Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
Ujian Cinta Sandia


__ADS_3

Pagi ini Sandia berdandan rapi, dengan menggunakan rok di atas lutut dan blazer berwarna peach serta rambut di kucir kuda membuatnya terlihat sangat cantik.


Setelah turun dari mobil, ia berjalan menuju ruangannya. Ia bekerja sebagai sekretaris Gavin menggantikan Talita sedangkan Rangga sebagai general manager di sana.


Saat ia melewati ruangan Rangga tiba tiba Rangga menariknya masuk ke dalam membuatnya terkejut.


" Astaga Mas!!! Apa yang Mas lakukan?" Pekik Sandia.


Bukannya menjawab Rangga malah tersenyum ke arahnya.


" Kok senyum?" Tanya Sandia.


" Senyum itu ibadah sayang." Sahut Rangga.


" Kenapa membawaku ke sini? Apa Mas merindukan aku?" Tanya Sandia sambil menaik turunkan alisnya.


Rangga menyusupkan tangannya ke leher belakang Sandia. Rangga melepas ikat rambut Sandia membuat rambut Sandia terurai.


" Jangan mengikat rambutmu seperti tadi lagi! Kau mengundang shahwat laki laki Sandia. Dan mulai besok, pakai rok di bawah lutut jangan seperti ini. Apa kau paham?" Tanya Rangga mengelus pipi Sandia.


" Iya Mas." Sahut Sandia menganggukkan kepalanya.


" Tidak boleh ada pria lain yang melihat kecantikanmu, hanya Mas sayang. Mas akan melamarmu besok malam dan menjadikanmu istri Mas seutuhnya. Doakan Mas bisa membuatmu bahagia." Ucap Rangga.


" Iya Mas, doa terbaik untuk kita." Sahut Sandia.


" Baiklah sekarang silahkan ke ruanganmu, semangat bekerja." Ucap Rangga mengangkat tangannya.


" Semangat!!" Sahut Sandia melakukan hal yang sama.


Sandia keluar dari ruangan Rangga, ia berpapasan dengan Leon yang sedang melintas.


" Pagi Kak." Sapa Sandia menatap Leon.


" Hmm." Gumam Leon berlalu begitu saja.


Hati Sandia mencelos mendapat perlakuan dingin dari Leon.


Rangga yang melihatnya segera menghampiri Sandia.


" Tidak perlu bersedih!" Ucap Rangga menepuk pundak Sandia.


" Iya Mas." Sahut Sandia.


" Mungkin Leon belum bisa menata hatinya, itu sebabnya dia berusaha menghindar darimu. Kalau bisa untuk saat ini kau juga harus menghindar darinya." Ujar Rangga.


" Aku akan mengajukan resign Mas." Ucap Sandia.


" Resign? Kenapa harus resign?" Tanya Rangga mengerutkan keningnya.


" Aku ingin menjadi ibu rumah tangga yang selalu menantimu di rumah. Kau bilang mau melamar aku kan? Otomatis pernikahan kita sebentar lagi jadi aku mau mulai menyiapkan diriku untuk menjadi istri yang baik. Aku mau belajar memasak dengan ibu, so saat kita sudah menikah nanti setidaknya aku sudah bisa memasak untukmu." Ujar Sandia.

__ADS_1


Rangga tersenyum bahagia mendengarnya.


" Terima kasih sayang sudah mau berusaha untuk menjadi istri yang baik." Rangga mengelus kepala Sandia.


" Iya Mas, aku ke ruangan kak Gavin dulu!" Ucap Sandia di balas anggukan kepala oleh Rangga.


Tanpa mereka sadari Leon melihat semuanya. Hatinya merasa teriris melihat Sandia bahagia bersama pria lain.


" Andai saja aku bisa memutar waktu kembali, aku tidak akan pernah melakukan kesalahan itu Sandia. Saat ini kita pasti sudah hidup bahagia berdua. Aku memang pria paling bodoh di dunia ini. Maafkan aku Sandia, kini aku harus hidup dengan penyesalan yang mendalam." Batin Leon mengusap air matanya.


" Maafkan aku Leon!"


Leon menatap Rangga yang tiba tiba berdiri di depannya.


" Maaf untuk apa?" Tanya Leon.


" Maaf karena telah memenangkan hati Sandia sehingga dia berpaling darimu." Ucap Rangga.


" Apa jika aku memintamu untuk mengembalikan Sandia padaku kau mau memberikannya?" Tanya Leon.


" Bukankah sudah ku bilang jika Sandia menginginkannya maka aku akan melakukannya? Tapi sayangnya Sandia hanya ingin bersamaku, dia hanya ingin menikah denganku. Aku berharap kau mau datang ke acara lamaran kami besok malam, aku harap kau mau mendoakan kami agar kami bisa hidup bahagia." Ujar Rangga.


