
Hari ini Leon, Danesha dan Geral pergi menemui dokter Jonson di negara tetangga. Geral menyembunyikan penyakit Leon dari Ruhi, ia berpamitan untuk menemui client di sana.
Sesampainya di rumah sakit tempat dokter Jonson bekerja, Leon segera menjalani pemeriksaan.
" Hasilnya akan keluar besok pagi. Akan saya kabari jika hasilnya sudah keluar." Ujar dokter Jonson.
" Baik Dok terima kasih." Ucap Danesha.
Setelah itu mereka pulang ke hotel tempat mereka menginap.
Drt... Drt...
Ponsel Leon berdering tanda panggilan masuk. Ia menatap id pemanggil.
" Dokter Rama." Gumam Leon.
" Siapa Mas?" Tanya Dane.
" Dokter yang menangani penyakitku." Ujar Leon.
" Owh." Gumam Dane.
Leon segera mengangkat panggilannya.
" Halo Dokter, apa terjadi sesuatu dengan hasil pemeriksaanku? Apa hidupku tidak akan lama lagi?" Tanya Leon. Jantungnya berdetak dengan sangat kencang menunggu jawaban dokter Rama.
" Tenang tuan Leon! Saya menelepon karena saya ingin meminta maaf." Ucap dokter Rama.
" Meminta maaf? Meminta maaf untuk apa Dok?" Tanya Leon memastikan.
" Saya minta maaf pada anda dan keluarga anda karena ternyata hasil pemeriksaan anda tertukar dengan pasien lainnya." Ujar dokter Rama.
" Tertukar bagaimana Dok?"
" Ternyata yang mengidap penyakit HIV bukan anda Tuan, tapi tuan Leon yang lainnya."
" Apa?" Pekik Leon.
" Benarkah? Apa sudah anda pastikan lagi kebenarannya? Jangan sampai kabar bahagia ini juga salah Dokter." Ujar Leon.
" Kami tidak salah lagi Tuan, kami sudah melakukan pemeriksaan kepada tuan Leon Kusuma dan hasilnya positif. Sekali lagi kami mohon maaf atas keteledoran saya dan tim saya dalam bekerja Tuan, kami minta maaf yang sebesar besarnya." Ucap dokter Rama.
" Tidak apa apa Dok hal seperti ini bisa saja terjadi, saya memakluminya. Terima kasih." Ucap Leon mematikan sambungan teleponnya.
" Apa benar yang dokter tadi katakan?" Tanya Dane menatap Leon.
" Iya sayang, ternyata aku baik baik saja. Aku tidak sakit sayang." Ucap Leon.
Dane melongo membulatkan matanya.
__ADS_1
" Syukurlah kalau begitu Mas, aku bahagia sekali akhirnya keinginan untuk tetap bersamamu akan terwujud. Terima kasih Tuhan." Ucap Dane tanpa sadar memeluk Leon.
" Kakak ikut senang Dane." Ucap Geral melitik keduanya melalui kaca spion.
" Tapi untuk memastikan tidak ada kesalahan lagi, kita akan tetap menunggu hasil pemeriksaan dari dokter Jonson." Sambung Geral.
" Iya Kak." Sahut Dane melepas pelukannya.
Di dalam perjalanan Leon terus menggenggam tangan Dane. Ia merasa sangat bahagia dengan berita yang baru saja ia dengar.
" Ya Tuhan Kau sungguh Maha segalanya. Di saat aku hampir putus asa karena penyakit itu belum ada obatnya, kau justru memberikan keajaiban ini padaku. Terima kasih ya Rob." Batin Leon.
Sampai di hotel Leon dan Dane masuk ke kamarnya. Dane naik ke atas ranjang menyandarkan punggungnya pada headboard. Leon segera duduk di sampingnya.
" Sayang aku harap perhatianmu selama tiga hari ini tidak akan berubah karena kondisiku yang baik baik saja." Ucap Leon.
" Apa maksudmu Mas?" Dane menatap Leon sambil mengerutkan keningnya.
" Aku mau perhatian yang kau berikan padaku beberapa hari ini, tetap kau berikan padaku selamanya. Aku tidak mau berubah seperti sebelumnya yang selalu cuek dan membenci diriku." Ujar Leon merapikan anak rambut Dane.
" Apa kau masih berpikir kalau aku berubah karena mengasihanimu?" Tanya Dane.
" Aku hanya tidak percaya diri saja Dane, aku tidak mau terlalu...
" Tapi setidaknya kau bisa percaya padaku kan? Bukan malah meragukan aku seperti ini." Ucap Dane kesal.
" Sudahlah aku mau istirahat, kau merusak moodku saja." Ucap Dane menyembunyikan tubuhnya di dalam selimut.
" Sayang maafkan aku! Bukan aku meragukanmu tapi aku meragukan diriku sendiri." Ujar Leon.
Tidak ada sahutan dari Dane. Leon menghela nafasnya pelan.
" Bodohnya kau Leon.... " Gumam Leon merutuki kebodohannya sendiri.
Sore hari Dane keluar dari kamarnya, ia berjalan jalan di taman sekitar hotel. Tiba tiba tatapannya menangkap sosok yang sangat ia kenal.
" Zian... " Gumam Dane.
Dane menatap Zian yang sedang bersama seorang wanita yang saat ini duduk di kursi roda. Siapa lagi kalau bukan Feni, sahabat sekaligus selingkuhan Zian. Tanpa sengaja Zian menoleh menatap ke arahnya.
" Dane." Ucap Zian.
Zian mendorong kursi roda Feni menghampiri Danesha. Danesha menghirup udara dalam dalam untuk meredakan emosinya.
" Dane kau ada di sini?" Tanya Zian menatap Dane. Begitupun dengan Feni.
" Kenapa? Memangnya hanya kau saja yang bisa berada di sini?" Dane balik bertanya.
Dane menatap Feni dengan senyum remeh.
__ADS_1
" Ternyata pelakor sudah mendapat azabnya sebelum aku membalasnya, syukurlah aku tidak perlu repot repot membuang tenaga dan waktuku untuk membalas sakit hatiku padamu." Ucap Dane menohok hati keduanya.
" Dane maafkan aku! Aku yang salah, tolong jangan menyalahkan Feni akan hal ini. Saat ini dia sedang sakit, aku tidak mau dia banyak pikiran." Ucap Zian.
" Ya kau benar, aku memang tidak boleh menyalahkan Feni karena ini bukan salahnya. Tapi salahku." Sahut Dane.
" Ini salahku karena telah memberikan kepercayaan pada kalian berdua yang ternyata seorang pengkhianat." Ucap Dane menunjuk keduanya.
" Tapi aku bersyukur karena aku tahu sebelum pernikahan kita, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku mengetahuinya setelah kita menikah. Itu pasti akan terasa sakit." Sambung Dane.
" Tapi pada kenyataannya kau belum bisa move on dariku kan? Hanya aku yang kau cintai Dane." Ucap Zian.
Dane tersenyum remeh menatap Zian.
" Percaya diri sekali kau Zian, apa kau pikir aku akan menjaga cintaku untuk pria sepertimu? Tidak Zian... Aku tidak sebucin itu denganmu. Apa kau tidak melihat berita pernikahanku yang terekspos di semua sosial media?" Dane menatap Zian yang nampak terkejut.
" Kau.. Kau sudah menikah?" Tanya Zian tidak percaya.
" Ya, setelah kepergianmu aku bertemu dangan seseorang yang kembali mencuri hatiku. Dia memberikan cinta, perhatian dan kasih sayangnya padaku melebihi dirinya sendiri. Hingga pada akhirnya kamu memutuskan untuk menikah. Dan ya, saat ini kami sedang mengadakan acara babbymoon untuk pernikahan kami." Ujar Dane percaya diri.
" Babbymoon? Apa kau sedang hamil?" Tanya Feni menatap Dane.
" Ya, aku sedang hamil enam minggu, bagaimana dengan dirimu? Bukankah kalian sudah empat bulan menikah?" Tanya Dane.
Feni menatap Zian dengan sedih. Tiba tiba air mata menetea begitu saja di pipinya.
" Maafkan aku Dane, karena perbuatanku merebut Zian darimu aku mendapat musibah. Satu bulan lalu aku mengalami kecelakaan yang menyebabkan kakiku lumpuh. Dan aku tidak bisa mengandung karena rahimku rusak akibat kecelakaan itu Dane. Hiks... Aku minta maaf padamu. Aku menyesali perbuatanku." Ucap Feni.
" Wah miris sekali hidupmu Feni, tujuanmu merebut Zian dariku untuk bahagia. Tapi apa yang kau dapat? Hanya penderitaan saja. Aku turut prihatin atas apa yang menimpamu saat ini, tapi sorry... Kalau untuk memaafkanmu aku tidak bisa. Pengkhianatan kalian lebih menyakitkan daripada keadaanmu saat ini." Ucap Dane.
" Aku mohon Dane, maafkan aku!" Ucap Feni.
" Sayang kamu di sini." Ucap Leon menghampiri Dane.
Leon menatap Zian dan Feni lalu..
" Kamu."
" Kamu."
Nah loh...
Tinggalkan like koment vote dan 🌹yang banyak ya...
Terima kasih...
Miss U All...
TBC...
__ADS_1