Our Journey

Our Journey
Tersadar


__ADS_3

Casy nampak bingung, dan penasaran.


"Masa sih Kak ?." Apa alasan nya kalau dia terlalu percaya diri?." Tanyanya heran.


"Karena dia bilang, wajahnya itu terlalu berharga. Makanya fotonya gak layak di panjang di sembarang tempat. Satu-satunya rumah yang layak dipajang fotonya, katanya nanti rumah dia sama istrinya." Dengan tertawa Naya menjelaskan pada Casy.


Casy pun ikut tertawa menanggapi, bagaimana ada orang sePD itu, pikirnya.


Begitulah obrolan-obrolan seru mereka yang membuat mereka lebih dekat dari hari ke hari.


Seminggu lebih tidak berada di rumah, tidak membuat siapa pun khawatir padanya. Bik Murti juga sudah diberitahu olehnya bahwa dia menginap di rumah seorang teman. Agar wanita yang selalu menjaganya saat kecil itu tidak khawatir.


Sedangkan orangtuanya tidak sama sekali ingin tau keberadaannya. Asalkan dia tak membuat ulah, orangtuanya akan merasa tenang dan tak akan mencarinya.


Setelah sekian lama drama-drama yang dia jalani sepanjang akhir tahun ini, lusa dia akan menjalani rutinitas seperti biasanya menjadi siswi SMA.


Memang sampai detik ini, Naya belum memberikan solusi apapun kepada Casy atas permasalahannya.


Tapi Naya selalu meminta Casy untuk mendoakan kedua orangtuanya agar hubungan mereka bisa menjadi lebih baik.


Naya bukan tak mau atau tak memiliki solusi untuk permasalahan Casy. Namun Naya masih menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan misinya, menyelesaikan permasalahan itu.


Dengan rajinnya Casy menjalankan shalat 5 waktu sekarang, itu adalah tahapan awal Naya untuk membantu Casy.


Membuat Casy dekat dengan Allah terlebih dahulu. Supaya Casy tau dan merasa tidak pernah sendirian.


 💐💐💐


Di meja makan tampak Naya, Casy, dan Kiren sedang menikmati makan malam.


Tampak mereka makan sambil berbincang ringan.


"Kamu jadi pulang besok Cas?." Tanyanya dengan wajah kecewa. Inginnya Casy tetap di sini untuk menemaninya.


"Iya kak, lusa aku udah masuk sekolah."


jawabnya tak enak melihat wajah Naya yang nampak kecewa.


"Kamu bisa loh, berangkat dari sini juga sekolahnya." Ucap Naya mencoba mempengaruhi.


"Aku sebenarnya juga masih pengen lama sama kakak. Tapi kakak taukan kalau sampai orangtua aku tau." Jawabnya dengan lesu.


"Kamu bisa minta izin sama mereka kan Cas? kalau kamu gak berani, nanti biar kakak yang ngomong." Tawar Naya.


"Jujur kakak masih takut kalau kamu bakal nekat lagi seperti waktu itu. Kakak masih pengen ngawasin kamu." Tambahnya lagi.


Casy nampak berfikir dan menimang-nimang, sepertinya akan lebih baik jika Casy bersama Naya. Bahkan Casy sendiri memang selalu merasa bahagia dengan kebersamaan dirinya dan kak Nayanya ini.


Sepertinya dia mulai menyayangi kakaknya ini. Lagi pula kak Nayanya juga menyayanginya.


"Oke Kak aku mau. Tapi bener ya kakak yang ngomong. Soalnya aku takut izin sama papa." Terangnya.

__ADS_1


"Iya. Nanti kakak yang ngomong."


"Tapi besok aku harus pulang dulu kak, mau ngambil barang-barang keperluan aku."


"Mau kakak anterin?." Tanyanya menawarkan.


"Boleh kak." Jawabnya dengan tersenyum.


💐💐💐


Hari ini seperti yang mereka rencanakan, pulang ke rumah Casy untuk mengambil barang-barang yang diperlukan Casy. Tak lupa juga mereka membawa serta si kecil Kiren.


Naya mencoba menghubungi no orangtua Casy, namun sepertinya tidak berhasil. Akhirnya ia menghubungi asisten suaminya.


Karena yang dia tau perusahaan suaminya bekerjasama dengan perusahaan orangtua Casy. Pastilah asistennya ini pernah menghubungi pihak-pihak terdekat orangtua Casy.


Naya akan meminta asisten suaminya menghubungi sekretaris papa Casy. Untuk memberi izin pada Casy.


Akhirnya asisten suaminya menghubungi nya kembali.


"Gimana Ren, apa papanya Casy mengizinkan?."


"maaf Nyonya, tadi awalnya tidak. Tapi setelah saya jelaskan bahwa anda istrinya Tuan, barulah diizinkan." ungkap Rendi.


"Bagus lah. Terimakasih atas bantuan kamu. Maaf saya jadi merepotkan kamu Ren." Ujar Naya .


"Iya nyonya tidak merepotkan sama sekali. Itu sudah tugas saya." Jawab Rendi.


Setelah mendapatkan apa yang mereka cari, akhirnya pulanglah mereka kembali ke rumah Naya.


💐💐💐


Di malam harinya sekitar jam 9, Naya baru saja membacakan dongeng untuk Kiren. Akhirnya bocah kecil itu lelap tertidur sekarang.


