Our Journey

Our Journey
Khawatir


__ADS_3

Keesokan harinya Brandon dan Casy sedang bersiap-siap untuk berangkat ke rumah Mama dan Papa. Mereka akan menginap sampai keberangkatan mereka ke luar negeri.


Kini mereka sudah berada di dalam perjalanan menuju ke rumah Mama. Di dalam mobil, tidak ada percakapan sama sekali di antara mereka. Sejak tadi pagi, Casy tidak mengeluarkan sepatah katapun untuk Brandon.


Padahal Brandon sudah berusaha memulai percakapan, tapi Casy seolah mengabaikan dirinya. Akhirnya Brandon mengalah untuk memberikan waktu pada Casy. Dia juga sadar diri, bahwa ini disebabkan oleh kesalahannya sendiri.


Brandon sesekali menoleh pada Casy yang berada di sampingnya. Sedangkan Casy terus saja menatap ke luar jendela. Seakan enggan melihat bahkan melirik suaminya.


"Sayang, kamu belum mau maafin aku?" tanyanya menoleh menatap Casy.


Lagi-lagi Casy hanya diam tanpa merespon pertanyaannya. Brandon menghela nafas, Kembali fokus pada kemudinya. Hanya terdengar helaan nafas dari keduanya.


Sesampainya di rumah Mama, Casy bergegas turun untuk masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Brandon yang masih setia pada kemudinya.


Ia hanya dapat menatap sendu ke arah Casy yg turun terlebih dahulu tanpa menunggunya. Setelah mematikan mesin mobil, ia pun menyusul Casy masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum Ma, Pa" ucapnya mencium tangan kedua mertuanya.


"Walaikumsallam Bran" ucap keduanya.


"Casy mana Ma?" tanya Brandon.


"Casy masuk ke kamarnya, sepertinya dia lelah. Kamu istirahat juga aja, susulin Casy. Nanti kalau udah waktu makan siang, kita makan bareng." Ujar Mama menyuruhnya istirahat.


"Iya Bran, kayaknya anak Papa itu lagi ngambek" ujar Papa menggoda Brandon.


Brandon hanya mengangguk dan tersenyum kikuk.


"Ya udah Ma, Pa, aku susulin Casy dulu ya." Pamitnya pada Mama dan Papa, dan diangguki oleh mereka sambil tersenyum.


Memasuki kamar Casy, Brandon langsung masuk karena pintunya tidak dikunci. Ia melihat Casy yang sedang sibuk dengan laptop dan handphonenya.


Karena akan tinggal di luar negeri dalam waktu yang lumayan lama, Brandon maupun Casy disibukkan dengan urusan perusahaan. Di mana hak kepemilikan akan dialihkan sementara kepada tangan kanan mereka masing-masing.


Brandon masuk dan ikut duduk di samping Casy. Casy tidak merespon sama sekali dengan tindakan Brandon. Melihat Casy yang tengah sibuk, Brandon pun juga ikut menyibukkan diri dengan pekerjaannya.


💐💐💐

__ADS_1


Waktu makan siang pun tiba, tampak Brandon dan Casy juga ikut serta. Setelahnya Papa mengajak Brandon untuk berbincang-bincang di taman.


Sedangkan Casy ikut membantu Mama membereskan dapur. Meski ada Art, tapi Mama yang lebih banyak mengurus urusan dapur untuk mengisi waktu luang Mama.


Tiba-tiba Casy mendapat panggilan dari kantor. Rupanya ada sedikit kendala di perusahaan, dan harus segera ia tangani sekarang. Akhirnya Casy bergegas untuk bersiap-siap.


Setelah rapi, ia berpamitan dengan Mama. Casy tampak sangat buru-buru. Bahkan ia tidak berpamitan dengan Papa dan suaminya. Sebenarnya Casy ingat, tapi rasa kesalnya pada Brandon kemarin masih belum hilang.


Jadilah ia berangkat tanpa berpamitan pada suaminya. Ia bergegas masuk mobil Mama yang sengaja dipinjamnya. Karena ia tidak membawa mobilnya ke sini. Akhirnya Casy berangkat menuju kantor.


💐💐💐


Menyadari mobil Mama keluar dari gerbang, Papa bertanya-tanya mengapa Mama keluar rumah. Tanpa izin darinya, bahkan ini hal yang tidak pernah terjadi sebelumnya.


Belum sempat Papa membuka suaranya untuk bertanya pada Brandon. Tiba-tiba Mama datang dari pintu samping membawakan mereka minuman dan cemilan.


"Ma, Papa kira yang keluar pake mobil tadi Mama. Jadi siapa yang bawa mobil Mama?" Tanya Papa.


"Bukan dong Pa, Mama mana mungkin keluar rumah tanpa Papa. Yang bawa tadi Casy mau ke kantor ada urusan mendadak katanya." Jelas Mama.


