
Geral mandi dengan penuh semangat, setelah selesai ia segera menyusul Ruhi di dapur. Ia melihat Ruhi sedang sibuk dengan spatula dan wajannya. Perlahan ia mendekat lalu...
Grep...
" Astaga!!" Pekik Ruhi saat Geral memeluk perutnya dari belakang. Geral menyandarkan dagunya ke bahu Ruhi.
" Minggir Mas! Aku lagi masak juga ih." Ujar Ruhi.
Klik..
Geral mematikan kompornya.
" Kenapa di matikan Mas? Ini udah siang tahu nggak sih, kamu harus pergi ke kantor kan." Ujar Ruhi.
" Kepalaku sakit, jadi hari ini aku tidak ke kantor. Aku mau istirahat di rumah aja." Ujar Geral.
" Apa? Kamu sakit kepala?" Ruhi membalikkan badannya, ia menempelkan tangannya ke dahi Geral.
" Tidak panas." Gumam Ruhi.
" Aku tidak demam sayang, tapi aku pusing karena efek obat semalam. Sepertinya efek obatnya masih berpengaruh dan aku membutuhkan pelepasan lagi." Ucap Geral menyeringai.
" Hah??" Ruhi melongo mendengarnya.
" Iya sayang, sakit kepalaku tidak akan hilang tanpa aku melakukan itu, ayo tolong aku menghilangkan sakit kepala ini." Geral menarik tangan Ruhi meninggalkan dapur.
" Mas tapi masakanku..
" Tidak usah di pikirkan! Mending mikirin aku dulu yang sedang butuh pertolongan." Sahut Geral.
Keduanya masuk ke dalam kamar.
" Sebentar Mas aku membersihkan badanku dulu." Ujar Ruhi masuk ke kamar mandi.
Ruhi menyandarkan punggungnya pada pintu kamar mandi. Ia menyentuh dadanya yang begitu berdebar debar.
" Ya Tuhan... Kenapa rasanya berdebar begini? Aku merasa gugup jika harus melakukannya sekarang. Apalagi Mas Geral dalam keadaan sadar. Hah... Tarik nafas dalam dalam Ruhita, terus hembuskan." Ujar Ruhi.
Tok tok
" Sayang kenapa lama sekali? Buruan donk! Aku tambah pusing nih." Ucap Geral dari luar.
" Iya Mas, bentar." Sahut Ruhi.
Ruhi segera membuka bajunya lalu mencuci wajahnya menghilangkan aroma dapur yang menempel di tubuhnya. Setelah selesai ia keluar hanya memakai bathrobe saja. Geral menatapnya dengan penuh cinta.
Geral menarik tangan Ruhi menuju ranjang. Keduanya duduk serong di tepi ranjang saling berhadapan. Geral mendorong Ruhi ke atas ranjang dengan pelan. Ia mulai mencium bibir Ruhi. Geral ******* bibir Ruhi dengan lembut. Ia menahan tengkuk Ruhi memperdalam ciumannya. Suara decapan memenuhi ruangan mereka.
Tanpa sadar tangan Geral meremas salah satu gundukan kembar milik Ruhi.
" Shh Mas.. " Desis Ruhi membuat jiwa kelakuan Geral memuncak.
Ciuman Geral turun ke leher Ruhi, ia menyesapnya meninggalkan bekas merah di sana. Ruhi meremas sprei dengan kuat menahan gejolak di hatinya.
Pagi ini Geral kembali menjadikan Ruhi miliknya sepenuhnya. Ia merasa sangat bahagia dengan apa yang terjadi saat ini. Suara des@h@n dan erangan memenuhi kamar mereka. Hingga keduanya mencapai pelepasan, Geral mencium kening Ruhi dengan lama.
" Terima kasih sayang." Ucap Gera merebahkan tubuhnya di samping Ruhi.
Ruhi hanya menganggukkan kepalanya. Geral memeluk Ruhi di balik selimutnya.
__ADS_1
" Aku berharap akan ada Geral junior di sini." Ujar Geral mengelus perut Ruhi.
" Dan aku juga berharap kau akan mengurungkan kepergianmu, tetaplah di sini bersamaku! Dua tahun bagiku sangat lama sayang, belum lagi kalau nanti kamu hamil, siapa yang akan mengurusmu di sana hmm?" Geral merapikan anak rambut yang menutupi wajah Ruhi.
" Kau sangat pintar memperdayaiku Mas. Aku bahkan tidak mampu menolak permintaanmu saat ini." Sahut Ruhi.
" Itu artinya kamu tidak jadi pergi?" Tanya Geral memastikan.
" Iya, aku tidak jadi pergi. Setelah aku menyerahkan hidupku padamu, aku juga tidak mau kehilanganmu. Aku takut hal semalam terjadi lagi padamu. Pasti akan ada pelakor lain yang akan berbuat serendah ini padamu." Ucap Ruhi.
" Terima kasih sayang, aku mencintaimu." Ucap Geral membawa Ruhi ke pelukannya.
" Aku... Aku juga.. Mencintaimu." Lirih Ruhi membuat Geral terkejut.
" Benarkah? Benarkah kau mencintaiku sayang?" Tanya Geral memastikan.
" Iya." Ruhi menganggukkan kepala.
