
Vania masuk ke kamarnya dengan perasaan sedih. Ia merasa tidak terima karena Gavin menyalahkannya.
" Benar benar sangat menyebalkan, bisa bisanya Mas Gavin nyalahin aku." Gerutu Vania duduk di tepi ranjang.
" Eh kalau di pikir pikir memang salahku juga sih, seharusnya aku tidak mengajak Mas Rangga kan. Tapi kenapa sikap Sandia sangat berbeda hari ini? Biasanya malah dia yang menyuruh aku ngajak Mas Rangga kalau Mas Gavin tidak bisa menemaniku, ada apa dengan Sandia hari ini? Apa mungkin dia cemburu padaku? Tapi sepertinya tidak deh. Selama ini Sandia selalu respeck sama aku, nggak pernah bersikap aneh seperti tadi. Oh mungkin dia sedang masa pms. Aku tidak boleh egois, aku harus minta maaf kepadanya besok. Aku akan main ke sana sama Gava besok pagi." Monolog Vania.
Ceklek...
Gavin masuk ke dalam menghampiri Vania. Vania memutar bola matanya malas.
" Sayang aku minta maaf! Aku tidak bermaksud menyalahkanmu ataupun menyudutkanmu. Aku hanya ingin kamu mengerti sayang. Perasaan orang setiap harinya tidak sama. Kita harus menjaga perasaan Sandia! Ya mungkin selama ini Sandia baik baik saja dengan kedekatan kalian. Tapi aku takut hal seperti tadi terjadi. Aku takut Sandia akan berpikir macam macam tentang hubungan kalian, dan terbukti kan hari ini. Sandia marah dengan Rangga karena Rangga pergi bersamamu. Entah itu alasannya karena Rangga membohonginya atau apa yang jelas semua terjadi karena kamu. Aku tidak mau kehadiran anak kita menjadi pemisah ataupun penyebab rusaknya hubungan keduanya sayang."
" Aku juga tidak menyangka Sandia bisa berkata kasar kepadaku. Bahkan selama dua puluh tiga tahun ini, dia tidak pernah melakukannya. Jangankan berkata kasar, marah padaku saja dia tidak berani. Tapi hari ini dia berkata tidak sopan padaku, aku yakin kemarahan Sandia saat ini sudah berada di ambang batas. Apa kau paham dengan apa yang coba aku jelaskan kepadamu?" Tanya Gavin menatap Vania.
Vania menganggukkan kepalanya. Ia merenungkan setiap kata kata Gavin yang menurutnya memang benar adanya.
" Aku minta maaf karena aku tidak bisa menjadi suami yang baik, aku bersalah karena aku telah mengabaikanmu. Tapi hari ini kau menyadarkanku akan sikapku kepadamu selama ini. Aku berjanji mulai hari ini aku akan menuruti apapun keinginanmu. Apapun yang kau minta aku siap memberikannya." Ucap Gavin.
Gavin berjongkok di depan Vania. Ia mengelus perut Vania yang mulai membuncit.
" Maafkan papa sayang! Tanpa papa sadari papa telah mengabaikanmu, papa mengabaikan keinginanmu. Papa menyesal sayang, maafkan papa yang egois ini. Maafkan papa sayang." Ucap Gavin.
Gavin mendongak menatap Vania begitupun sebaliknya. Gavin beranjak lalu mencium kening Vania dengan durasi yang cukup lama. Vania memejamkan matanya. Selesai apapun ia apda Gavin tetap saja ia tidak bisa marah kepada suaminya.
" Maafkan aku!" Ucap Gavin.
" Aku juga minta maaf karena telah berkata kasar padamu Mas." Ucap Vania.
" Aku memaafkanmu." Sahut Gavin.
"Sekarang istirahatlah, aku mau bermain dengan Gava di kamarnya. Kalau kau menginginkan sesuatu, katakan padaku. Aku akan memberikannya." Ucap Gavin di balas anggukkan kepala oleh Vania.
Vania merebahkan tubuhnya di ranjang, sedangkan Gavin mengganti bajunya. Setelah itu Gavin menuju kamar Gava.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini Sandia merasa badannya tidak karuan. Kepalanya pusing dan terasa sangat berat, perutnya mual seolah ingin muntah.
" Mas." Sandia mengguncang bahu Rangga yang masih terlelap di sampingnya.
" Engh.. Ada apa sayang?" Rangga menatap Sandia sambil mengucek matanya.
" Mas kepalaku rasanya sakit sekali, perutku juga mual." Ujar Sandia memegangi kepalanya yang terasa seperti mau pecah.
" Apa?" Pekik Rangga langsung beranjak dari tidurnya. Ia duduk bersila menghadap Sandia.
__ADS_1
" Mana yang sakit sayang? Kepalamu sakit?Mas pijitin ya." Ujar Rangga di balas anggukkan kepala oleh Sandia.
Rangga memijat kepala Sandia dengan pelan.
