Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
Bhonchap


__ADS_3

Hari ini adalah hari ulang tahun Divya yang pertama. Gavin mengundang seluruh anak anak yang tinggal di kompleks rumahnya. Ia juga mengundang anak anak para koleganya membuat acara nampak sangat ramai dan meriah.


Danesha membawa anak laki lakinya yang hampir seumuran dengan Divya yang bernama Daniel Roberto. Begitupun dengan Sandia yang membawa babby kecilnya yang berusia lima bulan yang bernama Lorenzo Mahardika.


Tak lupa Ruhi dan Geral juga datang, walaupun mereka belum memiliki anak tapi saat ini Ruhi sedang hamil tujuh bulan. Mereka menghampiri Divya yang di gendong oleh Vania.


" Selamat ulang tahun sayang, doa terbaik untukmu." Ucap Sandia mencium pipi Divya.


" Terima kasih Aunti." Sahut Vania.


" Selama tulang tahun cantik, semoga panjang umur dan jadi anak sholehah." Ucap Ruhi.


" Amin, terima kasih Aunti."


Begitupun dengan yang lainnya, mereka nampak mengucapkan selamat dan memberikan doa terbaik kepada Divya.


Setelah acara potong kue selesai, keluarga Gavin berkumpul di meja VIP khusus keluarga sedangkan Gavin dan Vania menyambut tamu di depan sana.


" Ruhi perut kamu udah kelihatan besar banget, pasti sebentar lagi debaynya lahir ya." Ucap Sandia.


" Kurang dua bulan San, mungkin memang debaynya besar kali ya." Sahut Ruhi.


" Lhoh berarti masih tujuh bulan donk, masa: tujuh bukan udah gedhe gitu sih Hi. Jangan jangan anak lo kembar lagi." Ucap Sandia.


Ruhi dan Geral saling melempar pandangan.


" Enggak lah San, cuma debaynya memang besar, kemarin USG udah mencapai dua setengah kilo." Sahut Ruhi. Sandia mengangguk anggukkan kepalanya.


" Udah tahu jenis kelaminnya belum?" Tanya Danesha.


" Belum, Mas Geral nggak mau tahu jenis kelaminya sebelum dia lahir. Biar buat kejutan katanya." Ujar Ruhi melirik Geral.


" Biar itu menjadi rahasia Tuhan sayang, apapun jenis kelaminnya aku akan tetap menyayanginya selamanya." Ujar Geral.


Tak lama Leon berjalan menghampiri mereka dengan menggendong jagoan tampannya.

__ADS_1


" Sayang sepertinya Daniel haus deh, kamu susui dia dulu gih! Kasihan dia kehausan." Ucap Leon memberikan Daniel pada Danesha.


" Ya udah aku ke kamar dulu." Pamit Danesha.


Leon duduk di samping Rangga yang sedang memangku Lorenzo.


" Hai Renzo, semakin hari pipi kamu semakin chubby sih. Bikin Om gemes aja pengin cubit tuh pipi kamu. Wajah kamu mirip banget sama mama kamu, menang banyak kamu San." Ucap Leon mencubit pelan pipi Renzo.


" Ha a a a a." Oceh Renzo.


" Iya donk pipi Renzo chubby, kan asi mamanya sehat jadi Renzo cepat tumbuh besar. Kalau masalah wajah, biasanya anak laki laki lebih mirip mamanya kan daripada papanya. Anak lo aja mirip Danesha nggak mirip lo." Sahut Rangga membuat Leon nyengir.


" Biar dia mirip mamanya aja, kalau mirip papanya bisa bahaya. Nanti kalau dia besar malah jadi penerus papanya kan bahaya." Uajr Geral.


" Penerus papanya gimana maksud lo?" Tanya Leon menatap Geral.


" Apalagi kalau bukan seorang cassanova."


" Sialan lo. Nggak akan gue biarin anak gue jadi seperti itu. Gue akan didik dia dengan benar, dan mengajarinya cara menghormati wanita dengan benar." Ucap Leon bangga.


" Udah ah kalian ini apa apaan sih." Ujar Ruhi.


" Oh ya, dari tadi aku tidak lihat Gava. Dimana dia?" Tanya Leon mengamati sekitar mencari Gava


" Sepertinya tadi di gendong sama mama deh, paling mereka menyambut tamu di depan sana." Sahut Sandia.