Brandon terkejut mendengarnya. Ia yang ikut penasaran dengan penjelasan Mama, mendengarkan dengan seksama. Namun saat mendengarkan bahwa Casy yang keluar untuk pergi, jantungnya seakan berhenti berdetak.


Memang mereka sedang tidak bertegur sapa sekarang. Tapi apa Casy harus melakukan hal ini? pergi tanpa izin darinya. Apa kesalahannya yang kemarin benar-benar sangat fatal?. Sehingga Casy harus bertindak seperti ini.


Brandon hanya bisa terdiam dalam keterkejutannya. Jelas saja ia merasa kecewa dan marah pada Casy. Tapi ia tak boleh mengumbar permasalahan rumah tangganya.


"Tapi kok gak izin sama Papa? sama suaminya juga?. Padahal wajib loh izin suami. Papa aja marah kalo Mama gak izin." Ujar Papa.


"Tadi Casy buru-buru banget Pa. Jadi mungkin lupa. Nanti biar Mama yang nasehatin Casy." Ucap Mama yang berusaha berbaik sangka.


"Iya Pa, mungkin Casy buru-buru jadi sampai lupa. Nanti biar Brandon tanya Casy." Jelas Brandon mencoba meredam papa yang terlihat ingin marah.


Brandon tidak rela jika istrinya diamuk/dimarahi oleh siapapun, termasuk orangtua Casy sendiri.


Untuk meredakan emosinya, Brandon memilih mengambil air wudhu. Ia pun sholat dan berdoa untuk kebaikan rumah tangganya.


💐💐💐

__ADS_1


Malam hari pun tiba, Papa Mama dan Brandon baru saja selesai makan malam. Namun Casy juga belum pulang. Tadi Casy sempat menghubungi Mama, karena ia akan pulang terlambat.


Jelas saja Brandon merasa khawatir. Ia khawatir Casy pulang sendirian di malam hari.


Kini waktu menujukan jam 07:30, dari tadi Brandon tampak tidak tenang.


Awalnya ia ingin menjemput Casy, namun Mama bilang Casy sudah dalam perjalanan. Namun kini Casy belum juga sampai, ditambah lagi ponselnya tidak dapat dihubungi.


Tanpa angin tanpa petir, hujan tiba-tiba datang mengguyur bumi yang mereka tinggali. Hujan yang begitu deras nampak sangatlah lebat. Brandon bertambah khawatir menyaksikan ini semua.


Tanpa menunggu lagi, ia segera bergegas mengendarai mobilnya keluar dari pekarangan rumah mertuanya. Setelah berpamitan dengan Mama dan Papa yang juga merasa khawatir.


💐💐💐


Sedangkan di tempat yang lain, terlihat Casy sedang terisak di dalam mobilnya yang tampak berhenti. Di tengah hujan deras itu, tangisannya seolah mengiringi bunyi jatuhnya air membasahi bumi.


Ia nampak gemetar dan ketakutan. Ia memeluk tubuhnya sendiri sambil terus mengucapkan dzikir untuk menangkan hatinya. Ia menangis sesenggukan menyesali sikapnya pada suami tercintanya.


Tak lama kemudian, dari depan mobilnya terlihat sebuah lampu menyorot ke arah mobilnya. Ia mengangkat kepalanya, diamatinya sorotan itu dengan masih menangis.


Mobil itu berhenti, dan keluarlah Brandon dari pintu kemudi. Casy yang melihatnya tersenyum dengan buliran air mata. Ia terharu dengan tindakan Brandon.


Padahal jelas-jelas tadi ia mengabaikan suaminya ini. Tapi Brandon kini rela menjemput dirinya padahal hujan begitu lebat. Ia semakin menyesal telah marah pada Brandon.


Padahal Brandon kemarin hanya main-main saja, mungkin caranya salah. Tapi harusnya ia tak perlu baper seperti kemarin, yang membuat mereka harus bertengkar.


Brandon mengeluarkan payung, dan menghampiri Casy. Ia membuka pintu mobil Casy, setelah Casy membuka kuncinya. Brandon masuk perlahan dan duduk di samping Casy.


Tak butuh waktu lama, Casy langsung berhambur memeluk Brandon dengan erat. Brandon membalas pelukan istrinya tak kalah erat. Ia sangat khawatir dengan Casy.


"Kak aku takut" Ujarnya mengadu.


"Aku di sini Sayang, gak usah takut lagi ada aku." Jelas Brandon menenangkan.


Casy menangis dalam pelukannya, Brandon mengusap-usap punggung istrinya itu. Guna menenangkannya. Casy merasa aman sekarang, dengan berada di pelukan hangat suaminya. Lelaki yang dicintainya dan selalu menjaganya.


NEXT .......

__ADS_1


__ADS_2