
Pagi ini Vania sedang bersiap hendak pergi ke acara pernikahan Geral dan Ruhi. Ia memoles wajahnya dengan riasan natural di depan cermin meja rias.
" Kamu sudah siap sayang?" Gavin menghampiri Vania sambil menggendong Gava.
" Mam.. Ma... " Ucap Gava mengacungkan kedua tangannya kepada Vania.
" Gava gendong Papa aja! Kasihan mama kalau harus gendong Gava. Kondisi Mama sedang tidak memungkinkan untuk menggendongmu sayang. Mama masih merasa tubuhnya lemas." Ujar Gavin.
" Mas." Ucap Gava mulai menirukan orang dewasa berbicara.
" Iya sayang, kasihan juga dedek bayinya kan? Nanti ke tekan abang Gava gimana? Mending Gaba gendong Papa aja, aman." Sahut Gavin.
Gava mengganggukkan kepalanya sambil terus berceloteh membuat Gavin senang karena terus menyahut nya.
" Mas nanti jangan lama lama di sana ya, badanku rasanya letih banget. Penginnya tiduran aja di rumah." Ujar Vania.
" Apa mending kita di rumah aja sayang? Aku takut kamu kenapa napa di sana." Ujar Gavin.
" Jangan Mas! Kasihan Ruhi kalau kita nggak datang ke sana. Dia sudah menganggap kita seperti kakaknya sendiri. Dia pasti dia akan sedih banget kalau kita nggak ke sana." Sahut Vania.
" Ya sudah nanti setelah acara ijab qobul selesai, kita langsung pamit pulang." Ucap Gavin.
" Iya." Sahut Vania.
" Kak udah siap apa belum? Mama udah nunggu di bawah?" Tanya Sandia mengampiri Gavin.
" Iya udah, ayo kita berangkat!" Ajak Vania.
" Gava sama Aunti saja sini!" Sandia mengambil Gava dari gendongan Gavin.
Mereka bertiga turun ke bawah.
" Ayo Ma!" Ucap Gavin.
Mereka semua berangkat menuju hotel King dengan dua mobil yang berbeda. Sesampainya di sana mereka di sambut Leon dan Geral dengan senang.
" Terima kasih atas kehadiran kalian semua, aku mohon doa terbaik untuk pernikahan kami berdua." Ucap Geral.
" Semoga acaranya lancar, tidak ada halangan suatu apapun." Ucap nyonya Rindu.
" Amin, Terima kasih." Sahut Geral.
Mereka semua duduk di kursi yang sudah di siapkan untuk melakukan acara ijab qobul. Pak penghulu dan dua saksi sudah siap di kursinya, tinggal menunggu mempelai wanitanya.
Hingga jam yang di tentukan, mempelai wanita belum juga turun membuat semua orang nampak gelisah.
" Tuan Geral, segera panggil mempelai wanita anda! Ini sudah jam sembilan lebih." Ujar penghulu.
" Baik Pak." Sahut Geral.
Geral meminta Danesha memanggil Ruhi.
" Dimana aku memanggilnya Kak? Ruhi tidak terlihat datang kemari. Kamar riasnya saja kosong." Ujar Danesha.
__ADS_1
" Apa? Kosong? Apa sedari tadi pagi Ruhi tidak ke sini? Dimana sopir yang aku tugaskan untuk menjemputnya?" Tanya Geral.
" Akan aku panggilkan." Ucap Danesha berlalu dari sana.
Geral nampak gusar. Ia menyukai kasar rambutnya. Semua orang nampak bingung melihatnya.
" Apa kau mau bermain main denganku Ruhita? Apa kau pikir ancamanku ini hanya main main? Jika sampai kau kabur dari pernikahan ini maka aku akan membuktikan ancamanku padamu. Aku tidak peduli jika orang orang membicarakan adikku hamil tanpa suami, aku bisa mengirim adikku ke luar negeri, jadi bukan pihakku yang akan rugi melainkan pihakmu sendiri. Kau akan melihat bagaimana Leon menderita karena kehilangan adikku. Jangan berpikir kau lebih cerdik dariku." Ujar Geral kesal dalam hatinya.
Danesha kembali bersama sopir yang bertugas menjemput Ruhi.
" Apa kau menjemput calon istriku di rumahnya?" Tanya Geral menatap tajam.
" Iya Tuan, tapi Nyonya menyuruhku pergi karena Nyonya mau kemari bersama temannya." Sahutnya.
" Temannya? Laki laki atau perempuan?" Tanya Geral.
" Laki laki Tuan."
" Apa???" Pekik Geral.
" Bagaimana bisa kau membiarkan dia pergi bersama teman laki lakinya? Bagaimana kalau mereka punya hubungan? Bagaimana kalau laki laki itu membawa calon istriku kabur hah? Bahkan sampai sekarang calon istriku belum tiba di sini." Bentak Geral.
" Maaf Tuan! Saya tidak tahu jika kejadiannya akan seperti ini." Sahutnya.
