
"Kak Cya itu cinta sama Kak Az, jadi Daddy gak mau kan kalau sampai mereka pacaran seperti Caca"
Mendengar perkataan Caca, Cya merasa terkejut. Apa maksud Caca melakukan hal itu. Ia merasa tidak memiliki harga diri dengan Caca mengungkapkan hal seperti itu.
"Apa maksud kamu Ca? jangan gila kamu ya!"
Ia tersenyum miris, kala teringat perkataan Az yang tidak terima dengan permintaan Caca. Ia yakin hal ini memang akan terjadi.
"Bahkan hanya Cya yang menyukai Az tidak berlaku sebaliknya"
Sesak dadanya mendengar pengakuan Arzan, ia tidak berarti apa-apa di mata Arzan.
"Fanya"
Cya tersenyum tipis namun jika orang lain yang melihatnya, terlihat jelas senyum ia pedih.
Ia sudah menduga Fanya yang Az sukai, namun mendengar hal itu dari bibir Az sendiri. Ia merasa tambah sesak.
Ia merasa tidak akan kuat lagi mendengar pengakuan2 Arzan yang lain. Namun sebelum ia berhasil melangkah, suara Arzan terdengar lagi dengan tegasnya.
__ADS_1
"Jadi Daddy dan Mommy jika ingin melamarkan gadis untuk Az, silahkan lamar Fanya. Karena dia yang Az suka"
Deg
Cya merasakan jantungnya berhenti berdetak. Ia merasakan dadanya terasa sangat sakit sekali.
Ia menyentuh perlahan dadanya yang terasa sesak, membawa kakinya melangkah perlahan untuk meninggalkan tempat itu.
Sepanjang ia meninggalkan tempat itu, airmatanya tak sanggup ia hentikan sedetikpun. Bahkan semakin deras kala ia berusaha menghentikannya.
Arzan
Sebegitu sukanya Az pada Fanya, sampai meminta orangtuanya untuk melamar gadis berhijab itu. Ia merasa tidak sanggup mendengar Az akan melamar Fanya.
Apalagi jika sampai mereka menikah, ia benar-benar merasa tidak sanggup. Namun apa daya dirinya bahkan ia tidak berarti apa-apa bagi Arzan.
Dengan langkah gontai ia meninggalkan rumah itu. Ia juga berpesan kepada art untuk mengatakan pada Caca bahwa ia ada urusan mendadak.
Jangan sampai Caca tahu habwa ia mengetahui kejadian barusan. Biarlah ia sendiri yang tahu. Dalam perjalanan ia masih terus menangis, meskipun sudah ia tahan namun tetap tidak berhenti.
__ADS_1
Akhirnya ia sampai di kontrakan kecilnya. Ia menghempaskan tubuhnya pada ranjangnya yang empuk untuk menumpahkan tangisannya.
Tanpa ia sadari saking lamanya ia meratapi kisah cintanya, ia pun tertidur.
💐💐💐
Berlanjut pada obrolan empat orang tadi, yang tidak sadar bahwa ada seseorang yang tengah terluka atas perkataan seorang Az.
Dad Brand yang mendengar permintaan anaknya tersenyum mengejek, "apa kamu pikir mereka mau menerima kamu Az yang masih belum jadi apa-apa?"
"Dad setidaknya aku sudah bekerja di kantor Daddy kan" Arzan mencoba membela diri.
"Besok kita lanjutkan lagi. Biar Daddy dan Mommy yang menentukan nanti" ujar Dad Brand yang kemudian membawa Mom Cas pergi masuk ke dalam rumah.
Caca pun juga ikut menyusul Daddy dan Mommy nya. Ia merasa kecewa dengan kakaknya yang menolak Cya.
Mom Cas hanya mampu terdiam, karena ia mengerti bagaimana perasaan Arzan. Namun juga tidak dapat membelanya. Ia pun menuruti suaminya masuk ke dalam rumah.
Tertinggal Az sendiri di taman itu. Ia merenungi apa yang telah ia ucapkan tadi. Jujur ia masih belum siap menikah, tapi jika dibanding menikah dengan orang yang tidak ia inginkan. Lebih baik dengan orang yang ia sukai.
__ADS_1
NEXT .......