Our Journey

Our Journey
Bimbang


__ADS_3

"Ya ampun Nona. Jadi gadis remaja yang waktu itu adalah anda. Maaf saya kurang mengenali. Sekarang anda lebih cantik."


pujinya pada Casy.


Akhirnya Kirana menjelaskan apa yang terjadi pada saat di mall waktu itu. Dia yang sedang terburu-buru ke toilet, tak sempat memikirkan ucapannya pada waktu itu. Jadilah waktu itu dia mengatakan hal ngawur macam itu.


Casy merasa lega sebab ternyata semua hanya salah paham. Namun jika harus menerima lelaki di sampingnya ini, dia bimbang. Hatinya mengatakan ia namun logikanya berkata tidak.


Sedangkan Brandon langsung terbesit dalam pikirnya. Apa alasan Casy tak datang ke bandara waktu itu karena hal ini?.


Menoleh menatap Casy yang berada di sampingnya, Brandon mengutarakan rasa keingintahuanya. "Apa yang membuat kamu tak datang di bandara waktu itu karena hal ini?."


Casy menoleh sekilas kepada Brandon kemudian mengangguk mengiyakan pertanyaan Brandon. "Iya, aku pikir kakak hanya beralasan waktu itu memutuskan pertemanan kita. Nyatanya kakak sama orang lain."


Menunduk malu, Casy merasa malu juga bersalah telah berfikiran buruk. "Maaf kak, aku salah paham."


Menghela nafas, Brandon tersenyum.


"Kamu tau? padahal kehadiran kamu waktu itu sangat aku nanti. Bahkan aku mau tunda keberangkatan karena ingin ketemu kamu dulu."


Ya, memang waktu itu Brandon hampir membatalkan keberangkatannya. Kalau saja Carrel tak melarangnya pasti Brandon mendatangi Casy ke rumahnya.


Tapi sudahlah, semua sudah berlalu. Dan kini Brandon sudah menemukan gadisnya kembali. Meski harus menahan rindu bertahun-tahun.


"Maaf kak." Casy semakin merasa bersalah.


"Gak papa kok. Lagian sekarang kita udah ketemu lagi. Aku sama sekali tidak menyalahkan kamu." Jelas Brandon dengan tersenyum.


Matahari yang mulai meninggi, menandakan hari yang semakin siang. Menikmati makanan lezat beserta minumannya, Brandon dan Casy saling diam membisu menikmati makanan masing-masing.


Setelah klarifikasi kesalahan pahaman, Brandon mengajak Casy makan siang di luar. Mengingat hari yang semakin siang, membuat perut Brandon keroncongan minta diisi.


Setelah makan, mereka akhirnya pulang. Brandon mengantarkan Casy ke rumahnya. Karena Casy diantar oleh asistenya ketika ke kantor Brandon, jadi dia tak punya alasan menolak ajakan Brandon.


Bukannya mengantar Casy pulang, Brandon malah mengajak Casy ke rumahnya.


"Kak kenapa kita ke sini?."


"Aku udah pindah rumah Kak." Casy berfikir bahwa Brandon belum tau dia sudah pindah.


Brandon tersenyum simpul.


"Aku tau. Dan sekarang ini adalah rumah aku." Ucapnya dengan bangga.


Casy terkejut dengan ucapan Brandon. Namun dia hanya diam dan akan mengutarakan semua pertanyaannya nanti.


Memasuki rumah, Mereka duduk di ruang tamu. Tak lama kemudian seorang wanita paruh baya membawakan 2 minuman untuk mereka.

__ADS_1


Brandon memang tak tinggal sendiri di rumah itu. Ia tinggal bersama 2 art, 1 tukang kebun, dan 1 satpam.


"Gimana rumah ini bisa jadi milik kakak?." Casy tak tahan untuk tak bertanya.


Brandon pun menjelaskan bagaimana ia dulu mencari Casy dan akhirnya membeli rumah ini. Casy terharu mendengar cerita Brandon. Dia juga merasa bersalah membuat Brandon sulit mencarinya.


Untung sekarang sudah dipertemukan kembali. Rasanya Casy lega. Namun masih ada yang mengganjal di hatinya. Perjodohan dengan adik kak Naya.


"Kamu sendiri sejak kapan berhijab?."


Dari pertama kali melihat Casy kembali dengan penampilan yang berbeda, Brandon sangat penasaran.


Casy menjelaskan bertemu dengan seorang kakak baiknya. Namun tak menceritakan niatnya untuk bunuh diri, sebab menurutnya itu terlalu privasi. Yang Casy ceritakan hanya garis besarnya saja tidak keseluruhan.


Brandon mengangguk dan tersenyum, cara Tuhan memperbaiki hidup seseorang begitu ajaib. Ia ikut bersyukur, gadisnya diberi kesempatan oleh Tuhan menjadi hamba yang Sholeh.


Brandon menoleh menatap Casy.


"Jadi apa kamu mau menikah sama aku?." Tanyanya gugup. Namun dia berusah setenang mungkin.


Terkejut?, pasti. Casy mendengarnya.


"Kakak bercanda." Ujar Casy. Sebenarnya ia menangkap keseriusan dalam raut Brandon. Tapi dia terlalu gugup juga untuk menanggapinya. Apa ini sebuah lamaran?, pikirnya.


