Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
PDKT dengan VANIA & BABBY


__ADS_3

Sore hari suster masuk ke ruangan Vania membawakan air hangat untuk mengelap tubuh Vania.


" Sore Nyonya, waktunya mandi tapi di lap aja ya soalnya bekas operasinya belum boleh kena air." Ujar suster.


" Iya Sus." Sahut Vania.


" Biar saya saja Sus!" Ucap Gavin.


" Silahkan Tuan! Kalau begitu saya permisi." Sahutnya.


" Sus, kapan saya boleh menggendong anak saya?" Tanya Gavin.


" Besok sudah boleh Tuan, akan ada suster yang membawanya ke sini." Ujar Suster.


" Baiklah." Sahut Gavin.


" Sayang Mas bantu lap tubuh kamu ya." Ujar Gavin menatap Vania.


" Tidak usah Mas! Nanti nunggu bibi Tuti saja." Sahut Vania.


" Ada aku di sini sayang, aku yang akan merawatmu. Dan kamu jangan malu karena aku sudah melihat dan hafal setiap inchinya." Ujar Gavin.


Gavin mengelap tangan dan kaki Vania dengan lembut. Saat ia mengelap punggung Vania, ia melihat bekas operasi dulu. Tak terasa air mata menetes di pipinya.


Tak kuasa menahan sesak di dadanya, Gvin membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.


" Apa kamu menangis Mas?" Tanya Vania mendengar Gavin yang sesegukan.


" Tidak sayang, aku tidak menangis." Sahut Gavin.


Selesai mengelap tubuh Vania, Gavin memakaikan bajunya dengan pelan.


" Sudah selesai sayang, mau makan?" Gavin menatap Vania.


" Nanti aja Mas." Sahut Vania.


Gavin menghela nafasnya, ia duduk di kursi dekat ranjang. Vania memejamkan matanya.


Gavin keluar ruangan, ia menuju kamar bayi. Gavin menatap bayi mungil nan tampan yang ada di dalam inkubator dari kaca pintu.


" Gava.... " Gumam Gavin mengusap kaca yang menjadi penghalang dirinya dan putranya.


" Maafkan papa sayang, papa telah banyak melakukan kesalahan dan dosa kepada kalian berdua hiks... Maafkan papa sayang, sekarang papa menyayangimu dan mama kamu, papa ingin kalian kembali kepada papa, papa tidak rela kalian menjadi milik orang lain. Sayang... Bantu doa untuk papa supaya mama kamu mau memaafkan papa dan menerima papa kembali sayang, kita akan hidup bahagia bersama." Gumam Gavin mengusap air matanya.


Gavin kembali ke ruang rawat Vania.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini suster membawa babby Vania kepadanya.


" Nyonya, sekarang anda bisa menyusui putra anda Nyonya." Ucap suster.


" Berikan padaku Sus!" Ujar Gavin.


Suster memberikan babby Vania kepada Gavin.

__ADS_1


Gavin menggendongnya dengan nyaman. Ia menatap babby tampan masih berwarna merah yang sudah membuka matanya dengan jelas. Ia nampak menatap Gavin.


" Sayangnya papa." Gavin mencium pipi babbynya.


Lagi lagi air mata keluar dari sudut matanya. Bi Tuti dan Vania menatap ke arahnya. Mereka saling melempar senyuman.


" Sayang lihatlah babby Gava!" Gavin mendekatkan babbynya ke Vania.


" Gava?" Vania mengerutkan keningnya.


" Iya... Namanya babby Gava... Gavin Vania." Sahut Gavin.


" Kenapa harus ada namamu di sana? Kau tidak mengingin..


" Stop Vania! Aku tidak mau putraku mendengar ucapan menyakitkan itu, aku menginginkan putraku dan aku meyayanginya, sangat menyayanginya." Ucap Gavin.


" Namanya Rava, Rangga Vania. Dia akan menjadi anak kami Mas." Ucap Vania membuat darah Gavin mendidih.


Gavin menatap tajam ke arah Vania.


" Jangan bermimpi kau bisa pisah dariku Vania! Kalau kau tidak bisa di bujuk dengan halus maka kau tahu apa yang bisa aku lakukan padamu dan putra kita, tidak hanya itu... Aku juga akan membuat Rangga dan keluarganya menanggung akibatnya." Gavin mengepalkan erat tangannya.


Gavin menghela nafasnya pelan mencoba meredam emosinya. Ia menatap Vania sambil tersenyum.


