Our Journey

Our Journey
Penyebab


__ADS_3

Masih tetap sama dengan suasana hening yang mencekam. Hingga tak terasa mereka telah sampai di rumah. Tanpa berkata apapun, Casy segera membuka pintu mobil dan bergegas untuk masuk ke rumah. Ia benar-benar tidak ingin melihat Brandon untuk saat ini.


Mirta pun segera menyusul Casy masuk ke dalam rumah. Kini tertinggal Brandon sendiri di dalam mobil.


"Saya duluan Tuan, menyusul Nyonya" pamitnya pada Brandon yang diangguki olehnya.


Brandon terdiam menatap nanar pada Casy yang mulai menghilang di balik pintu. Ia benar-benar menyesali ketidakingatannya untuk mengabari Casy. Mungkin dia memang salah kali ini. Namun, sepertinya Casy jauh lebih sensitif dibandingkan sebelum-sebelumnya.


Jika dulu, ada hal yang mengusik hatinya yang hal itu berhubungan dengan Brandon. Casy tak segan-segan mengomel dan menceramahinya. Namun kali ini, Casy tak mengeluarkan satu katapun untuk memarahinya. Hanya tadi, sekalimat pertanyaan yang diajukan oleh Casy.


Brandon masih diam membisu di dalam mobilnya. Ia sedang memikirkan kesalahannya, penyesalannya, dan cara meminta maaf pada istrinya. Ia benar-benar bingung kali ini, karena tadi ia benar-benar tak bermaksud melakukan hal itu. Jadi kini ia bingung harus memulai dari mana.

__ADS_1


Setelah cukup lama berfikir, akhirnya Brandon juga ikut menyusul masuk ke dalam rumah. Ia mencari keberadaan Casy yang tak ditemuinya di kamar.


"Mirta, kamu tau istri saya di mana?" tanya Brandon kepada Mirta yang sedang menyusun sayuran di kulkas.


"Tadi sepertinya ke halaman belakang Tuan." Jawabnya, ia memang sempat melihat Casy berjalan ke belakang tadi.


Tanpa berlama-lama, Brandon segera menyusul Casy dan mencarinya di taman belakang. Dapat dilihatnya punggung istrinya itu dari arah belakang. Casy nampak diam, sepertinya tidak menangis. Ini juga akan membuat Brandon bingung, biasanya Casy akan menangis bila sedang marah padanya. Namun kali ini, sangatlah berbeda.


Brandon mendekati Casy. Ia ulurkan tangannya untuk memeluk Casy. Casy hanya mematung, tidak protes ataupun menanggapi. Brandon semakin mengeratkan pelukannya kala tidak mendapatkan penolakan.


"Sayang aku minta maaf. Aku beneran gak bermaksud gak kabarin kamu tadi." Ujarnya pada Casy.

__ADS_1


Casy masih tampak diam, tidak menjawab apapun atas penuturan Brandon.


"Tadi aku dan mereka sedang mengerjakan tugas di kafe. Karena memang kami merasa lapar, jadi sekalian makan siang Sayang. Aku beneran gak bermaksud untuk makan siang sama Rachel. Tapi karena dia satu kelompok, jadi sekalian makan bersama aku dan Marcho." Jelasnya berusaha meyakinkan Casy.


"Lagipula, Rachel itu lagi dekat sama Marcho. Setelah lulus mereka akan berencana menikah Sayang. Jadi, kamu jangan cemburu lagi ya. Aku hanya cinta sama kamu, dan Marcho yang cinta sama Rachel." Lanjutnya menjelaskan pada Casy. Ia benar-benar ingin Casy percaya padanya.


Setelah lama dengan keterdiamannya, akhirnya Casy membuka suaranya.


"Aku percaya sama Kakak. Tapi yang buat aku kecewa, kenapa Kakak gak kabarin aku kalau makan ada perempuannya juga?. Terus Kakak bilang, Kakak lupa terus gak sempet. Jadi seenggak penting itu ya aku buat Kakak, sampai Kakak lupa sama aku waktu sama temen-temen Kakak." Ungkapnya dengan terisak di ujung kalimatnya.


Brandon sesak mendengarnya. Ia benar-benar tak menyangka Casy akan berfikiran seperti itu. Ia sama sekali tak berniat untuk lupa pada Casy. Ia ingat selalu pada Casy. Tak untuk mengabari makan siang, karena tadi mereka mengerjakan tugas jadi ia merasa ini masih bagian urusan kuliah. Ia pikir hal-hal tentang kuliah tak perlu membebani Casy.

__ADS_1


NEXT .......


__ADS_2