
Brandon masih diam mematung ditempatnya. Sindiran Casy sepertinya berhasil menyadarkan otak dan pikirannya. Terlebih jiwanya yang selama ini telah kehilangan jati diri.
Setelah seperkian detik, akhirnya ia tersadar. Dengan pikiran berkecamuk, Brandon mengemudikan mobilnya. Bukan untuk pulang melainkan ke rumah kakaknya.
Kata-kata Casy begitu melekat dan terus terngiang-ngiang dalam benaknya. Sepertinya, hanya kakaknya yang saat ini dapat memberi solusi padanya. Pikirnya.
Memasuki pekarangan rumah Carrel, Brandon menghentikan mobilnya dan bergegas turun setelah memastikan mobilnya terkunci.
Setelah pintu dibukakan oleh Kanaya, Brandon masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
Melihat wajah Brandon yang tampak murung, Kanaya tak tahan untuk bertanya. Tak biasanya Brandon seperti ini.
"Brandon, kamu kenapa?." Kanaya mendudukkan diri di sofa yang sama, bersebelahan dengan Brandon.
Brandon terdiam sejenak, lalu mengangkat wajahnya. "Kak Carrel belum pulang kak?." Tanyanya tanpa menjawab pertanyaan Naya.
Kanaya mengerti, Brandon tak ingin menceritakan ini padanya. Tampaknya Brandon akan mengutarakan pada Carrel. Mungkin karena sesama lelaki, jadi akan lebih leluasa. Batin Kanaya.
"Kak Carrel pulangnya malem Bran. Kamu tunggu aja sambil tidur di kamar. Sepertinya kamu juga butuh istirahat."
Wajah Brandon yang seperti itu, membuat Kanaya berikifir lebih baik Brandon menenangkan diri dahulu dengan beristirahat.
Brandon hanya mengangguk, berlalu menuju kamarnya.
Menyentuh ranjang kamarnya, ranjang yang baru ditinggalkannya beberapa bulan lalu. Brandon membaringkan tubuhnya di kasur empuk itu.
Sudut matanya tampak berair, sedetik kemudian airmata menetes membasahi pipinya.
Sedangkan Kanaya.
Setelah Brandon masuk ke kamar, Kanaya mencoba menghubungi Carrel. Menceritakan keadaan Brandon dan meminta Carrel untuk segera pulang.
Carrel yang mendengarnya langsung bergegas pulang. Ia merasa khawatir pada adiknya. Apa ini ada hubungannya dengan perjodohan yang mereka bahas tadi di kantor?.
Entahlah, Carrel juga tidak tahu. Tapi ia sungguh khawatir pada adik satu-satunya itu. Apalagi Kanaya bilang, Brandon tampak tak seperti biasanya.
Akhirnya Carrel sampai di rumah. Kanaya menyambut Carrel di teras rumah. Mencium punggung Carrel, Kanaya menjalankan kewajibannya. Carrel pun mencium dahi Kanaya.
Mereka masuk bersama ke dalam.
"Brandon di mana sayang?", tanya Carrel melihat sekeliling.
"Aku suruh tidur dulu tadi. Aku pikir biar dia lebih tenang aja dulu. Apa mas langsung mau nemuin Brandon?." Menatap pada Carrel.
"Ya udah nanti aja. Mas mau mandi dulu." Jawab Carrel menyahuti pertanyaan Kanaya.
Mereka pun masuk ke kamar. Kanaya menyiapkan keperluan Carrel untuk mandi serta baju yang akan dikenakan.
__ADS_1
Malam hari pun tiba. Carrel dan Kanaya sudah duduk di meja makan bersama anak imutnya serta.
"Brandon belum bangun sayang?." Tanyanya pada Kanaya.
Biasanya ketika menginap, Brandon juga akan mengikuti jadwal makan sesuai penunggu rumah ini. Sebagaimana ia dulu masih tinggal di sini. Lalu mengapa Brandon tampak berbeda kali ini?. Apa masalahnya kali ini benar-benar begitu berat?. Pikir Carrel dalam hati.
"Uncle Brandon di sini papa?." Belum sempat Kanaya menjawab suaminya, anak imutnya ini lebih dulu menyahuti dengan antusias, mendengar unclenya ada di sini. Memang mereka begitu dekat.
"Iya sayang, uncle di sini. Tapi masih tidur." Jawab Carrel.
Anaknya itu pun mengangguk dan melanjutkan makannya.
"Ya udah aku bangunin dulu ya. Mungkin belum bangun." Ucap Carrel bangkit menuju kamar Brandon.
"Iya." Jawab Kanaya.
Membangunkan Brandon, Carrel memukul pelan lengan Brandon supaya bangun. Rupanya benar, Brandon masih tidur.
Tak lama, akhirnya Brandon pun membuka matanya. "Kak. Udah pulang?."
Tanyanya sambil duduk di tepi ranjang.
"Udah dari siang kakak pulang Bran, kamu aja yang gak tau." Ucap Carrel.
Brandon sedikit terkejut. Kak Kanaya bilang kakaknya akan pulang malam, lalu kenapa siang sudah pulang?.
"Ohh. Maaf kak aku ketiduran, jadi gak tau." Ungkapnya merasa bersalah.
