Our Journey

Our Journey
Memang Mencintai


__ADS_3

Tak lama kemudian terdengar pintu rumahnya diketuk oleh seseorang yang ia yakini seorang pemuda yang baru saja membuat ia terpesona.


Tak butuh waktu lama, Cya segera membuka pintu. Jujur ia penasaran dengan maksud kedatangan Az.


"Az" ucapnya menyapa


Namun yang disapa hanya mampu terdiam menatap Cya lekat tanpa berkedip.


"Az, ada apa?" ujarnya sedikit lebih keras untuk menyadarkan pemuda itu.


Benar saja, Az sedikit terkejut dengan suara Cya. Ia yang tengah asik memandangi wajah Cya membuatnya tidak mendengar apa yang Cya ucapkan.


Az berdehem demi mengurangi rasa gugupnya karena tengah ketahuan menatap intens Cya.


"Apa kita akan bicara di sini?" tanyanya setelah berhasil menetralkan kecanggungannya.


Cya tampak tidak enak pun mempersilahkan Az untuk masuk ke dalam.


"Gue ambilin minum sebentar" ujar Cya yang telah berlalu menuju ke belakang.


***

__ADS_1


Mereka berdua tampak sama-sama terdiam. Namun akhirnya Az memberanikan diri membuka suara.


"Cya gue minta maaf atas semua yang udah gue lakuin ke lo selama ini. Maafin gue udah pernah minta lo lupain gue, padahal gue tahu itu hal yang sulit. Gue minta maaf Cya" jelas Arzan begitu tulus dan bersungguh-sungguh.


Cya tersenyum tipis mendengar permintaan maaf Az, ia tidak pernah mengharapkan hal ini sebenarnya. Namun ia cukup merasa senang dengan apa yang Az lakukan.


"Gue udah maafin lo, apapun yang terjadi di masa lalu kita lupain aja. Tentang lo yang minta gue lupain lo, udah gue lakuin. Gue udah ngelupain lo"


Cya merespon permintaan maaf Az dengan setenang mungkin. Menunjukkan bahwa ia memang telah baik-baik saja.


Mendengar penjelasan Cya yang sudah memaafkan dirinya, Az merasa lega. Namun hatinya terasa bergemuruh mendengar bahwa Cya telah melupakannya.


Ia merasa tidak terima gadis itu telah melupakannya. Tiba-tiba terlintas rumor yang beredar di kampus, kalau Cya menjalin hubungan dengan Vino. Ia mengepalkan tangannya erat demi menahan gemuruh di hatinya.


Cya yang tak paham dengan maksud Az, nampak terlihat bingung. Dan Az menyadari hal itu.


"Rumor lo ada hubungan sama Vino" ujarnya dengan menatap Cya tajam, seolah tak terima jika hal itu benar.


Cya menghela nafas berat, bingung harus menjawab apa.


"Benar atau salahnya rumor itu gak penting Az. Gue emang deket sama Vino, jadi gue gak perduli sama rumor itu"

__ADS_1


Jelas saja hal itu membuat Az semakin panas. Ia merasa tidak terima kalau Cya sampai menjalin hubungan dengan Vino.


"Lo cuma milik gue Cya, gak ada yang boleh milikin lo." Ujar Az dengan tegas dan tampak marah.


Ia mendekati Cya dan mendorongnya ke dalam kamar. Tak lupa dikuncinya kamar itu, supaya Cya tidak bisa kabur.


"Az apa yang lo lakuin" Cya merasa hawa tak enak. Ia takut Az akan melakukan hal diluar dugaan.


"Milikin lo" ujarnya dengan pasti


"maksud lo apa Az? please gue takut" Cya mulai terisak, ia benar-benar merasa takut kala melihat Az yang semakin mendekati dirinya ke ranjang.


"Gue mau nikahin lo. Karena kemarin lo nolak, sekarang gue akan buat lo mau gue nikahin." Ancamnya dengan mulai membuka kancing kemejanya satu-persatu.


"Az, bukannya lo yang nolak gak mau nikah sama gue?. Gue nolak karena pengen lo nikah sama orang yang lo cinta." Ujarnya dengan tangis yang mendera.


Az menghentikan tindakannya membuka kemeja. Ia mulai mendekati Cya yang menangis di tepi ranjang. Ia memeluk tubuh gadis itu dengan erat, seolah menyalurkan kekuatan yang mungkin terkikis oleh tingkah laku buruknya pada gadis itu.


"Tapi gue cintanya sama lo Cya, bukan yang lain." ujarnya dengan mengelus rambut Cya.


"Bohong! Lo nolak gue karena lo pengen nikah sama Fanya Az. Gue denger semuanya!" teriak Cya dengan memukuli dada Az demi menyalurkan rasa sakit hatinya.

__ADS_1


NEXT .......


__ADS_2