" Apa kemarin kamu melewatkan makanmu sampai kamu bisa sakit seperti ini?" Tanya Rangga sambil terus memijat.
" Aku hanya melewatkan makan siang, tapi aku makan malam kemarin." Sahut Sandia.
" Nah itu, asam lambung kamu pasti naik sayang. Itu sebabnya kamu merasa mual." Ujar Rangga.
" Iya Mas." Sahut Sandia.
" Lain kali jangan melewatkan waktu makan, maafkan Mas juga karena Mas yakin kau melewatkan makan karena masalah kemarin. Mas telah melakukan kesalahan padamu." Ujar Rangga.
Tiba tiba...
" Hmpttt" Sandia menutup mulutnya dengan tangannya. Perutnya terasa mual seperti di aduk aduk.
Sandia beranjak hendak turun dari ranjang, tapi sebelum itu tiba tiba...
Huek...
Sandia memuntahkan cairan bening di atas lantai kamarnya.
" Sayang." Rangga terlihat panik saat ini.
Huek... Huek...
" Sayang kita harus ke rumah sakit sekarang, Mas tidak mau kamu kenapa napa." Ucap Rangga.
" Nggak mau Mas, kepalaku sangat pusing. Aku tidak kuat sampai ke sana." Ujar Sandia.
" Jangan berbicara seperti itu sayang, kau pasti kuat. Ayo!" Tidak mau membuang waktu Rangga membopong Sandia keluar kamarnya. Ia menuju garasi mobil, lalu menurunkan Sandia di dalam mobilnya.
Setelah memanaskan mesin mobil sebentar, Rangga segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Di dalam perjalanan nampak wajah Sandia nyang sangat pucat.
" Mas aku mau muntah lagi." Ucap Sandia.
" Iya sebentar, Mas menepikan mobil dulu." Sahut Rangga.
Setelah mobil berhenti Sandia segera keluar dari mobil.
Huek... Huek...
Sandia kembali muntah muntah. Rangga memijat tengkuknya dengan pelan.
__ADS_1
" Astaga sayang, kamu kenapa sih? Mas cemas tahu nggak, Mas takut kamu kenapa napa." Ujar Rangga.
" Aku juga tidak tahu Mas." Sahut Sandia.
Setelah merasa mendingan Rangga kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Sesampainya di sana Sandia langsung mendapat penangan dari dokter.
Sandia dan Rangga mengerutkan keningnya saat Sandia di pindah ke bagian obgyn.
" Dok kenapa saya di bawa ke sini?" Tanya Sandia kepada dokter umum yang menanganinya.
" Saya harus memastikan sesuatu Nona." Sahut dokter.
Sandia menggenggam tangan Rangga dengan erat. Ia takut jika dirinya terserang penyakit mematikan.
" Mas." Sandia menatap Rangga.
" Tenanglah sayang! Semuanya pasti akan baik baik saja." Sahut Rangga tersenyum.
Setelah sampai di ruangan obgyn, Sandia di periksa oleh dokter spesial kandungan.
" Saya periksa dulu ya Nona, silahkan lihat ke layar monitor." Ucap dokter Mila mengoleskan gel ke perut Sandia.
" Perhatikan tuan, Nona!" Dokter Mila menggerakkan transduser di atas perut Sandia.
" Lingkaran ini adalah rahim Nona Sandia. Dan titik hitam yang sangat kecil ini adalah calon janin kalian berdua Nona, Tuan."
Sandia dan Rangga melongo, keduanya saling melempar tatapan.
" Selamat Nona dan Tuan Rangga. Nona Sandia hamil lima minggu. Kandungan dan janinnya sehat, istirahat cukup dan makan makanan yang bergizi. Saya akan meresepkan vitamin dan obat anti mual untuk anda Nona Sandia." Ujar dokter Mila.
" Baik dok, terima kasih." Ucap Rangga.
Rangga menatap Sandia begitupun sebaliknya. Ia menggenggam tangan Sandia lalu menciuminya.
" Terima kasih sayang. Terima kasih kau telah memberikan kado terindah dalam hidup Mas. Mas sangat bahagia sayang, akhirnya apa yang Mas impikan menjadi kenyataan. Kita akan menjadi orang tua. Mas akan menjadi seorang ayah. Mas sangat bahagia sayang, terima kasih." Rangga mengusap air mata di sudut matanya.
" Aku juga sangat bahagia Mas, ada Rangga junior di dalam sini." Sandia mengelus perut ratanya.
Rangga menempelkan telinganya ke perut Sandia. Ia mengecup lalu mengelusnya.
" Sehat sehat di dalam sini sayang, papa selalu setia menunggu kehadiranmu. Terima kasih telah hadir dalam hidup kami." Ucap Rangga.
" Sayang, apapun keinginanmu Mas akan menurutinya. Katakan pada Mas kalau kau menginginkan sesuatu." Ucap Rangga.
" Pasti Mas." Sahut Sandia tersenyum senang.
__ADS_1
TBC...