
Jam delapan malam Rangga baru saja sampai di rumahnya. Ia masuk ke dalam kamarnya dan di sambut hangat oleh Sandia.
" Kamu sudah pulang Mas, aku sudah siapkan air hangat untukmu." Ucap Sandia mencium punggung tangan Rangga.
Rangga hanya diam saja membuat Sandia menghela nafasnya pelan. Sandia menatap punggung Rangga yang masuk ke kamar mandi. Ia duduk di tepi ranjang menunggu Rangga selesai mandi.
Lima belas menit Rangga keluar dari sana. Sandia segera menghampirinya.
" Mau makan malam sekarang atau nanti Mas?" Tanya Sandia. Rangga tidak bergeming, ia malah naik ke ranjang mengabaikan Sandia. Hal itu membuat Sandia geram.
" Mas jangan seperti ini donk!" Ucap Sandia duduk di samping Rangga.
" Mas tolong jangan mengabaikan aku seperti ini! Percayalah aku tidak bersalah Mas! Aku tidak meminta kak Leon ke sini. Bukan aku yang mengirim pesan itu." Ujar Sandia menatap Rangga.
" Mas tidak mau membahas soal itu lagi! Mas lelah mau tidur." Ucap Rangga merebahkan tubuhnya.
" Kalau Mas hanya diam seperti ini, masalah ini tidak akan selesai Mas. Jujur aku kecewa sama Mas karena Mas tidak mempercayai aku. Aku tidak akan mencari bukti kebenaranku, karena percuma. Kau sudah berasumsi kalau aku bersalah, maka biarkan aku tetap salah di matamu. Ingat satu hal Mas! Tidak ada hubungan yang langgeng tanpa adanya kepercayaan Mas. Jika ini maumu, baiklah aku ikuti keinginanmu." Ucap Sandia membuat hati Rangga mencelos.
Sandia keluar dari kamarnya, Rangga menatapnya dengan perasaan yang entah. Ia merasa kesal karena cemburu Sandia dekat dengan Leon. Ingin rasanya ia percaya pada Sandia, namun tidak ada bukti yang mengarah pada orang lain selain Sandia.
Rangga turun dari ranjang mencari Sandia di lantai bawah. Ia tidak melihat Sandia di manapun. Saat melewati kamar Siren, ia menghentikan langkahnya karena melihat Sandia ada di sana. Ia mendekati pintu sampai...
" Aku tahu ini rencanamu untuk membuat hubunganku dengan Mas Rangga berantakan. Sebenarnya apa maumu Siren?" Tanya Sandia menatap Siren.
" Kau bersikeras menuduhku Kakak ipar.. Tapi baiklah, berhubung kau sudah menebaknya maka akan aku katakan yang sebenarnya." Ujar Siren.
" Ya kau benar. Aku memang sengaja melakukan semua ini untuk membuat hubungan kalian berantakan. Aku tidak suka melihat Mas Rangga bersama wanita lain. Aku mencintainya sejak aku masih kecil Sandia, aku memimpikan kehidupan indah bersamanya. Aku ingin menikah dengannya." Ucap Siren.
Sandia tidak terkejut karena ia sudah menduga sebelumnya.
" Aku senang saat mendengar jika Mas Rangga ada di Jakarta, tapi sayang aku tidak bisa menemuinya karena aku ada praktek di kota S saat itu. Setelah aku pulang dari sana, aku ingin ke sini menemui Mas Rangga dan mengungkapkan cintaku padanya. Tapi apa yang aku dengar? Mas Rangga sudah menikahi wanita lain yang tak lain adik dari majikan bibi Tuti. Aku syok saat itu, aku marah, aku benci pada apa yang telah terjadi. Aku berjanji pada diriku sendiri kalau aku akan merebut Mas Rangga dari istrinya. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi dan bagaimana caranya aku harus mendapatkan Mas Rangga. Aku akan melakukan berbagai cara, termasuk menyingkirkanmu Sandia." Ucap Siren menatap tajam ke arah Sandia.
Tatapan penuh kebencian.
" Kau bisa saja melakukan itu, tapi aku tidak akan membiarkan kau merebut Mas Rangga dariku walaupun nyawaku sebagai taruhannya. Dia milikku dan akan selamanya menjadi milikku." Ucap Sandia tanpa takut.
__ADS_1
" Aku salut dengan keberanianmu, tapi kau belum tahu siapa aku." Ujar Siren.
" Kau hanya butiran debu bagiku Siren... Kau tidak ada apa apanya di bandingkan denganku. Aku harap kau ingat siapa aku, aku Sandia Mahardika adik dari Gavindra Mahardika. Orang nomer satu di negeri ini. Bahkan kau bernafas di sini atas ijinnya nona Siren yang terhormat." Ucap Sandia penuh penekanan. Siren sedikit takut melihat tatapan Sandia padanya.
" Kau salah dalam memilih lawan. Aku pastikan besok pagi kau akan keluar dari rumah ini. Jika tidak, maka namaku bukan Sandia." Ucap Sandia berbalik badan.
Saat Sandia hendak melangkah tiba tiba Siren mengalungkan tangannya ke leher Sandia. Lalu ia menekannya dengan sangat kuat.
" Jika aku tidak bisa memiliki Mas Rangga, maka kau juga tidak akan bisa Sandia." Ucap Siren semakin menekan tangannya membuat Sandia tercekik.
" Engh.. " Sandia mencoba memberontak.
" Sudah puas dengan apa yang kau lakukan Siren?"
Suara itu membuat Siren mematung. Ia menjauhkan tangannya dari leher Sandia.
" Uhuk uhuk." Sandia terbatuk batuk. Rasanya dadanya terasa sangat sesak.
Rangga berjalan menghampirinya.
Rangga mendekati Siren, Siren memundurkan tubuhnya. Semakin Siren mundur semakin Rangga maju hingga punggung Siren menubruk tembok.
" Kenapa kau lakukan ini Siren?" Tanya Rangga menatap tajam.
Siren tidak bergeming, ia tidak berani menjawabnya.
" Katakan Siren!!!" Bentak Rangga membuat kedua wanita di dekatnya berjingkrak kaget.
" A.. Aku.. Aku." Gugup Siren.
" Karena kau mencintaiku." Sahut Rangga.
" Bukankah begitu?" Tanya Rangga. Siren menganggukkan kepalanya.
" Apa kau pikir aku bisa mencintai wanita sepertimu?"
__ADS_1
Siren menggelengkan kepalanya.
" Apa kau pikir aku mau hidup bersamamu?"
Siren kembali menggelengkan kepala.
" Kau sudah tahu jawabannya, lalu kenapa kau ingin merebutku dari Sandia?" Rangga bertanya lagi namun kali ini tidak di jawab oleh Siren.
" Aku tidak menyangka kau bisa melakukan hal seperti ini. Kau bukan Siren ku yang dulu. Siren yang imut, yang selalu berceloteh ria dan selalu bersikap manja padaku. Siren yang dulu aku kenal berhati baik. Dia tidak tega untuk membunuh seekor semut ataupun melukai seekor kucing sedikitpun." Ucap Rangga.
" Tapi apa sekarang? Kau bahkan tega melukai hati sesama perempuan. Kau tega berniat menghancurkan rumah tangga saudaramu sendiri. Apa ini didikan yang paman dan bibi ajarkan padamu?" Rangga menatap Siren dengan tatapan kecewanya.
" Katakan Siren!!" Bentak Rangga.
" Ti... Tidak Mas." Sahut Siren.
" Aku minta maaf! Aku buta akan cintaku padamu Mas. Aku egois sehingga aku ingin memiliki dirimu walaupun dirimu sudah menjadi wanita lain. Aku tidak bisa mengontrol perasaanku padamu. Maafkan aku!" Ucap Siren mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
" Aku akan memaafkanmu jika kamu tidak lagi mengganggu rumah tanggaku. Segera pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran. Taksi sudah menunggumu di luar. Sampaikan salamku untuk paman dan bibi. Dan juga sampaikan permintaan maafku pada mereka karena aku tidak membantu mereka dengan menampungmu di sini." Ucap Rangga.
" I.. Iya Mas. aku akan pergi dari sini, terima kasih sudah memaafkan aku." Ucap Siren
Siren menurunkan koper dari atas almari. Rangga mendekati Sandia yang saat ini sedang berdiri menatapnya.
" Sayang Mas minta maaf!"
Sandia berlalu begitu saja meninggalkan Rangga. Rangga segera mengejarnya.
Nah loh gantian ngambeknya...
Jangan lupa tekan like koment vote dan hadiah buat author ya..
Terima kasih..
Miss U All..
__ADS_1
TBC...