" Terima kasih sayang, aku sangat bahagia akhirnya cintaku di sambut olehmu. Terima kasih sayang." Ucap Geral bahagia.
Ruhi memeluk perut Geral, ia membenamkan wajahnya ke dada bilang suaminya.
" Ayo kita mandi, kita beritahu Leon dan Dane tentang keputusanmu ini." Ucap Geral mengelus kepala Ruhi.
" Iya Mas." Sahut Ruhi.
Keduanya mandi bersama, setelah itu Ruhi melanjutkan memasak. Setelah matang keduanya sarapan bersama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Huek... Huek... Huek...
Sandia memuntahkan seluruh isi perutnya di wastafel kamar mandi. Dengan setia Rangga berdiri di belakangnya sambil memijat tengkuknya.
Huek... Huek...
" Apa sudah mendingan sayang?" Tanya Rangga.
" Sudah Mas." Sahut Sandia.
" Mas bantu ke kamar." Rangga menuntun Sandia ke ranjangnya. Ia duduk bersandar pada tumpukan bantal.
" Mas akan membuatkan teh hangat untukmu, atau kau mau minum susu jahe saja?" Tawar Rangga.
" Teh hangat saja Mas, gulanya sedikit saja buat nggak kemanisan." Ujar Sandia.
" Baiklah, tunggu sebentar!" Ucap Rangga mencium kening Sandia.
Rangga segera menuju dapur membuatkan teh hangat untuk Sandia. Setelah selesai ia kembali ke kamarnya memberikan teh hangat kepada Sandia. Sandia meminumnya dengan perlahan.
" Apa yang ingin kamu makan pagi ini sayang?" Tanya Rangga menatap Sandia.
" Aku ingin makan durian Mas." Sahut Sandia.
" Sayang bukannya Mas tidak mau membelikannya, tapi katanya durian cukup berbahaya untuk janin kita. Gimana kalau di ganti yang lain saja? Semisal eskrim rasa durian gitu." Ucap Rangga memberi pengertian dengan lembut.
" Baiklah Mas, es krim durian juga tidak buruk. Tapi aku ikut, aku ingin makan di sana saja." Ucap Sandia.
" Baiklah, ayo!" Ajak Rangga.
__ADS_1
Sandia turun dari ranjang, Rangga menuntunnya sampai masuk ke mobil. Rangga segera melajukan mobilnya menuju kedai eskrim terdekat yang buka dua puluh empat jam.
Setelah sampai mereka masuk ke dalam lalu memesan es krim rasa durian dan coklat dengan ukuran jumbo. Tak lama pesanan Sandia datang.
" Di makan sayang! Nanti keburu lumer." Ucap Rangga.
" Atau mau Mas suapi?" Tanya Rangga menatap Sandia.
" Kaya'nya enak Mas kalau di suapi, iya deh." Sahut Sandia.
Rangga menyuapi Sandia dengan telaten. Satu sendok es krim coklat, satu sendok lagi rasa durian. Sandia nampak memakan es krim dengan lahap.
" Anak papa lapar apa doyan nih? Kok lahap bener makannya." Ucap Rangga tersenyum manis.
" Kaya'nya doyan deh Mas." Sahut Sandia.
" Apa nggak mual sayang pagi pagi makan eskrim?" Tanya Rangga memastikan.
" Enggak Mas, malah rasanya perutku dingin gitu." Ujar Sandia.
" Baiklah Mas akan menyetok es krim yang banyak di kulkas. Tapi ingat! Makannya jangan kebanyakan, karena banyak mengandung gula." Ujar Rangga.
" Iya Mas siap." Sahut Sandia.
Sandia menghabiskan dua mangkok es krim porsi besar. Setelah itu mereka jalan jalan ke taman kota.
" Sini sayang." Rangga menggandeng tangan Sandia berjalan di atas rerumputan hijau.
" Sandia."
Sandia menoleh ke belakang.
" Hans." Ucap Sandia.
Hans berjalan menghampirinya.
" Hei apa kabar?" Tanya Sandia.
" Seperti yang kau lihat, aku masih baik baik saja meskipun hatiku terluka. Dua kali aku gagal dalam menjalin cinta." Sahut Hans.
" Bersabarlah! Suatu hari nanti pasti kau akan menemukan gadis yang benar benar mencintaimu." Ujar Sandia.
" Aku tidak yakin itu Sandia, ya sudah aku duluan ya soalnya aku buru buru mau ke ketemu client." Ujar Hans.
" Oke, hati hati." Sahut Sandia.
" Oke, mari." Ucap Hans di balas anggukkan kepala oleh Sandia.
Hans meninggalkan mereka berdua, Sandia menatapnya dengan tatapan iba.
" Aku kasihan sama Hans Mas, dia pasti sangat terluka saat Ruhi memilih Geral. Walaupun Ruhi punya alasan karena Hans sudah di jodohkan tapi jika mereka sama sama berjuang seperti kita aku yakin mereka bisa bersama." Ujar Sandia.
" Ruhi tidak mencintainya sayang, sama sepertimu." Sahut Rangga.
" Iya Mas, ayo kita pulang!" Ajak Sandia.
Mereka bergandengan tangan menuju mobilnya.
**TBC...
__ADS_1
Next part kita ke konflik rumah tangga Leon dan Dane ya...
Miss U All**...