
Sinar matahari masuk ke dalam kamar Vania melalui celah celah korden. Ia membuka matanya tiba tiba kepalanya terasa pusing dan perutnya mual. Ia segera berlari ke kamar mandi.
Huek...
Vania memuntahkan cairan bening ke wastafel. Gavin yang mendengarnya segera menghampirinya.
" Sayang." Gavin memijat tengkuk Vania dengan pelan.
Huek...
Di rasa agak mendingan, Vania membasuh mulutnya dengan air bersih. Gavin mengelapnya dengan tisu.
" Mas aku tuh lagi muntah, kamu nggak usah ke sini. Jijik tahu Mas." Ujar Vania.
" Kenapa jijik? Kau begini karena aku sayang, karena anak kita." Ucap Gavin mengelus perut Vania.
Gavin berlutut di depan Vania. Ia mengelus elus perut Vania dengan pelan.
" Sayangnya Papa, jangan nakal ya! Kasihan mama kamu pagi pagi gini udah muntah muntah. Mana harus mengurus Papa sama abangmu lagi. Baik baik yang di dalam sini, jangan menyusahkan mama kamu. Mending susahin papa aja, apapun keinginanmu akan papa berikan sayang." Ujar Gavin mencium perut rata Vania.
Melihat semua itu tak terasa air mata Vania menetes begitu saja. Gavin mendongak menatapnya saat air mata Vania jatuh membasahi dahinya.
" Sayang kenapa kamu menangis hmm? Apa ada yang sakit?" Tanya Gavin mengusap air mata Vania.
Vania menggelengkan kepalanya.
" Lalu kenapa kau menangis? Apa ada kata kataku yang menyakitimu?" Gavin kembali bertanya.
Vania menganggukkan kepalanya.
" Maafkan aku sayang! Tapi kata kata mana yang membuatmu sakit?" Gavin menatap Vania yang saat ini mengusap air matanya.
" Kata kata dan perhatianmu membuatku merasakan sakit Mas. Dulu saat aku hamil Gava, aku sangat menantikan perhatian dan kata kata itu darimu. Aku ingin semua keinginanku kau yang menurutinya. Saat aku ingin makan, aku ingin kau yang menyuapinya. Saat aku ingin tidur, aku ingin kau memelukku. Tapi aku tidak pernah mendapatkannya hiks... " Isak Vania.
Gavin menarik Vania ke dalam pelukannya.
" Maafkan aku sayang! Aku juga ingin seperti itu. Setelah aku menyadari perasaanku aku mencarimu kemana mana tapi aku tidak bisa menemukanmu. Aku tidak tahu jika Leon punya saudara di Jawa. Kalau aku tahu, aku pasti sudah menjemputmu saat itu juga sayang. Aku pasti akan menuruti semua keinginanmu. Maafkan aku sayang! Aku berjanji aku akan menuruti semua permintaanmu, aku ingin menebus semua keinginanmu saat hamil Gava saat ini." Ucap Gavin.
" Sekarang jangan bersedih lagi! Katakan kamu ingin makan apa? Atau kamu mau beli sesuatu? Aku akan membelikannya." Ujar Gavin menangkup wajah Vania.
Vania menggelengkan kepalanya.
" Aku hanya ingin cinta, perhatian dan kasih sayangmu hanya untukku. Apa kau bisa memberikannya?" Tanya Vania.
" Aku akan memberikan semuanya untukmu. Saat ini kau lah prioritas utamaku setelah Gava tentunya sayang." Ujar Gavin.
" Tidak mau!!! Aku mau kau menjadikan aku prioritas utamamu, aku ingin kamu lebih mendahulukan aku daripada Gava." Ucap Vania merengek membuat Gavin heran dengan sikap Vania saat ini.
" Mungkin ini yang dinamakan bawaan bayi. Aku harus menurutinya kalau tidak dia pasti akan marah." Batin Gavin.
" Mas." Ucap Vania mengguncang lengan Gavin.
__ADS_1
" Iya sayang, aku akan menjadikanmu prioritas utamaku." Ucap Gavin.
" Janji?" Vania mengacungkan jari kelingkingnya.
" Janji." Ucap Gavin menautkan jari kelingkingnya. Ia terkekeh melihat sifat Vania.
" Ya sudah sekarang ayo istirahat di ranjang, aku akan membuatkan minuman hangat untukmu." Ujar Gavin.
" Gendong." Ucap Vania manja.
" Manja." Ucap Gavin mencubit pelan hidung Vania.
" Ya udah kalau nggak mau." Ucap Vania cemberut.
Vania hendak melangkah tiba tiba...
" Argh." Pekik Vania saat tubuhnya terasa melayang karena Gavin menggendongnya.
Gavin merebahkan tubuh Vania di atas ranjang dengan pelan. Ia tidak mau mengganggu Gava yang sedang tidur.
Cup...
Gavin mengecup kening Vania.
" Aku buat minuman dulu." Ucap Gavin.
" Aku mau susu hamil rasa stoberry Mas." Ucap Vania.
" Baiklah akan aku belikan sekarang juga." Sahut Gavin.
" Iya, sama apa lagi?" Tanya Gavin menatap Vania.
" Tapi aku ingin minum es boba Mas. Kamu beliin sekalian ya." Ucap Vania lagi.
" Iya aku belikan, kamu tunggu di sini ya." Ucap Gavin keluar kamar.
Saat Gavin hendak membuka pintu, Vania kembali menghentikannya.
" Mas nggak jadi, aku pengin minum susu jahe saja biar nggak mual. Susu hamilnya besok aja." Ucap Vania.
Gavin menghela nafasnya pelan. Ia harus menyiapkan stok kesabaran mulai saat ini.
" Sekarang mau minum susu jahe apa susu hamil stroberi?" Tanya Gavin memastikan.
" Susu jahe saja Mas, tapi kalau ada yang rasa kopi." Ucap Vania nyengir kuda.
" Itu namanya kopi jahe sayang, mau yang mana?" Gavin bertanya lagi.
" Terserah kamu mau buatin yang mana lah Mas, pasti aku minum." Sahut Vania.
" Baiklah, aku buatkan kopi jahe saja kalau begitu. Sesuai keinginan terakhir." Ucap Gavin keluar kamarnya menuju dapur.
__ADS_1
Lima menit Gavin kembali dengan membawa sandwich dan secangkir kopi jahe untuk Vania.
" Ini sayang kopi jahenya, langsung di minum sebelum dingin biar perutmu hangat dan nggak mual lagi." Ujar Gavin memberikan kopi itu.
Vania segera mencecapnya tiba tiba...
" Nggak mau! Nggak enak." Vania memberikan kopi itu pada Gavin.
" Masa' sih sayang? Ini kopi jahe yang biasa kamu minum." Ujar Gavin.
" Pokoknya aku nggak mau Mas, rasanya nggak enak. Aku mau minum teh hangat saja." Ucap Vania.
" Baiklah sayang akan aku buatkan." Ucap Gavin kembali ke dapur.
Setelah selesai membuat teh, ia kembali ke kamarnya lalu memberikan teh itu kepada Vania.
Belum juga Vania meminumnya tiba tiba perutnya sudah mual hanya karena mencium aroma teh dan melati dari teh yang di buat Gavin.
Vania kembali muntah muntah di kamar mandi.
" Astaga sayang... Sebenarnya apa maumu sih? Ini salah itu salah." Ucap Gavin memijat tengkuk Vania.
" Aku juga tidak tahu Mas. Ini kemauan anak kamu, bukannya tadi kamu bilang jangan menyusahkan mama tapi susahkan papa saja? Anakmu menuruti kemauanmu kan." Ujar Vania.
" Tapi buktinya kamu muntah juga." Sahut Gavin.
" Aroma teh itu membuatku mual Mas. Udah lah aku nggak mau minum apapun daripada muntah lagi." Ucap Vania.
" Nanti kamu akan kekurangan cairan sayang. Di coba dikit dikit aja, kalaupun muntah setidaknya ada yang di keluarkan dari perutmu kan." Ujar Gavin.
" Iya Mas, aku mau coba minum jus aja. Jus jeruk kali ya Mas." Ucap Vania.
" Baiklah aku buatkan dulu." Sahut Gavin.
Gavin menuntun Vania menuju ranjangnya. Ia kembali ke dapur membuat jus jeruk untuk istrinya dengan penuh cinta.
" Dedek sayang... Jangan rewel ya! Minum. jus ini dengan baik, jangan di muntahkan lagi." Ucap Gavin sambil membawa jus jeruknya ke kamar.
Sungguh ajaib, saat Vania meminum jus itu perutnya tidak terasa mual. Bahkan sampai ia menghabiskannya. Gavin tersenyum melihat semua itu.
" Ternyata anakku memang pintar, lain kali kalau membuatkan apa apa harus di bilangi dulu biar tidak muntah." Batin Gavin.
Kita nikmati masa masa ngidam Vania ya..
Jangan lupa tekan like koment vote dan aksih 🌹yang banyak buat author...
Author punya cerita baru... Mohon doa dan dukungannya semoga sukses seperti yang lainnya...
Terima kasih...
Miss U All...
__ADS_1
Baca ya....