
" Dia... Dia musuhku." Ucap Gavin.
Vania menatap Gavin dan Viko bergantian.
" Kalian yang bermusuhan, kenapa aku yang di bawa bawa?" Tanya Vania dalam mode ngeyel.
" Vania, aku tidak suka kamu dekat dekat sama dia...
" Aku tidak dekat dekat sama dia, lihat saja aku duduk di sini dan dia duduk di situ." Sahut Vania.
" Vania sayang mengertilah, dia orang berbahaya yang bisa melukaimu begitu saja." Ujar Gavin.
" Nyatanya dia tidak menggigitku ataupun melukaiku seperti yang kau katakan itu Mas." Ujar Vania membuat Gavin geram.
Entah kenapa sikap Vania berubah menjengkelkan sejak kehamilannya.
" Sayang sudah ku katakan kalau dia berbahaya ya berbahaya, dia pasti berencana melukaimu sayang. Dan aku tidak mau sampai hal itu terjadi." Ujar Gavin.
" Lalu bagaimana denganmu?" Tanha Vania menatap Gavin.
Vania berdiri di depan Gavin.
" Kau pria yang seharusnya melindungiku dari segala hal, tapi buktinya kau melukaiku dengan ucapanmu semalam. Berarti aku tidak boleh dekat dekat denganmu juga donk." Ucap Vania membuat hati Gavin mencelos.
" Astaga sayang!!!! Kenapa kau tidak mengerti juga sih. Pokoknya sekarang kita pergi. Kita harus pulang dan menjauh dari pria itu. Dan aku minta maaf atas sikapku semalam. Sekarang ayo pergi!" Ucap Gavin.
Gavin mengambil Gava dari gendongan Vania. Lalu ia menarik tangan Vania keluar dari cafe itu.
" Lepas Mas! Apa apaan sih." Ucap Vania menghentakkan tangan Gavin hingga terlepas.
" Sayang kamu...
" Kau membuatku malu tahu nggak Mas, aku seperti perempuan yang ketahuan selingkuh oleh suaminya. Bikin kesel aja!" Cebik Vania kesal.
Vania meninggalkan Gavin begitu saja, Gavin menyugar kasar rambutnya. Ia mengejar Vania.
" Sabar ya sayang, adek kamu sedang rewel makanya mama kamu jadi nyebelin gini." Ucap Gavin mencium pipi Gava.
Viko tersenyum lebar melihat kepergian Vania dan Gavin.
__ADS_1
" Kau akan tahu bagaimana permainanku berjalan sesuai keinginanku Gavin. Kau akan merasakan seperti yang adikku rasakan saat itu. Kau harus membayar semua itu dengan anak dan istrimu. Kau tunggu saja kapan puncak permainanku akan datang." Gumam Viko.
" Vania... Ternyata kau sangat cantik. Pantas saja Gavin lebih tergila gila padamu." Ujar Viko membayangkan wajah Vania.
Naviko vagela, pria berumur dua puluh delapan tahun berparas tampan. Ia memimpin perusahaan NV Corporation. Perusahaan yang mengguncang perusahaan GM Group yang tak lain milik Gavin.
Ia mengirim beberapa penyusup ke perusahaan Gavin hingga menimbulkan kekacauan. Ia ingin membalaskan dendam adik tercintanya pada Gavin.
Navita Vagela, adik tersayangnya harus mengakhiri hidupnya sendiri karena cintanya pada Gavin tidak tersampaikan. Entah apa yang terjadi, yang jelas Viko menganggap Gavin lah penyebab semuanya.
Gavin merasa harus berhati hati dengannya karena ia yakin jika Viko sedang mengincar Vania ataupun Gava saat ini. Beruntung ia datang waktu sehingga Viko belum melakukan pergerakan.
Vania masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan kesal. Ia berjalan menuju dapur lalu duduk di meja makan.
" Vania, kau kenapa Nak?" Tanya nyonya Rindu sambil menata makanan di meja makan.
" Mas Gavin selalu membuatku kesal Ma. Aku pengin makan nasi goreng saja dramanya panjang banget." Sahut Vania cemberut.
" Ma buatkan nasi goreng untuk Vania, yang super enak biar dia tidak marah lagi Ma." Ucap Gavin masuk ke dalam.
" Mau Mama buatkan?" Tanya nyonya Rindu.
" Kalau bibi Tuti yang membuatnya gimana?" Tawar bibi Tuti.
Vania menggelengkan kepala lagi.
" Baiklah Bibi akan membelikannya untukmu sayang." Ujar bibi Tuti.
" Nggak mau Bi, aku sudah tidak ingin makan nasi goreng. Karena nasi goreng yang ingin aku makan tidak akan pernah aku dapatkan." Ujar Vania meninggalkan mereka semua.
" Lihat Ma! Vania sudah berubah. Dia bukan Vania yang dulu, yang selalu bersikap lembut dan tidak keras kepala seperti ini." Ujar Gavin.
