Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
Mengajukan Perang


__ADS_3

Merasa ada seseorang di belakangnya Sandia menoleh ke belakang.


" Mas, sejak kapan kamu berada di sini? Maaf aku tidak tahu." Ucap Sandia.


" Baru saja!" Sahut Rangga mendekati Sandia.


" Apa kau mendengar ucapanku?" Tanya Sandia menatap Rangga.


" Ucapanmu yang mana?" Bukannya menjawab, Rangga malah balik bertanya.


" Kalau kau mendengar ucapanku, jangan salah paham! Aku hanya menyemangati kak Leon supaya dia bisa lekas sadar saja, tidak maksud lain dari ucapanku." Ujar Sandia.


" Iya Mas mengerti, Mas percaya padamu kok." Sahut Rangga menatap Sandia.


" Terima kasih, aku akan berusaha untuk menepati janjiku padamu Mas." Ucap Sandia.


Keduanya saling tatap, tatapan Rangga tertuju pada bibir pink milik Sandia. Entah keberanian dari mana Rangga memajukan wajahnya sampai..


" Mas jari kak Leon bergerak." Pekik Sandia membuat Rangga mengurungkan niatnya.


Rangga menatap jari tangan kanan Leon yang bergerak gerak.


" Mas panggil dokter dulu." Ucap Rangga keluar ruangan.


Tak lama Rangga kembali bersama dokter Anton. Dokter Anton segera memeriksa Leon.


" Perkembangan yang bagus Nona, terus ajaklah dia berbicara! Dia mampu merespon ucapan anda." Ujar dokter.


" Siap Dok!" Sahut Sandia.


" Segera panggil saya kalau dia sadar nanti." Ucap dokter.


" Iya Dok, terima kasih." Sandia menganggukkan kepalanya.


Dokter Anton kembali ke ruangannya.


" Kak bangunlah! Aku, dan semuanya menunggu kamu Kak. Sadarlah! Ruhi merindukanmu, apa kau tidak merindukan kami semua? Jangan lama lama marahnya." Ucap Sandia.


Entah keajaiban atau memang sudah saatnya, tiba tiba Leon membuka matanya dengan pelan.


" Kamu sadar Kak." Ucap Sandia senang.


" Sandia." Leon menarik tangan Sandia lalu mendekapnya.


" Sandia jangan tinggalkan aku! Aku mohon!" Lirih Leon.


" Iya aku tidak akan meninggalkanmu." Sahut Sandia.


" Berjanji padaku Sandia kau tidak akan pernah meninggalkan aku! Aku tidak bisa hidup tanpamu Sandia. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu." Ucap Leon menciumi tangan Sandia.

__ADS_1


Sandia menganggukkan kepala. Melihat itu Rangga hendak keluar namun tangan kiri Sandia mencekalnya. Rangga tersenyum menatap tangan Sandia. Seolah Sandia menunjukkan jika ia tidak mau kehilangan Rangga.


" Mas panggil dokter dulu Sandia." Ucap Rangga.


" Iya Mas." Sandia melepas cekalannya.


Setelah di periksa oleh dokter, alat alat yang menempel pada tubuh Leon di lepas kecuali infus di tangannya. Dokter mengatakan jika kondisi Leon membaik namun ada sedikit masalah pada otaknya. Ia menyarankan untuk tidak membuat Leon stress ataupun berbuat sesuatu yang bisa membebani pikirannya.


Sandia membantu Leon duduk bersandar pada tumpukan bantal.


" Makan dulu Kak! Baru nanti minum obat." Ucap Sandia memberikan semangkuk bubur jatah rumah sakit kepada Leon.


" Suapi." Ucap Leon.


Lagi lagi Sandia menatap Rangga yang berdiri di sebrang ranjang. Rangga menganggukkan kepalanya.


Sandia mulai menyukai Leon, sesekali ia menatap Rangga yang nampak biasa saja. Ia selalu menampakkan senyumannya tanpa memperlihatkan sakit hatinya.


" Inilah yang membuatku yakin untuk melabuhkan hati ini padamu Mas, kau benar benar orang yang baik Mas, semoga Tuhan melancarkan jalan kita." Batin Sandia.


" Kau juga harus makan donk!" Leon mengambil sendok dari tangan Sandia lalu menyodorkan sesendok bubur ke mulut Sandia.


" Tidak Kak, aku tidak suka masakan rumah sakit. Aku akan mencari makan nanti saja." Sahut Sandia.


" Baiklah." Sahut Leon.


Sandia kembali menyuapi Leon sampai habis. Setelah itu ia membantu Leon meminum obatnya.


" Aku takut di tinggal sendiri Sandia, bagaimana kalau Rangga menemaniku di sini?" Ujar Leon.


" Baiklah aku akan menemanimu, Sandia kau belikan makanan saja untuk Mas ya." Ucap Rangga.


" Iya Mas, mau pesan apa?" Tanya Sandia.


