Our Journey

Our Journey
Ketenangan


__ADS_3

"Iya kak masih ada."


Akhirnya Casy menceritakan tentang kisahnya bersama Brandon. Kisah yang lebih pedih dari kisah-kisah yang lainnya.


Memeluk Casy dengan erat, Naya seolah menyalurkan kekuatannya pada Casy. Setelah mendengar semua kisah dan penderitaan yang dialami Casy, Naya ikut merasakan perih. Dia paham apa yang Casy alami ini.


"Ya udah, sekarang lebih baik kamu tidur dulu ya. Besok kita akan bicara lagi. Untuk sekarang kamu harus menenangkan hati kamu dulu." Titahnya pada Casy.


"Emm kak, boleh malam ini aku tidur sama kakak?." Tanyanya penuh harap.


Naya merangkul Casy menuju ke kamarnya, setelah dia mengangguk mengiyakan permintaan Casy.


Setelah memastikan Casy masuk ke kamarnya dan berbaring di ranjang, Naya melangkah ke arah pintu untuk keluar.


"Kakak mau kemana? gak langsung tidur?." Tanya Casy dengan penasaran.


"Kakak mau sholat isya' dulu, kamu tidur duluan aja ya." Jawabnya dengan tersenyum.


Casy menganguk dan kembali berbaring di ranjang empuk itu. Naya bergegas melaksanakan kewajibannya sebagai manusia.


Tadi siang Naya juga sudah meminta izin pada suaminya, karena mengajak Casy menginap. Suaminya yang sedang berada di luar negeri justru senang karena akan ada yang menemani Naya mengobrol atau apapun itu di rumah.


Suami Naya yang akan lama di luar negeri, sekitar setahunan mengharuskan Naya menahan rindu dan rasa kesepian sendiri. Dan kini kehadiran Casy sedikit mengobati rasa kesepiannya itu.


Alasan suami Naya berada di sana lama, karena sedang memantau dan mengawasi adiknya, yang tak lain berarti adik iparnya untuk menempuh pendidikan Bisnis sekaligus agama di luar negeri.


Terdengar sedikit berlebihan memang, jika harus dipantau seperti itu. Tapi memang itu hal paling terbaik menurut suaminya untuk adik satu-satunya itu.


Semenjak suaminya harus menggantikan sosok orangtua bagi adiknya, suaminya itu selalu mengawasi segala kelakuan dan tindakan adiknya di manapun dan kapan pun.


Suaminya itu terlalu takut adiknya akan salah pergaulan. Makanya selalu di awasi. Dia selalu berkata bahwa adiknya itu adalah amanat dari kedua orangtuanya.


💐💐💐


"Casy, bangun dulu. Ayo ikut kakak."


Naya berusaha membangunkan Casy kala adzan subuh berkumandang.


Casy yang merasa tak enak pada Naya pun segera bangun, padahal masih sangat ngantuk dan malas.


"Kenapa kak?." Tanyanya.


"Ayo ikut kakak."


Akhirnya Casy mengikuti di belakang Naya.


Sampailah di tempat wudhu, Casy memasang wajah bingungnya.


"Kak, ngapain malam-malam kita ke sini?." Tanyanya keheranan.


"Ini gak malem lagi Cas, ini udah pagi." Sanggahnya.


Akhirnya dengan masih bingung, Casy tetap mengambil air wudhu setelah di suruh Naya. Mereka pun berlalu ke mushola rumah Naya.

__ADS_1


Melihat mukena tergantung di sana, Casy mengingat kapan terakhir kali dirinya melakukan kewajiban ini. Seingatnya ketika kelas 4 SD.


Naya yang melihat Casy diam membeku, langsung mengajak untuk segera melaksanakan shalat. Supaya masih bisa tepat waktu.


"Ayo Cas, dipake mukenanya."


Casy masih tetap diam membeku.


"Casy..." Panggilnya.


"Aku banyak lupa kak bacaannya." Akunya dengan menunduk sendu.


Menghela nafas, Naya dapat memaklumi Casy akan mengalami ini.


"Ya udah kakak tuntun ya, nanti kita pelajari lagi bacaannya." Ucapny memberi solusi.


Casy menganguk. Mereka pun melaksanakan Shalat subuh dengan Casy yang dituntun oleh Naya.


Setelah usai shalat dan berdoa, mereka melanjutkan dengan membaca Al-Qur'an.


"Bentar ya Cas." Ucapnya melangkah keluar.


Naya pun kembali dengan menuntun Kiren yang sudah di mandikan dan wangi.


Memang Naya sudah bangun dari jam 3 tadi, untuk melaksanakan shalat sunah lalu memandikan Kiren sekitar jam empatan. Ketika membangunkan Casy tadi, Kiren ia titipkan pada Vitria dulu.


Kebiasaan bangun sangat pagi itu sudah ia latih sejak masih remaja. Karena keluarganya yang sangat menekankan nilai-nilai keagamaan, ia pun terbawa kebiasaan itu.


Jadi kini Ia dan suaminya juga melatih Kiren ikut kebiasaan itu secara bertahap dan perlahan.


Namun ia selalu ditekankan oleh suminya agar solat 5 waktu. Namanya juga pria dewasa, masih susah untuk diatur sedisiplin mungkin.


Jika ditanya kapan suaminya itu mulai mendalami agama?, tepatnya saat berumur 23 tahun. Selisih umur suami dan adik iparnya itu 10 tahun. Berarti saat itu umur adiknya 13 tahun.


Pada umur itu adiknya masih tinggal bersama adik orangtua suaminya. Lebih tepatnya paman suaminya. Karena suaminya yang harus menyelesaikan pendidikan untuk mengambil alih kepemimpinan perusahaan orangtua.


