
Pagi ini Vania kembali muntah muntah, Gavin selalu setia berdiri di belakangnya sambil memijat tengkuknya.
" Sayangnya Papa kok buat mama mual lagi sih? Pengin apa coba pagi pagi begini?" Ujar Gavin sambil mengelus perut Vania menggunakan tangan kirinya.
Ajaib...
Setelah di elus oleh Gavin, Vania tidak merasakan mual lagi. Vania membasuh mulutnya lalu mengeringkannya menggunakan tisu.
" Udah mendingan sayang?" Tanya Gavin mengusap keringat di dahi Vania.
" Udah Mas." Sahut Vania menganggukkan kepalanya.
" Mau makan apa sayang? Nanti akan aku belikan." Tawar Gavin.
" Durian."
" What??" Pekik Gavin.
" Durian?" Tanya Gavin memastikan di balas anggukan kepala oleh Vania.
" Big No!!" Sahut Gavin.
" Kenapa? Aku mau makan durian Mas." Ujar Vania.
" Sayang... Aku tidak suka durian, aku...
" Kan aku yang makan bukan kamu, kamu cukup belikan aja buat aku Mas." Sahut Vania memotong ucapan Gavin.
" Sayang, aku tahu kalau kamu yang makan. Tapi aku selalu mual mencium aroma durian sayang. Aku tidak suka! Baik makan ataupun mencium baunya." Ucap Gavin bergidik membayangkan durian.
" Tapi anakmu ingin makan durian Mas." Sahut Vania.
" Yang lain saja ya, please!!!" Bujuk Gavin.
" Nggak mau! Aku penginya durian, sekarang juga." Kukuh Vania.
" Sayang aku mohon! Jangan durian ya! Gimana kalau melon? Semangka? Delima? Mangga? Atau...
" Tidak mau!" Sahut Vania.
" Kalau kamu tidak mau membelikannya untukku, aku akan meminta pada Mas Rangga. Sama saat hamil Gava dulu. Biar saja Mas Rangga yang menggantikan posisi kamu Mas." Ucap Vania penuh ancaman.
" Jangan! Jangan!" Gavin menggerakkan kedua tangannya.
" Baiklah akan aku belikan, aku ambil masker dulu." Sahut Gavin.
Gavin mengambil lima masker lalu memakainya sekaligus.
" Mas apa nggak sesak nafas kamu pakai masker double gitu?" Tanya Vania menatap Gavin.
" Mau gimana lagi sayang? Biar bau duriannya tidak masuk ke hidung." Ujar Gavin.
" Baiklah terserah kamu saja, beli durian yang enak dan manis. Pokoknya aku mau yang super." Ujar Vania.
" Siap sayang, aku pergi dulu!" Ucap Gavin mencium kening Vania walau terhalang masker.
" Hati hati Mas!" Ucap Vania.
Gavin keluar kamar, sedangkan Vania duduk bersandar di atas ranjang. Ia menoleh pada ranjang yang biasa di tiduri Gava.
" Rasanya sepi tidak ada Gava." Gumam Vania.
__ADS_1
Ya... Gava di ajak jalan jalan pagi oleh nyonya Rindu dan bibi Tuti.
Tiga puluh menit kemudian Gavin kembali dengan satu durian di tangannya.
" Wah... Kelihatannya lezat tuh Mas." Ucap Vania dengan mata berbinar.
" Iya sayang, sini aku bukain ya." Ujar Gavin duduk di atas karpet.
Gavin membelah duriannya sambil menahan nafasnya.
" Sayang kamu makannya sedikit saja ya, katanya nggak baik buat orang yang sedang hamil muda seperti kamu." Ujar Gavin memberikan duriannya pada Vania.
" Aku tidak mau memakannya Mas." Sahut Vania.
" Lalu?" Gavin mengerutkan keningnya.
" aku hanya ingin lihat kamu memakannya."
Jeduarrrr.....
" A... Apa? Aku yang memakannya? Kamu tidak bercanda kan sayang? Aku tidak doyan durian lhoh." Ucap Gavin menatap Vania dengan tatapan memelas.
" Aku tidak mau tahu Mas, pokoknya aku mau lihat kamu makan durian ini. Sekarang juga!!" Sahut Vania.
" Sayang aku mohon jangan seperti ini! Aku akan mual jika memakannya sayang. Tidak usah ya... Kalau kamu tidak mau memakannya biar aku buang saja." Ucap Gavin mencoba membujuk Vania.
" Tidak mau!!! Kau harus memakannya sekarang juga. Kalau tidak aku marah nih! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi, aku tidak mau tidur sama kamu, aku tidak mau bertemu kamu lagi." Ancam Vania.