" Kamu yang sabar sayang, namanya bawaan bayi. Pasti berbeda beda lah. Kamu belum pernah menghadapi Vania saat hamil sih. Tanya bibi Tuti tuh bagaimana saat Vania hamil Gava dulu. Jangan taunya buatnya doank." Cibir nyonya Rindu menohok hati Gavin.
" Kamu harus menuruti apa maunya sebisa mungkin, jaga kestabilan emosinya karena wanita hamil muda seperti Vania rentan akan keguguran Gavin. Dia tidak boleh stres, itu faktor utama menjaga kesehatan wanita hamil." Sambung nyonya Rindu membuat Gavin sadar dengan apa yang ia lakukan pada Vania semalam.
" Astaga... Apa yang telah aku lakukan pada Vania? Semalam aku malah memarahinya Ma." Ujar Gavin.
" Kenapa kamu memarahinya?" Selisik nyonya Rindu.
__ADS_1
Akhirnya Gavin menceritakan apa yang terjadi dengannya dan Vania semalam. Nyonya Rindu menatap tajam ke arah Gavin membuat Gavin menundukkan kepala.
" Walaupun kamu capek seperti apapun, kamu tetap harus menuruti kemauannya sayang. Kamu mau anakmu nanti pas lahir encesan? Sekarang lebih baik kamu minta maaf padanya! Bujuk dia biar tidak kesal lagi! Kasihan sekali menantu Mama itu punya suami yang tidak pengertian sepertimu. Dulu papamu saja selalu menuruti kemauan Mama saat hamil kalian dan sebelum... " Nyonya Rindu menjeda ucapannya mengingat kejadian kelam itu.
" Tidak perlu di ingat Ma! Sekarang gendong Gava, aku mau membujuk Vania." Ucap Gavin memberikan Gava kepada mamanya.
Gavin segera ke kamarnya. Ia menghampiri Vania yang sedang duduk bersandar di atas ranjang sambil memainkan ponselnya. Gavin mengerutkan keningnya, pasalnya di atas nakas ada sterefoam yang berisi sisa nasi goreng.
" Kamu dapat nasi goreng itu darimana sayang?" Tanya Gavin menatap Vania.
" Viko." Sahut Vania enteng.
" Viko? Kapan Viko kemari?" Tanya Gavin.
" Tadi waktu aku mau ke kamar. Ternyata nasi gorengnya enak banget lhoh Mas, katanya itu masakan Viko sendiri spesial untukku. Dia baik ya Mas, padahal baru kenal lhoh." Ucap Vania.
Ingin rasanya Gavin marah saat itu juga. Namun ia teringat kata kata mamanya. Ia mengepalkan erat tangannya mencoba meredam emosinya. Ia duduk di tepi ranjang menggenggam tangan Vania.
" Sayang, Viko itu seseorang yang mengguncang perusahaanku. Perusahaanku kacau gara gara dia menyusupkan beberapa karyawan baru di sana. Kemarin aku harus bolak balik dari Jakarta ke Bekasi. Bahkan sampai tiga kali sayang aku melakukannya. Aku tidak menceritakannya padamu karena aku tidak mau kamu khawatir." Ucap Gavin membuat Vania terkejut.
" Aku benar benar capek, bahkan sangat capek karena aku menyetir sendiri. Rangga tidak masuk karena Sandia sedang sakit. Saat aku pulang kerja, rasanya aku ingin istirahat dan tidur sampai pagi. Itulah sebabnya aku membuat alasan saat kamu ingin makan nasi goreng. Selain aku tidak bisa memasak, aku juga sangat mengantuk sayang." Sambung Gavin.
Gavin menghela nafasnya.
" Tapi kamu terus bersikeras memintanya tanpa memahami kode yang aku berikan. Dan tanpa sadar aku justru terpancing emosi dan membentakmu. Aku minta maaf sayang! Aku tidak bermaksud melukai ataupun menyakiti hatimu sayang. Jika saja aku tidak mengantuk dan capek, aku pasti akan menuruti keinginanmu. Aku akan memberikan yang terbaik untuk anak kita sayang." Ujar Gavin.
" Dan masalah Viko, dia sedang berencana menghancurkan aku. Aku khawatir dia mengincarmu dan anak kita. Itu sebabnya aku tidak mau kau dekat dekat dengannya. Aku harap kau paham dan mengerti dengan penjelasanku yang panjang lebar ini." Gavin mencium punggung tangan Vania.
" Maafkan aku Mas! Aku tidak memahami keadaanmu. Entah mengapa rasanya aku kesal jika kamu tidak menuruti keinginanku. Maafkan aku yang egois, maafkan aku yang mementingkan diriku sendiri." Ucap Vania.
" Aku juga minta maaf padamu sayang! Sekarang jangan marah laginya, kasihan adek bayinya di dalam sini. Dia pasti sedih kalau mamanya marah marah terus." Ujar Gavin mengelus perut rata Vania.
" Maafkan aku!" Ucap Gavin mencium pipi Vania.
" Aku memaafkanmu Mas." Sahut Vania memeluk Gavin.
Udah baikan ya... Jangan lupa tekan like koment vote dan 🌹nya buat author...
TBC.....
__ADS_1