Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
RUHI POSESIF


__ADS_3

Pagi ini Ruhi membantu Gerak bersiap. Ia memakaikan dasi di kerah leher Gerak, Gerak terus menatapnya dengan tatapan penuh cinta.


" Sayang, kapan dia akan hadir di sini?" Tanya Gerak mengelus perut Ruhi.


" Aku tidak tahu Mas, itu merupakan rahasia Tuhan." Sahut Ruhi.


" Selain itu kita juga harus giat berusaha. Jangan sampai kita kalah sama Dane." Ujar Geral.


" Kalau kamu mah maunya begitu, kalau aku enggak ya. Gara gara itu aku jadi mengubah keputusanku untuk pergi ke kota Y. Hilang sudah harapanku selama ini." Ujar Ruhi membuat Geral tercengang.


" Kau menyesalinya? Kau menyesal dengan semua yang terjadi pada kita berdua?" Selidik Geral menatap Ruhi.


" Sedikit. Aku masih kesal aja jika ingat kamu mencium mantan kamu itu. Mana kamu masih menyimpan cincin pertunangan kalian lagi. Aku tuh merasa sebenarnya kamu masih mengharapkannya." Sahut Ruhi duduk di tepi ranjang.


" Atau jangan jangan kamu sengaja memilihku karena ingin balas dendam dengannya?" Selidik Ruhi menatap Geral.


" Balas dendam gimana sayang?" Tanya Geral.


" Ya balas dendam. Kamu sengaja membuatnya sakit hati seperti apa yang dia lakukan padamu waktu itu. Atau lebih tepatnya aku kamu jadikan pelarian." Ucap Ruhi.


" Astaga pikiranmu itu lhoh sayang, aku serius sayang sama kamu, cinta sama kamu, masa' kamu bilang pelarian. Kalau aku cuma cari pelarian buat apa aku pilih kamu, apalagi aku sampai mengejar cintamu. Aku bisa memilih wanita yang lain kan." Ujar Geral.


" Ya siapa tahu nggak ada yang mau sama kamu, itu sebabnya kau mengancamku dengan menggunakan kak Leon. Kenapa aku baru menyadarinya sekarng ya?" Ujar Ruhi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


" Kau merendahkan aku sampai ke dasar jurang sayang, bahkan banyak wanita yang aku tolak mengantri di belakang sana. Tega teganya kau melukai harga diriku sayang." Ucap Geral duduk di samping Ruhi.


" Entah lah Mas aku tidak tahu yang sebenarnya bagaimana, aku cuma ingin lihat apa kamu bisa menolak pesona Sofia atau tidak. Dan sampai kejadian waktu itu terjadi lagi, maka aku akan benar benar pergi darimu. Aku tidak peduli dengan apa yang kau lakukan. Aku tidak akan memberikanmu kesempatan lagi. Ini kesempatan terakhir bagimu jadi gunakan kesempatan ini sebaik mungkin. You know?" Ruhi menatap Geral.


" Yes, i know my wife." Sahut Geral.


" Ya udah ayo kita ke bawah! Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu." Ucap Ruhi.


" Aku ingin sarapan yang lain sayang. Aku...


" Tidak ada! Aku lagi emosi jiwa karena ingat mantanmu itu. Mending sekarang kita makan atau kau akan pingsan saat di kantor nanti. Aku dengar pekerjaanmu sangat menumpuk." Ucap Ruhi.


Geral menghela nafasnya kasar.


" Baiklah ayo!" Sahut Geral.

__ADS_1


Mereka berdua turun ke bawah untuk sarapan. Selesai sarapan Geral segera berangkat ke kantornya. Sampai di kantor, Geral segera menyelesaikan pekerjaannya.


Jam makan siang hampir tiba, Geral masih berkutat di depan komputernya.


Ceklek....


Pintu ruangannya terbuka, Geral menoleh ke arah pintu dimana Sofia sedang berjalan menghampirinya.


" Untuk apa kau datang kemari? Apa kau ingin menjemput hukuman dariku yang belum sempat aku kasih kepadamu?" Tanya Geral menatapnya tajam.


" Aku ingin meluruskan kesalah pahaman ini Geral." Sahut Sofia duduk di depan Geral.


" Aku yakin kau pasti mengira jika aku yang melakukannya, tapi percayalah! Bukan aku pelakunya." Ujar Sofia.


" Aku tidak peduli siapa pelakunya. Yang jelas aku akan menghukummu karena kau berniat ingin memanfaatkan kesempatan pada saat itu." Ucap Geral membuat Sofia terkejut.