" Coba kamu cari dulu sayang! Takutnya nanti Gava nggak sama mama. Kan bisa berabe kalau Gava hilang, apalagi di sini banyak orang." Ujar Rangga menatap Sandia.


" Ya udah aku cari dulu deh." Ujar Sandia beranjak dari tempatnya.


" Kak Leon kapan mau kasih adek buat Daniel? Gava aja dulu umur setahun lebih dikit udah punya adik lhoh. Jangan kalah lah sama kak Gavin." Ujar Ruhi menggoda Leon.


" Stt diam saja! Kakak lagi membujuk Danesha untuk hamil lagi." Ujar Leon lirih.


" Wah gercep emang, emang udah siap membagi waktu untuk tiga orang." Ujar Rangga.

__ADS_1


" Siaplah, gue selalu jadi suami dan bapak siaga kok selama ini, jadi nambah satu nggak akan repot." Ujar Leon.


Ya selama ini Leon menjadi suami yang baik. Ia selalu membantu pekerjaan Danesha seperti memandikan Daniel, menyuapi Daniel bahkan ia juga sering mengerjakan pekerjaan rumah.


" Gue aja besok kalau anak kami berusia satu tahun, gue bakal buat Ruhi hamil lagi. Gue juga nggak mau kalah dari Gavin dan Leon." Ucap Geral membuat Ruhi melongo membulatkan matanya.


" Gimana sayang? Mau kan?" Tanya Geral menatap Ruhi.


" Aku nggak mau! Aku mau membesarkan anak kita sampai dia besar. Aku mau hamil lagi kalau anak kita udah masuk sekolah dasar." Sahut Ruhi.


" Terus ngapain kamu ngomporin Leon untuk membuat Danesha hamil lagi Ruhi, kalau kamu sendiri saja tidak mau. Aku yakin Danesha pun tidak akan mau, dia pasti berpikiran sama sepertimu." Ujar Geral.


" Ya aku suka aja punya banyak ponakan lucu karena aku nggak mengurus mereka, nah kalau anak sendiri kan aku yang urus. Bakal repot banget nanti Mas, bisa bisa aku nggak bisa makan ataupun sekedar ke kamar mandi." Sahut Ruhi kesal.


" Babby sister banyak sayang, tinggal sewa babby sister buat merawat anak kita. Gampang kan." Ujar Geral.


" Aku nggak mau anakku di asuh oleh babby sister, aku maunya anakku aku besarkan sendiri dengan penuh kasih sayang dan cinta. Aku tidak bisa membagi kasih sayangku saat mereka masih sama sama kecil Mas. Kalau sudah sekolah kan agak mendingan, udah nggak terlalu bergantung pada ibunya lagi." Sahut Ruhi.


" Iya iya deh, bumil memang selalu benar." Sahut Geral mengalah.


" Harus." Sahut Ruhi.


Sandia, Vania dan Gavin berjalan menghampiri mereka lalu duduk di kursi yang tersisa. Gavin memangku Gava sedangkan Vania memangku Divya.


" Papa mau makan itu." Ucap Gava menunjuk kue yang di hidangkan untuk tamu.


" Baiklah ayo ambil!" Gavin menuntun Gava menuju meja makanan.


" Kalau di lihat lihat Gava sama Divya jadi seperti anak kembar ya Kak." Ujar Sandia menatap punggung Gava.


" Iyalah orang jarak mereka dekat. Nggak sampai dua tahun juga." Sahut Vania.


" Coba besok kalau Gava, Divya sama Renzo udah besar terus suruh jalan bareng, pasti mereka di kira kembar tiga. Apalagi badan mereka hampir sama kan." Ujar Vania.


" Iya Kak kau benar. Aku tidak menyangka besok kita akan selalu bersama dari mulai mereka sekolah taman kanak-kanak sampai mereka masuk ke perguruan tinggi. Benar benar menakjubkan. Semoga hubungan keluarga kita selalu harmonis seperti ini. Semoga kita selalu hidup bahagia dalam lingkup yang sama." Ucap Sandia.

__ADS_1


" Amin." Ucap semuanya.


__ADS_2