
Mata Casy berkaca-kaca melihat seorang pria tampan yang sedang fokus menatap laptopnya. Tapi nampaknya pria itu belum menyadari keberadaannya.
"Permisi Tuan, Ceo dari perusahaan Dewantara sudah datang." Ucap Kirana dengan sopan.
Pria yang sedang fokus itu yang tak lain adalah Brandon, mengalihkan pandangannya dari laptop. Dan menatap tamunya itu.
Deg
Jantungnya serasa berhenti berdetak. Gadis yang selama ini dirindukannya, selalu didoakannya, dan dinantikannya kini berada di hadapannya.
Meski penampilannya berbeda tapi dengan sekilas pun Brandon dapat sangat mengenalinya.
Setelah menetralkan detak jantungnya, Brandon pun meminta Kirana meninggalkan mereka.
Kini tinggallah mereka berdua di ruangan itu. Brandon terus menatap Casy dengan lekat. Tampak senyuman dibibirnya merekah dengan sempurna.
Melambangkan bahwa dia sangatlah bahagia detik ini. Namun yang ditatap hanya bisa menunduk menyembunyikan airmatanya yang mungkin akan segera terjun bebas.
Namun Brandon tak menyadari hal itu. Dirinya masih belum percaya bahwa yang ada di depannya ini nyata.
Casy yang mulai risih ditatap oleh Brandon, dan tentu kakinya lelah hanya berdiri merasa jengkel dan kesal.
Airmata yang dari tadi ditahannya pun seakan mengering bersamaan dengan rasa kekecewaan atas respon Brandon yang sepertinya tidak mengenal dirinya.
Casy berfikir Brandon diam saja karena tak menyambut dirinya dengan ramah. Karena harusnya jika bertemu teman lama bukannya akan antusias dan sedikit heboh?, pikir Casy.
Akhirnya karena tak sabar dan kesal, Casy segera bersuara.
"Maaf Tuan, apa saya boleh duduk sekarang?." Tanya Casy dengan formal. Wajahnya masih saja menunduk.
Mendengarkan sebuah suara, Brandon pun tersadar dari lamunannya. Masih dengan senyum terpatri dibibirnya, Brandon bangkit dari tempat duduknya.
Melangkah perlahan mendekati tempat Casy berdiri. Dengan segala kerinduan, Brandon tak segan menubrukkan tubuhnya pada Casy.
Memeluknya lembut, Brandon mengeratkan pelukannya.
Casy tersentak kaget saat Brandon memeluknya. Dia diam membeku tanpa membalas pelukan Brandon.
Setelah tersadar, Casy berusaha lepas dari pelukan Brandon. Matanya kembali berkaca-kaca mengingat tentang wanita yang menjadi sekretaris Brandon.
Untuk apa lelaki ini memeluknya, padahal ada pacarnya atau bahkan lebih dari itu di depan ruangannya. Apa itu tak keterlaluan. Pikir Casy.
"Tuan tolong lepaskan saya!." Ucapnya dengan tegas sembari berusaha melepas pelukan Brandon.
Brandon pun melepaskan Casy, karena sedari tadi Casy terus meronta. Masih berdiri di hadapanan Casy, Brandon menatap lekat wajah Casy yang semakin cantik dengan hijab di kepalanya.
Sedangkan Casy menatap tajam pada Brandon.
"Kenapa Tuan tidak sopan kepada saya?. Kita bukan muhrim."
"Maaf, tapi aku merindukan kamu." Jawab Brandon sendu.
Casy membulatkan matanya mendengar ucapan Brandon. Apa-apaan lelaki ini, tak sadarkah apa yang sedang diucapkannya.
"Maaf Tuan, lebih baik kita segera mendiskusikan kerjasama saja." Terangnya mengabaikan perkataan Brandon.
Casy berjalan menuju sofa dan mendudukan dirinya di sana.
__ADS_1
"Apa kamu lupa sama aku?." Brandon menatap mengintimidasi.
"Maaf Tuan tidak pantas bukan kalau kita membahas urusan pribadi dalam masalah pekerjaan?." Ucap Casy dengan penuh penekanan.
Kesal dengan respon Casy yang seolah menghindarinya, Brandon meraih remot control dan memencet tombol untuk mengunci pintu ruangannya.
"Pintu sudah terkunci. Kamu masih mau mengelak?." Brandon ikut mendudukkan diri di sofa bersama Casy.
Takut Brandon melakukan sesuatu hal yang tak terduga Casy menarik nafas dalam dan sekuat tenaga menahan gemuruh hatinya.
"Apa mau kakak sekarang?." Tanyanya disertai tatapan tajam.
"Aku mau nikahin kamu." Jawabnya mantap dan tegas menatap mata Casy seolah meyakinkan.
Casy dibuat tercengang oleh ucapan Brandon barusan. Tiba-tiba bertemu setelah sekian lama dan langsung berucap tanpa beban. Apakah lelaki di depannya ini waras?.
"Kakak jangan bercanda. Aku gak mau nikah sama kakak." Ucapnya tak kalah tegas.
"Kenapa? Apa kamu sudah memiliki pasangan hidup?." Brandon nampak kecewa dan terlihat sedih. Bahkan raut wajahnya terlihat berubah sendu.
"Bukan aku tapi kakak." Jawab Casy mengalihkan pandangannya ke samping kanan. Menghindari tatapan Brandon yang duduk di sebelah kirinya.
Casy menahan air mata mengingat kejadian bertahun-tahun lalu saat di mall itu. Memang selama ini dia tak mengingat Brandon lagi, tapi tak disangkanya setelah bertemu lagi rupanya perasaan itu masih ada.
Brandon lelaki pertama yang mencuri hati dan pikirannya. Selalu melindungi dan menyayangi dirinya.
