Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
DUO R


__ADS_3

Brugh...


" Aw... "


Reyhans segera menopang gadis yang ia tabrak agar tidak jatuh ke lantai. Keduanya saling tatap membuat jantung keduanya berdetak lebih kencang.


"Woahhhh tampan sekali.... Ini wajah asli apa oplas ya.. Kok mirip banget sama oppa oppa Korea." Batin Ruhi.


" Cantiknya natural sekali... Sama seperti kecantikan Vania. Matanya membuat hatiku teduh, dan bibirnya.... Ingin sekali aku mengecupnya." Batin Hans.


" Lepas!" Ucap Ruhi.


Brugh...


"Awh... " Pekik Ruhi saat tubuhnya mendarat ke lantai.


" Kok di lepas gitu aja sih!" Gerutu Ruhi berdiri di depan Hans.


" Kan kamu yang bilang suruh lepas." Sahut Hans.


" Ya bukan gitu juga maksudku, kan sakit jadinya." Ucap Ruhi.


" Oh ya kenalkan aku Ruhita, teman teman memanggilku Ruhi. Kau juga bisa memanggilku dengan nama itu." Ujar Ruhi mengulurkan tangannya.


" Aku Hans, aku akan memanggilmu Hita." Ucap Hans menjabat tangan Ruhi.


" Hita? Bagus juga." Sahut Ruhi.


" Baiklah Hita, mau apa kemari?" Tanya Hans menatap Ruhi.


" Aku di suruh Sandia untuk mencari kak Gavin karena Gava dari tadi menangis terus." Ujar Ruhi.


" Oh Gavin ada di dalam bersama Vania." Sahut Hans.


" Oke aku panggil dulu." Ucap Ruhi.


" Eh minta nomer ponsel dulu." Ucap Hans mencekal tangan Ruhi.


" Baiklah." Sahut Ruhi.


Setelah bertukar nomer ponsel, Ruhi masuk ke dalam menghampiri Vania dan Gavin dan sedang duduk di ranjang.


" Maaf Kak." Ucap Ruhi.


" Ruhi, ada apa?" Tanya Vania.


" Gava dari tadi menangis terus Kak. Sandia tidak bisa menangkannya." Ujar Ruhi.


" Ya Tuhan putraku... " Ucap Vania.


" Ya udah ayo kita ke sana!" Ajak Gavin.


Mereka bertiga kembali menuju tempat acara.


" Sayang." Vania menghampiri Sandia, ia mengambil Gava dari gendongan Sandia.


" Kakak kemana saja? Dari tadi nggak kelihatan." Ucap Sandia.


" Aku tertidur Sandia, maaf ya." Sahut Vania yang di balas anggukkan kepala oleh Sandia.


Vania dan Gavin membawa Gava ke kamarnya. Sedangkan Ruhi berpamitan untuk pulang.


Saat hendak masuk ke mobil tiba tiba ada yang menyeret tangannya.


" Aw." Pekik Ruhi kaget.

__ADS_1


" Jangan berteriak Hita, nanti orang orang akan mengira kalau aku menculikmu." Ucap Hans menarik tangan Ruhi ke bangku yng ada di taman depan.


" Ngapain sih bawa aku kemari, kenal aja barusan." Gerutu Ruhi duduk di sebelah Hans.


" Jangan marah marah terus donk! Nanti cepat tua lhoh." Canda Hans.


" Mau apa ngajak aku ke sini? Ini udah malam, aku harus pulang. Kakakku sudah menungguku." Ujar Ruhi.


" Entah mengapa aku jadi penasaran sama kamu, aku ingin kita menghabiskan waktu berdua malam ini." Ucap Hans.


Ruhi melotot menatap Hans.


" Bukan itu maksudku, maksudku yah ngobrol ngobrol berdua gini. Tidak ada maksud lain apalagi menjerumus ke situ." Ucap Hans mengangkat kedua jarinya.


" Aku ngantuk, besok pagi aku harus ngajar di kelas." Ucap Ruhi.


" Kau seorang guru?" Tanya Hans memastikan.


Ruhi menganggukkan kepalanya.


" Wow... Ngajar dimana?" Hans bertanya lagi.


" Di SMA xx." Sahut Ruhi.


" SMA xx?" Hans terkekeh sambil menyugar rambutnya.


" Iya, kau alumni sana?" Tanya Ruhi menatap Hans.


" Yayasan itu milikku." Sahut Hans membuat Ruhi terkejut.


" Benarkah? Milikmu atau milik orang tuamu?" Tanya Ruhi sedikit bercanda.


" He he.. Milik orang tuaku sih. Aku belum punya apa apa, perusahaan saja milik papaku." Sahut Hasan nyengir kuda.


" Tidak pa pa, oh ya by the way atas undangan siapa kamu ke sini? Apa kamu temannya Mas Rangga? Atau Kak Gavin? Tapi tidak... Kelihatannya kamu seumuran denganku deh." Ujar Ruhi.


" Gimana aku mau jawab pertanyaanmu kalau kamu sudah menjawabnya sendiri? Kalau gitu nggak usah di jawab ya." Ujar Hans.