"Kamu lagi ada masalah Bran?." Bukannya merespon ucapan Brandon, Carrel malah langsung menanyai Brandon.
Benar kata istrinya, raut wajah Brandon nampak berbeda tak seperti biasanya.
Brandon menganguk.
Carrel menghela nafas, merasa iba pada adiknya ini. "Ya udah kamu makan dulu biar gak loyo gitu." Ucap Carrel.
Mereka pun ke ruang makan. Nampak hanya tinggal Kanaya di sana. Sepertinya anak imutnya sudah masuk ke kamar untuk mengerjakan pr sekolahnya.
Brandon mulai makan, dan Carrel melanjutkan makannya yang belum sempat ia sentuh tadi.
Setelah beberapa menit, mereka pun selesai makan.
"Mas, aku mau ke kamar anak kita dulu. Kamu ajak ngobrol tuh Brandon. Dia butuh kamu banget kayaknya." Ucap Naya pamitan undur diri.
"Iya sayang." Jawab Carrel, tak lupa ia mencium pipi Kanaya. Memang mereka selalu bermesraan seperti itu. Bukan untuk pamer, tapi Carrel terkadang lupa jika ada orang lain.
"Mas, ada Brandon." Tegur Kanaya begitu malu.
__ADS_1
Carrel hanya cengengesan bercampur malu karena selalu lupa. Brandon sama sekali tak mempedulikan mereka, ia sudah terbiasa.
Sepeninggalan Kanaya, Carrel mengajak Brandon ke ruang kerjanya. Supaya lebih leluasa dan tidak akan ada yang menguping.
Setelah mendudukkan tubuh di sofa yang saling berhadapan, Carrel mulai membuka percakapan.
"Ceritain ke kakak semuanya." Pinta Carrel dengan menatap Brandon.
Brandon diam sejenak, menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Menandakan begitu sesak dalam dadanya akan permasalahan ini.
"Kakak tau perempuan yang ingin aku nikahi?, dia menolak aku kak." Ucapnya sendu.
"Karena itu, kamu sekacau ini?." Tanya Carrel tersenyum sinis. Seolah meremehkan adiknya yang sedih hanya karena penolakan seperti itu.
"Aku memang kecewa kak, karena dia menolak. Tapi yang membuat aku semakin kecewa bukan penolakannya, melainkan alasan dia menolak." Jelas Brandon, membayangkan saat Casy menolaknya tadi siang.
"Apa karena telah memiliki orang lain, dia menolak kamu?." Tebak Carrel.
Brandon menggeleng. "Jika karena orang lain, mungkin aku akan lebih lega kak. Berarti bukan aku yang dia butuhkan."
Carrel semakin bingung. Sebenarnya apa yang membuat Brandon ditolak oleh perempuan itu?. Tampan, kaya, cerdas, dan baik. Apalagi yang kurang dari Brandon?.
Hanya satu-satunya alasan yang masuk akal, mungkin perempuan itu sudah memiliki orang lain. Tapi Brandon bilang, bukan itu alasannya. Lalu apa?. Pikir Carrel.
"Lalu apa yang membuat dia menolak kamu?. Bukannya kalian juga sudah saling kenal dari dulu?." Carrel semakin penasaran.
"Aku tahu kenapa kakak gak merestui aku sama dia kemarin. Pasti kakak meragukan sisi keagamaannya kan?." Tanya Brandon menebak.
Carrel mengangguk. Memang dia ragu pada gadis yang ingin Brandon nikahi. Karena setahunya dulu, Casy kurang berkesan baik dalam benak Carrel.
Dikarenakan Casy yang mau-maunya diajak Brandon liburan hanya berdua, dulu mereka juga berani berpelukan, dan saat terakhir perpisahan dengan Brandon. Casy malah tidak datang untuk menemui di bandara.
Padahal Carrel penasaran dengan karakter asli seorang gadis yang mampu melumpuhkan hati adiknya itu. Bukannya ingin seudzon, tapi Carrel hanya ingin adiknya mendapatkan perempuan terbaik.
Pastinya perempuan yang berpakaian menutup aurat seperti istrinya. Karena Carrel yakin, gadis yang sedang dikejar Brandon ini tidak berhijab. Mengingat semua tentang mereka dulu.
Namun pikiran Carrel nyatanya salah 100%. Bahkan Casy benar-benar menjadi wanita Solehah sekarang. Carrel terlalu gegabah menyimpulkan sesuatu. Nyatanya dirinya sudah seudzon bukan?.
"Tapi kakak salah. Dia bahkan jauh lebih baik dari yang dulu. Bahkan aku seperti melihat Kak Kanaya dalam diri perempuan ini kak." Ucap Brandon menatap Carrel.
"Kamu jangan sama-samain istri kakaklah." Ucap Carrel posesif, agaknya ia tak suka istrinya disamakan dengan orang lain.
"Bukan wajahnya kak, tapi sifat dan kepribadian mereka memang hampir sama." Jelas Brandon.
"Jadi dia berhijab sekarang?." Tanya Carrel.
Brandon mengangguk. "Bahkan dia menolak aku itu dikarenakan..."
__ADS_1
NEXT