Dan ini terlalu tiba2. Baru bertemu dan langsung dilamar. Huh sepertinya Brandon memang memegang teguh pendirian dan prinsisnya. Biasanya seseorang akan ta'aruf dulukan. Apa karena Brandon sudah merasa mengenal Casy makanya ia langsung mengajak menikah?.


Merasa kehilangan Casy bertahun-tahun. Menahan rindu dan merasakan pedihnya penantian, Brandon tak ingin kehilangan Casy lagi. Dia begitu yakin akan menjadikan Casy pendamping hidupnya selamanya, dunia akhirat.


"Aku serius. Kalau perlu sekarang aku akan datangi orangtua kamu." Ucapnya meyakinkan.


Casy masih terdiam. Dia bingung menanggapinya.


"Kamu juga tau kan syariah melarang pacaran. Aku gak mau membuat salah satu dari kita berdosa. Aku mau halalin kamu secepatnya." Ujar Brandon menjelaskan.


Memang benar yang dikatakan Brandon, tapi Casy bingung. Dia juga menginginkan lelaki ini, tapi bagaimana kak Naya?. Apa ia harus bersikap egois demi kebahagiaan hatinya?. Apakah dia akan bahagia dengan bersikap egois?. Atau bersikap seperti ini termasuk egois?.


Casy pusing dibuatnya.


"Kak, maafin aku ya. Aku gak bisa jawab sekarang. Tolong anterin aku pulang." Akhirnya kalimat itu yang keluar dari mulut Casy.


Brandon mengangguk dan Akhirnya mengantarkan Casy. Brandon memaklumi bahwa menikah adalah keputusan yang harus dengan matang dipikirkan. Brandon juga tak mau Casy menyesal jika terburu-buru mengambil keputusan.


Setelah sampai di rumah, Casy menemui mamanya. Dia menceritakan semua hal yang sedang melanda kegundahan hatinya.


Mama yang mendengar curhatan anaknya, ikut merasa bingung dan juga bersalah. Mengapa waktu itu harus langsung setuju menjodohkan Casy. Harusnya memastikan pada Casy dahulu kan.


"Jadi gimana ma?." Casy nampak frustasi.

__ADS_1


"Ya udah, besok kita ke rumah kak Naya aja gimana?. Kita bicarain ini baik-baik?."


Saran mama.


"Tapi aku gak enak ma kalau nolak permintaan kak Naya. Selama ini kak Naya udah berjasa sama aku ma, gimana cara aku nolak?." Casy nampak bingung.


Mama juga ikut bingung. Tapi akan lebih baik kalau langsung ketemu Naya. Pikir mama.


"Entah apa pun yang terjadi, besok kita tetep harus ke rumah kak Naya kamu." Ujar mama dengan tegas.


"Tapi ma?." Casy nampak masih ingin menolak.


"Casy sayang, mama yakin kak Naya kamu pasti tau harus gimana." Ujar mama sangat yakin.


Mama memang sangat percaya pada Naya. Karena selama ini setiap hal yang dibutuhkan solusinya, seolah Naya memiliki semua jawaban itu. Entahlah.


Pada akhirnya mereka pergi ke rumah Naya, tanpa papa. Ini memang bukan pertama kalinya Casy datang setelah pulang ke Indonesia.


Seminggu yang lalu Casy juga datang ke sini melepas rindu.Tapi Naya belum sama sekali menyinggung perjodohan itu, sehingga Casy rasnya masih tenang. Tapi sekarang setelah kehadiran Brandon, ia begitu khawatir akan mengecewakan Naya.


"Mama sama Casy kenapa wajahnya kayak kusut gitu?." Tanya Naya mengajak mereka duduk di taman belakang rumah. Agar lebih leluasa ngobrol. Pikir Naya.


Mama dan Casy sama-sama diam. Bingung harus menjawab apa.


"Kenapa Cas, kakak tau masalahnya di kamu?." Ujar Naya menatap Casy.


Dengan melihat raut Casy yang jauh lebih gelisah dan tertekan dibandingkan mama, Naya tau Casy lah yang menjadi titik permasalahan.


Mendengar Naya yang seolah tau, Casy dibuat kaget lalu menatap pada Naya.


Melihat Naya yang menatapnya diiringi rasa khawatir, Casy semakin tak sanggup berucap.


Tegakah ia mengecewakan Kak Nayanya ini?. Tanya Casy pada dirinya sendiri.


Karena Casy tak kunjung berucap, akhirnya mama membuka suaranya.


"Casy menemukan lelaki yang dicintainya Nay. Maafin Casy ya kalau ngecewain kamu." Ujar mama merasa bersalah.


Casy memejamkan mata menunggu tanggapan Naya yang akan merasa kecewa padanya.


Bukannya marah atau kecewa, Naya justru tersenyum dan memeluk Casy.


Casy tersentak dipeluk oleh Naya. Belum sempat bertanya, Naya sudah bersuara duluan.


"Kenapa kalau kamu udah menemukan orang yang kamu cintai?. Justru kakak senang, berarti kebahagiaan kamu akan segera sempurna." Jelas Naya.


Mama tercengang begitupun Casy. Tak menyangka respon Naya akan seperti ini. Apa memang ia adalah titisan bidadari?. Mengapa hatinya begitu baik dan lembut?. Pikir mama.

__ADS_1


Ternyata firasat mama membawa Casy menyelesaikan masalah ini pada Naya benar-benar terbukti.


NEXT.......


__ADS_2