"Aku? Aku tak memiliki siapa pun Cas. Kalaupun ada itu pasti kamu." Ucapnya tegas menatap Casy yang memalingkan muka darinya.
Airmata tak mampu lagi Casy tahan. Setelah mendengar Brandon berucap seperti itu, ia makin sesak. Mengapa pria ini harus berbohong kepadanya?.
Bukannya sangat jelas kalau orangnya ada di dekatnya. Bahkan menjadi sekretarisnya.
Brandon terkejut melihat Casy yang menangis.
Dia mendekat mencoba membalikkan wajah Casy.
"Kak!." Tegurnya kala Brandon hendak menyentuh dagunya.
"Maaf." Ucap Brandon nampak bersalah.
"Jangan nangis Cas, coba jelasin jangan kamu pendam sendiri." Rasanya Brandon perih mendengar tangisan Casy. Dari dulu kelemahan Brandon adalah kesedihan Casy.
Casy tersadar tak seharusnya menangis didepan lelaki yang bukan siapa-siapanya. Bukan mukrim pula.
Menghapus air matanya, Casy menoleh pada Brandon yang menatapnya sedih dan khawatir.
"Udah ya kak, kita lanjutin bahas pekerjaan aja." Pintanya dengan mencoba tersenyum.
Ini yang semakin membuat Brandon lebih tak sanggup. Senyuman Casy yang menyembunyikan luka dan kesedihan.
Menatap Casy sayu.
"Cas, please bilang jangan kamu tutupin."
Menghela nafas, Casy mencoba menjelaskan.
"Aku tau kakak dan sekertaris kakak ada hubungan. Jadi kakak gak usah bicara bohong lagi."
__ADS_1
Brandon nampak mencerna ucapan Casy. Memang dia dan Kirana ada hubungan. Hubungan sepupukan?. Tapi kalau dari kalimat Casy, nampaknya Casy salah mengira dan menuduh hubungan yang lain.
Tapi dari mana Casy mendapatkan pikiran semacam itu?.
"Kamu bisa berfikir seperti itu dari mana?." Tanya Brandon penasaran.
Malas sekali Casy menjelaskannya. Itu sama saja mengungkit luka hatinya.
"Udah ya kak mendingan kita meeting lain waktu aja. Hari ini kita tunda." Jawab Casy dengan tegas.
Brandon bangkit dari duduknya, dan menghubungi Kirana untuk masuk ke ruangannya.
Setelah kunci pintu kembali dibuka oleh Brandon, Kirana pun masuk berjalan ke hadapan Brandon.
Casy mulai was-was. Ia merasa tak enak di tengah-tengah sepasang kekasih. Ia takut mereka akan bermesraan di depan Casy. Atau akan menggangu mereka.
"Maaf Tuan, saya permisi dulu. Meetingnya kita tunda." Ucap Casy langsung bangkit dari duduknya dan menuju pintu untuk keluar.
Karena tadi pertanyaannya tak dihiraukan oleh Brandon. Bahkan Brandon malah memanggil sekertarisnya, Casy berfikir Brandon setuju meeting mereka di tunda. Akhirnya dia memutuskan pergi dari sana.
"SAYANG!". Panggil Brandon.
Casy memejamkan mata ketika tangannya hendak meraih handel pintu dan mendengar ucapan Brandon memanggil Sayang. Sangat tak mungkin kan kata itu untuk dirinya, pasti untuk orang di belakangnya itu. Setega itu kah Brandon kepadanya?.
Apakah tadi ketika dia menangis, Brandon tau bahwa Casy masih memiliki rasa kepadanya. Dan sekarang pria itu ingin mempermainkannya. Huh, bukan sekarang, memang dari dulukan.
Lalu kenapa ia tak sadar diri. Casy harusnya kau sadar bukan, bahwa lelaki itu memang pembual. Cukup sekali dipermainkan tidak untuk kali ini.
Menguatkan hatinya Casy meraih handel pintu dan mencoba membukanya. Namun belum sempat ia berhasil membuka, suara Brandon terdengar kembali.
"SAYANG, jangan pergi dulu. Kirana mau menjelaskan sesuatu sama kamu." Ucap Brandon mencegah Casy keluar.
Deg
Jadi Brandon menujukan panggilan itu untuk dirinya?. Lalu apa maksudnya?. Sedangkan ada Kirana di sini. Tak mau ambil pusing, Casy pun membalikkan badannya.
"Apa Tuan berbicara dengan saya?. Tanya Casy memastikan.
Brandon tersenyum dan mendekat ke arah Casy.
"Jangan formal, ayo duduk lagi." Pintanya pada Casy.
Casy dan Brandon pun duduk kembali di sofa. Sedangkan Kirana masih berdiri di hadapan mereka.
"Kirana, coba jelaskan pada calon istri saya hubungan kamu dengan saya." Perintahnya.
Casy tercengang, what? apa maksudnya ini? Calon istri?.
"Maaf Nona sebelumnya, saya memang ada hubungan dengan Tuan Brandon. Yakni hubungan darah, kami saudara sepupu Nona." Jelas Kirana dengan tenang dan sopan.
Casy menganga. Sepupu? jadi selama ini dia salah penilaian. Lalu mengapa waktu itu..?.
"Nona Kirana, lalu mengapa waktu itu anda bilang anda pacarnya Tuan Brandon saat di mall?." Tanyanya menatap tajam.
Kirana tampak berfikir dan mencoba mengingat kejadian itu. Akhirnya ia pun teringat.
"Ya ampun Nona. Jadi gadis remaja yang waktu itu adalah anda. Maaf saya kurang mengenali. Sekarang anda lebih cantik." Pujinya pada Casy .
__ADS_1
NEXT.......