Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
Menyerah pada Perasaan


__ADS_3

" Terima kasih Dok atas kerja samanya." Ucap Gavin melalui telepon.


.........


" Kalau tidak ada anda rencana saya meluluhkan hati istri saya tidak akan berhasil, sekarang dia sudah memaafkan saya dan kembali menerima saya, sekali lagi terima kasih." Gavin menutup panggilan teleponnya.


Vania yang masih berdiri di depan pintu merasa kecewa atas sikap Gavin. Ia tidak pernah menyangka jika Gavin akan melakukan semua ini.


" Aku harus berbuat sesuatu untuk membalasmu Mas." Batin Vania kembali ke dapur.


Tak lama Vania kembali ke kamarnya, ia menghampiri Gavin di ranjangnya.


" Mas sarapan dulu! Aku sudah membuatkan bubur ayam untukmu." Ucap Vania.


" Suapi." Ucap Gavin.


" Manja bener sih suamiku, akan aku suapi tapi kamu harus janji tidak boleh memuntahkan bubur yang sudah ada di dalam mulut kamu, kau harus menelannya." Ucap Vania penuh arti.


" Iya aku tidak akan memuntahkannya." Sahut Gavin.


Vania menyuapi Gavin sambil tersenyum. Gavin mengunyah bubur sambil merasakan rasa khas dari bubur itu.


" Kenapa rasanya sangat pedas ya, ini seperti pedas merica. Duh mana nggak boleh memuntahkan lagi, shhhh... pedas banget." Gerutu Gavin dalam hati.


" Sesekali bibirmu harus di kasih pelajaran Mas, maafkan aku jika aku keterlaluan sama kamu tapi kamu lebih keterlaluan sama aku karena kamu telah membohongiku." Batin Vania menahan tawa.


" Lagi Mas, pokoknya kamu harus makan sampai habis."


Glek...


Gavin menelan kasar salivanya. Ia menatap Vania dengan mata yang mulai memerah. Keringat mengucur di keningnya.


" Kenapa buburnya pedas? Nggak enak Vania." Ujar Gavin.


" Buburnya aku tambahkan bubuk lada, biar badanmu hangat. Kan baik untuk daya tahan tubuh." Sahut Vania.


"Tidak hangat lagi Vania.. Ini mah panas." Batin Gavin.


" Haha... Rasain kamu Mas." Batin Vania.


Selesai memakan buburnya, tiba tiba wajah Gavin memerah.


" Vania aku kepanasan, tubuhku rasanya terbakar. Aku mau mandi lagi." Gavin berlari ke kamar mandi melepas semua pakaiannya lalu berendam di bath up.


Vania jadi tidak tega melihatnya.


" Apa aku keterlaluan ya." Gumam Vania.


" Vania... " Teriak Gavin dari dalam.


Vania segera masuk ke dalam.


" Astaga!" Pekik Vania saat badan Gavin berubah menjadi merah semua.


" Panas Vania." Rengek Gavin seperti anak kecil.


" Haduh kenapa bisa begini sih, niat hati ingin mengerjai Mas Gavin tapi malah jadi kacau." Gumam Vania khawatir.

__ADS_1


" Vania.. Panas.. Tubuhku seperti terbakar Vania hiks." Ujar Gavin.


" Aku harus tanya mama bagaimana mengatasinya." Vania keluar kamar menuju kamar mertuanya.


Tok tok


" Ma." Panggil Vania.


Ceklek....


" Ada apa sayang?" Tanya nyonya Rindu.


" Ma badan Mas Gavin merah semua, dia kepanasan karena aku telah menambahkan banyak bubuk lada di buburnya." Ucap Vania lirih di akhir kalimatnya.


" Astaga! Gavin alergi pada lada sayang, dia akan kepanasan kalau kau menambahkan lada terlalu banyak pada makanannya." Ujar nyonya Rindu.


Deg...


Jantung Vania berdetak sangat kencang. Kenapa ia begitu bodoh melakukan semua ini.


" Tapi kamu tenang saja! Sepertinya Mama masih menyimpan obatnya, dia akan sembuh setelah meminum obat itu." Nyonya Rindu mengambil obat antibiotik lalu memberikannya kepada Vania.


" Terima kasih Ma." Ucap Vania kembali ke kamarnya.


Vania masuk ke kamar mandi sambil membawa air putih.


" Mas ini minum obatnya, kata mama kamu alergi." Ucap Vania memberikan obatnya.


Gavian segera meminumnya.


Setelah agak mendingan Vania memakaikan baju kepada Gavin. Ia menatap dada bidang suaminya yang masih menyisakan bercak kemerahan. Ada rasa bersalah di dalam hatinya. Tiba tiba...


Grep...


Vania memeluk Gavian.


