
Hari ini Vania di perbolehkan pulang oleh dokter. Ia tidak sanggup jika harus menunggu satu bulan lamanya. Rasa rindu kepada putranya semakin menggunung di dalam hatinya.
Gavin menggendong Vania menuju kamarnya. Walaupun theraphi yang di jalaninya sedikit membuahkan hasil namun saat ini dokter melarang Vania untuk berjalan.
Gavin menurunkan Vania di atas ranjang. Sandiaga dan nyonya Rindu berdiri di samping ranjang menatap Vania.
" Gava." Ucap Vania menatap Gava dalam gendongan nyonya Rindu.
Nyonya Rindu memberikan Gava kepada Vania.
" Sayang Mama kangen banget sama kamu." Vania menciumi pipi Gava.
Tak terasa air mata kerinduan menetes begitu saja di pipinya.
" Sayang jangan menangis!" Gavin mengusap air mata Vania.
" Aku bahagia Mas, akhirnya aku bisa memeluk putraku lagi. Aku tidak bisa membayangkan Mas bagaimana nasib Gava jika saat itu aku tidak selamat." Air mata semakin deras menetea di pipinya.
" Stt sayang jangan pernah mengatakan hal buruk tentangmu! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, aku rela menukar nyawaku demi dirimu sayang. Sekarang tenanglah! Jangan menangis lagi! Kasihan Gava tuh, dia bingung melihatmu menangis begini. Nanti Gava akan rewel kalau hatimu bersedih seperti ini." Ujar Gavin menatap Gava yang saat ini menatap Vania.
" Iya Mas." Sahut Vania.
" Eh dia tersenyum." Gavin menunjuk Gaba yang tersenyum ke arahnya.
" Manis sekali putra Mama." Ucap Vania terkekeh.
" Putra Papa juga donk!" Sahut Gavin merangkul Vania.
Mereka nampak bahagia menatap buah hati mereka berdua. Sandia dan nyonya Rindu keluar dari kamar Gavin.
" Aku bahagia melihat mereka bahagia Ma, semoga kak Vania bisa segera berjalan normal lagi." Ucap Sandia menuruni anak tangga.
" Iya sayang, Mama juga bahagia sayang. Semoga kakakmu bisa membuat Vania bahagia, sudah banyak ujian berat yang Vania lalui. Sekarang saatnya dia hidup bahagia." Ujar nyonya Rindu.
Di dalam kamar Vania, ia mencoba menyusui Gava lagi. Gava menyusu dengan kuat membuat Gavin terbentang menatapnya.
" Kata Mama Gava baru saja minum sufor, kenapa dia masih menyusu dengan kuat seperti ini sayang? Kangen ya sama rasa asinya Mama." Gavin menoel noel pipi Gava.
" Mas... Gava lagi minum lhoh nanti tersedak." Ujar Vania.
" Maaf sayang! Habisan gemes banget sih lihat Gava. Pipinya itu lhoh masyaallah gembulnya." Ujar Gavin.
" Papa nakal ya dek, suka banget gangguin adek ya." Ucap Vania menatap Gava.
Gava membalasnya dengan senyuman. Entah sebenarnya ia tersenyum kepada Vania atau dengan temannya yang tidak kasat mata.
( Biasa kan ya kalau babby senyum senyum sendiri. Kalau kata orang Jawa mah tersenyum sama yang momong)
__ADS_1
" Papa jadi tidak sabar nunggu kamu besar sayang, Papa akan ajak kamu bermain bola di halaman depan. Kita akan mencetak gol sebanyak banyaknya." Ucap Gavin.
" Tunggu satu tahun lagi ya Pa." Sahut Vania menirukan suara anak kecil.
" Maafkan aku yang pernah menolak kehadirannya sayang." Bisik Gavin.
" Terima kasih sudah memberikan kebahagiaan yang tiada terkira kepadaku dan keluargaku. Kau wanita terbaik di dunia ini, bahkan mama yang aku anggap wanita hebat tidak bisa sehebat dirimu. Aku sangat beruntung bisa memiliki dirimu. Aku akan menghapus semua lukamu dengan kebahagiaan yang akan aku berikan padamu. Aku akan memberikan hidupku padamu. Apapun keinginanmu pasti akan aku kabulkan sayang. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu dan aku ingin selalu bersama dirimu." Ucap Gavin mencium kening Vania membuat Vania memejamkan matanya.
" Aku bahagia melihat perubahanmu Mas, aku bahagia mendapat perhatian, cinta dan kasih sayangmu seperti saat ini. Doa dan keinginanku telah di kabulkan oleh Tuhan, tidak ada hal yang lebih bahagia dari ini Mas. Aku juga mencintaimu... Aku berharap kau tidak akan pernah mengkhianati kepercayaanku lagi." Ucap Vania menatap Gavin.
" Aku berjanji sayang, dan aku akan menepati janjiku." Sahut Gavin.
Keduanya saling melempar senyuman kebahagiaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sandia melajukan mobilnya menuju rumah Ruhi. Ia ingin menemui sahabatnya yang baru saja di terima menjadi guru di SMA xx. Ia ingin mengajak Ruhi ke Mall untuk merayakannya.
