Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
PERASAAN SANDIA


__ADS_3

Gavin melajukan mobilnya menuju resto langganannya yang terletak di pinggir pantai dengan kecepatan tinggi. Ia harus sampai di sana sebelum Vania dan Rangga pergi.


Di resto tempat Vania makan saat ini, ia sedang makan cumi cumi pedas dan udang cabe hijau setelah ia menghabiskan gurameh bakarnya. Rangga yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepala.


" Mas kamu nggak mau makan lagi? Ini enak lhoh." Ucap Vania menatap Rangga.


" Udah ah, aku kenyang." Sahut Rangga tersenyum.


Di depan sana Sandia bersama teman temannya masuk ke dalam resto yang sama.


" San, bukankah itu suami kamu? Sama siapa dia? Sepertinya dia bersama istrinya Kak Gavin deh." Ucap Gania menunjuk ke arah Rangga.


Sandia menatap ke arah tangan Gania.


Deg...


Hati Sandia mencelos saat melihat suaminya bersama dengan kakak iparnya. Entah mengapa hatinya merasa jelous melihat Rangga mengusap bibir Vania dengan tisu. Bagaimanapun keduanya pernah saling dekat, Sandia tidak mau jika perasaan mereka melebihi batas.


Sandia segera berjalan menghampirinya.


" Apa ini yang kau maksud urusan penting itu Mas?"


Rangga dan Vania mendongak menatap Sandia yang berdiri di depannya.


" Sayang kamu di sini?" Tanya Rangga sedikit gugup.


" Memangnya kenapa kalau aku di sini? Kau takut ketahuan kalau lagi berduaan sama kakak ipar." Ucap Sandia menohok hati Vania.


" Sandia aku...


" Kakak tidak perlu menjelaskan, biarkan Mas Rangga yang menjelaskannya. Kenapa sampai dia berbohong kepada istrinya sendiri kalau dia sedang ada urusan penting dengan client? Padahal dia sedang ada di sini. Apa kak Vania client penting itu? Kenapa kak Vania menjadi wanita yang lebih penting dari aku yang istrinya sendiri?" Sandia memberondong Rangga dengan berbagai pertanyaan.


" Sayang bukan begitu maksud Mas." Ujar Rangga.

__ADS_1


" Lalu apa maksudmu Mas? Aku mengajakmu makan siang bersama tapi kau menolaknya dengan alasan itu, lalu sekarang aku melihatmu makan siang bersama di sini dengan kakak ipar, apa aku tidak boleh berpikiran negatif kepadamu? Aku memang mengijinkanmu memberikan bantuan kepada kak Vania tapi tidak dengan membohongiku Mas. Aku tidak mengharapkan semua ini darimu. Aku kecewa sama kamu." Ucap Sandia berlalu meninggalkan mereka.


" Sandia tunggu!" Ucap Vania.


Sandia tidak bergeming, ia terus berjalan sampai di depan pintu ia berpapasan dengan Gavin.


" Sandia kamu juga ada di sini?" Gavin menatap Sandia.


" Ada apa denganmu? Kenapa sepertinya kamu sedang marah? Apa terjadi sesuatu denganmu?"


" Ya... Memang terjadi sesuatu, tapi bukan denganku melainkan dengan Mas Rangga dan istrimu." Sahut Sandia ketus.


Deg...


Hati Gavin mencelos mendengar ucapan Sandia. Baru kali ini Sandia menyebut kamu pada Gavin. Gavin yakin jika kemarahan Sandia saat ini berada di ambang batas.


" Sandia Mas bisa menjelaskan semua ini." Ujar Rangga menghampirinya.


" Aku tidak butuh penjelasanmu Mas. Aku sudah tidak peduli lagi dengan hubungan kalian. Entah itu hanya sebagai saudara atau karena ada hubungan yang lainnya."


" Kau boleh marah sama Mas, karena Mas akui kalau Mas salah. Tapi kau tidak pantas berbicara seperti itu pada suami dan kakak iparmu." Ujar Rangga.


" Lalu aku harus bagaimana hah?" Sandia menatap tajam ke arah Rangga. Ia tidak peduli dengan tatapan para pengunjung lainnya.


" Aku bertanya padamu Mas. Sejak kapan kak Vania menjadi prioritas utamamu?"


Rangga diam tidak bergeming. Ia berpikir percuma menjelaskannya saat ini karena Sandia sedang di kuasai oleh emosi. Yang ada hanya akan menambah keributan yang akan mempermalukan keluarga mereka.


" Kau tidak bisa menjawabnya kan? Akan aku jawab sendiri, tanpa kau sadari kau telah membuat kak Vania sebagai prioritas utama sejak lama. Sejak kau belum kenal denganku, kau ingin mengulang kisah yang sama saat kak Vania hamil Gava dulu. Kau ingin berperan penuh atas kehamilan kak Vania saat ini. Lakukan saja! Lakukan apa yang kalian mau. Kalian tidak perlu memikirkan perasaanku." Ucap Sandia menatap mereka bergantian.


