Our Journey

Our Journey
Sakit


__ADS_3

Sesuai keinginan kemarin, kini Casy tengah menyiapkan makan siang untuk tamunya. Ia meminta Brandon mengundang Marcho dan Rachel untuk makan siang. Dan sekaligus untuk berkenalan dengan Rachel. Sedangkan Marcho, Casy sudah kenal karena ia juga sering main ke rumah.


Mereka tampak sudah datang. Casy menyambut hangat kedatangan mereka di ruang tamu.


"Hai, kamu pasti Casy kan istrinya Brandon. Sangat cantik." Sapanya dengan memuji Casy, ia begitu sumringah dan heboh.


"Iya, kamu Rachelkan." jawab Casy dengan tersenyum ramah.


Kamu bisa bahasa Indonesia?" tanya Casy dengan heran.


Rachel tersenyum dan mengangguk.


"Iya, pernah belajar sedikit." jelasnya pada Casy.


"Ya udah, nanti kita lanjutin lagi. Sekarang makan dulu yuk." Ajak Casy dan diangguki oleh mereka.

__ADS_1


Mereka menikmati makan siang dengan bergurau. Terlihat Casy dan Rachel juga mulai akrab. Rachel yang lumayan fasih berbahasa Indonesia, membuat mereka lebih leluasa berbagai canda tawa. Meski Casy juga fasih Bahasa Inggris, namun baginya bahasa Indonesia lebih mudah untuk digunakan dalam berbincang pertemanan.


Rachel memang pernah belajar Bahasa Indonesia karena ia pernah tinggal di sana. Dulu ia sempat tinggal di Indonesia untuk melakukan penelitian tugas kuliahnya. Ketika itu ia masih mahasiswi S1. Kini ia, Marcho, dan Brandon sama-sama melanjutkan pendidikan S3.


Sebenarnya, Marcho sudah mendesak Rachel untuk diajak menikah. Namun karena pernah mengalami kegagalan hubungan saat menjalankan pendidikan. Ia menolak ajakan Marcho, dan memutuskan untuk menyelesaikan pendidikan barulah menikah.


Setelah selesai dengan acara makan siang. Kini mereka melanjutkan obrolan di halaman belakang rumah. Tak lupa, Mirta menyediakan minuman dan cemilan untuk mereka.


Waktupun berlalu, kini hari semakin gelap. Beberapa menit yang lalu, Marcho dan Rachel baru saja pamit untuk pulang. Brandon dan Casy telah selesai membersihkan diri, mereka bersiap untuk shalat kemudian makan malam.


Namun belum sempat bibir mereka menempel, Casy segera mendorong tubuhnya menjauh. Terlihat Casy menutup mulutnya dan segera duduk.


"Sayang, kamu ..." belum sempat Brandon bertanya, Casy lebih dulu berlari ke kamar mandi.


Brandon bergegas menyusul Casy. Ia khawatir dan penasaran apa yang terjadi pada istrinya. Melihat Casy yang menundukkan dan mengeluarkan isi perutnya, ia langsung mendekat. Casy merasakan pijatan lembut ditengkuknya.

__ADS_1


Setelah merasa cukup, Casy membasuh mulutnya lalu menegakkan badannya. Ia mengambil tisu untuk mengelap bibirnya. Ia berbalik menatap Brandon. Wajahnya nampak pucat, dan badannya terasa lemas.


Tanpa pikir panjang dengan rasa khawatirnya, Brandon langsung menggendong Casy dan menidurkannya di ranjang mereka. Ia pun ikut berbaring dan memeluk Casy, dikecupnya pucuk kepala Casy berkali kali. Ia begitu khawatir, Casy kenapa-kenapa.


Dielusnya pipi Casy dengan lembut.


"Sayang, apa yang kamu rasain. Masih mual, pusing, atau apa?. Kita ke rumah sakit ya?." Tanyanya pada Casy.


Casy menggeleng menjawab pertanyaan Brandon.


"Hubby jangan kemana-mana, temenin aku di sini." ucapnya dengan lemas.


"Iya, aku di sini jagain kamu." Ujar Brandon. Ia tetap memeluk Casy untuk memberikan kehangatan.


Meski begitu, rasa khawatirnya tidak berkurang sedikitpun. Ia segera menghubungi Dokter pribadi untuk datang dan memeriksa keadaan istrinya.

__ADS_1


NEXT .......


__ADS_2