
Sandia diam tidak bergeming. Mungkin ia sedang mempertimbangkan keputusannya.
" Sandia, bagaimana? Apa jawabanmu?" Leon bertanya lagi.
Sandia menatap Leon lalu tersenyum kepadanya.
" Temui kak Gavin dan minta restu dari nya, kalau kak Gavin setuju maka aku akan menerimanya." Sahut Sandia.
Leon terlihat lemas mendengar ucapan Sandia. Bukannya ia takut menghadapi Gavin, tapi ia takut Gavin menolaknya. Leon cukup sadar diri siapa Leon, bukan hanya soal materi tapi soal akhlak yang sangat minim.
Gavin tahu bagaimana brengseknya Leon, ia tidak yakin Gavin akan memberikan adik tersayangnya dengan pria bejat seperti dirinya.
" Jangan patah semangat gitu donk Kak! Katanya cinta? Cinta itu butuh perjuangan Kak. Lagian aku yakin kak Gavin pasti akan memberikan restunya." Ucap Sandia.
Sandia menghela nafasnya karena tidak mendapat sahutan dari Leon. Ia tahu penyebab kekhawatiran Leon.
" Selama ini Kak Leon tahu kalau aku tidak akan mengambil keputusan sendiri, begitupun dengan kak Gavin, dia selalu memberikan apa yang aku mau. Jadi semangat meminta restu kak Gavin dan nantikan jawaban resmi dariku, setelah kak Gavin memberikan restu segeralah pinang aku Kak." Ucap Sandia melempar senyumannya membuat hati Leon sedikit tenang.
" Baiklah! Aku akan memintamu pada Gavin, kalau pun nanti Gavin mempersulitku aku akan tetap berusaha mendapatkanmu darinya. Yang jelas aku mau jawaban 'Ya' darimu. Aku tidak mau usahaku sia sia karena penolakanmu." Ucap Leon.
" InsyaAllah aku tidak akan membuatmu kecewa Kak." Ucap Sandia.
" Terima kasih Sandia sudah kembali memberikan harapan padaku." Ucap Leon menggenggam tangan Sandia.
Sandia menatap Leon dengan jantung berdebar dan berdetak kencang, begitupun sebaliknya. Keduanya saling menatap dengan tatapan penuh cinta sampai...
" Ehem ehem." Ruhi berdehem membuat keduanya salah tingkah.
" Cie cie... Sepertinya ada yang sedang jatuh cintrong nih!" Goda Ruhi menatap keduanya bergantian.
Ruhi duduk di samping Sandia.
" Apa sih Hi." Ucap Sandia malu malu.
" Nggak pa pa kali San, aku malah senang kalau iparan sama sahabat sendiri. Aku doakan semoga kalian berdua bahagia selamanya, lancar sampai pelaminan dan setelah menikah akan di karunia banyak anak." Ucap Ruhi yang mendapat gelengan kepala dari Sandia dan Leon.
" Kapan Kakak mau melamar Sandia?" Tanya Ruhi menatap Leon.
" Kamu ngomong apa sih Hi, nggak usah ngaco deh! Aku dan Kak Leon nggak ada hubungan apa apa kok." Ujar Sandia.
" Aku nggak percaya, orang aku melihat kalian tadi berpegangan tangan kok. Aku juga mendengar kalian membicarakan restu kak Gavin. Tenang saja aku akan mengunci mulutku rapat rapat." Ucap Ruhi mempraktekan mengunci mulutnya.
Leon dan Sandia saling melempar senyuman.
" Ya udah aku mau pulang dulu Hi, lain kali aku akan main lagi." Ucap Sandia.
" Yah kok buru buru sih San, aku belum puas ngobrol sama kamu." Ujar Ruhi.
" Lain kali ya, aku juga ada pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini juga." Sahut Sandia.
" Baiklah, hati hati ya!" Ucap Ruhi.
" Oke, mari Kak!" Ucap Sandia menatap Leon.
" Hati hati!" Ucap Leon.
Sandia melenggang meninggalkan mereka berdua. Leon menatap kepergian Sandia sampai tak terlihat olehnya lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Satu minggu berlalu....
Malam ini Gavin sedang menggendong Gava sedangkan Vania masih di dalam kamar mandi. Semakin menginjak besar, Gava semakin malam tidurnya.
__ADS_1
" Sayangnya Papa kok belum tidur sih." Ucap Gavin mencium pipi Gava.
" Belum ngantuk ya! Masih mau mainan sama Papa, atau mau guling guling di atas ranjang." Ujar Gavin.
" Ha..... a... a... " Oceh Gava.
" Pintarnya anak Papa." Ucap Gavin.
Mereka berdua saling sahut sahutan layaknya orang mengobrol pada umumnya walaupun yang Gava keluarkan hanya kalimat ocehan saja.
Gavin merasa bahagia bisa melihat tumbuh kembang putra tercintanya.
Vania keluar dari kamar mandi menghampiri Gavin.
" Gava belum tidur ya, sini sama Mama minum asi dulu." Vania menggendong Gava menuju ranjang.
