
Danesha kembali ke ranjang, ia kembali pura pura tidur. Pikirannya berkelana kemana mana memikirkan apa yang sebenarnya terjadi kepada suaminya.
Leon keluar dari kamar mandi. Nampak ia mengambil sesuatu dari laci lalu meminumnya. Ia naik ke atas ranjang merebahkan tubuhnya di samping Danesha. Ia memeluk Danesha dari belakang lalu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Danesha.
Tak lama terdengar dengkuran halus dari Leon. Perlahan Danesha meletakkan tangan Leon ke bantal, ia beringsut turun dari ranjang. Danesha membuka laci yang tadi di buka oleh Leon. Ia menemukan beberapa butir obat dan sebuah kertas hasil pemeriksaan. Ia segera membacanya.
" HIV?" Gumam Danesha.
" Ya Tuhan... Leon terkena virus HIV? Tidak... Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa Leon terkena HIV? Dia terlihat sehat dan biasa biasa saja. Dia tidak terlihat seperti orang sakit. Ini tidak boleh terjadi! Aku tidak mau kehilangan dia. Anakku masih sangat membutuhkan kasih sayangnya. Ya Tuhan tolong sembuhkan suamiku. Sepertinya sakitnya masih belum parah. Aku harus memberikan pengobatan terbaik untuknya." Batin Danesha membekap mulutnya agar tidak mengeluarkan suara.
Entah mengapa rasanya begitu sedih mengetahui Leon terserang virus mematikan itu. Danesha mengembalikan hasil pemeriksaan ke laci. Ia menuju balkon kamarnya lalu menelepon Geral untuk meminta bantuannya. Dengan cepat Geral menyanggupinya.
Danesha naik ke atas ranjang, ia menatap wajah Leon yang nampak sembab.
" Kasihan kamu Mas." Lirih Danesha.
" Mas? Boleh juga dengan panggilan itu." Sambung Danesha tersenyum sendiri.
" Aku harus membantu kesembuhannya. Aku tidak boleh membuatnya stress dengan memikirkan kebencianku. Aku akan memberitahunya jika aku tidak membencinya. Aku rasa ini hanya bawaan bayi saja. Aku akan memberikan dia suport supaya dia bisa segera sembuh dari penyakitnya. Semoga ada keajaiban yang Tuhan turunkan untuk kesembuhanmu Mas." Ujar Danesha mengelus elus kening Leon.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini saat Leon membuka matanya ia merasa heran dengan sikap Danesha. Tiba tiba Danesha bersikap lembut padanya.
" Pagi Mas." Sapa Danesha tersenyum manis.
Leon melongo, ia mengucek kedua matanya lalu mencubit pipinya sendiri. Ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
" Aku sudah menyiapkan air hangat untuk kamu mandi, aku akan menyiapkan baju ganti untukmu juga." Ucap Danesha masuk ke ruang ganti.
" Apa yang terjadi dengannya? Apa dia salah minum obat? Atau dia salah mengira orang?" Gumam Leon menggaruk kepalanya.
" Kenapa belum mandi Mas? Buruan mandi! Kau ada pertemuan pagi ini." Ujar Danesha menatap Leon.
" Mas? Air hangat? Baju ganti?" Leon mengerutkan keningnya.
" Apa kepalamu terbentur sesuatu? Kau tidak sedekat itu denganku Dane." Ujar Leon.
Danesha mendekati Leon, ia duduk di tepi ranjang sambil menatap Leon.
" Itu sebabnya aku ingin dekat denganmu. Aku minta maaf padamu, selama ini aku selalu bersikap buruk padamu. Bukan karena aku menyimpan kebencian untukmu, tapi mungkin lebih ke bawaan bayi kita saja yang tidak mau di dekati oleh papanya." Ucap Danesha.
" Tapi mulai hari ini aku ingin menjadi istri yang baik untukmu. aku ingin mengukir kenangan indah bersamamu mulai hari ini. Dan kita akan bahagia selamanya di akhir nanti." Ujar Danesha.
"Ya kau benar Dane, kita memang membutuhkan waktu untuk mengukir kenangan indah. Karena aku tidak tahu sampai kapan aku mampu mengukir kenangan itu. Setidaknya kau memiliki kenangan indah bersamaku untuk kau ceritakan pada anak anak kita nanti." Batin Leon meneteskan air mata.
" Mas kau menangis." Ujar Danesha mengusap air mata yang menetes di pipi Leon.
__ADS_1
Leon menggenggam tangan Danehsa, keduanya saling melempar pandangan.
" Aku bahagia sayang. Aku sangat menantikan hari ini tiba, hari dimana kau menerimaku dalam hidupmu. Walaupun kau belum bisa membalas perasaanku setidaknya kau tidak menutup hatimu untukku. Aku mencintaimu." Ucap Leon mencium tangan Danesha.
" Kau memang harus bahagia Mas. Sekarang mandilah! Aku akan menyiapkan sarapan untukmu." Ucap Danesha.
" Baiklah, terima kasih." Leon turun dari ranjang.
