Our Journey

Our Journey
Percaya


__ADS_3

Ceklek ...


Terdengar pintu terbuka, Casy keluar dari walk in closet menggunakan baju tidur. Ia pun tak melupakan hijab yang senantiasa menempel di kepala.


Melihat Brandon yang berdiri mematung membelakanginya, Casy segera mendekat. Ia penasaran apa yang sedang suaminya lakukan.


"Kak, kamu ngapain?" tanyanya kala telah berdiri di belakang Brandon.


Namun yang ditanya tidak bergeming sama sekali, menjawab pun tidak. Casy dibuat penasaran. Menyentuh lengan Brandon guna memanggilnya, Casy tersentak ketika Brandon telah berbalik badan.


"Ke kenapa Kak?" tanyanya reflek menunduk setelah melihat ekspresi dan tatapan Brandon yang tidak bersahabat sama sekali.


"Ya Allah, kenapa lagi ini?" batinnya. Ia tampak bertanya-tanya. Mengapa di hari spesial seperti ini, masih saja ada masalah. Ia begitu takut dengan tatapan tajam Brandon. Selama ini ia tidak pernah mendapatkan tatapan seperti itu. Ia baru mendapati suaminya dalam mode seperti ini, kala menjelang hari pernikahan.


Wajar saja Casy tidak pernah mendapati Brandon seperti sekarang, pada saat-saat dulu sebelumnya. Karena Brandon tidak pernah mendapati Casy bersama orang lain, yang membuat ia harus terbakar cemburu.


Yang ditanya masih saja diam. Casy hanya bisa menunduk takut, gelisah, khawatir, gugup bercampur menjadi satu. Brandon menatap lekat Casy yang menunduk di depannya dengan tatapan tajam.


Casy tak mampu menyembunyikan kegugupannya. Ia gemetar dengan kelakuan Brandon satu ini. Menyingkirkan segala rasa takutnya, ia memberanikan diri langsung memeluk Brandon. Meski agak kaku ia tetap melakukannya, ia pikir ini satu-satunya cara meredakan kemarahan Brandon.


Ia sangat yakin Brandon tidak akan mungkin berbuat kasar ataupun menyakitinya. Ia kenal siapa suaminya ini, sangat tidak mungkin ia akan mendorong kasar Casy karena memeluknyakan?.


Benar saja. Tatapan tajam yang turut menyertai Brandon sejak tadi, kini perlahan meredup. Ia membalas pelukan Casy. Ini yang selalu dia butuhkan kala emosi menyelimutinya seperti saat ini.


Pelukan Casy terasa nyaman dan menenangkannya baginya. Seketika ia tersadar, Casy tidak mungkin melakukan hal salah seperti yang ada dalam pikirannya. Rupanya ia telah terperdaya dengan rasa cemburu buta.


Brandon mengeratkan pelukannya, guna menyalurkan rasa bersalahnya. Menyadari hal itu, Casy menebak kemarahan Brandon sudah mulai mereda.


Melepas pelukannya, ia menatap Brandon dengan lekat. Melihat tatapan Brandon yang sudah berubah hangat, ia tersenyum.


Brandon tak kuasa melihat senyum manis Casy itu. Ia semakin yakin Casy tidak mungkin menghianatinya. Ia pun membalas senyuman Casy dengan tersenyum pula. Dan kembali memeluk Casy dengan erat.


Mereka menikmati pelukan, tak lama kemudian mereka melepaskannya. Casy menatap Brandon kembali.


"Kakak kenapa?" tanya Casy ingin tahu permasalahannya. Menatap Brandon lekat, menanti jawaban dari suaminya.

__ADS_1


Menghela nafas, Brandon menuntun Casy untuk duduk di sofa bersama. Ia berpikir, ini adalah waktu yang tepat untuk menyelesaikan masalah mereka. Termasuk masalah kemarin yang sempat terlupakan.


Meraih ponsel Casy, Brandon membuka apa yang tadi membuat ia tersulut emosi. Casy hanya memperhatikan apa yang Brandon lakukan.


Meski heran mengapa Brandon mengambil ponselnya, tapi itu bukan masalah baginya. Kini Brandon adalah suaminya, baginya ponsel bukan lagi privasinya seorang diri lagi.


Menunjukkan pada Casy, Brandon berusaha menahan cemburunya. Casy yang ditunjuki oleh Brandon tampak biasa saja. Malah ia terlihat bingung dan seakan bertanya-tanya.


Melihat respon Casy yang biasa saja, membuat Brandon semakin tambah yakin Casy tidak bersalah. Namun ia tampak masih diam untuk mendengarkan penjelasan istri di depannya ini.


