Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
Pertunangan


__ADS_3

" Rangga aku mohon! Bantu aku!" Pinta Alifa.


Sandia menatap Rangga menanti jawabannya, ia sudah mempersiapkan diri sekuat mungkin mendengar jawaban 'iya' dari Rangga.


" Maaf Alifa aku tidak bisa."


Ucapan Rangga bagaikan angin semilir di telinga Sandia. Hatinya membuncah ingin berteriak saat itu juga. Rangga menggenggam tangan Sandia.


" Aku mencintai Sandia, aku tidak akan menyakiti hati wanita yang aku cintai. Jika bingung masalah keuangan, InsyaAllah aku akan membantunya. Tentunya atas ijin dari Sandia yang kelak akan menjadi istriku." Ucap Rangga menatap Sandia.


" Sayang kalau nanti Mas memberikan sedikit rejeki Mas untuk membantunya, apa kau keberatan?" Tanya Rangga.


" Tidak Mas!" Ucap Sandia sambil tersenyum.


" Tapi biarkan aku yang memberikannya, aku tidak mau kalau Mas menemuinya." Sambung Sandia.


" Baiklah, sesuai keinginanmu." Sahut Rangga.


Sandia merasa sangat bahagia, ia tidak menyangka jika Rangga menghargainya sampai sebesar ini.


" Sandia sudah setuju Alifa, aku akan meminta Sandia mengirimkan uang untuk. kebutuhanmu sehari hari walau tidak bisa mencukupi semuanya, setidaknya bisa membantumu bertahan hidup." Ucap Rangga.


" Aku bukan pengemis Rangga, aku tidak terima dengan semua ini. Kau lebih memilih gadis kecil ini dari pada aku teman masa kecilmu. Kau keterlaluan Rangga." Cibir Alifa.


" Kau yang lebih keterlaluan Nona Alifa. Tanpa malu kau meminta calon suamiku untuk bertanggung jawab atas janinmu itu. Kenapa kau tidak mencari yang lain saja? Atau kau meminta suamimu menikahimu lagi. Bukankah kau rela di madu demi status anak itu? Kenapa kau tidak melakukannya? Apa kau punya alasan lain? Atau kau punya tujuan lain? Atau jangan jangan dia bukan ayah dari janin yang kau kandung?"


Deg...


Ucapan Sandia menohok hati Alifa.


" Kenapa diam? Diammu ini membenarkan tebakanku Nona Alifa." Sambung Sandia.


" Kau terlalu banyak bicara Sandia. Apapun alasanku yang jelas hanya satu, aku ingin status untuk anak ini." Ucap Alifa.


" Silahkan kau cari lain pria lain saja, jangan mengemis pada calon suamiku! Dan aku harap setelah ini kau tidak lagi mengganggu Mas Rangga, kalau tidak kau akan tahu akibatnya bermain main denganku. Kau tenang saja kalau masalah uang aku akan memberikannya padamu, tapi bukan uang Mas Rangga karena aku tidak rela nafkah suamiku ia berikan kepada wanita sepertimu." Ucap Sandia membuat Rangga terkejut.


" Sayang...


" Tenanglah Mas! Aku akan memakai uangku sendiri." Sahut Sandia.


" Tapi sayang....


" Aku kan sudah bilang kalau aku nggak rela nafkahmu terbagi untuknya. Jadi nggak usah protes deh." Ujar Sandia.

__ADS_1


" Baiklah sayang, maaf!" Ucap Rangga tidak mau membuat Sandia marah.


Sandia membuka tasnya lalu mengeluarkan cek dari sana. Ternyata ia sudah mempersiapkan semuanya.


" Cek dua ratus lima puluh juta, silahkan kau ambil dan gunakan uang itu sebaik mungkin sampai kau bisa bekerja. Urusan kita sudah selesai, jangan temui Mas Rangga lagi dengan alasan yang lainnya atau aku akan meminta kembali uangku. Apa kau mengerti?" Sandia menatap tajam ke arah Alifa.


" Iya aku mengerti, terima kasih." Ucap Alifa.


" Ayo Mas." Sandia menarik tangan Rangga meninggalkan cafe itu.


Alifa menatap kepergian mereka dengan heran dan penasaran.


" Tajir juga Sandia, siapa sih sebenarnya dia? Tidak apa aku tidak mendapatkan Rangga, yang penting aku mendapatkan dua ratus lima puluh juta. Kau membawa keberuntungan untukku." Ucap Alifa mengelus perut ratanya.


Di dalam mobil, Rangga terus menatap Sandia membuat Sandia jadi salah tingkah.


" Apa sih Mas kok menatapku seperti itu, takut tahu." Ucap Sandia.


" Takut kenapa?" Tanya Rangga sambil tersenyum.


" Takut kamu mangsa, Mas menatapku seperti orang kelaparan saja." Ujar Sandia membuat Rangga terkekeh.


