Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
MEMINTA MAAF


__ADS_3

" Gimana Kak? Kamu tidak jadi pergi kan?" Tanya Ruhi memastikan. Ia tidak mau kebahagiaan kakaknya hancur gara gara kesalah pahaman ini.


Danesha menatap semua orang yang berdiri di sana. Mereka menganggukkan kepala tanda setuju jika dirinya tidak boleh pergi dari sana.


" Baiklah, aku tidak akan pergi."


" Alhamdulillah." Ucap semua orang.


Leon mendekati Danesha, ia menatap Danesha dengan tatapan bersalahnya.


" Maafkan aku!" Ucap Leon memeluk Danesha.


" Lepas!" Ucap Danesha mendorong pelan tubuh Leon.


" Aku memang tidak jadi pergi dari sini, tapi aku belum bisa memaafkan penghinaanmu." Ucap Danesha.


Leon menghela nafasnya, sepertinya ia harus berusaha lebih keras lagi.


" Baiklah tidak apa apa, sekarang aku antar kamu ke kamar! Istrirahatlah di sana! Aku tidak mau sampai kau kecapekan." Ujar Leon.


Danesha menatap Geral yang menganggukkan kepalanya.


" Kakak pulanglah! Aku akan menemuimu besok pagi." Ucap Danesha.


" Baiklah sayang Kakak pulang dulu." Ucap Geral.


" Maaf semuanya atas kesalah pahaman ini, saya permisi." Ucap Geral masuk ke mobil.


Setelah kepergian Geral semua orang kembali masuk ke dalam. Leon membawa Danesha ke kamarnya, kamar yang di hias layaknya kamar pengantin pada umumnya.


Danesha menatap ranjang yang di penuhi kelopak bunga mawar di atasnya.


" Singkirkan semua mawar itu! Aku tidak menyukainya. Dan ingat! Jangan berharap apapun pada pernikahan ini. Kau hanya akan menjadi ayah dari bayi ini, bukan menjadi suamiku ataupun kekasihku karena aku tidak membutuhkan itu. Aku memang tidak mendapat penghinaan di saat pernikahanku tapi aku mendapatkan penghinaan setelahnya. Dan lebih mirisnya, itu terjadi di hari yang sama. Inilah yang aku tidak percaya pada yang bernama ikatan. Untuk apa kita terikat jika kita saling menyakiti." Ucap Danesha masuk ke kamar mandi.


" Maaf." Gumam Leon menyerok kelopak bunga mawar di atas ranjang lalu membuangnya ke tempat sampah. Ia duduk di tepi ranjang menunggu Danesha keluar.


Sepuluh menit kemudian Danesha keluar dari kamar mandi, Leon segera beranjak dari tempatnya.


" Sudah aku bereskan, silahkan istirahat! Aku akan bergabung dengan yang lain di bawah." Ujar Leon. Ia ingin memberikan Danesha waktu sendiri dulu untuk meredam emosinya.


" Hmm." Gumam Danesha merebahkan tubuhnya di ranjang.


Leon keluar dari kamarnya kembali menemui yang lainnya. Danesha menatap kepergiannya dengan tatapan entah.


" Kau melakukan kesalahan pertamamu Leon, aku tidak akan memaafkanmu begitu saja. Aku akan membalas orang orang yang telah menghinaku ataupun kakakku, siapapun orang itu." Gumam Danesha.

__ADS_1


" Aku juga akan membalasmu Zian dan Feni, kalian akan merasakan seperti apa yang aku rasakan. Kalian telah berkhianat di belakangku, maka aku akan menghancurkan hubungan kalian dari belakang juga." Monolig Danesha mengingat mantan kekasihnya.


Di ruang tamu Leon duduk di samping Gavin dengan lesu.


" Jangan lesu gitu donk Bro! Semangat mengejar maaf dari seorang istri. Aku dulu mengalami lebih dari ini Yon. Tapi aku tetap semangat berdoa dan berusaha. Ingat Bro! Hasil tidak akan mengkhianati usaha. Jangan terlalu di pikirkan! Kan nggak lucu pengantin baru kelihatan kumel begini. Tunjukkan donk pesona pengantin baru yang berseri seri seperti Sandia dan Rangga." Ucap Gavin menepuk bahu Leon.


" Thanks Bro suportnya. Kau memang yang terbaik. Lebih baik lagi kalau kau mau memberiku cuti satu minggu, karena sepertinya membujuk Dane tidaklah mudah." Ucap Leon.


" Baiklah, khusus edisi pengantin baru aku beri curi satu minggu." Sahut Gavin.


" Terima kasih." Sahut Leon.


" Lhah waktu aku kok nggak di kasih cuti? Curang kamu Vin." Ucap Rangga protes.