" Maafkan aku Mas! Aku telah sengaja membuatmu seperti ini." Ungkap Vania.


" Sengaja?" Gavin mengerutkan keningnya.


Vania menatap Gavin dengan intens.


" Apa kau juga tidak mau minta maaf padaku? Seharusnya kau tahu aku melakukan semua ini pasti ada sebabnya." Ujar Vania.


" Sebab?" Gavin kembali mengernyitkan dahinya.


" Sudahi sandiwaramu di sini! Aku sudah tahu semuanya. Untuk meluapkan rasa kecewa ku padamu aku ingin memberikan perhitungan padamu dengan menambahkan banyak bubuk lada ke dalam buburmu. Tapi ternyata kau malah alergi lada." Ucap Vania.


Tubuh Gavin menegang mendengar ucapan Vania. Rasa takut dan khawatir Vania akan meninggalkannya muncul di hatinya. Ia merasakan panik yang luar biasa.


" A... Aku.. Aku....


" Aku memaafkanmu! Kau melakukan ini karena kau ingin mendapatkan perhatian dariku, kau ingin aku kembali sebagai Vania yang dulu, yang selalu mencintai dan menyayangimu." Sahut Vania memotong ucapan Gavin.


" Kau benar sayang! Untuk mendapatkan itu aku rela berbohong padamu. Aku tidak tahu bagaimana lagi caranya mendapatkan itu semua darimu, maafkan aku! Sekali lagi aku membuatmu kecewa." Ucap Gavin.


" Jujur... Sebenarnya aku ingin membencimu, aku ingin menjauh darimu, aku ingin berpisah darimu, tapi aku tidak bisa melakukan semua itu. Perasaanku padamu begitu dalam Mas, rasa cinta yang aku miliki untukmu sangat besar, bahkan melebihi apapun. Aku menyerah pada perasaanku sendiri. Aku mencintaimu Mas, sangat mencintaimu." Ucap Vania memeluk Gavin.

__ADS_1


" Aku juga sangat mencintaimu sayang." Gavin membalas pelukan Vania. Sesekali ia mencium pucuk kepala Vania.


" Mari kita buka lembaran baru sayang, lembaran penuh cinta dan kasih sayang. Tidak akan ada lagi kekerasan dan kebohongan yang ada hanya kebahagiaan untuk keluarga kecil kita." Ucap Gavin melepas pelukannya.


Keduanya saling melempar pandangan. Gavin menggenggam tangan Vania.


" Nyonya Arvania Mahardika, maukah kau menua bersamaku? Maukah kau menemaniku di dalam suka dan duka? Kita akan membangun rumah tangga yang bahagia." Ucap Gavin.


Vania tersenyum menatapnya.


" Aku mau Mas, aku akan selalu mendampingimu dalam suka dan duka dan selamanya." Sahut Vania.


" Terima kasih sayang, aku mencintaimu." Ucap Gavin.


Cup...


Gavin mengecup kening Vania lama.


" Ekhem."


Keduanya menoleh ke belakang.


" Mama." Ucap keduanya.


" Mama sangat bahagia melihat kalian berdua kembali bersatu sayang, Mama selalu berdoa semoga kalian bahagia. Tidak akan ada lagi rintangan dan halangan untuk kebahagian kalian." Ucap Nyonya Rindu menghampiri mereka.


" Amin Ma, terima kasih." Sahut Vania.


Gabin merangkul pundak Vania lalu ia mengecup pipinya.


" Apa sih Mas, malu tahu ada Mama." Ucap Vania tersipu malu.


" Tidak perlu malu sayang, dulu Mama juga begitu." Sahut nyonya Rindu.


Nyonya Rindu mendekati box bayi.


" Selamat untukmu cucu Oma, mulai hari ini kau akan hidup bahagia dengan cinta dan kasih sayang yang untuk dari orang tuamu. Kalian akan menjadi keluarga harmonis selamanya." Ucap nyonya Rindu menatap cucu tercinta.


Nyonya Rindu menatap Gavin.


" Gavin, jadikan semua masa kelam pelajaran untukmu, jangan sia siakan kesempatan yang Vania berikan padamu." Tutur nyonya Rindu.


" Iya Ma, aku akan menggunakan kesempatan ini dengan baik. Aku akan segera mencetak Gava junior supaya rumah kita menjadi ramai." Ucapan Gavin membuat Vania melongo.


" Ngarang aja kamu Mas. Bekas operasi saja masih basah." Ucap Vania.


" Iya iya maaf sayang." Sahut Gavin mencubit pelan hidung Vania.


Mereka nampak bahagia dengan kebahagiaan yang Vania berikan. Vania membawa pengaruh besar dalam kehidupan keluarga Mahardika.


Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiahnya...


Terima kasih untuk kalian semua yang telah mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All...


TBC...

__ADS_1


__ADS_2