Ia memeluk Gava lalu menyusuinya. Gavin naik ke atas ranjang merebahkan tubuhnya di samping Gava berhadapan dengan Vania.
" Setelah Gava tidur aku buka puasa ya Yank." Ucap Gavin menatap Vania penuh harap.
" Udah nggak tahan Mas?" Goda Vania menaik turunkan alisnya.
" Iya... Udah lama banget puasanya soalnya, kan kasihan kalau nggak buka buka." Sahut Vania.
" Kasihan suamiku ini! Aku akan memberikan apa yang kamu mau mau dan kamu butuhkan Mas, apapun untukmu." Ucap Vania.
" Terima kasih sayang." Ucap Gavin mencium Vania.
Vania membalasnya dengan senyuman.
Setelah Gava tidur, Vania menidurkannya di boxnya.
" Sini sayang!" Gavin menepuk bahunya.
Vania kembali naik ke atas ranjang, ia berbaring dengan bahu Gavin sebagai bantalan.
" Sayang aku..." Gavin menjeda ucapannya.
Vania mengubah posisinya menjadi tengkurap sambil menatap Gavin.
" Kenapa Mas? Mau buka puasa?" Tanya Vania.
" Iya... Tapi aku takut kamu trauma dengan hal ini, apalagi dulu aku tidak pernah menyentuhmu dengan lembut, aku selalu menyentuhmu dengan kasar." Ucap Gavin nampak sedih.
" Mas... Aku sudah pernah bilang kan kalau kamu harus melupakan masa lalu! Aku tidak pa pa Mas, aku sudah melupakan semuanya jauh sebelum kamu meminta maaf padaku." Ujar Vania.
" Terima kasih sayang, kau memang wanita terbaik di dunia ini." Ucap Gavin.
Vania memajukan wajahnya ke wajah Gavin, keduanya saling melempar pandangan dan...
Cup...
Vania mengecup bibir Gavin, Gavin tersenyum bahagia melihatnya.
Gavin membalikkan badan Vania lalu mengukung tubuhnya. Ia mencium bibir Vania dengan lembut. Vania terlena dengan sentuhan Gavin, ia memejamkan matanya menikmati desiran yang membuncah dari dalam hatinya.
Tangan Gavin mulai membuka satu persatu kain yang menutupi tubuh Vania. Ia juga membuka bajunya sendiri membuat tubuh keduanya sama sama polos. Gavin memindai setiap inchi tubuh Vania dengan seksama.
Malam ini untuk pertama kalinya Gavin menyentuh Vania dengan penuh kelembutan. Ia memanjakan tubuh Vania membuat Vania seolah terbang melayang di atas nirwana.
Keduanya sama sama merasa bahagia telah menyatukan cinta mereka dalam indahnya kenikmatan syurga dunia.
Cup....
__ADS_1
" Terima kasih sayang." Gavin mencium kening Vania.
" Iya Mas." Sahut Vania.
Gavin memeluk Vania dari belakang. Keduanya memejamkan mata menuju alam mimpi.
Pagi hari setelah mandi, Vania dan Gavin menuju meja makan. Di sana semuanya sudah menunggu.
" Pagi semua." Sapa Vania.
" Pagi sayang." Sahut nyonya Rindu.
" Tante, kenapa bau bau pengantin baru ya Tan?" Ucap Rangga melirik Vania dan Gavin.
Nyonya Rindu, Sandia dan bibi Tuti spontan menatap Vania dan Gavin membuat yang di tatap menjadi salah tingkah.
" Apa sih Mas! Sukanya godain deh!" Ucap Vania menatap Rangga.
Mereka semua tersenyum mendengar ucapan Vania.
" Ya sudah sekarang kita makan dulu!" Ujar nyonya Rindu.
Mereka makan dengan khidmat sampai Leon datang menghampiri mereka semua.
" Pagi semua." Sapa Leon.
Deg...
Jantung Sandia terasa berdetak dengan. kencang.
" Pagi Leon, sini ikut sarapan bareng." Ucap nyonya Rindu.
" Terima kasih Tante, aku sudah sarapan di rumah." Sahut Leon.
" Ada apa kamu pagi pagi ke sini? Bukankah ini hari Minggu? Kita libur kan?" Tanya Gavin menatap Leon.
Leon menatap Sandia yang menundukkan kepalanya.
" Aku ke sini untuk meminta ijinmu." Ucap Leon.
" Ijin? Ijin untuk apa?" Tanya Gavin.
Jantung Sandia semakin berdegup kencang.
" Menikah." Sahut Leon membuat semua orang menatap ke arahnya termasuk Sandia.
" Kamu ke sini meminta ijin untuk menikah, memangnya kamu mau menikah dengan siapa?" Selidik Gavin.
Sandia memejamkan matanya bersiap menanti reaksi dari kakaknya.
" Aku akan menikah dengan Lorenza."
Jeduarrrrrrrr........
Nah loh kok bisa?
Penasarankan?
Mau lanjut?
Jangan lupa tekan like dan mawar yang banyak buat author....
Terima masih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC.....