Gavin menghela nafasnya. Kalau sudah begini ia tidak bisa berbuat apa apa.
" Baiklah aku akan memakannya." Ucap Gavin pasrah.
" Bu...
" Baiklah." Sahut Vania menghembuskan kasar nafasnya.
Vania memberikan durian itu pada Gavin. Gavin menahan nafasnya. Ia mengambil satu biji durian lalu mendekatnya ke mulutnya. Aroma durian menyeruak di hidungnya, ingin sekali ia muntah namun sekuat mungkin ia tahan.
" Ya Tuhan bantu aku memakan durian ini, jangan sampai Vania marah padaku gara gara aku tidak memakannya." Doa Gavin dalam hati.
Dengan perlahan Gavin mulai menggigit daging durian itu lalu mengunyahnya. Perutnya terasa seperti di aduk aduk.
" Ayo Mas segera di habiskan! Nanti yang kedua aku yang menyuapinya." Ucap Vania.
Gavin memejamkan matanya menahan mual pada perutnya. Namun rasanya semakin lama semakin tak karuan. Tiba tiba ia berlari ke kamar mandi lalu...
Huek... Huek....
Gavin memuntahka durian dan semua isi perutnya di wastafel. Vania segera menyusulnya.
" Mas kamu tidak pa pa?" Tanya Vania.
Huek... Huek..
Keringat sebesar biji jagung nampak menghiasi dahi Gavin.
" Mas."
Vania melihat tengkuk Gavin yang terus muntah muntah.
" Mas aku ambilkan minum ya." Ujar Vania khawatir.
__ADS_1
" Tidak usah!" Sahut Gavin.
Hampir setengah jam Gavin muntah muntah. Semua itu membuat tubuhnya terasa lemas dan kepalanya berdenyut nyeri. Saat Gavin hendak kembali ke kamarnya tiba tiba...
Brugh....
" Mas Gavin." Pekik Vania saat tubuh Gavin tergeletak di lantai.
" Mas bangun Mas!" Ucap Vania menepuk pelan pipi Gavin.
" Mas bangun! Jangan bercanda seperti ini Mas! Aku khawatir." Ucap Vania cemas.
Gavin tidak bergeming membuat Vania sedikit ketakutan.
" Mas jangan seperti ini Mas! Bangunlah!" Vania mengusap air mata yang menetes di pipinya.
" Mas.. Hiks..." Isak Vania menyesali perbuatannya.
Nyonya Rindu yang baru saja pulang segera masuk ke dalam kamar Gavin sambil menggendong Gava.
" Kemana Mama kamu ya?" Gumam nyonya Rindu masuk ke dalam sampai...
" Astaga Gavin, kamu kenapa nak?" Nyonya Rindu mendekati Gavin yang masih tergeletak di lantai.
" Vania, Gavin kenapa nak?" Tanya nyonya Rindu.
" Mas Gavin pingsan setelah muntah muntah Ma." Sahut Vania.
" Durian." Gumam nyonya Rindu saat mencium bau durian.
" Kamu meminta Gavin memakannya?" Selidik nyonya Rindu saat melihat durian yang sudah terbelah.
" Iya Ma." Sahut Vania lirih.
" Apa Gavin tidak bilang kalau dia tidak suka dengan durian?" Tanya nyonya Rindu menatap Vania.
" Mas Gavin memberitahuku Ma, tapi aku ingin sekali melihat Mas Gavin makan durian. Itu sebabnya aku memaksanya untuk memakan durian itu. Tapi hasilnya malah seperti ini. Maafkan aku Ma." Ucap Vania merasa bersalah.
" Ya sudah tidak perlu bersedih seperti itu! Mama akan meminta bantuan pak satpam untuk memindahkan Gavin ke ranjang. Kamu telepon dokter Hera saja! Biar Gavin dapat obat anti mual." Ujar nyonya Rindu.
" Iya Ma." Sahut Vania.
Nyonya Rindu mencari bantuan pak satpam. Tak lama dokter datang memeriksa keadaan Gavin.
Setelah di periksa oleh dokter, Gavin membuka matanya.
" Shh... " Gavin menyentuh kepalanya yang berdenyut nyeri.
" Syukurlah kamu sudah sadar Mas, maafkan aku." Ucap Vania menubruk tubuh Gavin.
" Tidak pa pa sayang, yang penting kamu udah melihat aku makan durian kan." Sahut Gavin.
" Iya Mas, terima kasih sudah mau berkorban demi aku." Ucap Vania.
" Apapun akan aku lakukan untukmu dan anak kita sayang." Sahut Gavin mengelus kepala Vania.
Ada yang sama dengan Gavin? Jawabannya, Author...
Tekan like koment vote untuk mendukung karya author...
Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC...