
Malam ini setelah makan malam, Gavin bermain main dengan Gava di lantai yang beralaskan kasur tipis. Gava terus tertawa karena Gavin menciumi perutnya.
" Aha ha ha ha ha." Tawa Gava.
" Mas, jangan mainan sama Gava terus! Sini! Aku mau tidur sambil di peluk." Ucap Vania merasa kesal.
Gavin menatapnya sambil tersenyum.
" Sabar sayang! Sebentar lagi aku ke situ, orang Gava lagi mau main sama aku." Ujar Gavin.
" Dari tadi sebentar mulu, tapi nggak kelar kelar mainnya." Cibir Vania mengerucutkan bibirnya.
" Belum juga setengah jam sayang, Gava lagi kangen nih sama aku. Seharian nggak ketemu ya sayang." Ucap Gavin menatap Gava.
" Pa.. pa.. " Ucap Gava.
" Tuh, Gava aja manggil aku itu berarti dia kangen sama aku sayang." Ujar Gavin.
" Aku juga kangen sama kamu Mas. Bukan hanya Gava aja, masa' yang di perhatiin cuma Gava aja. Aku enggak sama sekali." Cebik Vania.
Gavin menghela nafasnya pelan.
" Sayang, kenapa kamu cemburu sama anak sendiri? Biasanya kalau Gava udah tidur aku selalu meluk kamu. Setiap malam kamu tidur dalam pelukanku. Jangan egois donk! Gava juga butuh kasih sayangku." Ujar Gavin pelan supaya Vania tidak tersinggung.
Pada dasarnya hati Vania memang sensitif, Vania justru merasa kalau Gavin mengatainya.
" Ya sudah, kamu main sama Gava aja! Nggak usah peduliin aku." Ucap Vania menyelinuti seluruh tubuhnya.
Gavin menghembuskna nafasnya kasar. Ia harus mengeluarkan ekstra kesabaran jika menghadapi Vania kali ini.
" Sayang, mama kamu marah tuh karena Papa main terus sama Gava." Ujar Gavin.
" Ma... Lah.. " Ucap Gava mengangguk anggukkan kepalanya.
" Ayo kita ajak mama bermain bareng, biar mama nggak marah lagi." Ujar Gavin membawa Gava ke ranjang.
" Mama sayang... Ayo main sama Gava!" Ucap Gavin.
Gava menepuk nepuk tubuh Vania lalu menarik narik selimutnya.
" Ayo donk Ma kita main bareng!" Ujar Gavin.
" Nggak mau! Suruh Gava tidur dulu baru aku mau dekat dekat sama Mas." Sahut Vania.
" Ya Tuhan... Kenapa istriku sekarang berubah jadi seperti ini? Kenapa dia seolah olah memusuhi anaknya sendiri? Emang ada ya bawaan bayi seperti ini?" Gumam Gavin heran.
" Mas!!" Kesal Vania.
__ADS_1
" Iya sayang." Sahut Gavin.
" Gava ayo kita bobok dulu! Mama dan adik kamu sepertinya sudah mengantuk." Ujar Gavin nenidurkan Gava dengan cara memeluknya. Gavin menepuk nepuk *@**@* Gava, jemari tangan kiri ia gunakan untuk mengelus dahi Gava membuatnya merem melek sampai akhirnya tertidur pulas.
" Sekarang Gava sudah tidur, tinggal mamanya nih perlu di kelonin juga." Ucap Gavin membalikkan tubuhnya menghadap Vania.
Vania menyusupkan wajahnya ke dada bidang Gavin. Ia menjadikan lengan Gavin sebagai bantalan, ia memeluk perut Gavin dengan erat.
Gavin mengelus kepala Vania dengan lembut.
" Elus juga dedeknya." Vania menarik tangan Gavin lalu meletakkannya di atas perutnya yang sudah mulai membuncit.
" Anak papa di dalam sini juga pengin manja manjaan sama papa toh. Sehat sehat di dalam sini ya sayang, besok kalau udah lahir jangan rebutan papa sama bang Gavin. Papa akan memberikan kasih sayang papa kepada kalian dengan adil. Papa sangat menyayangi kalian berdua." Ujar Gavin mengelus elus perut Vania.
" Terima kasih telah memberikan aku kasih sayang yang luar biasa Mas. Aku mencintaimu." Ucap Vania.
" aku tahu." Sahut Gavin terkekeh.
" Ih kok gitu sih jawabannya, jawab yang benar donk Mas! Kalau tidak aku sama dedeknya marah nih." Ucap Vania mengancam.
" Baiklah sayang, maafkan papa. Papa juga mencintai kalian." Ucap Gavin mencium kening Vania.
Gavin terus mengelus perut dan kepala Vania sampai Vania tertidur. Gavin mencium keningnya dengan lembut.
