Our Journey

Our Journey
Berubah


__ADS_3

Gak papa dong Cas, lagian pintar kalau gak diamalin buat apa." Ucap nya menyangga.


"Iya sih." Ucapnya terkekeh.


💐💐💐


Semalam Casy sudah menentukan jadwal privatnya. Awalnya Casy berencana privat di rumah dengan mengundang pengajarnya. Tapi rencananya gagal, karena akan ribet mengatur waktunya.


Akhirnya ia memilih datang ke tempat kursusnya setelah pulang sekolah. Meski harus pulang malam, tak apa asalkan karena hal yang bermanfaat.


Casy mengambil 5 hari kursus dalam seminggu. Kecuali hari Sabtu dan Minggu. Karena ia ingin 2 hari itu full time bersama kak Naya dan Kiren. Serta untuk me time tentunya.


Hari ini adalah hari sabtu, berarti sekolah Casy sedang cuti. Casy belum mengikuti kursus, karena dia akan mulai lusa tepatnya di hari Senin.


Seminggu menjalani rutinitas sebagai murid kelas XI, Casy berusaha menjadi murid rajin & teladan. Setiap hari dia akan belajar dan mengulang materi yang telah dipelajari di sekolah.


Sudah seminggu menjalani rutinitas seperti itu, Casy nampaknya tidak bosan atau mungkin belum karena masih satu Minggu. Entahlah...


Naya pun ikut serta dalam kegiatan baru Casy itu. Naya akan membantu Casy menjelaskan materi yang sekiranya Naya mengerti. Naya pun membantu Casy mengatur jadwal kegiatan & belajar Casy sehari-hari.


Seperti rencana Naya sebelumnya, Naya ingin di hari Sabtu dan Minggu mengajak Casy belajar ilmu agama lebih banyak. Kali ini dia akan mengajak Casy belajar tentang Akidah.


Dengan mengajak serta Kiren, Naya memasuki perpustakaan yang berada di rumahnya bersama Casy.


"Wah, banyak banget kak bukunya." Ucapnya nampak takjub.


"Namanya perpustakaan Cas." Jawabnya tersenyum sambil menggeleng, heran dengan ucapan Casy itu.


Naya dan Casy mendekat ke arah jajaran buku-buku islami. Duduklah mereka di sofa dekat mereka.


"Ini Cas kamu baca aja buku ini. Kalau ada yang kurang paham nanti tanya aja sama kakak. Kalau kakak juga gak tau, nanti biar kakak tanya sama ustadzah kakak." Sembari memberikan sebuah buku berjudul "Akidah Islam".


"Iya kak." Sembari menerima buku dari Naya.


Casy pun mulai membaca buku itu. Saat ada hal yang kurang dimengerti, Casy tak sungkan bertanya pada Naya.


Terlihatlah Naya menjelaskan pemahaman tentang akidah kepada Casy.


Casy pun nampak antusias menerima penjelasan Naya.


Kiren, si bocah kecil itu pun turut serta memperhatikan mereka berdua. Entah Mengerti atau tidak, tapi Kiren tetap mendengarkannya.


Akidah merupakan kepercayaan dan keyakinan kepada Allah. Akidah adalah landasan terpenting yang harus di miliki seorang mukmin. Dengan Akidah, seseorang akan selalu mengingat Allah dan tidak khawatir akan kehidupannya di dunia ini. Dengan akidah juga, seseorang akan semangat dalam beribadah dan menjalankan syariat agama Islam.

__ADS_1


Setelah menerima sedikit materi tentang akidah, nampaknya Casy mulai tersentuh dan kembali tersadar. Seharusnya selama ini dirinya yakin bahwa segala yang terjadi di dunia ini adalah kehendak-Nya.


Casy harusnya hanya selalu berharap dan bergantung kepada-Nya. Casy menyesali tindakannya kemarin yang ingin mengakhiri hidupnya.


Casy sadar sekarang, ia tak perlu lagi khawatir apa pun yang terjadi pada dirinya. Asalkan bisa selalu dekat dengan Allah, Casy yakin pasti hidupnya akan selalu baik-baik saja.


Tentang kedua orangtuanya, Casy akan menyerahkan segala urusannya kepada Allah.


Casy akan selalu mendoakan mereka agar mau kembali menyayanginya. Casy akan berdoa agar Allah memberi hidayah pada kedua orangtuanya itu.


💐💐💐


Hari pun berlalu, Minggu pun demikian. Sudah dua bulan berlalu sejak hari pertama Casy masuk sekolah. Selama dua bulan ini, Naya masih mengajak Casy untuk belajar tentang Akidah.


Tak hanya di hari Sabtu dan Minggu, Casy juga akan membaca buku-buku yang Naya berikan setiap hari. Karena tak hanya satu buku, tapi setumpuk buku yang Naya berikan padanya.


Dan kian hari, Casy juga semakin yakin kepada Allah SWT. Kini dia tak lagi khawatir pada sesuatu, meski terkadang masih ada kegelisahan.