" Mas menatapmu karena Mas bangga pada sikapmu sayang, kau pintar menghadapi calon pelakor seperti Alifa. Mas yakin kehidupan pernikahan kita akan bebas dari kata pelakor, tapi kira kira bebas dari pemikiran tidak ya?" Ujar Rangga sambil berpikir.


" Kalau seandainya ada, apa yang akan Mas lakukan?" Tanya Sandia.


" Ha ha ha Emang bisa? Kau lucu sekali Mas. Kau saja tidak tega menyakiti orang, sok mau memukul segala." Ujar Sandia tertawa.


" Beda lagi ceritanya sayang." Sahut Rangga.


" Ya sudah sekarang ayo kita pulang, aku harus mempersiapkan acara lamaranmu besok malam kan." Ujar Sandia.


" Maaf ya sayang kalau acaranya sederhana saja, Mas tidak bisa memberikan acara yang meriah seperti yang kau impikan selama ini." Ujar Rangga sedih.


" Tidak perlu di pikirkan Mas, semampu Mas saja. Aku tidak memaksa Mas untuk mengikuti seperti apa yang aku inginkan, bawa aku menuju kebahagiaan walaupun hidup dengan kesederhanaan. Aku bahagia memiliki calon suami sepertimu Mas, cinta dan kasih sayangmu lebih berarti bagiku dari pada kemewahan yang aku rasakan selama ini. Terima kasih telah membuatku mengerti apa itu cinta, apa itu kasih sayang dan apa itu bahagia. Aku mencintaimu Mas." Ucap Sandia.


" Mas lebih mencintaimu sayang, terima kasih telah menerima Mas apa adanya. Mas tidak bisa menjanjikan apa apa padamu tapi Mas akan selalu berusaha membuatmu bahagia." Ucap Rangga mencium punggung tangan Sandia.


" Tetap cintai dan sayangi aku seperti ini Mas! Aku akan selalu bahagia dengan semua ini." Ucap Sandia.


" Tentu sayang." Sahut Rangga.


Rangga melajukan mobilnya menuju rumah Sandia.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam yang di nantikan pun tiba. Acara yang Rangga bilang sederhana pada nyatanya nampak mewah. Dekorasi yang Rangga sewa nampak begitu indah. Tamu undangan yang tak lain teman teman kerja Rangga dan Sandia pun hadir ikut merayakan kebahagiaan mereka berdua.


Dengan di balut gaun hitam, riasan natura, rambut di sanggul ke atas membuat Sandia nampak begitu cantik. Ia menuruni anak tangga satu persatu dengan di apit oleh Vania dan mamanya.


Para tamu undangan menatap kagum kepadanya. Sandia mendekati Rangga yang berdiri di tempat yang sudah di dekor. Rangga mengulurkan tangannya menyambut kedatangan Sandia dengan bahagia.


Pembawa acara segera memulai acaranya, setelah sambutan sambutan kini tiba pada acara inti yaitu tukar cincin.


Rangga berlutut di depan Sandia sambil memegang bunga mawar putih.


" Sandia Mahardika, kehadiranmu membuatku nyaman berada di sisimu. Senyumanmu membuat hatiku teduh, tatapanmu membuatku ingin terus melihatmu. Bayang bayang wajahmu selalu membuatku merindukanmu. Sandia aku mencintaimu, maukah kau menerima laki laki sederhana ini? Maukah kau mendampingi hidupku dalam susah dan senang? Maukah kau menikah denganku dan menjadi ibu dari anak anakku nanti?" Rangga terus menatap Sandia.


" Terima... Terima... Terima... "


" Terima kasih sudah mencintaiku sedalam ini, aku mau menikah denganmu dan aku akan selalu berada di sampingmu. Aku juga mencintaimu Rangga Adriano." Ucap Sandia.


" Terimalah mawar putih ini sayang, mawar ini sebagaip lambang kesucian cinta kita." Ucap Rangga.


Sandia mengambil mawar itu dari tangan Rangga lalu menciumnya. Suara tepuk tangan menambah meriah suasana.


Grep...


Tiba tiba Rangga memeluk tubuh Sandia.


" Terima kasih sayang." Ucap Rangga mencium kening Sandia.


Mereka meluapkan rasa bahagia melalui pelukan.


" Rangga... Kapan tukar cincinnya?" Teriak Gavin.


Rangga menoleh ke arah Gavin lalu ia segera melepas pelukannya.


" Maaf!" Ucap Rangga menatap Sandia. Sandia menganggukkan kepala sambil tersenyum.


Bibi Tuti memberikan sekotak cincin pada Rangga. Keduanya saling bertukar cincin. Suara tepuk tangan kembali menggema di ruang keluarga. Sandia menatap cincin yang melingkar di jari manisnya, ia tersenyum bahagia melihatnya.


Seneng nggak nih?????


Jangan lupa like koment vote dan kasih 🌹yang banyak buat author...


Teruna kasih untuk readers yang telah memberikan support pada author semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All....


TBC....


__ADS_2