Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
KEDATANGAN SIREN


__ADS_3

Pagi ini Sandia sedang mengambilkan makanan untuk Rangga. Ada nasi putih, rendang, udang pedas dan kerupuk udang.


" Silahkan Mas!" Ucap Sandia meletakkan piring di depan Rangga.


" Terima kasih sayang, kau memang istri terbaik di dunia." Ucap Rangga.


" Sama sama Mas, Mas juga suami terbaik buatku." Sahut Sandia di balas senyuman oleh Rangga.


" Ya udah sekarang makan dulu, nanti kamu malah terlambat." Ujar Sandia.


Keduanya makan dengan khidmat sampai...


Ting tong....


Suara bel rumah berbunyi. Keduanya saling melempar tatapan.


" Siapa yang bertamu pagi pagi begini?" Gumam Sandia.


" Tidak tahu." Sahut Rangga.


" Aku bukain pintu dulu Mas." Ujar Sandia.


" Biar Mas aja yang buka." Ucap Rangga.


" Aku ikut." Sahut Sandia.


Rangga berjalan menuju pintu di ikuti Sandia dari belakang.


Ceklek...


" Mas Rangga." Pekik seorang gadis langsung memeluk Rangga.


" Siren... " Ucap Rangga.


" Aku kangen banget sama kamu Mas, aku nggak nyangka kita bisa bertemu di sini." Ucap Siren.


" Lepas Ren!" Rangga mendorong pelan tubuh Siren agar menjauh darinya.


" Mas Rangga kok gitu sih? Biasanya juga suka meluk meluk aku." Ujar Siren membuat Sandia melongo.


" Jangan seperti itu Siren! Sekarang ada hati yang harus aku jaga." Ucap Rangga.


" Kenalkan ini istriku." Sambung Rangga menarik tangan Sandia.


Siren menatap Sandia lalu tersenyum ke arahnya.


" Hai Kakak ipar, aku Siren. Adik sepupunya Mas Rangga." Sapa Siren menyodorkan tangannya.


" Hai, aku Sandia." Sahut Sandia membawa uluran tangannya.


" Siren, kenapa kau membawa koper segede itu?" Tian mengerutkan keningnya saat melihat koper besar di belakang Siren.


" Nanti aku ceritain, sekarang biarkan aku masuk dulu Mas, capek tahu berdiri terus." Ujar Siren.

__ADS_1


" Silahkan masuk!" Ucap Rangga.


Mereka bertiga duduk di sofa ruang tamu.


" Sekarang ceritakan!" Titah Rangga.


" Aku mau numpang tinggal di sini."


" Apa? Bagaimana bisa kamu mau numpang di sini Siren?" Ujar Rangga menatap Siren.


" Aku sedang magang di perusahaan xx Mas, aku butuh tempat tinggal dan teman. Sebenarnya aku mau tinggal bersama bibi, tapi bibi menyuruhku ke sini saja. Bibi tidak enak dengan keluarga kak Vania." Ujar Siren.


Sandia dan Rangga diam tidak bergeming.


" Nggak lama kok Mas, cuma satu bulan saja. Aku capek kalau harus bolak balik Jakarta Bandung tiap hari. Mau cari kostan takut kalau tinggal sendirian. Boleh ya aku numpang di rumah ini?" Siren menatap Rangga dan Sandia bergantian.


" Bolehlah Mas, masa' kamu tega sih kalau aku tinggal di kostan sendiri. Nanti kalau ada apa apa gimana? Kan kasihan Mama kalau harus kehilangan anak secantik diriku." Ujar Siren.


" Bagaimana sayang? Rumah ini rumahmu, jadi kau yang mengambil keputusan. Tidak perlu merasa tidak enak sama Mas, katakan sesuai apa kata hatimu saja." Ujar Rangga menatap Sandia.


" Ya udah tidak pa pa Mas, aku tidak keberatan. Lagian cuma satu bulan ini. Biarkan dia tinggal di sini dan menjadi temanku selama satu bulan." Sahut Sandia.


" Terima kasih Kakak ipar, kau memang Kakak ipar terbaik di dunia ini." Ucap Siren senang tanpa menunggu jawaban dari Rangga.


" Sekarang katakan dimana kamarku!" Sambung Siren.


" Mari aku antar ke kamarmu." Ucap Sandia.


" Ini akan menjadi kamarmu selama satu bulan ini. Setelah satu bulan kau bisa meninggalkannya." Ucap Sandia.