" Salah sendiri nggak mau bulan madu, ya udah nggak aku kasih cuti. Leon aja curi bulan madunya di rumah." Kekeh Gavin.


" Sialan lo!" Umpat Leon.


" Leon, kamu membuat kesalahan dengan menuruti egomu daripada logikamu. Lain kali Tante berharap kau tidak akan terburu buru menyimpulkan sesuatu Nak. Kau sudah dewasa, bukan anak kecil lagi. Kalau ada masalah selesaikan dengan hati dan pikiran yang dingin, bukan dengan emosi seperti tadi." Ujar Tante Maya, adik ke dua dari ayah Leon.


" Iya Tante, aku berjanji tidak akan mengulanginya. Terima kasih nasehatnya." Ucap Leon.


" Kasihan kamu Kak! Malam ini kau akan melalui malam pengantin sendirian dan penuh kesepian." Ejek Sandia.


" Sandia.... " Ucap nyonya Rindu.


" Iya kau benar, kau selalu menghiburku dengan candaan recehmu itu." Ucap Leon.


" Yang penting terhibur." Sahut Sandia.


Leon tersenyum menatap Sandia. Ia merasa bahagia berada di tengah tengah mereka. Ia merasa sedikit melupakan masalahnya.


" Ya udah Yon, gue pulang dulu! Kasihan Vania sama Gava kalau lama lama di luar rumah, mereka butuh istirahat." Ucap Gavin pamit.


" Oke, terima kasih sudah meluangkan waktu kalian. Hati hati di jalan!" Ucap Leon.


" Ayo sayang!" Ajak Gavin.


Akhirnya mereka semua juga ikut pamit. Kini rumah Leon kembali sepi. Ia masuk ke dalam kamarnya menghampiri Dane yang nampak terlelap dalam tidurnya. Leon berbaring di sampingnya.


" Maafkan aku Dane! Aku membuatmu kecewa di hati pertama pernikahan kita. Aku berjanji akan memperbaiki sikapku ke depannya." Ucap Leon memeluk Dane. Ia ikut terlelap menuju mimpinya.


Di cafe xx Ruhi sedang menunggu kedatangan Geral. Ya, Rugi menelepon Geral dan memintanya menemui di cafe tersebut. Ia merasa tidak enak hati atas kejadian tadi.


Tak lama Geral berjalan ke arahnya.

__ADS_1


" Maaf terlambat." Ucap Geral duduk di depan Ruhi.


" Tidak masalah Kak. Mau pesan sesuatu? Biar sekalian aku pesankan." Ujar Ruhi.


" Jus anggur aja, aku lagi malas makan sesuatu." Sahut Geral.


" Baiklah." Sahut Ruhi.


Ruhi memanggil pelayan dan memesan dua jus anggur. Ruhi menatap Geral begitupun sebaliknya.


" Aku ingin minta maaf atas kejadian tadi Kak! Aku minta maaf atas nama Kak Leon yang telah berbicara kasar kepadamu. Tapi aku tidak bisa menyalahkan kak Leon, karena kak Leon melakukannya demi melindungiku." Ucap Ruhi.


Geral tidak bergeming, ia hanya diam saja.


" Aku yakin kau bisa memahami sikap kak Leon tadi, kau juga seorang kakak dari seorang adik perempuan. Kau pasti akan melakukan hal yang sama dengan apa yang kak Leon lakukan." Sambung Ruhi.


" Darimana kau tahu? Bukankah pendapat setiap orang berbeda beda?" Tanya Geral.


" Pendapat orang mungkin berbeda beda tapi yang di lakukan pasti akan sama. Hanya caranya saja yang berbeda." Sahut Ruhi.


" Kau seorang guru, itu sebabnya kau pandai merangkai kata kata untuk membuat lawan kalah telak." Ucap Geral.


" Jangan membawa profesiku di sini Kak! Aku di sini sebagai seorang adik, bukan yang lainnya." Ucap Ruhi.


Geral menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Ia menatap Ruhi sambil mengelus dagunya. Sungguh membuat wanita lain terpesona.


" Bagaimana kalau aku tidak mau memaafkanmu ataupun kakakmu?" Tanya Geral.


" Tidak masalah, yang penting aku sudah meminta maaf. Memaafkan atau tidak itu urusanmu." Sahut Ruhi.


" Benar benar menarik." Gumam Geral.


" Kau mengatakan sesuatu?" Tanya Ruhi.


" Ah tidak." Sahut Geral.


" Aku akan memaafkanmu asalkan kau mau menuruti keinginanku." Ucap Geral.


" Memangnya apa keinginanmu?" Tanya Ruhi menatap Geral.


Coba tebak apa hayo????


Jangan lupa like koment vote dan mawarnya yang banyak...


Terima kasih...

__ADS_1


Miss U All..


TBC...


__ADS_2