Our Journey

Our Journey
Marah


__ADS_3

"Aku pulang ya, Assalamualaikum." Ucap Brandon pada Casy, setelah berpamitan dengan Mama.


"Walaikumsallam Kak." Jawabnya dengan tersenyum.


Setelah perbincangan mereka di taman, kini Brandon dan Naya beserta Kiren memutuskan pulang ke rumah.


💐💐💐


Hari-hari berikutnya terlewati...


Raut Brandon terlihat murung dan tidak ceria. Sebenarnya, hari ini ia ingin sekali mengajak Casy makan berdua di kafe atau restoran. Namun Casy menolak, selain karena takut berdua-duaan Casy bilang dia ada janji dengan temannya.


Brandon tak bisa memaksa, bagaimana pun Casy berhak menolak. Namun Brandon tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Sudah semingguan lebih mereka tidak bertemu, padahal dua hari kedepan mereka akan resmi menjadi suami istri.


Brandon merasa ada jarak dalam hubungan mereka, Brandon ingin akrab seperti dulu. Nampaknya ia lupa, dulu kedekatan itu terlalu melewati batas. Jadi sebisa mungkin, Casy tidak ingin mengulanginya lagi.


Sebenarnya Kak Naya yang melarang Casy untuk bertemu dengan Brandon. Selain takut mereka berbuat hal buruk, Kak Naya juga ingin mengumpulkan rasa rindu mereka berdua.


Jadilah Casy selalu menolak seminggu lebih ini, ketika Brandon ingin datang ke rumah ataupun kala Brandon mengajak untuk bertemu.


Melajukan mobilnya ke kantor, setelah gagal pada rencananya Brandon memilih berangkat ke kantor. Rupanya ada rapat dengan client hari ini.


Akhirnya Brandon menghadiri rapat itu, dan mampir ke rumah makan untuk makan siang setelahnya rapat selesai. Berniat memarkirkan mobilnya di parkiran rumah makan, tak sengaja netranya menangkap sosok yang menyebabkan dirinya murung hari ini.


Rahangnya mengetat, kala melihat siapa yang sedang duduk berhadapan dengan calon istrinya itu. Tak tinggal diam, Brandon mengambil ponselnya dan segera menghubungi Casy.


Panggilan pun terhubung.


"Assalamualaikum Kak." Ucap Casy di seberang panggilan.


"Walaikumsallam." Dengan datar Brandon menjawab.


"Kamu di mana? Masih ketemu sama teman kamu?." Tanyanya dengan masih mengawasi Casy dari dalam mobil.


Mendengar Brandon dengan ucapan yang terdengar kurang nyaman, Casy merasa ada yang tidak beres. Kenapa nada bicaranya terdengar datar?. Pikir Casy.


"Iya Kak. Kakak kenapa?." Tanyanya pada Brandon memastikan Brandon baik-baik saja.

__ADS_1


"Enggak papa. Nanti malam aku mau ngajak kamu keluar." Masih dengan datar ia berucap, malah terlihat seperti nada memerintah.


Casy menghela nafas, dia sudah menjelaskan pada Brandon tidak ingin bertemu di hari-hari menjelang pernikahan. Namun mengapa lelaki ini seolah amnesia?.


"Kak? aku udah bilangkan kalau.." Ucapannya terpotong oleh suara Brandon.


"Gak mau ketemu aku, takut maksiat?." Ucap Brandon dengan nada dingin.


"Ehm." Casy menjawab dengan deheman.


"Jadi kamu gak mau?." Tanyanya dengan tajam.


Casy agak kesal dengan Brandon, mengapa mendekati hari pernikahan kelakuan Brandon makin menjengkelkan?. Huh.. Casy sangat sebal.


"Kakak kenapa sih?. Udah ya, besok malam kita ketemu kok bareng keluarga juga." Jelas Casy ingin mengakhiri perdebatan.


Memang besok malam, mereka sekeluarga akan bertemu lagi makan malam bersama di rumah Casy. Namun Brandon yang terlalu merindukan Casy, seolah tak sabar. Padahal kalau sudah menikah mereka gak akan berpisah lagikan.


Sepertinya ujian menjelang hari pernikahan, akan menguras energi sekaligus emosi mereka. Semoga saja mereka sabar dan semakin menambah keeratan hubungan rumah tangga mereka nanti setelah sah dah halal.


Brandon yang mendengar jawaban Casy yang kurang nyaman di dengar, tersenyum sinis. Mengangguk-anggukan kepalanya, dan memutus sambungan teleponnya. Melemparkan handphonenya ke jok belakang, Brandon memutar mobil meninggalkan Rumah makan itu sesegera mungkin.


