
Brandon tersenyum, dengan yakin menjawab "siap kak..!"
mereka pun tertawa..
💐💐💐
Keesokan harinya...
Pagi sekali kedua orangtua Casy berangkat ke Belanda sesuai rencana mereka kemarin. Kini malam pun tiba..
"Kak jalan yuk, bosen gue di rumah."
Ajak Casy via telepon. Casy ingin menceritakan kejadian kemarin untuk mengurangi beban pikirannya pada Brandon, satu-satunya orang yang ia percayai.
Casy segera bersiap-siap setelah mendapat jawaban iya dari Brandon dan mengakhiri panggilannya.
Dengan hati berbunga-bunga Casy duduk sambil menunggu kedatangan Brandon. Entah rasanya dia sangat rindu dengan lelaki yang dia panggil dengan kakak itu.
Nampak Brandon berjalan menuju meja tempat duduknya, Casy menyambutnya dengan senyum merekah di bibirnya.
Brandon pun membalas senyuman Casy dengan tersenyum juga. Namun nampak kekhawatiran dalam raut wajah tampannya.
Casy menegakkan tubuhnya untuk berdiri, ketika dilihatnya Brandon hampir sampai di meja tempatnya.
Kemudian berjalan selangkah dan merentangkan tangannya untuk memeluk Brandon yang sudah berada tepat di depannya dengan senyum terpatri di wajahnya.
Namun senyuman itu memudar kala Brandon menepis tangannya, tidak kasar bahkan sangat lembut. Seolah berusaha tak melukai Casy.
Casy terheran dengan sikap Brandon yang seolah berubah dengan menolak pelukannya. Namun dia masih berfikir positif, mungkin Brandon sedang malu dipeluk di depan umum.
Akhirnya dengan menunjukkan senyumnya kembali, Casy menyapa Brandon. "Malam kak." Sapanya dengan menampilkan senyum manis.
Casy seolah hanya memiliki Brandon yang sangat menyayangi nya di dunia ini. Memang faktanya begitukan. Hingga dia sangat bahagia sekarang bisa bertemu lelaki ini.
Dan dengan penuh semangat dia akan mencurahkan kesedihannya akibat kejadian kemarin. Casy dapat membayangkan lelaki ini akan memeluk dan menenangkannya ketika dirinya nanti tak dapat menahan air matanya.
Hanya dengan membayangkannya saja, rasanya Casy sangat bahagia.
"Malam." Jawab Brandon singkat dengan tersenyum juga.
"Kak, gue mau cerita kemarin..."
Casy ingin memulai bercerita, namun terpotong oleh Brandon.
"Ada hal penting yang harus kita bicarain." Ucapnya dengan wajah serius menatap Casy.
__ADS_1
Melihat ekspresi Brandon yang tampak serius, Casy mulai khawatir dan perasaannya tak enak.
"Apa kak?." Tanyanya menatap lekat wajah Brandon masih dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.
Mengambil nafas panjang, Brandon mencoba untuk bicara.
"Kita gak bisa dekat-dekat lagi seperti kemarin."
Ucapnya dengan hati-hati untuk membuat gadis di depannya ini mengerti.
Senyuman manis yang terpatri pada bibir Casy kini berubah menjadi senyuman miris. Satu-satunya orang yang peduli padanya, kini juga akan pergi darinya.
"Kenapa? karena kak Carrel?." tanyanya menebak.
Brandon hanya mengangguk mengiyakan.
"Apa kita gak bisa via telepon kak?" Casy masih berharap Brandon bisa selalu ada di sisinya.
Brandon menggeleng, "Kak Carrel akan ngawasin gue. Seperti yang gue bilang kemarin." Sebenarnya tak tega melihat wajah Casy yang berubah jadi sedih itu. Namun apalah daya, Brandon tak ingin membuka pintu maksiat dan memberi harapan ke Casy.
Dengan memaksakan senyum dibibirnya.
"Iya gak papa kak, Kak Carrel ngelakuin itu pasti demi kebaikan Lo juga. Gue bakal selalu dukung Lo." Sesak dadanya mengatakan itu, dia tidak akan baik-baik saja ditinggal Brandon.
"Maafin gue ya." Brandon merasa sakit melihat Casy yang berusaha tegar. Dia tau bagaimana Casy. Waktu setahun sudah cukup membuat Brandon paham ekspresi apapun yang ditunjukkan oleh gadis itu. Padahal saat ini dia pasti sangat terluka, tapi mencoba menutupi dengan senyuman manisnya itu.
"Lo gak salah kok kak, emang takdirnya harus kayak gini." Senyum itu tak pernah surut dari bibirnya.
"Boleh gue peluk Lo untuk yang terakhir kali kak?." Tanyanya penuh harap.
