Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
KEKECEWAAN RANGGA


__ADS_3

Jam makan siang telah tiba, setelah bersiap Sandia keluar dari kamarnya. Saat ia membuka pintu, ia merasa kesal karena pintu terkunci dari luar.


" Siapa yang melakukan ini? Siren?" Gumam Sandia.


Sandia mencoba membukanya lagi namun tidak bisa.


Brak Brak Brak


" Siren buka pintunya!" Teriak Sandia menggedor pintunya.


" Siren... " Sandia berteriak memanggil Siren namun tidak ada jawaban.


" Arghh siall!!!" Umpat Sandia.


" Aku akan telepon mas Rangga." Sandia membuka tasnya, betapa terkejutnya ia saat tidak mendapati ponselnya.


" Kemana ponselku? Tadi aku menaruhnya di dalam tas ini. Apa Siren juga mengambil ponselku?" Tanya Sandia pada dirinya sendiri.


" Apa yang sedang ia rencanakan sebenarnya? Aku yakin jika ini rencananya. Tidak pa pa, aku akan mengikuti jalan permainanmu Siren." Ujar Sandia.


Sandia duduk di tepi ranjang memikirkan cara agar bisa keluar dari kamarnya. Namun sepertinya buntu, tidak ada jalan lain lagi. Sandia keluar menuju balkon kamarnya, ia menengok ke bawah ingin meminta bantuan pada siapa saja yang lewat namun tidak ada satu pun yang lewat.


" Benar benar sial.. Hari yang menjengkelkan, awas kau Siren! Jika terbukti ini perbuatanmu aku akan mengusirmu dari sini." Geram Sandia menarik kasar rambutnya.


Di tempat lain tepatnya di cafe xx, Rangga sedang duduk di mejanya. Tiba tiba ponselnya berbunyi, tanda pesan masuk. Ia segera membukanya.


Maaf Mas aku tidak jadi ke sana. Aku ada urusan dengan temanku ~Sayangku


Rangga menghela nafasnya.


" Ya udah makan sendiri aja kalau gitu, uda terlanjur keluar sampai sini." Monolog Rangga.


Rangga memesan spagetti dan jus Strawberry. Setelah pesanan datang ia segera memakannya. Saat ia sedang asyik menikmati makanannya tiba tiba...


" Mas Rangga."


Rangga mendongak menatap Siren yang berdiri di depannya.


" Siren, ngapain kamu ke sini?" Tanya Rangga.


" Mau makan lah, mau apa lagi." Sahut Siren duduk di depan Rangga.


" Lagian aku bosan di rumah, pengin jalan jalan sambil lihat perusahaan tempat aku magang tadi." Sambung Siren.


" Oh.. Kalau gitu pesan makan, biar nanti aku yang bayar." Ucap Rangga.


" Aaa Mas Rangga baik banget, sama persis seperti bibi." Ujar Siren.


" Mas Rangga sendirian? Kirain sama Sandia." Ucap Siren menatap Rangga.


" Tadinya sih janjian sama Sandiadi sini, tapi dia malah tidak bisa datang. Katanya ada urusan lain." Sahut Rangga.


" Urusan lain? Sama laki laki itu?" Tanya Siren.


Rangga menatapnya sambil mengerutkan keningnya.


" Laki laki yang mana maksdumu?" Selidik Rangga.


" Saat aku mau naik taksi ke sini, aku melihat ada seorang cowok ke rumah Mas. Mungkin tamunya Sandia kali." Terang Siren.


" Cowok? Seperti apa dia?" Tanya Rangga.


" Dia tinggi, kulit putih, terus... pokoknya tampan lah." Ucap Siren.

__ADS_1


" Siapa ya? Apa mungkin Leon?" Gumam Rangga.


" Tadi Leon juga keluar dengan terburu buru. Apa mungkin dia yang menemui Sandia? Aku harus memastikannya." Batin Rangga.


" Dia pakai baju apa?" Rangga bertanya lagi.


" Pakai jas cokelat sama celana hitam." Sahut Siren.


" Leon." Gumam Rangga.


" Ya sudah terima kasih infonya, aku pulang dulu." Ujar Rangga tidak mau membuang waktu.


" Aku ikut Mas." Ujar Siren.


Rangga melajukan mobilnya menuju rumah. Ia tidak mau terjadi sesuatu dengan Sandia jika benar Leon yang ke rumahnya. Ia yakin Leon masih sangat mengharapkan Sandia.


Di dalam kamar Sandia, ia berjalan mondar mandir sampai terdengar suara seseorang memanggilnya.


" Sandia... Kamu dimana?"


" Kak Leon." Gumam Sandia.


Sandia segera mendekati pintu.


" Kak aku di sini." Teriak Sandia.


Leon yang mendengarnya segera menuju kamar Sandia.


" Kak tolong buka pintunya." Sandia berteriak lagi.


" Tenang Sandia! Aku akan membukanya." Ucap Leon. Ia membuka kunci kamar Sandia.


Ceklek...


Brugh....


Tubuh Leon menindih Sandia. Keduanya melongo saling tatap. Jantung Leon berdetak sangat kencang begitupun dengan Sandia. Namun bukan karena adanya sisa cinta, jantung Sandia berdetak kencang karena kaget.