" Dan kau kak Gavin." Sandia menatap Gavin.


" Kalau kau tidak bisa menjaga istrimu dengan baik, jangan menyesal jika suatu hari nanti istrimu lebih nyaman dengan pria lain. Kau sendiri yang memberikan peluang itu." Ucap Sandia penuh penekanan.

__ADS_1


Sandia berlari menuju mobilnya sambil mengusap air matanya. Rangga segera menyusulnya meninggalkan Gavin dan Vania.


Gavin menatap Vania begitupun sebaliknya.


" Kau membuat semuanya kacau Vania, sudah aku bilang jangan menghubungi Rangga untuk hal ini lagi, tapi kau tidak mendengarkan aku. Sekarang apa yang aku takutkan telah terjadi." Ucap Gavin.


" Kenapa kau menyalahkan aku? Harusnya kau instropeksi diri kenapa semua ini bisa terjadi Mas. Andai saja kau menjadi suami siaga yang tanggap apa kemauan istrinya, semua ini tidak akan terjadi. Kau lebih mementingkan perasaan partner kerjamu daripada istrimu sendiri yang sedang hamil saat ini."


" Maklum saja... Kau tidak seperti Mas Rangga yang pernah mengurus wanita hamil sepertiku. Kau tidak tahu bagaimana rasanya masa masa ngidam, bagaimana rasanya jika keinginannya tidak terpenuhi. Bagaimana sedihnya jika keinginannya di abaikan oleh suami sendiri. Kau tidak akan tahu Mas, kau tidak akan pernah mau tahu soal itu karena kau tidak berusaha untuk memahaminya."


" Terima kasih, hari ini kau telah menyadarkan seberapa penting arti diriku dalam hidupmu. Aku tidak lebih berarti dari pekerjaanmu." Ucap Vania meninggalkan Gavin yang berdiri terpaku di sana.


Setelah menyadari kepergian Vania, Gavin segera menyusulnya. Ia mengikuti taksi yang Vania tumpangi saat ini. Ia akan menyelesaikan masalah ini setelah sampai di rumah nanti.


Sedangkan di rumah Rangga, saat ini Sandia berlari menuju kamarnya. Rangga mengikutinya dari belakang. Sampai di kamar, Sandia membanting tubuhnya di atas ranjang dengan posisi tengkurap. Entah mengapa ia merasa sangat kesal dengan sikap Rangga kali ini.


Rangga duduk di samping ranjang, ia mengusap kepala Sandia dengan lembut.


" Sayang, Mas minta maaf." Ucap Rangga.


" Mas tidak bermaksud membohongimu, sebenarnya Mas ingin mengatakan yang sebenarnya sayang, tapi Mas mencoba menjaga perasaanmu. Mas tidak mau kamu berpikir buruk tentang hubungan Mas dan Vania. Mas bingung saat itu, ingin sekali Mas mengajakmu makan bersama tapi sepertinya Vania sedang dalam keadaan tidak baik baik saja."


" Memang terjadi kesalahpahaman antara Vania dan Gavin saat itu, Mas tidak ingin dia canggung jika Mas mengajakmu. Itu sebabnya Mas berbohong padamu. Mas melakukan ini karena Mas sudah menganggap Vania sebagai adik Mas sendiri bukan karena ada perasaan seperti yang kau tuduhkan. Mas bisa merasakan bagaimana rasanya wanita ngidam tapi tidak terpenuhi keinginannya sayang. Kau akan merasakannya setelah kau hamil nanti. Mas harap kau paham dengan apa yang coba Mas sampaikan padamu." Jelas Rangga panjang lebar.


" Mas minta maaf ya, Mas akan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi. Lain kali Mas akan mengatakan yang sejujurnya padamu walaupun itu sedikit melukai perasaanmu. Kamu mau kan memaafkan Mas?"


" Aku tidak mau. Sekarang pergilah Mas! Aku mau istirahat, terserah apa yang akan kau katakan maupun yang kau lakukan. Aku tidak peduli. Aku juga akan melakukan apa yang aku mau." Ucap Sandia memejamkan matanya.


" Tapi sayang, masalah ini harus kita selesaikan dulu. Tidak baik...


" Aku bilang keluar ya keluar Mas! Kau dengar tidak sih! Berisik banget." Ucap Sandia dengan nada tinggi.


" Baiklah Mas keluar." Sahut Rangga keluar kamarnya.

__ADS_1


" Sebenarnya ada apa dengan Sandia? Kenapa dia marah marah seperti itu? Biasanya aku juga mengantar Vania kemana mana saat Vania menginginkan sesuatu, tapi dia tidak marah sama sekali, malahan dia senang. Tapi kali ini kenapa Sandia marah besar? Dia bahkan tidak segan membentakku dan Gavin. Apa ada yang tidak beres di sini ya." Pikir Rangga dalam hati.


TBC....


__ADS_2