Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
Permintaan maaf Leon


__ADS_3

Pagi hari Gavin menghampiri Leon yang sedang sarapan di meja makan.


" Gavin, tumben kamu ke sini." Ucap Leon menatap Gavin.


Tiba tiba Gavin menarik kerah Leon lalu..


Bugh... Bugh... Bugh...


Gavin memukul wajah dan perut Leon hingga Leon tersungkur ke lantai.


Uhuk uhuk uhuk.....


Leon terbatuk batuk hingga mengeluarkan darah. Ia mencoba berdiri lalu mengusap darah di sudut bibirnya.


" Apa yang terjadi Gavin? Kenapa kau memukulku seperti ini?" Tanya Leon tidak mengerti.


" Kau tidak mengerti atau hanya pura pura hah?" Bentak Gavin menunjuk wajah Leon.


" Memangnya apa kesalahanku Gavin? Apa yang telah aku lakukan padamu?" Leon kembali bertanya.


" Semalam kau melecehkan Sandia, Leon." Teriak Gavin.


Deg....


Jantung Leon berdetak dengan sangat kencang. Bayangan ia memeluk Sandia, ia mendorong Sandia ke ranjang dan mencium Sandia dengan paksa terlintas di kepalanya.


" Jadi semalam bukan mimpi?" Tanya Leon memastikan.


" Mimpi katamu... Apa kau sudah gila? Kau hendak memperkos@ Sandia kau anggap sebagai mimpi? Benar benar sialan lo. Beruntung semalam kau tidak sadarkan diri. Kalau tidak aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada adikku. Kau memang benar benar baj!ng@n Leon." Teriak Gavin lalu...


Bugh...


Gavin kembali memukul wajah Leon.


" Maafkan aku! Aku tidak tahu." Ucap Leon.


" Kau harus di beri pelajaran, dasar cassanova. Apa kau sudah kelaparan hah? Sehingga kau mau memakan adikku." Ucap Gavin masih dengan nada tinggi.


" Aku benar benar tidak sadar melakukannya Vin." Ucap Leon.


" Aku tidak peduli, yang jelas kau harus mati di tanganku." Ucap Gavin.


Saat Gavin hendak menginjak perut Leon tiba tiba...


" Mas sudah!" Teriak Vania dari depan pintu.


Vania segera berlalu menghampiri Gavin.

__ADS_1


" Mas sudah Mas! Jangan seperti ini!" Ucap Vania membuat Gavin mengurungkan niatnya.


" Kenapa kamu ke sini? Bukankah tadi aku bilang kamu tetap di rumah saja? Kenapa kau membantah perintah suamimu Vania?" Gavin menatap tajam kepada Vania.


" Maaf Mas! Aku takut kamu berbuat nekat dan mencelakai kak Leon, itu sebabnya aku kemari." Sahut Vania.


" Kau khawatir padanya? Memnagnya apa hubunganmu dengannya?" Tanya Gavin emosi.


" Aku tidak ada hubungan apa apa dengan kak Leon Mas, aku hanya kasihan saja padanya." Ucap Vania.


" Kau kasihan pada bajing@n ini hah!!" Bentak Gavin tanpa sadar sambil menunjuk Leon.


" Bagaimana bisa kau kasihan apda Leon setelah apa yang dia lakukan pada Sandia? Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan Sandia jika mendengarnya Vania... Kecuali jika kau memiliki perasaan padanya." Sinis Gavin.


" Aku kasihan pada kak Leon karena aku merasa hutang budi padanya Mas, dia telah membantuku menyelamatkan Gava darimu saat itu. Kak Leon melakukannya tanpa sadar saja kau tidak bisa memaafkannya, lalu bagaimana dengan perbuatanmu saat itu Mas? Kau melakukannya dengan kesadaran penuh. Apa aku juga tidak boleh memaafkanmu? Apa kau juga akan mengatakan jika aku bodoh karena mau menerimamu krmbali seperti orang orang? Jangan merasa kalau diri kita baik Mas. Semua orang pernah melakukan kesalahan. Termasuk dirimu." Ucap Vania terpancing emosi karena merasa di pojokkan.


Gavin melkngo mendengar ucapan Vania. Ia tidak menyangka jika Vania tega mengungkit perbuatan buruknya.


" Kau mengungkit semuanya sayang?" Tanya Gavin menatap Sandia.


" Ya.. Aku terpaksa mengungkitnya agar kamu sadar Mas, tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Maafkan aku jika aku harus mengatakan semua ini." Ucap Vania.


Leon mendekati Gavin sambil tertatih.


