Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
Ujian Cinta 2


__ADS_3

" Tadi pagi tiba tiba dia menghubungi Ibu, dan dia bertanya kapan kamu akan menikahinya?"


Prank......


Rangga dan bibi Tuti menoleh ke arah pintu dan...


Deg...


" Sandia." Gumam Rangga.


Sandia membalikkan badannya hendak meninggalkan kamar Rangga namun Rangga mencekal tangannya. Niat hati mau mengajak Rangga minum jus berdua justru ia mendapat kejutan yang laur biasa baginya.


" Sayang jangan salah paham!" Ucap Rangga.


Sandia menatap membalikkan badannya Rangga.


" Apa ada yang ingin kau jelaskan di sini? Aku harus membersihkan pecahan belingnya sebelum melukai orang." Ucap Sandia.


" Mas yakin kau mendengar ucapan ibu, Mas ingin menjelaskan tentang hal itu." Ujar Rangga.


" Baiklah jelaskan saja!" Sahut Sandia.


" Mas akan membersihkan ini dulu." Ucap Rangga berjongkok hendak memunguti beling.


" Biarkan ibu yang membersihkannya Nak, ajak Sandia ke gazebo saja. Di sana kalian lebih enak ngobrolnya." Ujar bibi Tuti.


" Iya Bu, terima kasih." Sahut Rangga.


Rangga menarik tangan Sandia menuju gazebo belakang rumah. Di sana keduanya duduk berdampingan.


" Dulu Mas memang di jodohkan dengan Alifa, anak dari temannya bapak. Saat itu karena Mas tidak punya pacar maupun mencintai gadis lain, Mas menerimanya. Namun Alifa menolak dengan alasan dia sudah punya pacar. Sejak saat itu kami tidak lagi kontak kontak kan. Entah kenapa tadi pagi dia menghubungi Ibu dan menanyakan hal itu. Mas meminta padamu untuk tetap tenang dan percaya pada Mas sayang. Mas akan membicarakan ini pada Alifa, Mas akan memberitahunya kalau Mas sudah punya kamu. Kalau perlu kamu ikut menemuinya supaya kau percaya pada Mas." Ujar Rangga menggenggam tangan Sandia.


" Tidak usah lah Mas, aku di rumah aja. Itu urusanmu sama dia jadi aku tidak mau ikut campur. Kalau pun nanti kamu lebih memilih dia dengan suatu alasan, aku akan mengikhlaskannya." Ucap Sandia.


Sebenarnya hatinya berat untuk mengatakan itu tapi entah mengapa rasa takut akan kehilangan kembali menyeruak dalam hatinya.


" Mas bukan Leon sayang." Ucap Rangga seolah tahu isi hati Sandia.


" Apapun yang terjadi Mas tidak akan menikah dengannya, hanya kamu satu satunya wanita yang Mas inginkan. Untuk itu Mas mohon! Temani Mas menemui dia, Mas takut di jebak seperti di film film." Ujar Rangga.


" Emang Mas suka nonton film? Enggak kan?" Tanya Sandia.


" Enggak sih... Cuma menerka aja." Sahut Rangga tersenyum.


Sandia membalasnya dengan senyuman.


" Mau kan menemani Mas?" Tanya Rangga.


" Iya." Sahut Sandia menganggukkan kepala.


" Terima kasih sudah memberikan kepercayaan pada Mas sayang." Ucap Rangga.


" Mas yang lebih dulu memberikan kepercayaan padaku, jadi sekarang gantian." Sahut Sandia.


" Semoga cinta kita akan semakin kuat dengan adanya badai yang menghalang ini. Mas yakin ini semua ujian dari Tuhan untuk kita." Ujar Rangga.


" Iya Mas, by the way Alifa anak mana Mas?" Tanya Sandia.

__ADS_1


" Terakhir kontak sih dia ada di kota kembang, tapi entah sekarang. Nanti Mas tanyakan dulu sama ibu." Ujar Rangga.


Sandia menganggukkan kepala. Mereka melanjutkan mengobrol seputar persiapan lamaran dan pernikahan mereka.


Di kamar Gavin, ia sedang bermain dengan Gava di lantai yang beralaskan karpet bulu. Gava mulai bisa duduk sendiri walaupun belum kukuh.


" Mas, jagain di belakang donk! Nanti kalau Gava jatuh ke belakang gimana." Ujar Vania yang masuk sambil membawa sangkok bubur untuk Gava.


" Iya maaf sayang, saking asyiknya Mas lihatin dia jadi lupa deh. Maafin Papa ya sayang." Ucap Gavin mengelus kepala Gava.