" Tenanglah Kak! Kalau Ruhi memang mau menikah denganmu, dia pasti akan datang. Kecuali jika niatnya ingin mempermalukan keluarga aku tidak tahu." Ucap Danesha melirik Leon.
" Aku tidak tahu apa yang menjadi pertimbangan kalian melakukan pernikahan ini. Tapi yang jelas, adikku orang yang bertanggung jawab dengan ucapan ataupun komitmen yang ia buat. Aku yakin Ruhi pasti akan datang, tunggulah sebentar lagi! Mungkin dia belum selesai bersiap." Ucap Leon.
" Baiklah aku tunggu lima belas menit lagi." Ucap Geral mencoba percaya pada ucapan Leon.
Rangga menyenggol lengan Sandia.
" Ada apa Mas?" Tanya Sandia.
" Sayang coba kamu telepon Ruhi dan tanyakan dia ada dimana!" Ujar Rangga.
" Iya Sandia, coba kau telepon Ruhi!" Timpal bibi Tuti.
" Iya Bibi." Sahut Sandia.
Sandia segera menelepon Ruhi.
" Aktifkan loudspeakernya!" Titah Geral di balas anggukkan kepala olehnya.
Tut... Tut....
" Halo San, gimana?" Tanya Ruhi di sebrang sana.
" Lo dimana Hi? Kami semua menunggu lo.
Apa lo lupa kalau hari ini hari pernikahan lo? Lo jangan coba coba kabur ya." Ujar Sandia.
" Sorry San gue nggak bisa datang, gue udah terbang ke Singapura bareng Hans."
__ADS_1
Jeduarrrr....
Bagai di sambar petir di siang bolong, Geral mematung mendengar ucapan Ruhi.
" Bagaimana bisa kau melakukan semua ini Ruhi? Bagaimana dengan kak Geral di sini?" Tanya Sandia mewakili pertanyaan Geral.
" Biarkan saja San, ini konsekuensi yang harus ia terima karena telah memaksaku. aku tidak mau memaksakan perasaanku untuk menerima pria yang tidak aku cintai. Aku juga tidak suka pria tua dan pemaksa sepertinya. Aku... "
" Cukup Ruhi!!!" Bentak Geral merebut ponsel Sandia.
" Jika kau tidak mau kenapa tidak kau katakan sebelumnya? Kenapa kau membuatku malu di depan semua tamu seperti ini? Apa kesalahanku padamu hah?... Kau membuat trauma dalam diriku kembali Ruhi. Kau sama dengan dia yang menghancurkan hidupku dengan meninggalkan aku." Ucap Geral lirih di akhir kalimatnya.
" Kenapa kau terdengar sangat kehilangan Kak Geral? Bukankah tidak ada perasaan apa apa untukku? Kau bisa mendapatkan gadis lain yang mau menikah denganmu kan?" Ujar Ruhi santai.
" Aku... Aku.... " Geral menjeda ucapannya. Pandangannya menyapu semua orang bergantian.
Ruhita sayang ayo kita pergi! Taksi sudah datang menjemput kita
Hati Geral memanas mendengar ucapan seorang pria di sebrang sana. Ia yakin jika itu suara Hans. Bayangan kekasihnya dulu berselingkuh berputar di pikirannya. Rasa takut dan panik yang berlebihan tiba tiba muncul ke permukaan hati Geral.
" Kak Geral." Danesha menyentuh bahu Geral.
" A... Aku... Dane aku... " Geral memundurkan tubuhnya. Terus mundur, mundur sampai terpentok meja.
" Kak tenanglah! Lupakan Ruhi! Wanita bukan hanya dia saja. Aku akan mencarikan wanita lain untukmu Kak." Ucap Danesha.
" Wanita yang seperti apa Danesha?"
Semua orang menoleh ke asal suara. Ruhi berdiri dengan memakai gaun pengantin miliknya.
Deg.... Deg.. Deg...
Jantung Geral berdetak sangat kencang.
" Ru... Hi." Ucap Geral gugup. Ia mendekati Ruhi.
" Ruhi ini kau?" Tanya Geral berdiri di hadapan Ruhi. Ia menatap Ruhi dari atas sampai bawah.
" Siapa lagi?" Tanya Ruhi.
" Kau.. Kau..
" Aku sengaja melakukan itu supaya kau bisa memahami perasaanmu padaku. Aku tidak mau kita menikah karena keterpaksaan saja tanpa adanya perasaan di dalam hatimu sedikit pun untukku. Aku ingin menikah satu kali seumur hidupku dengan pria yang mencintaiku dan menginginkan aku untuk selalu bersamanya. Tapi sepertinya bukan kau orangnya." Ucap Ruhi menatap Geral yang hanya diam saja.
" Ruhi aku....
" Hans." Panggil Ruhi.
Hans berjalan menghampiri Ruhi, semua orang melongo menatap keduanya yang nampak serasi.
Nah loh ngapain tuh si Ruhi memanggil Hans? Apa dia mau menikah dengan Hans ya? Jangan lupa like koment vote dan mawarnya, author tunggu lho...
Terima kasih...
__ADS_1
TBC...