Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
PERNIKAHAN SARANG (Sandia&Rangga)


__ADS_3

" Kak."


" Ya.. " Sahut Leon menatap Sandia.


" Jangan lupa obati lukanya." Ucap Sandia.


Leon menganggukkan kepalanya. Ia segera keluar dari rumah Gavin.


" Sekarang lanjutkan makannya." Ucap nyonya Rindu.


Mereka semua melanjutkan makan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sebuah ballroom hotel King di pusat ibukota, acara pernikahan Sandia dan Rangga di gelar secara meriah. Seribu tamu undangan dari kerabat, rekan kerja dan para petinggi perusahaan memenuhi ruangan.


Di depan meja akad sana, Rangga dan Sandia duduk berdampingan di depan pak penghulu dan Gavin. Pernikahan Sandia di lakukan oleh Gavin sebagai walinya. Gavin menjabat tangan Rangga, acara ijab kobul segera di mulai.


" Saudara Rangga Wijaya." Ucap Gavin.


" Saya." Sahut Rangga.


" Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan adik saya, Sandia Mahardika untukmu sendiri dengan Mas kawin seperangkat alat sholat dan sebuah rumah di bayar tunai." Ucap Gavin.


" Saya terima nikah dan kawinnya Sandia Mahardika binti Tristan Mahardika untuk saya sendiri dengan Mas kawin tersebut di bayar tunai." Sahut Rangga lantang.


" Bagaimana saksi?"


" Sah."


" Alhamdulillah."


Pak penghulu memimpin doa hingga khutbah nikah. Setelah penandatanganan akta nikah acara di lanjut resepsi. Para tamu undangan bergantian mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.


" Selamat sayang, semoga menjadi keluarga sakinah mawaddah dan warrohmah." Nyonya Rindu memeluk Sandia.


" Amin, terima kasih Ma." Sahut Sandia.


" Selamat Sandia, aku doakan semoga bahagia dan segera dapat momongan." Ucap Vania memeluk Sandia.


" Terima kasih Kak... Semoga aku dapat yang seperti Gava." Ucap Sandia mencium pipi Gava.


" Amin." Sahut mereka serempak.


" Sandia." Ucap seseorang.


Semua orang yang berada di pelaminan menoleh ke arahnya.


" Radit." Gumam Gavin mengepalkan erat tangannya.


" Mau apa kau kemari hah?" Gavin menghampiri Radit.


" Gavin jangan!" Ucap nyonya Rindu menghentikan langkah Gavin.

__ADS_1


" Kenapa Ma? Aku tidak mau dia ada di sini. Mama tidak tahu siapa dia." Ucap Gavin menatap mamanya.


" Dia adikmu." Sahut nyonya Rindu membuat Sandia, Gavin melongo.


" Bagaimana Mama bisa tahu? Apa dia pernah menemui Mama sebelumnya?" Tanya Gavin.


" Kita bicara di kamar saja, Mama sudah memesan kamar untuk kita membicarakan soal ini. Karena Mama tahu jika situasi ini akan terjadi." Ucap nyonya Rindu.


" Sebelum itu aku ingin mengucapkan selamat dulu pada adikku Ma." Ucap Radit.


" Ma?" Gavin mengerutkan keningnya. Begitupun dengan Sandia. Ingin rasanya ia bertanya namun ia menahannya.


Radit menghampiri Sandia dan Rangga.


" Selamat Ngga, semoga bahagia dan langgeng selamanya." Ucap Radit memeluk Rangga.


" Terima kasih." Santi Rangga.


Radit menatap Sandia dengan penuh kerinduan. Tiba tiba...


Grep...


Radit memeluk Sandia membuat tubuh Sandia mematung. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Siapa pria ini? Darimana asalnya? Kenapa mamanya bilang kalau pria ini adiknya Gavin? Pikir Sandia.


" Kakak sangat merindukanmu Sandia. Kakak bahagia akhirnya Kakak bisa bertemu denganmu dan memelukmu di hari bahagiamu ini. Papa pasti bahagia melihat aku bisa bertemu dengan adikku yang cantik ini." Ucap Rangga.


Tak terasa air mata menetes begitu saja. Mereka semua terharu melihat pertemuan ini.


" Ayo Radit!" Ajak nyonya Rindu.


" Iya Ma." Sahut Radit.


Mereka semua menuju kamar nomer dua kosong satu termasuk bibi Tuti. Mereka duduk berpencar, ada yang di sofa dan di tepi ranjang.


" Gavin, sebenarnya waktu kamu menjemput Vania, Mama ada di sana."


Deg....


Jantung Gavin berdetak sangat kencang. Ia menatap mamanya dengan tatapan yang sulit di artikan.


