
Merenungkan tentang bagaimana harusnya kelanjutan perasaannya, pandangannya menatap hampa ke arah dua insan yang sedang asik berbincang di depannya.
Tanpa diduga ia sangat terkejut ketika pandangan dua orang yang sejak tadi diperhatikannya melihat kearahnya.
Karena takut ketauan memperhatikan mereka, Cya segera mengalihkan pandangannya untuk kembali fokus pada permainan pianonya.
Dari sudut matanya dapat dilihat bahwa kedua orang itu masih terus memandang kearahnya. Ia pun hanya mampu pura-pura tidak tahu.
Sepertinya mereka sedang membicarakan dirinya. Cya benar-benar khawatir apakah dia tadi ketahuan telah memperhatikan mereka begitu lama.
Setelah permainan musik yang ia bawakan selesai, ia pun turun bersama-sama pemain musik yang lain. Ia ingin segera kembali ke belakang untuk menutupi rasa malunya.
"Cya!"
Rupanya dari arah belakangnya, seseorang memanggil namanya. Ia pun menoleh kearah suara. Rupanya Fanya yang memanggil dirinya, bos sekaligus wanita yang mengobrol dengan Arzan.
"Iya Kak"
Ia yang merasa dipanggil Fanya segera menghampiri. Meski ia lumayan gelisah jika tadi dia ketauan dan kini Fanya ingin menegurnya
__ADS_1
Fanya mempersilahkan Cya untuk duduk. Kemudian ia menjelaskan maksud dan tujuannya memanggil Cya. Rupanya kekhawatirannya tidak terjadi, ia sangat bersyukur dan lega tentunya.
"Sebelumnya, ini perkenalkan Arzan temennya Kakak" ujar Fanya mengenalkan Arzan.
"Emm maaf sebelumnya Kak aku udah kenal. Kita satu kampus" jelas Cya yang memang merasa kenal dengan Arzan.
"Lah kok kamu gk bilang Az kalo temen kampus" tanya Fanya yang merasa terkejut bahwa mereka sekampus ternyata.
"Pantesan aja Fa mukanya enggak asing"
"Lo yang gue tabrak waktu itu kan?"
"Iya" jawab Cya dengan singkat sambil tersenyum tipis.
"Ya udah. Jadi begini Cya kamu kan jago banget main piano, adiknya Arzan lagi cari guru untuk belajar piano. Gimana apa kamu mau dan tertarik?" tanya Fanya menjelaskan maksud dan tujuan.
Cya terkejut. Ia tak menyangka akan mendapatkan keuntungan seperti ini. Apakah harapannya akan segera terkabul, ia bisa selalu bertemu Arzan. Ia benar-benar senang.
"Gimana Cya lo mau? Adek gue emng sedikit bawel tapi gue yakin dia bakal baik kalo sama lo" jelas Arzan menjabarkan sifat adiknya.
__ADS_1
"iya gue mau ... Arzan" jawabnya tampak ragu ketika menyebut nama Arzan
"Panggil Az aja" sarannya kepada Cya
Cya menggangguk paham.
Mereka berlanjut melakukan perbincangan tentang komisi Cya yang tidak mau dibayar. Namun Arzan tetap saja memaksa, karena ini semua adalah hasil kemampuan seseorang.
Akhirnya setelah Arzan memaksa, Cya pun mau tanpa melihat nominalnya berapapun. Mereka akhirnya berpamitan untuk ke rumah Arzan.
Fanya menyarankan untuk Cya agar fokus mengajari Caca dulu. Jadi ia tak usah masuk kerja ke kafe. Setelah selesai melaksanakan tugas itu, barulah Fanya membolehkan ia masuk kerja lagi di kafe.
Mau tak mau Cya pun menyetujui, bagaimanapun ia adalah pegawainya seorang bos.
💐💐💐
Mereka berdua pergi dengan mobil yang sama menggunakan mobil Arzan. Mereka akan segera menuju ke rumah Arzan.
Caca juga sudah stay di rumah menunggu guru musiknya. Ia sangat antusias sekali karena akan bertemu guru baru untuk mengajarinya musik.
__ADS_1
Di rumahnya juga sudah tersedia piano yang tadi sudah ia beli. Tepatnya Daddy-nya yang beli, karena ia meminta.
NEXT .......