
" Aku menginginkan kehancuran GM Group, apa kau bisa melakukannya?"
" A... Apa?" Pekik Leon menatap Geral.
" Bagaimana bisa kau memintaku untuk berkhianat pada keluargaku sendiri tuan Geral? Aku memang mencintai adik anda dan ingin memilikinya tapi aku lebih mencintai keluargaku Tuan Geral. Aku tidak akan melakukan apa yang anda mau." Ucap Leon beranjak dari kursinya.
" Saya permisi!" Ucap Leon meninggalkan ruang tamu.
" Tunggu!" Ucap Geral menghentikan langkah Leon.
" Kenapa kau terburu buru adik ipar. Aku hanya bercanda saja." Ucap Geral.
" Apa maksudmu Tuan Geral?" Leon memicingkan matanya.
" Aku sengaja menguji prinsipmu Leon. Aku kagum dengan prinsipmu yang lebih memilih keluarga di banding yang lainnya. Termasuk cinta yang kau bilang itu. Aku melihat tidak ada sifat khianat dari dalam dirimu." Ucap Geral mendekati Leon.
" Aku tidak mau adikku di khianati lagi oleh pria yang bilang mencintainya. Aku harus memastikan pria yang berada di sampingnya mampu mencintai dan melindunginya seperti apa yang aku lakukan selama ini. Aku tidak akan menanyakan alasan apa yang menyebabkan kalian tiba tiba ingin menikah karena aku menghargai privasi kalian. Yang jelas aku tidak mau adikku jatuh ke tangan yang salah." Ujar Geral.
" Lalu?" Tanya Leon menatap Geral.
" Apa kau benar benar mencintai adikku?" Tanya Geral.
" Jujur cintaku padanya belum sebesar cintaku pada keluargaku karena pertemuan kami yang sangat singkat. Tapi aku berjanji padamu kalau aku akan memberikan semua cintaku padanya. Aku akan membuatnya bahagia dan tidak akan aku biarkan air mata kesedihan menetes di pipinya." Ucap Leon.
" Aku percaya padamu, demi kebahagiaan adikku aku menerima lamaranmu. Aku akan menyiapkan pesta mewah untuk kalian berdua satu minggu lagi. Selama satu minggu itu tinggallah di sini. Dekatkan dirimu dengan adikku supaya kalian bisa lebih jauh saling mengenal dan saat menikah nanti kalian tidak canggung." Ujar Geral.
Leon menatap Danesha yang di balas anggukkan kepala olehnya.
" Baiklah. Tapi ijinkan aku membawa Dane kepada keluargaku saat ini juga." Ucap Leon.
" Kau mau ikut dengannya Dane?" Tanya Geral di balas anggukkan kepala olehnya.
" Baiklah hati hati! Aku titipkan adikku padamu, jaga dia baik baik! Jika sampai lecet kau akan menanggung akibatnya." Ancam Geral.
" Baiklah." Sahut Leon.
" Akan ada...
" No bodyguard." Sahut Danesha memotong ucapan kakaknya.
" Baiklah, kalau ada apa apa segera telepon Kakak." Ucap Geral.
" Ayo sayang!" Leon menggandeng tangan Danesha keluar dari rumah itu.
" Silahkan masuk sayang!" Ucap Leon membuka pintu mobil untuk Danesha.
" Terima kasih." Ucap Danesha tersenyum.
Leon melajukan mobilnya menuju kediaman Gavin.
" Apa kau tahu Dane? Jantungku terasa hampir copot saat kakakmu mengatakan itu, aku pikir kakakmu tidak akan merestui pernikahan kita jika aku tidak menuruti keinginannya." Ucap Leon menggenggam tangan Danesha.
" Kakakku tidak sejahat itu tuan Leon, dia pria terbaik dalam hidupku." Ucap Danesha.
" Ini terakhir kalinya kau berkata seperti itu karena setelah ini kau akan mengatakan akulah pria terbaik dalam hidupmu." Ujar Leon.
__ADS_1
" Percaya diri sekali kau, kau bahkan belum melakukan apa apa padaku." Ujar Danesha.
" Kau menginginkan aku melakukan apa?" Tanya Leon menatap Danesha sekilas.
" Tidak perlu melakukan apapun saat ini. Segera temukan aku dengan keluargamu itu sudah cukup bagiku." Sahut Danesha.
" Sebenarnya aku tidak ada hubungan dengan keluarga Mahardika, aku hanya pegawai Gavin di sana. Tapi mereka memperlakukan aku dan adikku seperti keluarganya sendiri. Jika kedua orang tuaku sudah lama tiada." Jelas Leon mengenai silsilah keluarganya.
" Tidak masalah, aku dan kakakku akan menjadi keluargamu juga kan." Sahut Danesha.
Sepanjang perjalanan Leon menceritakan tentang Gavin, Vania, Gava. Danesha nampak tertarik dengan tingkah Gava yang menggemaskan.
