Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
AKHIRNYA


__ADS_3

Tubuh Gerald luruh ke lantai. Ia menyesali kebodohannya yang malah membalas ciuman Sofia.


" Hiks... Ruhita... Aku tidak mau berpisah darimu, jangan hukum aku seperti ini! Aku hanya menciumnya, ini kesalahan kecil sayang. Kenapa kau menghukumku seberat ini? Ini tidak adil bagiku. Selama ini aku mencoba mengerti saat kamu tidak ingin di sentuh, aku tidak menyentuhmu walaupun sebenarnya aku sangat ingin melakukannya."


Ruhi terkejut dengan ucapan Geral. Ia menatap Geral sambil mengerutkan keningnya.


" Selama ini aku tidak menuntut apapun darimu, aku bahkan tidak menuntut cintamu. Aku selalu mencoba mengerti dirimu dan keinginanmu. Tapi kenapa sekarang kau menuntut cinta dan kesetiaanku? Aku sudah memberikan semua cinta dan perhatianku untukmu, aku menjaga kesetiaanku selama ini. Aku tidak menginginkan siapapun selain dirimu."


" Walaupun aku menyesal telah mencium Sofia tapi aku senang, akhirnya aku tahu jika hati dan cinta ini hanya milikmu. Aku tidak punya perasaan apa apa lagi kepada Sofia, kehadirannya juga tidak aku inginkan, bahkan aku tidak pernah membayangkan jika dia akan kembali dalam kehidupanku. Terserah kau percaya atau tidak yang jelas aku hanya mencintaimu. Aku harap kau tidak egois dan bisa mengerti diriku dan perasaanku. Tapi jika semua ini tidak bisa mengubah keputusanmu, aku hanya bisa ikhlas. Aku akan melepas kepergianmu. Semoga kau bahagia dengan keputusanmu ini."


" Tapi ingat! Jangan pernah menyesali keputusanmu di kemudian hari. Karena aku tidak tahu apakah aku bisa menjaga cinta dan kesetiaan selama itu atau tidak. Yang jelas kita sudah sama sama ikhlas. Aku pergi." Geral segera berlalu dari sana.


" Tunggu!" Geral menghentikan langkahnya.


" Aku berangkat besok pagi, sebelum berangkat aku harap aku bisa melihatmu di sini. Selamat tinggal." Ucap Ruhi di balas anggukkan kepala oleh Geral.


Geral meninggalkan kamar Ruhi dengan perasaan hancur. Begitupun dengan Ruhi, entah mengapa setelah mendengar ucapan Geral panjang lebar, ia jadi ragu dengan keputusannya sendiri.


" Benarkah aku egois? Apa keputusanku ini salah? Apakah aku harus memaafkan Mas Geral?" Tanya Ruhi pada diri sendiri.


" Tapi apa yang Mas Geral katakan semuanya benar, dia mengerti aku selama ini lalu kenapa aku tidak bisa mengerti dia? Dia bilang kalau dia hanya memastikan perasaannya saja, lalu kenapa aku cemburu?" Ruhi merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


" Ehh aku cemburu? Benarkah aku cemburu? Kalau benar perasaan ini karena cemburu berarti aku memang benar benar mencintai mas Geral. Lalu kenapa aku ingin meninggalkannya jika aku mencintainya? Ya Tuhan... Aku benar benar bingung harus bagaimana kalau begini. Sepertinya aku butuh tidur untuk menenangkan perasaan dan hatiku dulu. Aku akan fresh dan bisa bepikir jernih setelah bangun tidur nanti." Ujar Ruhi memejamkan matanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Drt.. drt.. drt...


Ponsel Ruhi berdering tanda panggilan masuk. Ia mengerjapkan matanya, ia menatap jam dinding yang menunjukkan pukul dua belas malam.


" Siapa sih yang menelepon malam malam begini? Ganggu orang tidur aja." Gerutu Ruhi.


Ruhi mengambil ponselnya, ia menatap id pemanggil yang ternyata Geral. Ia segera mengangkatnya.


" Halo."


" Halo Nona, apa benar anda istri dari tuan yang punya ponsel ini?" Tanya seorang pria di seberang sana.


" Iya, dimana suami saya?" Tanya Ruhi beranjak dari ranjangnya.


" Ada di club xx Nona, segeralah kemari karena suami anda mabuk berat. Dan terlihat aneh Nona, sepertinya ada seseorang yang memasukkan obat ke dalam minumannya."

__ADS_1


Ruhi bukan orang bodoh, ia sangat paham dengan obat yang di maksud oleh pelayan itu.


" Apa ada wanita yang bersamanya?" Tanya Ruhi memastikan.


" Tidak Nona, tapi ada seorang wanita yang selalu menatapnya dari tadi. Jika anda ingin suami anda selamat maka segeralah kemari."