Rangga baru saja tiba mengepalkan erat tangannya saat melihat pemandangan yang menyayat hati itu.


" Bagus Sandia." Ucap Rangga.


Sandia dan Leon menoleh ke arahnya.


" Rangga."


" Mas Rangga." Ucap keduanya bersamaan.


" Inikah urusan yang kau maksudkan?" Tanya Rangga tersenyum remeh.


" Mas jangan salah paham dulu!" Ucap Sandia mendorong tubuh Leon.


Ia beranjak mendekati Rangga.


" Lalu Mas harus berpikir bagaimana?" Tanya Rangga menatap Sandia.


" Mas tadi aku terkunci di dalam, terus tiba tiba kak Leon datang menolongku." Jelas Sandia.


" Bagaimana kau bisa terkunci di dalam Kakak ipar?" Tanya Siren.


" Kau... Kau yang melakukannya. Kau sengaja mengunci pintu dari luar supaya aku tidak bisa menemui mas Rangga kan." Sahut Sandia menunjuk Siren.


" Aku?" Siren menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


" Bagaimana aku menguncimu dari luar Sandia, aku pergi sejak pagi. Dan aku ada bersama Mas Rangga." Sambung Siren.


Sandia melongo mendengarnya.


" Ya, Siren bersamaku." Timpal Rangga.


" Tapi aku tidak bohong Mas." Ucap Sandia.


" Jika benar seperti itu, kenapa kau tidak menelepon Mas jika kau terkunci di dalam? Kau malah mengirim pesan pada Mas kalau kau tidak bisa datang karena ada urusan lain." Ucap Rangga.


" Aku mengirim pesan? Ponselku saja tidak aku temukan Mas. Ponselku hilang." Ujar Sandia.


" Kalau ponselmu hilang, lalu siapa yang mengirim pesan padaku Sandi?" Tanya Leon menatap Sandia.


" Pesan apa lagi sih? Aku tidak mengerti dengan pesan yang kalian bicarakan." Ujar Sandia tidak tahu.


" Kau mengirim pesan padaku dan mengatakan kalau kau ingin bertemu denganku, tapi kau tidak bisa keluar karena kau terkunci dari dalam. Itu sebabnya aku buru buru ke sini." Ujar Leon.


" Aku tidak mengirim pesan pada siapapun, ponselku hilang." Sahut Sandia.


" Benarkah? Kalau begitu Mas akan menelepon nomermu. Kita akan tahu dimana ponselmu berada." Ucap Rangga.


Rangga menelepon nomer Sandia, terdengar bunyi telepon dari dalam. Mereka semua mencari sumber suara dan..


" Apa itu?" Tanya Rangga menunjuk ponsel Sandia yang berada di atas nakas.


" Kau mau alasan apalagi Sandia?" Sambung Rangga.


" Kok ada di sini, tadi aku sudah mencarinya tapi tidak ada. Aneh." Ujar Sandia.


" Apa kau juga akan menuduhku yang mengambil ponselmu tadi?" Tanya Siren menatap Sandia.


" Lain kali kalau mau mengencani pria lain harus profesional Kakak ipar. Kalau begini kan jadi kacau. Niatnya mau melepas rindu malah ketahuan sama suami." Cibir Siren.


" Jaga ucapanmu Siren!!!" Bentak Sandia menunjuk wajah Siren.


" Aku tidak melakukan apa apa, kak Leon ke sini hanya membantuku. Dan aku tidak punya niat serendah itu, apalagi mengkhianati suamiku. Itu tidak akan pernah aku lakukan." Ucap Sandia penuh penekanan.


" Walaupun ada bukti kau masih mengelak Sandia, kalau aku sih tidak masalah. Aku hanya kasihan saja sama Mas Rangga." Ujar Siren.


Sandia menatap Rangga yang nampak terluka dan kecewa. Ia mendekati Rangga namun Rangga malah menghindarinya. Ia keluar dari kamarnya meninggalkan Sandia dan yang lainnya.


" Mas tunggu!" Teriak Sandia mengejar Rangga.


Rangga segera melajukan mobilnya dengan kecepatan kencang kembali ke kantornya.


" Arghhhhh" Teriak Sandia menarik kasar rambutnya.


Sandia berlari menghampiri Siren. Ia menatap tajam ke arah Siren menyiratkan kebencian yang mendalam.


" Kau telah salah bermain main denganku Siren. Aku pastikan usahamu ini akan sia sia saja. Kau boleh tertawa saat ini tapi setelah ini kau akan menangis." Tekan Sandia.


Sandia kembali ke kamarnya tanpa mempedulikan Leon yang terus menatapnya. Sandia membanting tubuhnya di atas ranjang sambil menangis.


" Aku kecewa padamu Mas, kenapa kau tidak percaya padaku. Aku akan membuktikan bahwa aku tidak bersalah. Aku hanya di jebak di sini." Monolog Sandia.


Jangan lupa tekan like koment vote dan kasih 🌹yang banyak buat author ya...


Terima kasih...


Miss U All...


TBC....

__ADS_1


__ADS_2