" Aku jadi tidak sabar ingin bertemu Gava. Seperti apa lucunya dia, pasti bikin gemas deh." Ujar Danesha.
" Banget, kau akan betah kalau menemaninya bermain. Bisa bisa kau akan lupa pulang." Sahut Leon.
Sesampainya di rumah Gavin, Leon menggandeng tangan Danesha masuk ke dalam.
" Assalamu'alaikum Tante." Ucap Leon.
" Wa'alaikumsallam." Sahut bibi Tuti menghampiri Leon.
" Rupanya kau Leon, siapa yang kau bawa ini?" Tanya bibi Tuti menatap Danesha.
" Kenalkan Bibi, ini Danesha dan ini Bibiku Dane." Ucap Leon memperkenalkan mereka.
" Dane Bibi."
" Tuti." Sahut bibi Tuti.
" Dia calon istriku Bi."
" Apa? Calon istri?" Tanya bibi Tuti memastikan.
" Iya, kami akan menikah satu minggu lagi." Sahut Leon.
" Bagus ya."
" Awh sakit Bi." Pekik Leon saat bibi Tuti menjewer telinganya.
" Apa kau tidak menganggap Bibi sebagai keluargamu sehingga kau tidak memberitahu Bibi kalau kau sudah punya calon istri? Dan apa? Kalian mau menikah satu minggu lagi? Memangnya pernikahan tidak membutuhkan banyak persiapan hah? Bagaimana Bibimu bisa melakukan persiapan secepat ini?" Tanya Bibi Tuti menjauhkan tangannya dari telinga Leon.
" Maaf Bi! Bukan begitu maksudku. Rencana pernikahan kami juga mendadak. Aku baru saja melamar Danesha tiba tiba kakaknya menyiapkan pernikahan satu minggu lagi." Ucap Leon duduk di sofa tuang tamu di ikuti Danesha.
" Kenapa bisa secepat itu? Apa kau menghamilinya?" Selidik Bibi Tuti.
Leon menggaruk kepalanya sambil nyengir kuda.
" Apa benar yang Bibi pikirkan ini?" Tanya Bibi Tuti menyelidik.
" Iya Bi maaf!" Sahut Leon.
" Astaga... Kenapa kau menghancurkan hidup orang lain Leon? Bibi benar benar tidak pernah membayangkan hal ini terjadi padamu Nak. Rupanya kau benar benar nakal sepeti ayahmu." Ujar bibi Tuti.
" Tidak masalah Bi, aku juga tidak mempermasalahkannya. Mungkin ini takdir yang Tuhan berikan untuk mempersatukan kami Bibi. Aku bahagia dengan hubungan ini." Sahut Danesha.
__ADS_1
" Semoga kalian bahagia Nak." Ucap Bibi Tuti.
" Amin." Ucap Leon dan Danesha bersamaan.
" Oh ya Bibi, dimana Gavin dan Vania?" Tanya Leon.
" Mereka ada di kamarnya." Sahut Bibi Tuti.
" Sebentar ya, Bibi akan panggilkan mereka." Bibi Tuti menaiki tangga menuju kamar Gavin.
Tok tok...
Bibi Tuti mengetok pintu, tak lama Gavin membukanya.
" Ada apa Bi?" Tanya Gavin.
" Nak Gavin, di bawah ada Leon dan calon istrinya. Mereka ingin menemui kalian bertiga." Ucap bibi Tuti.
" Calon istri? Apa aku tidak salah dengar Bi?" Tanya Gavin memastikan.
" Iya Nak, apa kalian mau menemuinya?" Tanya bibi Tuti.
" Suruh mereka ke sini saja Bi, Vania sedang rebahan di ranjang." Ujar Gavin.
" Baiklah." Bibi Tuti kembali ke bawah memberitahu Leon.
Leon dan Danesha naik ke atas menuju kamar Gavin.
" Siang Vin." Sapa Leon menghampiri Gavin dan Vania di ranjang.
" Siang." Sahut Gavin.
" Gavin, Vania, kenalkan ini Danesha. Calon istriku." Ucap Leon.
" Hai Danesha, aku Vania." Sapa Vania.
" Hai, senang bertemu denganmu Vania." Ucap Danesha.
" Aku pun begitu." Sahut Vania.
Danesha menatap Gava yang sedang mainan di ranjang.
" Apa dia yang bernama Gava?" Tanya Danesha mendekati Gava.
" Iya Aunti." Sahut Vania.
" Mamma... " Ucap Gava.
" Eh pintarnya ponakan Aunti." Ucap Danesha menoel pipi Gava.
" Leon, aku perlu berbicara padamu." Ucap Gavin.
" Oke."
Gavin dan Leon menuju ruang kerja sedangkan Danesha dan Vania mengobrol sambil bermain dengan Gava.
__ADS_1
TBC....