"Ya aku tidak peduli siapa pelakunya, karena hal itu aku dan Ruhi jadi semakin dekat. Seharusnya aku berterima kasih pada orang itu tapi aku tidak tahu siapa orangnya, mesti aku yakin jika orang itu adalah kamu. Aku akan tetap memberikan hukuman padamu supaya kau berpikir dua kali untuk mendekati aku." Batin Geral.


" Aku hanya ingin menolongmu saja waktu itu Geral, aku tidak mungkin melakukan hal serendah itu. Walaupun aku akui jika aku masih mencintaimu tapi aku tidak akan melakukan hal itu. Aku pasti akan mendekatimu dengan caraku sendiri." Ujar Sofia.


" Terserah apa katamu Sofia, yang jelas mulai sekarang menjauhlah dari hidupku seperti yang kau lakukan selama ini! Jangan pernah menemuiku ataupun menghubungiku lagi dengan alasan apapun. Aku tidak menginginkanmu kembali, aku justru merasa marah dan benci jika mengingat dengan apa yang kau lakukan padaku saat itu. Sebelum kesabaranku habis, segeralah pergi dari sini!" Ucap Geral penuh penekanan.


" Pergi!!!" Bentak Geral menunjuk pintu keluar.


" Ba... Baiklah, aku akan pergi." Sahut Sofia keluar dari ruangan Geral.


Deg..


Jantung Sofia berdebat kencang saat berhadapan dengan Ruhi. Ruhi menatap tajam ke arahnya.


" Mau apa kau ke sini? Apa kau mau menggoda suamiku lagi? Apa kali ini suamiku tergoda denganmu?" Tanya Ruhi.


" Tapi aku rasa kau tidak berhasil membujuknya, melihat dari wajahmu yang nampak kusm seperti itu." Sambung Ruhi.


" Siapa bilang? Geral masih mau kok dengan sama aku. Buktinya aku bebas keluar masuk ruangannya, harusnya dia meminta security untuk menahan ku jika aku datang kemari kan." Sahut Sofia penuh kemenangan.


" Suamiku mungkin berpikir jika kau punya malu, jadi kau tidak akan bermain datang ke sini. Tapi ternyata dugaannya salah, pada dasarnya wanita sepertimu tidak punya malu jadi ya... Kau datang dan pergi sesuka hatimu." Ujar Ruhi.


" Tapi akan aku pastikan, mulai detik ini kau tidak akan bisa menginjakkan kakimu di perusahaan ini. Walaupun hanya di lobby kantor sekalipun." Ucap Ruhi penuh penekanan.

__ADS_1


" Lakukan saja jika kau bisa." Sahut Sofia.


Ruhi masuk ke dalam ruangan Geral membuat Geral terkejut.


" Sa.. Sayang." Ucap Geral gugup.


Geral menghampiri Ruhi sambil melihat ke arah pintu untuk memastikan jika Sofia sudah pergi dari sana.


" Mau ngejar Sofia?" Tanya Ruhi.


Geral langsung menatapnya.


" Tidak sayang, apa kau bertemu dengannya?" Tanya Geral.


" Harusnya aku yang bertanya seperti itu, apa kau bertemu dengannya?" Ujar Ruhi.


" Ya pasti bertemulah, orang dia baru keluar dari sini." Sahut Ruhi sendiri.


" Yang jadi pertanyaan adalah, apa kau menciumnya? Atau mungkin kau mencumbunya? Berapa lama? Kali ini untuk alasan apa lagi? Untuk memastikan perasaan yang mana? Atas atau bawah?" Tanya Ruhi menatap bagian bawah Geral.


" Apasih sayang... Tidak begitu juga kali. Dia memang ke sini untuk meminta maaf dan menjelaskan kejadian di club waktu itu, tapi aku langsung mengusirnya karena aku tahu semua yang terucap dari bibirnya pasti palsu." Ujar Geral.


" Tapi seharusnya aku berterima kasih padanya sih, karena berkat rencananya aku tidak jadi kehilanganmu. Justru aku mendaostkanmu dan cintamu. Sepertinya aku harus memberikannya hadiah." Sambung Geral menarik pinggang Ruhi hingga mengikis jarak keduanya.


" Kau mau memberikan dia hadiah apa? Emas? Uang? Atau cincin pertunangan yang belum sempat kau berikan kemarin?" Tanya Ruhi menatap Geral.


" Aku akan...


" Berani kau menemuinya maka jangan temui aku selamanya." Tekan Ruhi memotong ucapan Geral.


" Ah tidak tidak, aku tidak jadi memberikan hadiah padanya." Sahut Geral cepat.


" Itu lebih bagus." Sahut Ruhi.


" Ternyata istriku posesif juga." Ucap Geral terkekeh.


" Egh??"


TBC...

__ADS_1


__ADS_2