Sesampainya di rumah Leon, Sandia masuk begitu saja tanpa permisi.
Sampai di ruang tamu Sandia melongo membulatkan matanya saat melihat Leon sedang berciuman dengan seorang wanita. Tangan Leon nampak sedang meremas gundukan kembar yang menyembul ke atas.
Seperti ada sesuatu yang meremas hatinya. Ia berdiri terpaku menahan sesak di dadanya sampai mata Leon menangkap sosoknya.
" Sandia." Ucap Leon setelah melepas pagutannya.
Leon menatap mata Sandia. Entah mengapa Leon merasa ada rasa sakit yang tersirat di mata Sandia.
" Sandia tunggu!" Leon menghampiri Sandia.
Sandia tidak menghiraukan Leon. Ia terus berjalan keluar sampai Leon mencekal tangannya.
" Apaan sih!" Sandia menghentak kasar tangannya berharap cekalan Leon terlepas.
Namun ternyata tenaga Leon lebih kuat darinya.
" Kenapa kamu terlihat marah? Kenapa kamu bersikap seperti seorang kekasih yang memergoki pacarnya selingkuh?" Selidik Leon menatap Sandia.
" Perasaan kamu aja Kak, aku biasa aja kok." Kilah Sandia membuang pandangannya ke segala arah.
Leon melepas tangannya. Ia menatap Sandia dengan tatapan tidak percaya dengan ucapan Sandia.
" Kenapa malah mengejarku? Wanitamu akan marah karena menunggu lama dirimu. Selamat bersenang senang!" Ucap Sandia membuka pintu mobilnya.
" Sandia." Panggil Leon.
Sandia menatap ke arahnya.
__ADS_1
" Aku yakin kamu menyembunyikan sesuatu dariku, aku akan menunggu kamu mengatakannya padaku." Ucap Leon.
Blem..
Sandia menutup pintu mobilnya. Ia menghampiri Leon sambil menatap Leon dengan kesal.
" Memangnya apa yang ingin kau dengar?" Tanya Sandia melipat kedua tangannya di depan dada.
" Sesuatu yang selama ini ingin aku dengar darimu." Sahut Leon.
" Seperti apa?" Tanya Sandia.
" Cinta." Sahut Leon.
" Apa pria sepertimu pantas di cintai oleh gadis sepertiku?"
Deg....
Leon terkejut dengan pertanyaan Sandia.
" Seorang cassanova yang bergantung pada uang kakakku untuk membeli jal*ng di luar sana. Bahkan menyewa hotel saja kau tidak mampu sampai kau bermain di dalam rumahmu sendiri. Apa yang bisa aku harapkan dari pria seperti itu? Cinta? Kebahagiaan? Atau aku berharap penderitaan darimu?" Ucap Sandia menohok hati Leon.
" Hidupku sudah bahagia Bung, makan enak, shopping tanpa memikirkan kehabisan uang, mobil dan rumah mewah. Apakah aku harus mencintai pria malang sepertimu? Menyekolahkan adikmu saja kau tidak bisa. Ruhi bisa tamat sekolah karena bea siswa yang ia dapatkan. Karena apa? Karena kakaknya lebih mementingkan memanjakan para jal*ngnya daripada memikirkan masa depan adik satu satunya. Lalu dengan bangga kau mengharapkan pengakuan cinta dariku? Atas dasar apa hah?" Sandia menatap tajam ke arah Leon.
" Kau benar Sandia, aku tidak berguna. Aku tidak pantas mengharapkan apapun dari gadis terpandang seperti dirimu. Maafkan aku!" Ucap Leon menundukkan kepalanya.
Leon melangkah meninggalkan Sandia sampai ucapan Sandia menghentikan langkahnya.
" Kalau kau ingin mendapatkan cinta dariku, maka rubah lah sifatmu! Jika kau bisa berubah menjadi lebih baik maka aku akan mempertimbangkannya." Ucap Sandia mengerlingkan matanya.
Leon melongo mendengar ucapan Sandia.
" Be... Benarkah?" Tanya Leon tidak percaya.
" Maybe yes, maybe no." Sahut Sandia masuk ke dalam mobilnya.
" Yes." Sorak Leon bahagia.
Sandia melajukan mobilnya kembali ke rumahnya.
" Aku tidak menyangka aku dan Kak Leon sama sama memberikan harapan. Aku berharap Tuhan menunjukkan jalan terbaik untuk kami berdua. Maafkan ucapanku yang telah menyakitimu Kak. Aku memang sengaja melakukan itu supaya kamu berubah. Aku tidak mau menghancurkan hidupku sendiri dengan menikahi seorang cassanova, jika memang kita di takdirkan bersama setidaknya kau sudah berhenti dari kebiasaan burukmu itu." Batin Sandia tersenyum.
Cie cie yang senyum senyum sendiri...
Jangan lupa tekan like koment vote dan kasih 🌹yang banyak buat author.
Terima kasih untuk kalian semua yang telah mensupport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC...