Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
SADAR dari KOMA


__ADS_3

Nyonya Rindu yang hendak ke kamar mendengar suara seperti benda jatuh dari ruang kerja Gavin, ia segera masuk ke sana.


" Astaga Gavin!" Teriak nyonya Rindu.


" Tolong... Tolong pak satpam." Nyonya Rindu kembali berteriak.


Vania yang mendengar teriakan ibu mertuanya segera menghampirinya setelah menidurkan Gava di ranjangnya.


Deg...


Jantung Vania terasa berhenti berdetak saat melihat Gavin tergeletak di lantai dengan kepala bersimpah darah.


Ya sebelum Gavin jatuh ke lantai, kepalanya lebih dulu terbentur pinggiran sofa yang keras dan sudut meja hingga kepala bagian belakangnya mengeluarkan darah yang lumayan banyak.


" Vania... Gavin Vania... " Ucap nyonya Rindu.


Vania mendekati Gavin dengan perlahan. Sebelum ia sampai pak satpam mendekatinya lebih dulu dengan melewatinya.


" Astaga Nyonya, Den Gavin kenapa?" Pak satpam menatapnya.


" Saya tidak tahu Pak, tolong bawa Gavin ke rumah sakit segera! Saya takut dia kehilangan banyak darah." Ucap nyonya Rindu cemas.


" Baik Nyonya." Sahut oak satpam


Sedangkan Vania hanya bisa berdiri terpaku. Ia tidak mampu bergerak sedikit saja. Tidak hanya kepala Gavin yang berdarah tapi lengan, punggung dan dadanya mengeluarkan darah dari bekas sabetan nya. Semua luka itu terlihat karena Gavin bertelanjang dada.


Pak satpam membopong tubuh Gavin di bantu oleh nyonya Rindu menuju mobil. Mereka langsung membawa Gavin ke rumah sakit terdekat.


" Kak." Sandia menepuk pundak Vania membuat Vania tersadar.


" Sandia.. Mas Gavin.. Mas Gavin kenapa San? Apa dia seperti ini karena aku sikapku sudah keterlaluan kepadanya?" Tanya Vania dengan tatapan kosong.


" Tidak Kak, mungkin kak Gavin sedang ada masalah sendiri. Kakak jangan khawatir! Kak Gavin pasti akan baik baik saja." Ujar Sandia.


" Semoga San." Sahut Vania.


Vania menatap darah yang bercecer di lantai. Pikiran buruk mendominasi pikirannya. Ada ketakutan kehilangan Gavin dalam hatinya.


" Sandia, aku harus ke rumah sakit sekarang." Ucap Vania hendak keluar.


" Tidak Kak! Kita di rumah saja jagain Gava, di sana sudah ada mama. Kalau ada apa apa mama pasti akan menelepon kita." Ujar Sandia mencekal tangan Vania.


" Tapi Sandia aku sangat mengkhawatirkan kakakmu, aku...

__ADS_1


" Gava lebih membutuhkanmu Kak, kasihan kalau dia nanti lapar. Lagian Kakak juga masih dalam proses pemulihan jadi tidak boleh kecapekan." Ujar Sandia.


Apa yang Sandia katakan benar. Akhirnya Vania kembali ke kamarnya. Ia berbaring sambil memeluk Gava.


" Sayang, kita doakan semoga papa baik baik saja ya. Mama tidak mau kehilangan papamu, walaupun dia sudah berlaku kasar sama mama, tapi dia tidak bersalah sayang... Dia melakukan itu karena salah paham. Dia tidak sepenuhnya bersalah, andai dia tahu sejak awal kalau aku bukan anak kandung mama Ratna pasti dia tidak akan memperlakukanku dengan buruk. Aku selalu melihat cinta dalam kebenciannya. Semoga kau baik baik saja Mas, kau belum berhasil membuktikan cintamu padaku, kau masih harus membujuk ku sampai aku benar benar luluh dan memaafkanmu." Monolog Vania.


Tak terasa air mata menetes begitu saja di pipinya. Bagaimanapun Gavin adalah suaminya, suami yang masih ia cintai.


" Maafkan Mas jika semua ini terjadi karena sikapku selama ini." Ujar Vania menghapus air matanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dua hari Gavin mengalami koma. Dengan setia Vania menemaninya. Gavin di rawat di rumah dengan segala fasilitas medisnya. Nyonya Rindu tidak mau kalau sampai Vania kecapekan karena bolak balik rumah ke rumah sakit untuk mengurus Gavin dan Gava.


