
"Ada apa Kak?." Tanyanya. Tak biasanya Brandon seperti ini.
Masih memeluk Casy yang berada di depannya, Brandon berbisik tepat di telinga istrinya.
"Sayang ... " panggilnya.
"Apa Kak?" tanya Casy lagi.
"Aku kangen sama kamu" ucap Brandon berbisik di telinga Casy.
Casy agak terkejut mendengarnya. Namun ini adalah kewajibannya. Ia paham apa yang dimaksudkan Brandon. Jadilah ia mengangguk menanggapinya.
Brandon tampak tersenyum dan berbinar. Dan terjadilah hal yang seharusnya terjadi. Menjalankan kewajiban yang bernilai pahala bagi pasangan halal. Dan bernilai DOSA bagi para PEZINA, yang tidak memiliki ikatan yang suci.
NEXT .......
__ADS_1