Tiba tiba ia mendekatkan wajahnya ke wajah Danesha lalu..
Cup..
Leon mengecup pipi Danesha lalu ia masuk ke kamar mandi. Danesha menyentuh pipinya, ada yang berdesir dalam hatinya.
" Kenapa dengan hatiku? Rasanya nyaman sekali saat Leon menciumku." Ujar Danesha dalam hati.
Danesha turun ke bawah menyiapkan sarapan untuk Leon. Tak lama Leon datang menghampirinya.
" Masak apa hari ini sayang?" Tanya Leon duduk di kursinya.
" Aku hanya masak capcay sayur aja. Aku tidak bisa masak yang berbau amis, karena aku mual mencium aromanya." Sahut Danesha.
" Tidak masalah, apa pun yang kau masak aku pasti akan memakannya. Hari ini adalah hari istimewa bagiku. Terima kasih untuk hari ini." Ucap Leon di balas anggukkan kepala oleh Danesha.
Mereka makan dengan khidmat.
Danesha menatapnya lalu menerima suapan Leon. Leon tersenyum ke arahnya. Selesai makan, Leon berangkat ke kantor sedangkan Danesha kembali ke kamarnya. Ia menelepon Geral untuk membuat janji dengan dokter yang akan menangani Leon.
Di kamar Geral, ia sedang duduk di balkon menerima telepon dari Danesha.
" Dokter Jonson yang akan menangani Leon, kau pastikan saja Leon bersedia berobat dengannya. Setelah Leon mau, Kakak akan membuat jadwal penerbangan kita ke Singapura." Ujar Geral.
" Aku akan membujuknya Kak, untuk saat ini aku dia belum tahu kalau aku mengetahui tentang penyakitnya. Tapi akan aku pastikan tiga hari lagi kita bisa terbang ke sana. Semoga penyakit Leon masih bisa di tangani Kak." Ujar Danesha di sebrang sana.
" Apa kau takut kehilangannya? Apa kau mulai mencintainya?" Tanya Geral.
" Aku tidak tahu Kak, entah cinta ataupun apa itu yang jelas aku tidak mau kehilangannya. Aku mau dia selalu bersamaku selamanya." Sahut Danesha.
" Rupanya adikku kembali jatuh cinta."
" Sama sepertimu Kak." Sahut Danesha memotong ucapan Geral.
" Kau benar, aku sangat mencintai istriku." Ucap Geral menatap Ruhi yang sedang menyuguhkan teh hangat untuknya.
" Aku bahagia jika kau bahagia Kak, semoga Ruhi segera membalas cintamu." Ujar Danesha.
Geral menarik tangan Ruhi hingga jatuh ke pangkuannya. Ruhi melotot menatap Geral, Geral justru membalasnya dengan senyuman.
__ADS_1
" Amin.. Kakak juga selalu berdoa seperti itu." Sahut Geral merangkul pinggang Ruhi.
Geral mengalungkan tangan Ruhi ke lehernya agar tidak jatuh.
" Ya sudah Kak, aku akan menelepon Kakak lagi kalau aku sudah berhasil membujuk Leon." Ucap Danesha.
" Oke." Sahut Geral mematikan sambungan teleponnya.
Geral meletakkan ponselnya di atas meja, Ruhi hendak beranjak namun Geral justru mengunci pergerakanya.
" Mau kemana sayang hmm?" Geral menempelkan hidungnya di pipi Ruhi.
" Minggir! Lepaskan aku!" Ruhi mendorong wajah Geral agar menjauh.
" Kenapa sayang? Aku suamimu, aku berhak melakukannya kan?" Ujar Geral.
" Aku nggak sudi di cium oleh buaya sepertimu, apalagi di pangku seperti ini. Entah berapa wanita yang sudah kau perlakukan seperti ini." Sinis Ruhi.
" Hei tidak ada sayang, aku tidak pernah dekat dengan wanita manapun. Aku..
" Lalu bagaimana dengan Ratna? Kau juga melakukan hal yang sama dengannya." Sahut Ruhi memotong ucapan Geral.
" Itu hanya musibah sayang, maafkan aku!" Ucap Geral.
" Aku akan memaafkanmu asalkan kau mau mengembalikan pekerjaanku mengajar di sekolah itu."
" Tidak bisa." Sahut Geral cepat.
" Kalau begitu aku tidak mau memaafkanmu." Sahut Ruhi mengancam.
" Sayang jangan seperti itu donk! Aku tidak mau kamu capek capek kerja cari uang." Ujar Geral.
" Apalagi dekat sama Galang." Lanjut Geral dalam hati.
" Ya udah lah lepaskan aku! Aku bisa mencari pekerjaan yang lain tanpa bantuanmu." Ruhi beranjak dari pangkuan Geral.
" Kau mau bekerja apa sayang?" Tanya Geral menatap Ruhi.
" Jadi babby sister anaknya duda tampan, siapa tahu aku bisa menikah dengan bapaknya." Ucap Ruhi meninggalkan Geral.
" Apa????"
TBC...
Baca dan dukung karya author yang lain ya...
Terima kasih...
__ADS_1