Maka semenjak meninggalnya orangtua suaminya itu, adik iparnya harus di titipkan ke paman bibi suaminya. Setelah ia menikah dengan suaminya, barulah adik iparnya itu tinggal bersama mereka. Tepatnya pada saat adik iparnya berumur 15 tahun.


"Kiren juga diajak kak?." Tanya Casy tersenyum melihat Kiren yang juga tersenyum kepadanya.


"Iya, biar dia gak kesepian." Candanya pada Casy.


Mereka pun melanjutkan membaca Al-Qur'an, Casy yang kurang lancar membaca akhirnya dituntun oleh Naya.


Kiren pun juga diajari membaca oleh Naya. Sebagaimana kebiasaan mereka setiap subuhnya.


Casy seakan merasakan hal lain dalam dirinya. Setelah melaksanakan shalat dan membaca Al-Qur'an, hatinya seolah sejuk dan tenang.


Seolah beban hidupnya selama ini tak pernah ada.


💐💐💐


Waktu pun berlalu, sudah seminggu lamanya Casy menginap di rumah Naya. Tak hanya sekali waktu itu saja, Naya mengajak Casy melaksanakan shalat. Tetapi setiap hari bahkan 5 waktu sholat.

__ADS_1


Kini Casy sudah fasih melafalkan bacaan shalat, juga sudah lancar membaca Al-Qur'an. Nampaknya otak cerdas Casy mulai bekerja.


Sebenarnya Casy gadis yang pintar, namun selama ini dia hanya malas dan tak peduli pada pelajaran.


Bagaimana mungkin Casy tidak memiliki otak yang cerdas, jika kedua orangtuanya saja pemilik otak perusahaan maju yang banyak cabangnya.


Pagi hari menjelang kembali, seperti biasanya bangun pagi menjadi rutinitas Casy.


Jika biasanya setelah selesai shalat & membaca Al-Qur'an, Casy akan bermain dan mengobrol dengan Naya. Kini mereka bertiga akan jalan-jalan pagi, rutinitas Naya setiap minggunya bersama suami dan anaknya.


Jarum jam sudah menunjukkan titik 06:00 pagi, di halaman depan Naya dan Casy telah bersiap dengan pakaian olahraganya.


Pakaian olahraga Naya tepatnya, yang dipakai oleh Casy.


Berlari kecil melewati jalanan yang begitu sepi. Wajar saja, rumah Naya memang tak memiliki tetangga satupun.


Sekeliling rumah Naya hanya ada pepohonan yang rindang dan sejuk, serta perbukitan dan kebun-kebun. Sungguh asri, untuk menenangkan pikiran.


Lain dengan Casy yang lari-lari kecil, Naya di belakangnya hanya berjalan pelan menyeimbangkan langkah Kiren. Sesekali tertawa dan bercanda, ibu dan anak itu nampak sangat bahagia.


Casy yang di depannya pun berhenti sejenak saat mendengarkan tawa renyah mereka, lalu memperhatikan mereka.


Ada rasa bahagia. Hatinya tersentuh saat mandangnya. Casy rindu masa-masa itu, saat kedua orangtuanya masih memanjakan dan memperhatikan nya.


Setelah cukup lama mereka berjalan, Mereka memutuskan untuk duduk di antara kursi di pinggir perkebunan. Mengistirahatkan tubuh sejenak sebelum berjalan kembali pulang.


"Apa kakak setiap minggu jalan-jalan seperti ini?." Tanya Casy ingin tau.


Menganggukkan kepala, lalu tersenyum.


"Iya, tapi kalau biasanya dengan suami kakak. Tapi sekarang juga ada kamu, jadi gak sepi." Nampaknya Naya mulai merindukan suaminya.


Mengangguk, "Ehhm kalau adik kakak ikut juga?." Tanyanya penasaran.


Casy seolah penasaran dengan sosok adik ipar yang diceritakan oleh Naya. Adik yang saat ini sedang menempuh pendidikan di luar negeri.


"Dia gak pernah mau. pernah ikut 2 kali, setelah itu gak mau lagi. Katanya kesel cuma liat pasangan mesra-mesraan an. Dia bilang juga, nanti bakal mau jalan pagi bareng kalau udah nikah biar gak jadi obat nyamuk." Dengan tertawa kecil Naya menceritakan adik iparnya itu.


"Tapi di rumah ada alat-alat gym kak kayaknya. Apa itu masih kurang buat olahraga?." Tanya Casy.


"Kalau itu yang make suami sama adik kakak seminggu sekali juga. Sebenarnya juga bisa kalau mau pake itu aja buat olahraga, tapi suami kakak bilang menghirup udara pagi itu bagus buat kesehatan. Sambil cuci mata juga, dan menyegarkan pikiran. Kamu pasti ngrasain sejuknya di sini kan?." Jelasnya dengan tersenyum.


"Iya kak sejuk banget, pikiran aku rasanya jernih banget." Ungkapnya jujur.


"Emm aku jadi penasaran sama adik kakak itu. Dari cerita kakak, kayaknya unik orangnya. Di rumah, aku juga gak nemuain foto adik kakak itu." Ungkapnya.


"Emang dia itu lucu, kamu tau kenapa gak ada pajangan fotonya sama sekali?." Tanya Naya meminta Casy menebak.


"Karena dia gak percaya diri? atau dia pemalu?." Tebak Casy dengan ragu-ragu.


"Salah, bukan itu. Justru karena dia terlalu percaya diri." Jawab Naya dengan tertawa kecil.


Casy nampak bingung, juga penasaran.

__ADS_1


"Masa sih Kak?. Apa alasannya kalau dia terlalu percaya diri?." Tanyanya heran.


NEXT.......


__ADS_2