" Sofia." Gumam Ruhi.


" Saya akan ke sana, tolong jaga suami saya.. Saya akan membayar anda nanti, jangan sampai wanita itu membawa suami saya apapun alasannya." Ujar Ruhi.


" Baik Nona." Sahutnya menutup teleponnya.


Ruhi segera mencuci mukanya lalu menyambar kunci mobil. Ia berlari menuruni tangga menuju parkiran. Tanpa membuang waktu Ruhi segera melajukan mobilnya menuju club xx dengan kecepatan tinggi.


Sepuluh menit kemudian ia sampai di club tersebut. Ruhi segera berlari ke dalam menuju meja depan barista. Ia menghampiri Geral yang duduk sambil meletakkan kepalanya di meja. Nampak Sofia sedang merayu pelayan club itu.


" Terima kasih telah menjaga suami saya." Ucap Ruhi melirik Sofia.


Sofia mengepalkan erat tangannya.


" Sama sama Nona." Sahutnya.


Pelayan itu menatap Sofia.


Sofia menatap Ruhi dengan kesal, ia segera berlalu meninggalkan tempat itu.


" Tolong bantu saya ke mobil." Ucap Ruhi.


" Baik Nona." Sahutnya.


Ruhi membawa Geral ke mobilnya di bantu oleh pelayan club. Ia mendudukkan Geral di kursi penumpang.


" Sayang jangan tinggalkan aku! Aku tidak bisa hidup tanpamu. Lebih baik aku mati daripada aku harus kehilanganmu. Lebih baik aku mati saja!" Teriak Geral di alam bawah sadarnya.


Setelah memberikan uang tips kepada pelayan yang membantunya, Ruhi segera melajukan mobilnya menuju rumahnya.


" Hei gadis cantik... Kamu terlihat seperti istriku, dia cantik, manis, setia tapi sayangnya dia galak. Karena aku melakukan kesalahan, dia pergi meninggalkan aku. Dia ingin terbang ke Jogja besok pagi. Hiks... Hiks.... " Isak Geral mengusap air matanya.


" Ruhi... Jangan tinggalkan aku! Aku mohon.." Racau Geral.


" Shhh.. " Geral menggeliat kepanasan.

__ADS_1


Ruhi menatapnya lewat kaca tengah.


" Gawat.. Sepertinya obatnya mulai bekerja. Aku harus gimana? Apa aku harus menyerahkan diriku sekarang?" Batin Ruhi.


" Sttt kenapa panas sekali." Desis Geral.


Bretttt...


Geral menarik kasar bajunya hingga sobek.


" Astaga!" Pekik Ruhi melihat dada bidang suaminya.


Geral terus melakukan pergerakan pergerakan aneh, ia nampak seperti cacing kepanasan.


Sampai di rumah Ruhi membantu Geral menuju kamarnya. Sangat sulit membawa Geral yang dalam kondisi mabuk dan di bawah pengaruh obat.


Geral bahkan beberapa kali mencium pipinya.


" Benar.. Kau seperti istriku, aku yakin kau memang Ruhiku. Aku mencintaimu sayang."


Cup...


Lagi lagi Geral mencium pipi Ruhi.


Sampai di kamar Ruhi membaringkan tubuh Ruhi di atas ranjang. Tiba tiba Geral memeluk pinggangnya. Keduanya saling melempar tatapan. Geral menatap bibir pink milik Ruhi.


" Bibirmu sangat indah sayang, aku pernah menikmati manisnya bibir ini." Geral menyentuh bibir Ruhi.


" Kau istriku, kau adalah Ruhiku. Aku senang kau masih perhatian padaku. Aku mencintaimu sayang." Ucap Geral.


Tiba tiba Geral membalikkan posisi, ia menindih tubuh Ruhi membuat jantung Ruhi berdebar kencang.


" Aku tidak tahu ada apa dengan tubuhku, tapi rasanya aku sangat tersiksa dengan rasa ini. Aku mohon bantu aku menghilangkan efek yang saat ini sedang aku rasakan. Aku tidak tahan lagi menahannya." Ujar Geral memajukan wajahnya.


Cup...


Geral mencium bibir Ruhi dengan rakus. Ruhi hanya bisa pasrah dengan apa yang Geral lakukan padanya. Ciuman yang semula sedikit lembut kini menjadi ciuman menuntut.


Ciuman Geral turun ke leher, ia membuat beberapa kismark di sana membuat Ruhi mendesis. Geral semakin terangsang dengan suara Ruhi yang menurutnya seksi.


Malam ini Geral menjadikan Ruhi miliknya seutuhnya. Malam panjang mereka lewati dengan penyatuan cinta yang terasa begitu indah.

__ADS_1


TBC....


__ADS_2