Tapi itu wajar, karena sebenarnya akidah tak cukup jika dipahami hanya dalam waktu 2 bulan. Untuk mencapai akidah/iman tingkat tertinggi haruslah di barengi dengan ibadah dan akhlak yang baik.


Serta tak cukup dengan waktu singkat, butuh waktu bertahun-tahun untuk mencapai tingkat akidah tertinggi itu sendiri.


Casy juga tak lupa selalu mendoakan kedua orangtuanya. Dan tentang masalah Brandon, Casy sudah mulai lupa. Meski masih mengganjal.


Entah apa maksud kak Naya menunggu cukup waktu, tapi Casy hanya bisa menuruti nya.


Casy juga sudah mengikuti kursusnya. Selama dua bulan ini pun dia berhasil mendapat nilai-nilai yang baik pada ulangan hariannya. Prestasi nya pun mulai meningkat.


Tak hanya itu, Meta dan Rino beserta dirinya juga sering kerja kelompok dan belajar bersama-sama. Terkadang di rumah Meta, di rumah Rino, dan juga di rumahnya.


Tapi tidak untuk di rumah Naya, karena Casy merasa tidak enak merepotkan kakaknya itu jika membawa tamu ke rumahnya.


Mereka bertiga juga sering pergi bersama jalan-jalan, sekedar ke mall atau hang out. Kian hari mereka juga semakin akrab. Sepertinya sekarang mereka layak disebut sahabat.


Sekarang tibalah saatnya Naya akan mengajak Casy belajar tentang akhlak. Naya yakin Casy gadis yang pintar, jadi waktu 2 bulan ke depan akan cukup untuk menyelesaikan pemahaman ini.


Lagi pula Casy juga gadis yang baik, jadi tampak tak sulit untuk mengajarkan akhlak padanya.


Naya sebenarnya tak teramat pandai tentang agama. Dia tak sepintar ustadzah atau ustadz dalam urusan agama. Namun dia hanya ingin mengajarkan sedikit pengetahuan agama yang di ketahuinya pada Casy.


Naya pun juga sama masih dalam proses belajar. Meski sejak remaja dia dibubuhi hal-hal berbau agama oleh orangtuanya, tapi Naya masih merasa perlu banyak belajar.


Makanya dia juga selalu ikut membaca buku di perpustakaan nya itu. Dan setiap ada kajian dia akan ikut dan mengajak Casy serta. Terkadang Naya juga akan mengunjungi ustadzahnya yang selama ini membimbing nya.

__ADS_1


Duduklah mereka di perpustakaan rumah Naya. Naya memberikan setumpuk buku tentang kisah-kisah para rosul dan para sahabat untuk meneladani akhlak mereka. Serta buku-buku panduan aklak mulia.


Tak lupa Naya pun juga ikut membaca buku-buku yang lainnya. Yang sesuai dengan minat dan kebutuhan nya.


Membaca dengan jeli, Casy terdiam sejenak dan berfikir.


"Wajar ya kak, kalau selama ini hidup aku berantakan banget. Aku aja durhaka sama orangtua." Ucapnya nampak menyesal.


"Ya udah itu kan masa lalu. Sekarang kamu udah tau kalau salah. Jadi jangan di ulangi lagi. Seburuk apa pun orangtua kita, kewajiban kita untuk selalu menghormati dan menyayangi mereka." Terang Naya menenangkan Casy yang nampak sedih.


Casy mengangguk mengiyakan.


💐💐💐


Seminggu setelahnya...


Hari ini hari Rabu, Casy berangkat sekolah seperti biasanya membawa mobil sendiri. Tibalah diparkiran ia turun dari mobil.


Berjalan santai, nampak dari kejauhan seorang guru wanita kesulitan membawa setumpuk buku di tangannya. Nampaknya guru nya itu datang dari perpustakaan.


Berlari kecil, Casy menghampiri Bu guru itu.


"Assalamualaikum Bu, boleh saya bantu Bu?." Tanyanya menawarkan diri.


"Wallaikumsalam. Oh iya Cas, ini tolong Ibu ya. Ibu kesulitan." Jawabnya jujur.


Casy pun menerima buku yang diberikan Bu guru. Mengikuti langkah Ibu guru pelan menuju ke kantor.


"Makasih ya Cas udah bantuin Ibu." Ucapnya tulus.


"Iya Bu, sama-sama." Jawabnya tersenyum.


"Kamu banyak berubah sekarang. Nilai-nilai Matematika kamu juga mendekati sempurna. Pasti orangtua kamu bangga sama kamu." Pujinya.


Rupanya Bu guru itu adalah guru matematika.


"Ibu bisa aja." Jawabnya tampak tersipu.


"Ya udah Bu, saya permisi Bu. Assalamualaikum." Pamitnya


Dengan Anggukan Bu guru itu menjawab.


"Walaikumsallam."

__ADS_1


NEXT.......


__ADS_2