Vania memilih diam, ia tidak mau memancing emosi Gavin karena ia tahu apa yang bisa Gavin lakukan pada ancamannya.


" Lihatlah sayang! Dia sangat tampan sekali, mirip aku kan." Ucap Gavin narsis.


" Iya Mas, tapi aku berharap sifatnya tidak sepertimu Mas." Sahut Vania menohok hati Gavin.


Vania tidak menyahutnya lagi.


" Kasih ASI dulu sayang biar putra kita cepat besar dan kita cepat pulang ke rumah." Ujar Gavin.


Vania duduk bersandar dengan pelan, ia mulai menyusui babby Gava.


Gavin menatapnya dengan perasaan terharu.


" Aku bahagia sayang akhirnya aku bisa melihat kalian seperti saat ini, maafkan aku yang telah membuatmu menderita selama ini! Aku berjanji akan menyayangi kalian seumur hidupku, cinta dan kasih sayangku hanya untukmu dan anak anak kita." Ucap Gavin.


Baby Gava menyusu dengan kuat.


" Dia kehausan Van." Ucap bibi Tuti.


" Iya Bi, aku baru pulang sekolah ya sayang." Vania menoel noel pipi putranya.


Gavin duduk di tepi ranjang menjajari Vania. Ia melihat putranya dengan perasaan bahagia.


"Ya Tuhan semoga Vania mau memberikan aku kesempatan untuk kebahagiaan ini, aku akan membuat mereka bahagia selamanya, aku menyayangi mereka, ya Tuhan berikan aku kesempatan kedua untuk menebus semua kesalahanku." Batin Gavin.


Tanpa sadar Gavin mengelus kepalan Vania.


" Apaan sih Mas." Vania menepis tangan Gavin.


" Maaf sayang!" Ucap Gavin.

__ADS_1


" Kalau hanya dengan kata maaf semua bisa baik baik saja, akan banyak orang membuat kesalahan di dunia ini Mas." Sahut Vania.


" Bibi keluar dulu! Kalau ada apa apa tinggal panggil Bibi ya." Bi Tuti keluar ruangan memberikan waktu kepada keduanya.


" Aku tahu sayang, aku akan menebus semua kesalahanku, aku akan mengobati lukamu dengan memberikan cintaku untukmu, aku berjanji akan memberikan kebahagiaan pada kalian berdua, aku berjanji sayang, tapi tolong kembalilah menjadi Vania ku yang dulu, Vania yang begitu menyayangi dan mencintaiku, aku tidak sanggup menerima sikapmu yang seperti ini sayang, ku mohon!" Gavin mencium pucuk kepala Vania.


" Apaan sih! Jauh jauh sana!" Ketus Vania.


" Kau tambah manis sayang kalau galak begini." Ujar Gavin.


" Lama lama nyebelin nih orang, delapan bulan nggak ketemu tahu tahu malah jadi gini sifatnya." Gumam Vania yang masih bisa di dengar oleh Gavin.


Gavin tersenyum mendengarnya.


" Jangan mengumpat sayang! Keluarkan saja biarbiar hatimu plong tidak ada uneg uneg yang menyesakkan dadamu." Ujar Gavin.


" Tau ah!" Cebik Vania.


" Ternyata berdamai dengan keadaan sangat indah sayang, maafkan aku yang terlambat menyadari semuanya." Ucap Gavin.


" Gava udah tidur sayang, tidurin aja di boxnya." Sambung Gavin.


Vania diam karena ia belum bisa turun dari ranjang.


" Biar Mas yang menidurkannya." Gavin menggendong Gava lalu menidurkan di box bayinya.


" Kamu harus makan sayang biar ASI kamu lancar." Ujar Gavin mengambil makanan jatahnya Vania.


" A' sayang!" Gavin menyodorkan sesendok makanan ke mulut Vania.


Vania menatap Gavin.


" Ayo makan!" Ujar Gavin sambil tersenyum.


" Aku bisa sendiri Mas." Ujar Vania.


" Aku ingin menyuapimu, ini bagian tugas dari seorang suami kan." Ujar Gavin.


Tidak mau berdebat Vania membuka mulutnya menerima suapan demi suapan dari Gavin. Ia berpikir ini lebih baik dari pada kelaparan.


Masih mau melihat perjuangan Gavin?


Tekan like koment vote dan hadiahnya dulu biar Gavin semangat...


Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu..


Miss U All...


*TB**C*....


Yang suka perselingkuhan author persembahkan untuk kalian...


Baca dan dukung ya...


__ADS_1


__ADS_2