Saat ini Vania duduk di samping ranjang sambil menggenggam tangan Gavin. Ada rasa iba melihat Gavin seperti ini. Apalagi dokter bilang jika Gavin bangun dari komanya, ia tidak langsung kembali normal seperti sebelumnya karena benturan yang sangat keras di kepala bagian belakangnya.


" Mas bangunlah! Katakan padaku apa yang membuatmu seperti ini! Jika aku bertanggung jawab atas semua ini, aku minta maaf! Maafkan sikapku selama ini padamu. Aku hanya ingin melihat perjuangan dan kesungguhan mendapatkan maaf dariku, aku tidak mau tertipu lagi dengan sikap manismu. Bangunlah Mas! Apa kau tidak kangen menggendong Gava? Apa kamu tidak mau merawatku lagi?" Ucap Vania seolah olah sedang berbicara dengan Gavin.


Vania menatap wajah pucat suaminya. Ia menciumi punggung tangan Gavin.


" Aku memaafkanmu Mas! Aku ingin hidup bersamamu. Aku menerimamu kembali dan mari kita awali lembaran baru dengan penuh cinta dan kasih sayang agar kisah kita berakhir dengan penuh kebahagiaan." Ucap Vania.


Ceklek....


" Sayang kamu makan dulu! Biar Mama yang jagain Gavin." Ucap nyonya Rindu.


" Aku nggak nafsu makan Ma." Sahut Vania.


" Jangan egois Vania! Ada Gava yang harus kamu pikirkan, dia tidak akan kenyang minum Asi kamu kalau kamu tidak makan. Kau bisa kembali setelah makan." Ucap nyonya Rindu.


" Iya Ma."


Akhirnya Vania mengalah. Ia turun ke meja makan untuk makan siang. Setelah selesai ia kembali ke kamarnya untuk menyusui Gava terlebih dulu.


Nyonya Rindu menatap Gava yang menyesap put*ng sus* Vania dengan kuat.


" Cucu Oma kelihatannya haus banget, darimana sih?" Nyonya Rindu menoel pipi Gava.


" Aku dari kantor Oma." Sahut Vania menirukan suara anak kecil.


Mereka bercanda membuat hati Vania terhibur dan sedikit melupakan masalah Gavin. Setelah kenyang Vania menidurkan Gava di boxnya. Ia kembali duduk di kursinya mendampingi Gavin. Sedangkan nyonya Rindu kembali ke kamarnya.


" Mas apa kamu tidak mendengar suaraku? Aku memaafkanmu Mas! Aku ingin kita hidup bertiga dengan bahagia. Kita ukir kenangan indah untuk menghapus kenangan lama yang kelam, bangunlah Mas! Aku dan Gava selalu menantimu." Ucap Vania.

__ADS_1


Vania merasa ada yang bergerak dalam genggamannya. Ia memperhatikan dengan seksama dan...


" Mas kamu meresponku?" Pekik Vania senang.


" Bangunlah Mas! Tinggalkan alam bawah sadarmu! Kembalilah pada kami Mas, jangan pernah tinggalkan kami apapun yang terjadi." Ujar Vania.


Gabin kembali menggerakkan jarinya. Vania segera menelepon dokter sebelum Gavin membuka matanya.


Sepuluh menit dokter Anton sampai di kamar Gavin di ikuti mama mertua dan adik iparnya. Dokter Anton langsung memeriksa Gavin.


" Bagaimana kondisi suami saya Dok?" Tanya Vania.


" Perkembangan yang bagus Nona. Terus ajak berbicara supaya tuan Gavin segera sadar." Sahut dokter.


" Alhamdulillah, semoga Mas Gavin segera sadar dari komanya Ma." Vania menatap mertuanya.


" Iya sayang." Sahut nyonya Rindu.


Tiba tiba sebuah keajaiban muncul di hadapan mereka. Gavin mengerjapkan matanya membuat Vania menutup mulutnya karena saking senangnya.


" Mas kamu sudah sadar." Ucap Vania.


Gavin menatap Vania dengan tatapan kosong.


Deg...


Vania teringat tatapan mata itu, tatapan mata mertuanya saat depresi dulu. Jantung Vania berdetak sangat kencang.


"Tidak... Tidak mungkin Mas Gavin mengalami hal itu. Dia harus kembali normal seperti dulu lagi. Ya Tuhan... Jangan kau siksa Mas Gavin dengan keadaan seperti ini ya Rob, ku mohon padamu kabulkanlah doa doaku." Batin Vania.


Di kabulkan nggak nih?


Jangan lupa tekan like koment vote dan 🌹nya


Terima kasih untuk kalian semua yang sudah mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All...


TBC....


Jangan lupa dukung author di karya sebelah ya..


__ADS_1


__ADS_2