"Maaf Cas, gue gak bisa. Kita bukan muhrim." Ucap Brandon sendu.
"gue pengen banget sebenarnya Cas, tapi gue takut nanti kita malah semakin saling mengharapkan. Gue gak mau kasih harapan palsu sama lo. Gue juga belum tau apa nanti bisa halalin Lo, gue gak mau minta Lo nunggu gue. Pasti akan lebih menyakitkan buat lo. Maafin gue Cas." Batin Brandon.
Casy tersenyum lagi, "iya kak gak papa, maaf ya gue lancang tadi."
Diam sejenak..
"Ya udah kak, gue pulang duluan ya soalnya mama papa gue pulang malem ini. Gue takut kena omel. Mereka galak." Canda Casy dengan tersenyum, menutupi kekecewaannya.
Perih, itu yang dirasakan Brandon. Dia tau Casy sudah tak tahan berhadapan dengannya. "Iya, gue juga mau pulang."
"Bay kak." Melambaikan tangannya.
Casy melangkah meninggalkan Brandon.
__ADS_1
Baru 2 langkah, runtuh sudah pertahannya. Airmata yang ditahannya tak dapat dibendung lagi. Justru semakin deras mengalir di pipinya.
Membuka pintu mobil, dengan lemas Casy memasukkan tubuhnya yang bergetar. Menangis pilu di dalam mobil sendirian.
"Harusnya dari awal Lo gak masuk ke hidup gue kak. Gue sadar diri Lo superstar, gak akan layak deket sama gue yang seperti sampah. Gue urakan, berantakan, pemalas, dan bodoh. Apa benar cuma karena kita bukan mukrim kak? kalaupun iya apa harus sampai segitunya? Atau karena keluarga Lo gak suka Lo temenan sama gue yang gak jelas ini?. Lo bilang sayang sama gue? Lo bilang gak akan ninggalin gue? Lo bohong kak, Lo pendusta. Lo jahat!!!". Batinnya meronta.
Sedangkan Brandon masih diam terpaku di tempatnya. Dia tau Casy menangis dalam langkahnya, terlihat dari pundaknya yang bergetar. Brandon menunduk, mengusap cairan bening yang membasahi sudut matanya.
Ingin dia memeluk gadis itu sekarang. Mengatakan padanya bahwa semua akan baik-baik saja. Meski berjauhan dia akan selalu mendoakanya dan menyebut namanya dalam doa. Namun semua itu tak mungkin dia lakukan, karena akan lebih memberi harapan pada gadisnya.
💐💐💐
Sampailah Casy di rumahnya. Dengan mata sembabnya ia merebahkan diri di ranjang empuknya. Mencoba untuk tidur namun air mata itu tak kunjung berhenti mengalir dari matanya.
Setelah sekian lama tak pernah menangis pilu, kini Casy harus mengalaminya lagi. Jika dulu karena orang tuanya, kini karena orang yang terukir namanya dalam hati. Bahkan ini lebih pilu, di saat seperti ini dan mengingat kedua orangtuanya, hatinya serasa tercabik-cabik.
Ingin rasanya Casy menghentikan waktu sejenak untuk menenangkan batinnya yang lelah untuk mengarungi lautan kepedihan.
Setelah setahun hatinya sempat tenang oleh kehadiran Brandon, kini semuanya sirna. Seolah tak ada harapan lagi. Casy ingin perjalanan hidupnya ditutup detik ini juga. Tak ingin melanjutkan perjalanan luka yang menyayat jiwa ini.
"Tuhan, aku tak sanggup!."
💐💐💐
Sementara Brandon sampai di rumah.
"gimana, sudah?." Tanya Carrel menyambut adiknya.
Brandon langsung menubruk tubuh kakaknya dan memeluknya. Menitikkan airmatanya, Brandon menjawab pertanyaan kakaknya.
"Aku tak tega melihat dia menangis kak." Adunya.
Hubungan mereka yang begitu dekat, membuat mereka tak canggung untuk saling berbagi pelukan ataupun tangisan, serta masalah pula. Brandon yang sejak kecil bersama kakaknya saja, menjadikan Carrel tumpuan ketika dia sedang bersedih. Lain dengan Casy yang tak memiliki siapapun untuk berbagi.
"Terus kamu gak jadi tadi?." Tanya Carrel penasaran.
"Aku gak mungkin kayak gini kalau gak jadi kak." Terangnya dengan malas.
Carrel hanya tertawa kecil, dan menepuk-nepuk pundak adiknya itu.
"Sudahkan berarti. Ya udah, ini keputusan yang tepat. Segala hal yang kita tinggalkan karena Allah pasti akhirnya akan bahagia. Kamu percayakan?." Nasehat Carrel.
Brandon hanya mengangguk.
NEXT.......
__ADS_1