" Maafkan aku Gavin! Aku sudah mbuat kesalah pahaman di antara kalian berdua. Maafkan aku yang telah membuat kesalahan pada Sandia. Aku tidak sadar dengan apa yang aku lakukan padanya. Aku merasa kalau itu semua hanya mimpi. Maafkan aku Vin!" Ucap Leon merasa bersalah.


" Aku memaafkanmu karena kau melakukannya di bawah pengaruh alkohol. Tapi sekali lagi kau melakukan itu pada keluargaku, aku tidak akan pernah mengampunimu. Saat itu juga aku akan membunuhmu!" Ancam Gavin.


" Lakukan itu jika aku mengulanginya, aku berjanji padamu kalau aku tidak akan pernah melakukannya lagi. Terima kasih telah memaafkan aku." Ucap Leon.


" Ayo sayang!" Ajak Gavin tanpa menghiraukan ucapan Leon.


Gavin menggandeng tangan Vania meninggalkan rumah Leon. Leon terduduk lemas di kursinya.


" Bodoh bodoh bodoh... Bodoh kau Leon.. Kenapa kamu bisa melakukan hal seperti itu pada Sandia, wanita yang kau cintai Leon.... Kenapa kau harus meminum minuman sialan itu sampai mabuk? Sekarang aku yakin, Sandia pasti akan membenciku, dia pasti takut jika bertemu denganku karena trauma. Bodoh kau Leon...." Monolog Leon memukul mukul kepalanya sendiri.


" Aku harus meminta maaf pada Sandia sekarang juga." Ucap Leon.


Leon segera mengambil kunci mobilnya. Ia melajukan mobilnya menuju rumah Gavin. Lima belas menit ia sampai di sana. Ia segera masuk ke dalam.


" Sandia." Panggil Leon menuju meja makan.


Merasa namanya di panggil, Sandia yang sedang makan bersama yang lain menoleh ke arah Leon.


" Kak Leon." Gumam Sandia sedikit ketakutan.


Rangga yang duduk di sebelahnya menggenggam tangan Sandia seolah memberikan kekuatan padanya. Sandia menoleh pada Rangga yang di balas anggukan kepala.

__ADS_1


" Tenang saja! Mas ada di sini." Lirih Rangga sambil tersenyum setelah melihat Sandia semakin gelisah.


" Iya Mas." Sahut Sandia.


Leon menatap orang orang yang sedang duduk di meja makan, tidak ada Gavin dan Vania di sana. Ia segera menghampiri Sandia.


" Aku ingin berbicara padamu Sandia." Ujar Leon.


" Bicaralah di sini Kak!" Ucap Sandia.


Leon menghembuskan nafasnya dalam dalam.


" Aku ingin meminta maaf padamu Sandia. Tentang kejadian semalam aku benar benar tidak sadar melakukannya. Aku tidak bermaksud merendahkanmu sebagai seorang wanita, aku menyesalinya Sandia. Seandainya aku tahu kau akan datang, aku tidak akan minum sampai mabuk. Aku mohon maafkan aku!" Ucap Leon.


Sandia diam tidak bergeming begitupun dengan yang lainnya.


" Sandia maukah kau memaafkan aku?" Tanya Leon.


Sandia kembali menatap Rangga. Rangga menganggukkan kepala seolah memberikan jawaban.


" Baiklah aku memaafkanmu Kak." Ucap Sandia mendongak menatap Leon.


" Terima kasih Sandia." Ucap Leon.


" Lagian ini semua terjadi bukan karena salahmu, aku yang salah. Aku yang menghampirimu tadi malam. Lupakan apa yang terjadi! Tetap jaga hubungan kekeluargaan ini! Jangan sampai kau berubah karena perasaanku padamu Kak. Dari dulu kita satu keluarga maka selamanya kita akan jadi keluarga. Setelah aku menikah nanti, biarlah Ruhi menjadi anak perempuan mama." Ujar Sandia.


" Aku akan berusaha Sandia, tapi maaf! Untuk saat ini aku belum bisa melakukan seperti apa yang kau mau. Aku harus menata hatiku kembali. Aku harap kau bisa mengerti perasaanku." Ucap Leon.


" Aku mengerti Kak." Sahut Sandia menganggukkan kepala.


" Tante aku minta maaf!" Ucap Leon menatap nyonya Rindu.


" Sebagai orang tua, Tante memaafkanmu Leon. Tapi Tante harap kau tidak akan mengulanginya di lain hari." Sahut nyonya Rindu.


" Aku berjanji Tante, terima kasih telah memaafkan aku. Kalau begitu aku permisi." Ucap Leon.


" Silahkan." Sahut nyonya Rindu.


Saat Leon melangkah tiba tiba Sandia menghentikan langkahnya.


" Kak.....


Kenapa hayoooo....


Tekan like untuk mendukung karya author...


Terima kasih...

__ADS_1


TBC....


__ADS_2