" Berarti kalau belum satu bulan aku tidak boleh pergi dari sini donk!" Sahut Siren enteng.


" Tergantung bagaimana perilakumu di sini, jika kau menjaga etikamu di sini maka aku pastikan kau akan tinggal di sini sampai satu bulan. Tapi jika tidak, jangan harap kau bisa tinggal di sini walau hanya satu hari saja." Sahut Sandia.


" Memangnya apa yang akan aku lakukan di sini sehingga kau bisa punya pikiran seperti itu?" Tanya Siren menatap Sandia.


" Aku tidak tahu, yang jelas aku tidak akan langsung percaya dengan orang yang baru aku kenal. Jadi selama kau ingin tinggal di sini, jaga sikapmu dan turuti peraturanku." Ujar Sandia.


Entah mengapa Sandia merasa ada yang di sembunyikan oleh Siren darinya dan Rangga.


" Baiklah... Aku akan menjaga sikapku di sini. Kau tidak perlu khawatir akan hal itu." Sahut Siren mengangguk anggukkan kepala.


" Sayang Mas berangkat ke kantor dulu." Ucap Rangga menghampiri Sandia.


Rangga menatap Siren yang menampakkan wajah sedihnya.


" Kenapa kamu bersedih Siren? Apa ada yang tidak kau sukai di sini?" Tanya Rangga.


" Belum satu jam aku di sini, istrimu sudah mengancamku Mas." Ucap Siren membuat Sandia melongo membulatkan matanya.


Sandia semakin yakin dengan instingnya.


" Mengancam? Mengancam bagaimana maksudmu Siren?" Rangga mengerutkan keningnya.

__ADS_1


" Ya.. Dia...


" Aku memintanya untuk menjaga sikapnya selama tinggal di sini Mas, kalau dia tidak mau atau membuat kesalahan maka aku akan mengusirnya saat itu juga." Sahut Sandia memotong ucapannya.


" Dia negatif thinking padaku Mas, aku tidak akan berbuat sesuatu yang merugikan kalian. Kau mengenalku kan Mas? Jadi kau bisa menilai sikapku sendiri." Ucap Siren.


Rangga menatap Sandia.


" Sayang dia adikku, aku tahu benar sikapnya. Dia suka bercanda dan tidak pernah serius soal apapun." Ucap Rangga.


" Tuh dengerin kata Mas Rangga. Kalau kamu keberatan aku tinggal di sini, harusnya tadi kamu tidak memberikan ijin padaku." Ujar Siren.


" Aku...


" Sudah sayang jangan bertengkar lagi! Bagaimanapun kita itu saudara, jadi kalian berdua harus akur. Menjaga silaturahmi itu lebih baik dari menghancurkannya." Ujar Rangga.


" Iya Mas." Sahut Siren dan Sandia bersamaan.


Sandia tidak mau membuat Rangga marah, apalagi dia hendak berangkat kerja.


" Ya sudah, Mas berangkat dulu sayang. Maaf jika ada kata Mas yang menyakiti hatimu." Ucap Rangga mencium kening Sandia.


" Aku sudah memaafkanmu Mas, hati hati di jalan. Jam makan siang kita ketemu ya di cafe xx." Ucap Sandia mencium punggung tangan Rangga.


" Iya sayang, Mas akan datang tepat waktu. Kau juga harus hati hati di rumah! Kalau ada apa apa segera telepon Mas." Ucap Rangga.


" Iya Mas." Sahut Sandia.


Rangga dan Sandia keluar dari kamar Siren, tiba tiba Siren berlari memanggil Rangga.


" Mas Rangga."


" Ya." Sahut Rangga menoleh ke belakang.


" Hati hati! Semangat kerjanya!" Ucap Siren mengangkat tangannya.


Rangga menganggukkan kepalanya. Rangga melanjutkan langkahnya lalu masuk ke dalam mobil, ia melajukan mobilnya menuju kantor.


Sandia masuk ke dalam rumah begitupun dengan Siren. Siren menatap Sandia yang sedang menaiki anak tangga.


" Kau akan melihat sikapku yang sebenarnya Sandia... Aku akan memberikan kejutan yang akan membuatmu mati berdiri. Kau tunggu saja tanggal mainnya, semuanya akan berjalan sesuai keinginanku." Gumam Siren tersenyum smirk kembali ke kamarnya.


Kira kira apa nih rencana Siren?


Penasaran?


Jangan lupa tekan like koment vote dan kasih mawar yang banyak untuk author..


Terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U All...


TBC...

__ADS_1


__ADS_2