Casy yang nampak bingung mencoba mencerna apa yang Brandon tunjukkan padanya. Setelah berpikir agak lama, akhirnya ia mulai paham arah pemikiran Brandon.


Menoleh pada Brandon yang kini sedang menatapnya. "Ini gak seperti yang Kakak pikirin" ucapnya menjelaskan."


"Aku tau, tapi kamu juga harus jelasin sayang. Kenapa nama kontaknya kamu namain seperti itu?" tanyanya mengintrogasi.


Casy tersenyum "Jadi suami aku ini lagi cemburu?." Ucapnya menggoda Brandon.


Brandon tersipu malu, ia memalingkan wajahnya dari Casy pura-pura marah. Memberanikan diri meraih tangan Brandon, Casy menggenggamnya.


Brandon kembali menatap Casy, ekspresinya mulai berubah garang. Kalau memang dia sendiri yang menamai, mengapa Casy mengizinkannya?. Memang Casy siapanya?.


Menyadari Brandon yang mulai cemburu lagi, Casy menahan tawanya. Ia sengaja mengerjai Brandon. Rasanya lucu melihat Brandon begitu cemburu. "Kakak tau dia siapa?"


"Temen SMA kamukan? apa hubungan kalian sebenarnya?" tanyanya nampak tak sabar. Ia begitu amat cemburu.


Casy mengangguk membenarkan ucapan Brandon. Memang orang tersebut teman SMA nya, bahkan sahabatnya.


"Dia sahabat aku Kak." Ucapnya.


"Mana ada sahabat manggilnya beb" ucapnya dengan ketus. Ia berusaha melepas genggaman tangan Casy dengan pelan. Tadi dia sempat membaca chat terakhir Casy dan orang itu.


Brandon semakin dibuat cemburu dengan ucapan Casy. Berarti hubungan mereka sangatlah dekat, sampai panggilan dan nama kontak begitu spesial.


Merasakan aura Brandon yang mulai memanas, Casy takut bakal sulit dikendalikan. Ia menahan tangan Brandon yang ingin melepas genggamannya. "Itu Meta Kak, bukan Rino" jelasnya membuat Brandon mengerutkan keningnya.

__ADS_1


Casy yang paham kalau Brandon belum paham, mencoba menjelaskannya.


"Ini kontaknya Meta Kak, beneran. Yang namain kayak gini juga dia sendiri. Kalau soal profil kenapa Rino, mereka emang suka gitu. Suka bertukar foto profil. Rino itu suaminya Meta Kak." Jelasnya panjang lebar.


"Kenapa dia gak datang ke pernikahan kita tadi?" tanyanya yang masih penasaran.


Casy menjelaskan alasan Rino tidak menghadiri pernikahan mereka. Rino sedang ada tugas kerja di luar negeri, jadilah Meta menghadiri pernikahan mereka sendirian tadi.


Dan isi dari chat-chat Meta yang terdengar oleh Brandon tadi, hanyalah candaan-candaan Meta untuk menggoda Casy di malam pernikahannya ini. Sedangkan tentang panggilan darinya tadi, pastilah ia hanya ingin menggangu Casy karena merasa kesepian.


Pasti Meta seperti itu, kala sedang berjauhan dengan Rino. Apalagi sekarang saat-saat yang tepat untuk mengeluarkan jurus-jurus godaan untuk Casy.


Brandon yang mendengar penjelasan Casy merasa lega. Ia sudah seudzon kepada Istrinya. Namun hatinya masih belum tenang, masih ada yang mengganjal.


"Sayang, tapi kenapa dua hari yang lalu kamu cuma makan berdua dengan Rino di restoran?" ucapnya menatap lekat Casy.


"Enggak kok Kak, kami bertiga. Kakak tahu aku makan di restoran?" tanyanya.


Brandon menganguk, ia menjelaskan saat kemarin melihat Casy dan langsung menghubunginya.


"Berarti waktu Kakak liat aku, Meta lagi ke toilet. Makanya tanya dulu dong, jangan berasumsi sediri." Peringatnya.


Brandon tersenyum malu, ia ketahuan telah gegabah mengambil kesimpulan. Merasa bersalah kepada Casy, ia membawa Casy dalam dekapannya.


"Maafin aku Sayang, udah berprasangka buruk tentang kamu" tuturnya merasa bersalah.


Casy menganguk dalam dekapannya.


"Sayang" panggilnya menatap Casy.


Casy mengangkat wajahnya dan mendongak menatap Brandon. Menunggu apa yang akan Brandon ucapkan selanjutnya.


Melihat Casy yang juga menatapnya, Brandon mengunci netra mata bulat itu. Tatapan Brandon yang lekat semakin dalam.


NEXT.......

__ADS_1


__ADS_2