
Waktu berlalu begitu cepat, tanpa terasa perjuangan Arzan membuktikan perasaannya kepada telah berjalan cukup lama.
Selama ini Arzan selalu memperlakukan Cya dengan baik dan terkesan romantis. Seperti menjemput Cya, berlaku baik pada Vino sahabat baik Cya dan tidak mencoba memaksakan kehendaknya pada Cya, serta hal-hal lainnya yang mampu membuat Cya percaya bahwa perasaannya sungguhlah benar.
Ia berusaha sabar menghadapi kedekatan Cya dan Vino yang katanya sahabat. Namun Arzan tidak dapat membohongi dirinya bahwa ia merasa cemburu setiap Cya dekat dengan pria manapun termasuk Vino.
Terlebih ia mengetahui dengan pasti, bahwa pria yang mengaku sahabat gadis pujaannya itu memiliki rasa kepada Cya. Arzan dapat melihat jelas perasaan itu melalui sikap dan tatapan Vino pada Cya.
Meski berulang kali Arzan meminta Cya untuk mengerti dan memahami posisinya yang merasa cemburu. Namun Cya seolah tidk menghiraukan keluhannya itu. Cya menganggap itu hanyalah alasan Arzan saja.
Seperti hari ini, Arzan dan Cya memiliki janji makan malam bersama. Namun tiba-tiba Cya membatalkannya dengan alasan Vino yang tengah masuk rumah sakit. Padahal Arzan yakin itu hanyalah akal-akalan Vino untuk menggagalkan rencana mereka.
Arzan sangat tahu akan hal itu, karena sebelumnya Vino telah menemuinya dan memperingati dirinya. Jika ia hanya ingin bermain-main dengan Cya, maka Vino yang akan ia hadapi.
Arzan tidak menganggap ancaman Vino itu sama sekali. Menurutnya Vino hanya ingin memancing emosinya saja demi mencari perhatian Cya supaya perlahan membencinya.
__ADS_1
Karena ancamannya ia acuhkan, akhirnya inilah yang Vino lakukan. Mencoba segala macam cara untuk menggagalkan rencana-rencananya bersama Cya.
Semua ini Vino lakukan untuk memancing emosi Arzan. Pada akhirnya Arzan akan mencari keributan dan itu akan menjadi senjata bagi Vino menjauhkan Cya dari dirinya. Dengan begitu Vino dapat mendekati Cya dan mendapatkan.
"Jadi lo lebih memilih orang yang lo anggap sahabat itu daripada gue?" tanya Arzan yang mulai muak dengan sikap Cya.
Setelah semalam Cya membatalkan acara mereka, kini Arzan mencoba mengajak Cya berbicara dari hati ke hati. Menyusuri sampai mana perasaan Cya yang sebenarnya kepada dirinya.
Meski sebelumnya ia memiliki kesalahan dengan menolak Cya, tapi kini ia telah bersungguh-sungguh menyesalinya. Kini ia ingin memperbaiki itu dan menjalin hubungan serius dengan Cya tanpa harus saling menyakiti lagi.
Namun jika Cya terus-menerus seperti ini, apakah ia harus tetap berjuang demi cintanya untuk Cya. Apalagi selalu ada sahabat Cya yang akan selalu mengganggu waktu mereka berdua.
Cya yang seolah disudutkan oleh Arzan menjadi terbawa emosi. Apalagi Arzan menyebut-nyebut nama sahabatnya yang tidak tahu apa-apa, menurutnya. Terlebih tadi malam, Vino memang benar masuk rumah sakit karena sakit.
"Az, apa lo enggak bisa bersikap lebih dewasa? Vino itu sahabat gue. Saat gue terluka karena lo dimasa lalu, dia yang hadir membantu membalut luka itu. Sekarang lo mau nyalahin dia cuma karena acara makan malam kita yang gagal Az?. Padahal itu bisa kita ulang berkali-kali. Jangan egois Az!." Cecar Cya nampak terbawa emosi.
__ADS_1
Arzan tertegun mendengar semua perkataan Cya. Ia mengaku bersalah atas semua kesalahannya dahulu. Namun kini, apa ia juga patut disalahkan jika menuntut perhatian Cya untuk dirinya seorang.
Ya, mungkin dirinya yang terlalu egois. Maka ia akan mulai memperbaikinya, ia akan mengakui kesalahannya dan mengalah pada Cya.
"Maaf, karena gue egois" ujar Arzan dengan lirih.
Arzan mendekati Cya dan mencium keningnya dengan sayang. Kehangatan menjalar di hati Cya.
"Nanti pulangnya tunggu gue di mobil ya" ujar Arzan tersenyum, tepatnya senyum yang dipaksakan.
Kemudian ia berlalu pergi meninggalkan Cya membawa kecewa karena keegoisan Cya. Namun ia sadar dan mencoba memahami, mungkin memang dirinya yang terlalu egois hanya ingin dimengerti.
Cya hanya mampu diam membeku dengan semua perkataan dan tindakan Arzan. Entah mengapa ia merasa pedih dan sakit pada dadanya.
NEXT .......
__ADS_1