" Apapun yang kau belikan pasti Mas akan memakannya." Sahut Rangga.


Sandia keluar ruangan menuju kantin rumah sakit.


Rangga menatap Leon begitupun sebaliknya.


" Sepertinya ada sesuatu yang ingin kau katakan." Ucap Rangga seolah bisa membaca pikiran Leon.


" Ternyata kau pandai juga." Sahut Leon.


" Aku ingin mengatakan kalau aku akan merebut Sandia kembali darimu, aku akan memanfaatkan keadaanku untuk mendekatinya lagi dan aku yakin kalau Sandia akan luluh dan akan kembali kepadaku. Jadi bersiaplah untuk patah hati Rangga." Ucap Leon.


" Tidak masalah, kalau Sandia menginginkan itu maka aku akan mengabulkannya. Cinta sejati akan membiarkan orang yang yang kita cintai bahagia walaupun tidak bersama kita. Aku percaya pada takdir Tuhan, sekeras apapun usaha kita jika bukan jodohnya maka kita akan kehilangannya." Sahut Rangga enteng.


" Aku akan melihat sampai dimana kau bisa menanggung rasa sakit dalam hatimu melihat kedekatan ku dengan Sandia. Aku akan membuatmu menyesali keputusanmu karena telah menunggu Sandia karena penantianmu hanya sia sia." Ucap Leon.

__ADS_1


" Tidak ada yang sia sia jika melakukanya untuk orang yang kita cintai, apapun akan aku lakukan demi Sandia termasuk mengikhlaskannya bahagia bersamamu. Tapi jika Sandia tidak menginginkan itu maka aku akan selalu mempertahankannya, aku akan selalu menjaganya dari pria licik sepertimu. Aku rasa yang kau miliki bukan rasa cinta Bro, tapi obsesi." Ucap Rangga menohok hati Leon.


" Dan ya.. Aku tidak menyangka jika kau bisa berbuat serendah ini, kau memanfaatkan keadaanmu demi merebut Sandia dariku, apa kau tidak punya kemampuan untuk bersaing secara sehat denganku?" Sinis Rangga.


Rangga duduk di sofa sambil memainkan ponselnya sedangkan Leon mengepalkan erat tangannya.


" Bagaimana pun caranya aku harus mendapatkan Sandia kembali. Aku tidak mau kehilangannya, aku mencintainya dan hanya aku yang boleh mencintainya. Akan aku tunjukkan dimana posisimu di hati Sandia, Rangga." Ujar Leon dalam hati.


Ceklek...


Pintu terbuka, Leon dan Rangga menatap Sandia yang masuk menghampiri Rangga sambil menenteng kantong plastik berisi makanan.


" Lhah kamu nggak makan di sana saja? Kenapa ikutan di bungkus segala?" Tanya Rangga saat melihat Sandia mengeluarkan dua sterefoam dari kantong plastiknya.


" Enggak enak kalau makan sendiri, enakan makan bareng kamu Mas." Sahut Sandia.


" Nih Mas makan dulu!" Sandia memberikan sterefoam yang sudah ia buka lengkap dengan sendoknya.


Rangga menatap Leon sambil tersenyum remeh seolah memamerkan perhatian Sandia.


" Terima kasih." Ucap Rangga.


Keduanya makan dengan khidmat tiba tiba...


Uhuk uhuk uhuk...


Rangga tersedak atau hanya pura pura tersedak tidak ada yang tahu. Sandia segera memberikan sebotol air mineral yang sudah di bukanya kepada Rangga.


" Mas makannya hati hati donk! Jadi tersedak gini kan. Pasti sakit banget." Ucap Sandia mengelus punggung Rangga.


Rangga meminumnya sambil melirik Leon yang nampak jelous melihatnya.


" Udah baikan Mas?" Tanya Sandia menatap Rangga.


" Sudah sayang terima kasih atas perhatianmu pada Mas." Sahut Rangga.


" Sama sama." Sahut Sandia.


Mereka kembali melanjutkan makan tanpa mempedulikan Leon.


" Kau akan lihat bagaimana Sandia memegang teguh janjinya padaku Leon... Walaupun dia belum mencintaiku tapi aku akan segera membuatnya mencintaiku. Yang jelas aku sudah berusaha dan masalah hasil aku serahkan pada yang maha kuasa." Batin Rangga.


" Sepertinya Rangga memulai perangnya, baiklah aku akan meladeninya. Lihatlah Rangga kita akan tahu siapa yang akan jadi pemenangnya." Batin Leon kesal.


Siapakah yang akan menang? Rangga atau Leon?


Jangan lupa tekan like, beri koment yang membangun, dan kasih 🌹yang banyak buat author biar makin semangat di temani oleh bunda bunda dan ciwi ciwi cuantik...


Terima kasih untuk readers yang telah memberikan support pada author, semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All....


TBC....


__ADS_2