" Mama mendengar semuanya sayang, pagi hari saat Radit hendak meninggalkan rumahnya, Mama ke sana. Awalnya Mama merasa begitu rapuh melihat Radit dari dekat saat itu. Ingin rasanya Mama menangis menahan rasa sakit yang dulu papamu torehkan di hati ini. Namun Vania menguatkan Mama sayang." Ucap nyonya Rindu.


Gavin menatap Vania dengan tajam. Vania menundukkan kepalanya.


" apa Vania juga ikut ke sana?" Selidik Gavin.


" Iya, karena Mama punya keyakinan jika Vania lah kekuatan Mama." Sahut nyonya Rindu.


" Dan benar saja, Mama menjadi kuat saat itu. Mama belajar untuk ikhlas menerima Radit menjadi keluarga kita. Radit tidak bersalah Nak, dia hanya korban dari hubungan papamu dengan Ratna. Lagian saat ini papamu dan Ratna sudah tiada, jadi tidak perlu kita menyimpan rasa sakit itu di dalam hati lagi." Ujar nyonya Rindu.


" Wanita ular itu meninggal?" Tanya Gavin memastikan.


" Mama meninggal dua hari lalu." Sahut Radit.

__ADS_1


" Syukurlah kalau dia sudah tiada. Setidaknya satu sampah sudah berhasil di bersihkan."


Radit memejamkan matanya menahan rasa sakit atas ucapan Gavin.


" Jangan berbicara seperti itu Gavin, bagaimanapun dia ibu tirimu." Ucap nyonya Rindu.


" Aku tidak mengakuinya Ma, baik dirinya ataupun anak haramnya." Sahut Gavin melirik Radit.


" Ma, Kak, sebenarnya ini ada apa? Siapa pria ini?" Tanya Sandia menunjuk Radit.


" Biar Kakak yang menjawabnya. Dia anak haram papa dengan selingkuhannya." Ucap Gavin membuat Sandia sedikit terkejut.


Sandia menatap Radit dengan seksama. Wajahnya mirip dengan Gavin yang menuruni gen papanya.


" Dia juga kakakmu Sandia, Mama berharap kau mau menerimanya sebagai kakakmu seperti kau menerima Gavin." Ucap nyonya Rindu.


" Jangan samakan dia dengan kak Gavin Ma! Karena kak Gavin tidak ada duanya." Sahut Sandia.


" Kak Gavin bekerja membanting tulang demi menghidupi kita. Tapi dia? Dia hidup senang dengan kemewahan yang papa berikan padanya Ma. Kak Gavin bersusah payah membangun perusahaan demi masa depan kita, tapi dia... " Sandia menjeda ucapannya sambil menunjuk dada Radit.


" Dia dan ibunya hanya bisa menghabiskan uang papa. Karena dia dan ibunya kita hidup terpisah selama puluhan tahun, kita hidup menderita Ma. Setiap malam aku dan kak Gavin menangis karena merindukan Mama yang berada di rumah sakit jiwa, karena dia dan ibunya kita mengalami masa masa sulit Ma. Lalu bagaimana bisa Mama memintaku menerimanya seperti aku menerima kak Gavin sebagai kakakku? Luka ini... Penderitaan ini tidak akan hilang karena kehadirannya Ma. Justru kehadirannya membuat luka ini semakin dalam. Aku membencinya... Aku membenci ibunya dan aku juga membenci papanya." Teriak Sandia di akhir kalimatnya.


" Tenanglah sayang!" Ucap Rangga.


" Mas hiks... " Isak Sandia dalam pelukan Rangga.


" Aku tidak mau dia ada di sini Mas, suruh dia pergi!" Ucap Sandia.


Hati Radit terasa sangat sakit melihat penolakan Sandia. Nyonya Rindu bisa merasakan itu.


" Mama tidak pernah mengharapkan ini dari kalian berdua. Mama berharap kalian bisa seperti Vania tapi tidak... Ternyata kalian berdua memiliki sifat pendendam. Mama kecewa pada kalian berdua." Ucap nyonya Rindu.


" Mama...


" Ayo Dit kita pergi!" Nyonya Rindu menarik tangan Radit keluar dari kamar itu.


Vania pun menyusulnya.


" Sayang tunggu!" Ucap Gavin mengejar Vania di ikuti bibi Tuti.


Tinggal Rangga dan Sandia saja.


" Mas... Mama marah sama aku." Ucap Sandia menatap Rangga.


" Tenangkan hatimu dan pikirkan bagaimana baiknya kamu mengambil sikap sayang. Karena benar kata mama, bagaimanapun dia saudaramu. Radit anak kandung papamu, kalian sedarah sayang. Tapi Mas tidak akan memaksamu untuk menerimanya. Mas ingin kau menerima Radit sebagai saudaramu atas keinginan hatimu sendiri. Apa kira kira kau bisa menerimanya?" Tanya Rangga.


Bisa nggak nih???


Mana komentnya kok sepi ya....


Tekan like untuk dukung author...


Terima kasih...

__ADS_1


TBC....


__ADS_2