" Sandia berada pada orang yang tepat, aku yakin kau tidak akan menyakiti Sandia seperti aku menyakitinya. Aku pasti akan datang untuk mendoakan kalian. Aku titip Sandia padamu, semoga bahagia." Ucap Leon menepuk pundak Rangga.


" Terima kasih." Sahut Rangga.


Leon dan Rangga masuk ke ruangan masing masing.


Setelah pulang dari kantor, Sandia menghampiri bi Tuti yang sedang menggendong Gava di taman belakang.


" Bi." Panggil Sandia duduk di samping bibi Tuti.


" Iya Sandia, ada apa?" Tanya bibi Tuti.


" Mas Rangga bilang, dia mau melamar aku besok malam. Apa bibi merestuinya?" Tanya Sandia menatap bibi Tuti.


" E... e.. " Bibi Tuti terlihat gugup membuat Sandia curiga.


" Kenapa Bi? Apa ada yang Bibi sembunyikan dariku?" Sandia bertanya lagi.


" Ah tidak... Bukan begitu, Bibi hanya merasa gimana gitu. Kamu anak orang kaya, orang terpandang sedangkan Rangga anak orang tidak punya. Bibi hanya berpikir bagaimana tanggapan orang nantinya, pasti mereka mengira kalau Bibi kemari hanya ingin mengincar harta kalian saja." Ujar bibi Tuti.


" Kenapa kau berbicara seperi itu Bi?" Tanya nyonya Rindu menghampiri mereka.


" Nyonya." Ucap bibi Tuti.


" Kalian berdua sudah kami anggap sebagai keluarga kami sendiri. Kami merasa berhutang budi pada kalian berdua karena telah menolong Vania waktu itu. Tapi bukan karena itu kami menrima Rangga sebagai calonnya Sandia, lebih tepatnya karena Sandia mencintai Rangga dan Rangga anak yang baik, itu sebabnya kami merestui pernikahan mereka." Ujar nyonya Rindu.


" Terima kasih Nyonya, karena anda sekeluarga mau menerima anak saya sebagai bagian dari keluarga ini." Ucap bibi Tuti.


" Kalau begitu jangan panggil aku Nyonya donk! Panggil nama aja atau Jeng Rindu gitu." Ujar nyonya Rindu.

__ADS_1


" Saya panggil besan aja gimana?" Ujar bibi Tuti.


" Besan?... Itu juga tidak masalah daripada di panggil Nyonya, terasa seperti pembantu dan majikan saja." Ujar nyonya Rindu.


" Baiklah besan." Sahut bibi Tuti.


" Kalau begitu aku panggil bibi, ibu aja. Seperti Mas Rangga memanggil bibi." Sela Sandia.


" Boleh." Sahut bibi Tuti.


Mereka berdua nampak berbincang dengan. hangat. Sampai Sandia belajar memasak makan siang bersama bibi Tuti.


Setelah selesai mereka menatanya di meja makan. Tak lama Gavin dan Rangga pulang lalu mereka makan bersama.


Selesai makan Rangga kembali ke kamarnya, bibi Tuti segera menyusulnya.


" Rangga." Panggil bibi Tuti.


" Iya Bu, ada apa?" Tanya Rangga menatap ibunya.


Bibi Tuti duduk di tepi ranjang di ikuti Rangga. Rangga tahu jika ada sesuatu yang ingin ibunya bicarakan.


" Ibu merasa cemas dengan hubunganmu dan Sandia Nak." Ucap bibi Tuti membuat Rangga mengerutkan keningnya.


" Kenapa Bu? Semuanya sudah jelas kan? Aku akan melamar Dan dia besok malam dan acara pernikahannya satu bulan lagi. Keluarga ini menerimaku dengan baik, lalu apa yang ibu yang cemaskan?" Tanya Rangga lembut.


" Bagaimana dengan gadis yang bapakmu jodohkan denganmu?"


Deg...


Rangga menatap ke arah ibunya.


" Bukankah dia sudah tidak menghubungi kita lagi? Itu tandanya dia tidak mengharap perjodohan ini Bu." Ujar Rangga.


" Tadi pagi tiba tiba dia menghubungi Ibu, dan dia bertanya kapan kamu akan menikahinya?"


Prank......


Rangga dan bibi Tuti menoleh ke arah pintu dan...


Deg...


" Sandia." Gumam Rangga.


Nah loh... Konflik lagi hhhh Author suka bikin emak2 darting.


Jangan lupa tekan like koment vote dan kasih 🌹yang banyak untuk author biar makin semangat melanjutkan ceritanya.


Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All...

__ADS_1


TBC....


__ADS_2