Naya beranjak keluar kamar menuju kamar Casy. Nampak Casy berdiri di balkon sambil memandang keindahan rembulan di langit yang gelap.


Mengetuk pintu.


tok tok tok...


"Casy, boleh kakak masuk?." Teriaknya dari luar.


Casy bergegas membuka pintu, mempersilahkan Naya masuk ke kamarnya. Mereka duduk di luar kamar Casy, tepatnya di balkon tempat Casy tadi berdiri.


Duduklah mereka dengan saling berhadapan.


"Gimana perasaan kamu sekarang?. Apa kamu masih terbebani dengan permasalahan kamu?." Tanya Naya memastikan.


"Hemm aku merasa tenang di sini sama kakak. Rasanya aku hampir lupa dengan masalah Casy sebelumnya kak. Tapi bebannya masih ada. Kalau ingat mama sama papa rasanya masih sedih. Hati ini sepi. Di tambah lagi tentang lelaki.."


Curhat Casy nampak sedih. Namun terpotong oleh Naya.

__ADS_1


"Kita selesain satu-satu dulu ya. Ini yang lebih penting, tentang keluarga kamu. Kamu sayang dengan mereka?."


Casy menganguk pasti. Meskipun selama ini ia seolah benci, tapi hatinya tak bisa menolak untuk menyayangi orangtuanya.


"Lalu kenapa selama ini kamu gak mau menuruti permintaan mereka?." Tanya Naya ingin tau.


Menunduk, mengalihkan pandangannya pada tangannya yang menyatu dipangkuannya. "Itu wujud pemberontakan aku pada mereka kak."


Diam sejenak..


"Aku ingin mereka tau, kalau aku butuh mereka untuk mengejar mimpi-mimpi aku. Tapi semuanya sirna. Semenjak mereka seolah mengabaikan aku, bersamaan itu aku mengubur dalam-dalam semua mimpi-mimpi aku kak. Aku hidup tanpa harapan, seolah cuma berharap kembalinya kasih sayang mereka. Bahkan aku berubah menjadi seseorang yang tertutup dan pendiam. Prestasi aku pun mulai menurun. Dan satu persatu teman-teman sekolah mulai menjauhi aku, aku tau pasti karena perubahan sikap dan penampilan aku yang urakan dan gak jelas. Kemudian pada suatu titik, ketika aku sudah lelah mengemis lagi, aku juga lelah untuk menangis. Saat itu aku memutuskan untuk hidup sesuka aku, aku melakukan sesuatu tanpa peduli apapun. Aku gak mau apa-apa kak, aku cuma mau mereka ada buat aku, perhatiin aku, sayang sama aku." Terangnya dengan berderai airmata.


Diusapnya punggung Casy dengan lembut, "Kamu sedih karena merasa sendirian dan kesepian?." Tanya Naya memastikan.


Dijawab anggukan oleh Casy.


"Kalau kakak bilang selama ini ada yang sayang sama kamu, selalu jagain kamu, selalu melindungi kamu, dan selalu peduli sama kamu? Bahkan ketika kamu berbuat salah padaNya pun masih tetap dimaafkan dan tetap kamu disayangi. Apa kamu percaya ada yang seperti itu?." Tanyanya.


Casy tersenyum sinis, jelas tidak ada seseorang yang seperti itu padanya, batinnya berkata.


"Jelas gak ada kak. Apalagi kalau udah aku sakitin, pasti gak mungkin orang itu masih baik sama aku." Sanggahnya pada Naya.


"Tapi Dia memang ada Casy. Selalu ada di dekat kamu." Ucap Naya tersenyum.


mengkerutkan dahinya, Casy bertanya-tanya. "Maksut kakak??."


Naya meletakkan tangannya di atas dada kiri Casy lalu berucap, "Dia selalu ada di sini. Di dalam hati kamu kalau kamu ingin tau." Tersenyum meyakinkan.


Casy semakin bingung dibuat Naya. Apa maksutnya???...


"Apa kamu lupa, bahwa Allah yang mengatur hidup kamu. Bahkan jatuhnya daun dari ranting pun, adalah Allah yang merencanakannya. Dan Allah itu selalu ada di sini, di hati kamu. Dia selalu menemani kamu Casy. Kamu gak pernah sendirian." Jawab Naya lagi.


Deg


Runtuh sudah airmata Casy yang sempat kering tadi. Dia lupa selama ini ada Allah yang mengatur garis hidupnya.


Meski seminggu ini dia selalu beribadah dan mengingat Allah, tapi dirinya lupa untuk mempercayakan hidupnya kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Dengan deraian air mata, Casy mengangguk mengiyakan ucapan Naya.


"Iya kak. Aku lupa."


Naya tersenyum. Misi keduanya berhasil.


Selama ini Naya mencoba mengajak Casy beribadah untuk melunakkan hatinya yang keras.


Karena Naya pikir mungkin akan sulit menyadarkan Casy saat hatinya masih keras dan kotor.


Sengaja iya ajak membaca Al-Qur'an untuk membersihkan hatinya. Mengajaknya shalat tepat waktu untuk melembutkan hatinya. Sepertinya ia berhasil.


Naya yakin Allahlah yang menyadarkan Casy, bukan dirinya. Naya hanya sebagai perantara semata.

__ADS_1


NEXT.......


__ADS_2