" Ya harus di jawab donk." Ucap Ruhi.


" Aku teman dekatnya Vania saat kuliah dulu. Aku baru pulang dari luar negeri." Ucap Hans.


Ruhi mengangguk anggukkan kepalanya tanda mengerti.


" Ya sudah aku mau pulang, takut telat besok pagi soalnya ngajar di jam pertama." Ucap Ruhi beranjak dari kursinya.


" Yah sayang sekali, padahal masih mau ngobrol lama." Sahut Hans.


" Lain kali saja oke." Ucap Ruhi.


" Baiklah Hita sampai bertemu lagi besok pagi, aku akan sering calling kamu." Ucap Hans.


" Oke siap." Sahut Ruhi meninggalkan Hans.


" Oke juga... Siapa tahu setelah dekat dengannya aku bisa melupakan Vania." Gumam Hans.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam setengah delapan pagi Ruhi berlari kecil menuju kelas dia belas IPA1. Ia bangun kesiangan karena Hans semalam meneleponnya sampai jam dua malam.


Sesampainya di kelas ia terkejut melihat Hans yang sudah memulai pelajarannya.


" Hans." Gumam Ruhi.


Hans menoleh ke arah pintu.

__ADS_1


" Halo bu Hita, selamat pagi." Sapa Hans.


" Pagi Pak, maaf saya terlambat." Sahut Ruhi formal.


" Tidak masalah, kebetulan saya piket di sini jadi saya akan mengisi jam pelajaran yang kosong atau yang belum ada gurunya." Ucap Hans.


Sebenarnya Ruhi bertanya tanya, kenapa Hans ada di sini? Apa yang Hans lakukan di sini? Selama ia mengajar, Hans tidak pernah ke sini. Namun Ruhi menahannya, ia menyimpan pertanyaan itu untuk di tanyakan nanti.


" Terima kasih Pak." Ucap Ruhi.


" Bu, saya lebih suka di ajar sama oppa oppa ganteng. Bu Ruhi mengajar di kelas lain saja ya." Ucap Nina salah satu murid tercerewetnya.


" Tidak... Saya mau bu Ruhi saja yang mengajar kami." Timpal Joko.


" Sama pak Rey saja!" Ucap Nina lagi.


" Bu Ruhi." Sahut Joko.


" Sudah anak anak! Jangan pada berantem! Berhubung saya terlambat masuk hari ini maka biarkan pak Reyhans yang mengajar kalian." Ujar Ruhi.


" Yeiiii" Sorak para murid perempuan.


Siapa yang tidak senang di ajar oleh guru tampan, tinggi semampai, hidung mancung, mata yang terlihat begitu indah.


" Tidak tidak!!! Saya hanya guru piket saja, berhubung guru pembimbingnya sudah datang maka saya permisi kembali ke kantor. Selamat pagi Bu." Ucap Hans keluar kelas.


" Selamat pagi Pak." Sahut Ruhi.


Para murid perempuan menghela nafas secara berjamah.


" Yah gagal deh lihat yang bening bening." Ujar Nina lesu.


Ruhi mulai mengajar hingga jam istirahat. Ia menuju ruang guru.


" Hita, ayo kita makan siang bersama!" Ajak Hans membuat para guru lain menoleh kepadanya.


" Anda mengenal bu Ruhi Pak?" Tanya Bagas, guru olahraga di sana.


" Dia pacarku." Sahut Hans membuat Ruhi melongo membulatkan matanya.


" Eh tidak tidak." Ucap Ruhi menggerakkan kedua tangannya menolak pernyataan Hans.


" Tidak perlu malu begitu Bu, kami juga pernah merasakannya kok." Ucap Lila, guru IPS.


" Iya, jangan malu malu sayang. Ayo!" Hans menarik tangan Ruhi menuju mobilnya.


Hans melajukannya mobilnya menuju restoran terdekat. Mereka nampak memesan nasi putih dan gurameh bakar.


Setelah pesanannya datang mereka makan bersama. Sesekali Hans mencuri pandang ke arah Ruhi.


" Jangan menatapku seperti itu Hans! Aku malu." Ucap Ruhi.


" Kenapa harus malu? Kamu cantik, body kamu lumayan. Jadi tidak perlu malu." Ujar Hans.


" Ya tetap aja risih Hans di tatap seperti itu, udah deh makan aja! Nanti tersedak durinya kan repot." Sahut Ruhi.


" Baiklah, aku tidak akan menatapmu selama kau makan. Tapi setelah itu kau tidak bisa melarangku lagi karena ini mata punya saya bukan punya kamu." Ucap Hans.


Ruhi menganggukkan kepalanya, setidaknya saat makan ia tidak terganggu.


" Aku semakin memantapkan hatiku untuk mendekatimu Hita, semoga kau bisa menerimaku." Batin Hans.


Tekan like untuk mensuport karya author ya.. Yang berkenan silahkan beri 🌹yang banyak buat author...


Terima kasih...

__ADS_1


Miss U All...


TBC...


__ADS_2