Sedang Casy, mendapati sambung yang diputus sepihak oleh Brandon merasa heran dan semakin jengkel dengan lelaki itu.


"Kenapa? Kak Brandon?." Tanya Rino pada Casy.


Casy mengangguk. Hari ini, memang Casy, Rino, Dan Meta janjian untuk bertemu. Sudah dari seminggu yang lalu, mereka janjian namun belum terlaksana. Barulah sekarang bisa kesampaian. Jadi mana mungkin bisa dibatalkan begitu saja karena permintaan Brandon.


Sebenarnya Casy juga merasa bersalah menolak ajakan Brandon, tapi ia juga takut malah nantinya akan menimbulkan maksiat. Jadilah ia menolak.


Saat Brandon melihat tadi, Meta sedang ke toilet, jadilah Brandon salah paham. Mengira Casy janjian dengan teman laki-lakinya. Ia begitu emosi kala mendapati hal tersebut.


Seolah Casy lebih memilih bertemu pria lain, dibanding dirinya uang jelas-jelas calon suaminya. Alasannya karena takut hanya berdua-duaan, lalu apa ini?. Ia juga berdua-duaan, malah dengan orang lain.


Brandon tahu siapa lelaki itu, dia adalah adik kelas Brandon dulu di SMA. Brandon juga tahu siapa saja sepupu Casy, jadi dia tak mungkin salah mengira kali ini. Namun rupanya Brandon tidak tahu sahabat-sahabat Casy.


Selama ini Casy memang belum pernah menceritakan tentang sahabatnya itu. Bukan karena tak ingin, namun ia pikir belum waktunya. Nunggu Brandon jadi suaminya saja, baru ia akan menceritakan semua kehidupannya.

__ADS_1


Nampaknya iman mereka sedang fase surut, sehingga mereka berdua sama-sama mudah emosi. Namanya manusia, wajarlah imannya labil naik turun.


Meta datang dari toilet. Melihat raut muka Casy yang nampak berbeda, Meta tak tahan untuk tidak bertanya.


"Kenapa Cas?." Tanya Meta penasaran.


"Gak papa, biasalah." Ucapnya tersenyum.


Meta hanya mengangguk, Ia hafal dengan sahabatnya ini. Orang yang tak suka mengumbar masalah.


Meta dan Rino sudah menikah setahun yang lalu, Casy pun turut menghadiri pernikahan itu. Mereka berdua bekerja bidang yang sama. Sama-sama orang yang berkecimpung dalam hukum.


"Kalian belum pengen punya anak apa?." Casy mengalihkan topik pembicaraan.


Rino dan Meta saling melirik, dan cengengesan. "Nunggu lo, nyusul dulu." Ungkap Meta dengan ringannya.


"Gue emang bakal nyusulkan. Dua hari lagi loh gue menikah. Kalian gak lupa kan?." Tanyanya memastikan.


"Enggak dong, makanya itu nunggu lo nikah dulu. Habis itu kita lomba deh." Berganti Rino yang menjawab.


"Dasar kalian. Ini anak loh bukan permainan, masa dilombain." Ucap Casy protes.


Mereka berdua hanya terkekeh dan cengengesan.


💐💐💐


Memasuki kamarnya, Casy langsung bersih-bersih diri dan shalat Ashar. Setelahnya ia duduk bermain ponsel di sofa kamarnya. Ia jadi teringat pada Brandon.


Ia merasa bersalah, tadi berkata kurang nyaman pada Brandon. Ia pun mencoba menghubungi Brandon.


Nampak tersambung, namun tak diangkat. Sampai tuju kali ia menghubungi tetap saja tak diangkat. Akhirnya ia menyerah dan pasrah saja. Besok di pertemuan keluarga, ia akan minta maaf pada Brandon.


Waktupun berlalu, kini tibalah saatnya pertemuan dua keluarga di rumah Casy.


Terlihat semua sudah berkumpul di ruang makan dengan hidangan yang telah tersaji dengan rapi. Casy melihat pada Brandon yang berada di seberang meja tepat di hadapannya. Namun lelaki itu seolah tak peduli padanya sedikitpun. Menoleh pun tak mau.


Sampai sesi makan malam selesai, namun Brandon masih tetap acuh dengan dirinya. Bagaimana ia mau minta maaf? kalau Brandon bersikap dingin seperti itu. Mana berani, menyapa saja tak berani apalagi minta maaf.

__ADS_1


Setelah selesai makan malam, dilanjutkan dengan acara berbincang dan mengobrol. Brandon memilih keluar dari ruang tamu menuju taman di halaman rumah Casy.


NEXT.......


__ADS_2