" Aku tidak menyangka jika kau bisa bersikap semanja ini di masa kehamilanmu. Aku akan menikmati moment moment ini, semoga setelah usia kehamilannya bertambah, kamu bisa kembali seperti dulu. Vania yang sangat menyayangi Gava. Aku tidak mau jika sampai Gava merasa tersisihkan karena adiknya. Semoga kalian bahagia." Ucap Gavin.
Gavin memeluk Vania lalu memejamkan matanya. Tak terasa ia terlelap bersama Vania.
Pagi ini Rangga sedang membangunkan Sandia. Namun Sandia masih asyik dengan dunia mimpinya, padahal ini sudah jam tujuh.
" Sayang bangunlah!" Rangga menepuk pelan Sandia dengan pelan.
Sandia tidak bergeming, ia hanya diam saja.
" Sayang bangunlah! Ini sudah jam tujuh pagi, Mas harus segera berangkat ke kantor. Pagi ini ada pertemuan dengan client penting, Gavin pasti sudah menunggu Mas." Ujar Rangga menarik selimut Sandia.
" Mas kan bisa bersiap sendiri, beli kek sarapan sesuka Mas. Jangan menggangguku! Aku masih mengantuk Mas." Ujar Sandia tanpa membuka matanya.
" Sayang kalau Mas berangkat kerja terus siapa yang akan membangunkan kamu nanti, jangan sampai kamu melewatkan sarapan karena tidur. Lagian kamu kenapa sih? Tumben banget jam segini masih tidur." Ujar Rangga.
" Mungkin ini bawaan bayi Mas, udah ah pergi sana! Jangan ganggu tidurku! Atau aku akan marah sama Mas." Ucap Sandia mengeluarkan ancamannya.
Rangga menghela nafasnya pelan. Kalau Sandia sudah bilang bawaan bayi itu berarti keputusannya sudah mutlak. Apapun yang terjadi tidak bisa di ganggu gugat lagi.
" Baiklah Mas berangkat dulu! Jangan lupa nanti pas bangun terus sarapan. Mas akan pulang saat makan siang nanti." Ucap Rangga.
Cup...
__ADS_1
Rangga mengecup kening Sandia.
" Mas berangkat dulu!" Ucap Rangga meninggalkan kamarnya.
Rangga pergi ke kantor menggunakan mobilnya. Sampai di sana ia segera melakukan tugasnya sebagai wakil direktur utama. Pertemuan dengan para client penting pun berjalan dengan lancar. Jam makan siang, ia kembali ke rumahnya.
" Kok sepi." Gumam Rangga masuk ke dalam rumahnya.
" Sayang." Panggil Rangga namun tidak ada sahutan sama sekali.
" Mungkin di kamar." Gumam Rangga.
Rangga menaiki tangga menuju kamarnya.
Ceklek...
Rangga membuka pintunya dan,
" Astaga! Sandia masih tidur, apa dia belum bangun dari tadi pagi?" Rangga menghampiri Sandia yang masih setia bergulung selimut di atas ranjang.
Rangga duduk di tepi ranjang, ia mengelus kepala Sandia dengan pelan.
" Sayang." Ucap Rangga.
" Sayang bangunlah! Apa kamu sudah sarapan?" Tanya Rangga membuat sang empu melenguh.
" Engh... Mas ganggu lagi. Aku masih mau bobok Mas, ngantuk." Ucap Sandia.
" Ini sudah jam setengah satu sayang, apa kamu sudah makan tadi pagi?" Ujar Rangga.
Sandia nampak mengerutkan keningnya, ia membuka kedua matanya lalu menguceknya sambil menatap jam dinding yang menempel di depan Ranjangnya.
" Jam dua belas lebih? Kok bisa aku tidur selama ini?" Gumam Sandia beranjak. Ia duduk bersila menatap Rangga.
" Kenapa Mas tidak bangunin aku? Aku jadi melewatkan sarapanku Mas." Cebik Sandia.
" Mas sudah membangunkanmu tadi pagi, tapi kamu tidak mau bangun ya Mas tinggal ke kantor sayang." Sahut Rangga.
" Enggak.. Mas nggak bangunin aku kok.. Pokoknya Mas yang salah karena membiarkan aku dan anakmu kelaparan titik." Ucap Sandia tidak mau kalah.
" Baiklah Mas yang salah, Mas minta maaf. Sebagai tanda permintaan maaf Mas, kamu mau apa?" Tanya Rangga mrnagap Sandia.
" Aku ingin....
Gantung ya... Hari ini author lagi nggak enak badan. Tiba tiba kedinginan dan badan menggigil.
Author sudah up dari semalam sebelum jam tujuh tapi entah kenapa sampai pagi belum lulus review.... Sabar ya para readers terzeyeng....
__ADS_1
Terima kasih...
TBc....