" Oke Pa." Sahut Vania.


" Sekarang Gava makan dulu biar cepat besar." Ujar Vania.


" Ha... a... a... " Celoteh Gava sambil mengangkat kedua tangannya. Entah sedang apa dia.


" A' Sayang." Vania menyodorkan satu sendok kecil bubut bayi ke mulut Gava. Dengan tangkas Gava membuka mulutnya lalu menerima suapan dari Vania.


" Mam... Mam... " Celoteh Gava lagi.


" Anak Papa udah pintar bilang mamam." Ujar Gavin senang.


" Bentar lagi bisa ngomong minum nih." Ujar Gavin.


Vania tersenyum menatap Gavin.


Cup...


Mata Vania membukat saat Gavin mengecup bibirnya.


" Memangnya kenapa? Gava malah senang kalau kita kelihatan romantis sayang. Kalau nggak percaya tanyakan saja pada Gava!" Ujar Gavin.


Vania menggelengkan kepala sambil tersenyum. Ia merasa bahagia melihat Gavin yang seperti ini. Sangat jauh dari Gavin sebelum menyadari cintanya.


Vania menyuapi Gava dengan telaten sampai makanannya habis. Setelah itu mereka kembali menemani Gava bermain.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah menelepon Alifa, Rangga dan Sandia menuju cafe tempat mereka janjian. Ternyata Alifa sudah lama pindah ke ibukota.


" Mas, Alifa orangnya gimana?" Tanya Sandia menatap Rangga yang sedang menyetir.


" Dia seumuran dengan Mas sayang, dulu sih waktu kecil dia pendiam, entah kalau sekarang." Sahut Rangga.


" Oh.. " Gumam Sandia.


" Terakhir kami bertemu dulu saat kami kelas dua SMA, terus dia pindah ke kota B ikut ayahnya." Ujar Rangga.


" Sebentar deh Mas, kalau dia seumuran denganmu berarti perawan tua donk! Atau malah dia udah janda." Tebak Sandia.


" Kan tadi Mas udah bilang kalau Mas tidak tahu, kita lihat saja nanti." Sahut Rangga.


Setelah sampai di cafe, Rangga menggandeng tangan Sandia masuk ke dalam. Mereka menuju meja nomer lima di mana sudah ada wanita yang lumayan cantik di sana.


" Alifa." Ucap Rangga.


" Rangga."

__ADS_1


Grep...


Tiba tiba Alifa memeluknya.


" Alifa tidak baik seperti ini, apalagi di lihat banyak orang." Ucap Rangga mendorong tubuh Alifa dengan pelan.


" Maaf... Aku sangat merindukanmu." Ucap Alifa.


Alifa menatap Sandia.


" Ini adik kamu? Bukankah dulu kamu tidak punya adik?" Tanya Alifa memastikan.


" Kenalkan." Sandia mengulurkan tangannya.


Alifa membalas uluran tangannya.


" Calon istrinya Mas Rangga." Ucap Sandia penuh penekanan.


Alifa menatap Rangga dengan terkejut.


" Apa? Calon istri? Lalu aku?" Tanya Alifa masih menatap Rangga.


" Duduk dulu biar enakan bicaranya." Ujar Rangga.


Mereka duduk di kursi dimana Rangga dan Sandia duduk bersebelahan menghadap Alifa.


" Alifa maafkan aku! Dulu kamu sendiri yang menolak perjodohan ini. Dan kau hilang selama bertahun-tahun lamanya. Lalu kenapa sekarang kau datang menanyakan tentang perjodohan itu? Bukankah di usiamu yang sekarang seharusnya kau sudah menikah?" Tanya Rangga.


" Kau benar Rangga, aku memang sudah menikah lima tahun yang lalu. Awalnya kami hidup bahagia sampai suamiku meninggalkan aku bersama wanita lain satu bulan yang lalu. Kami sudah resmi bercerai saat ini. Apa kamu tahu kenapa aku memintamu untuk menikahiku?" Tanya Alifa.


Rangga menggelengkan kepala.


" Itu karena aku hamil Rangga."


Jeduar....


Tubuh Rangga dan Sandia terasa seperti di sambar petir.


" Suamiku tidak mau kembali padaku. Aku bingung Rangga, aku tidak bisa hidup sendiri merawat anak ini. Kamu pria yang sangat baik, aku berharap kau mau menikahiku dan menjadi ayah dari bayi ini. Aku mohon Rangga, aku rela menjadi yang kedua yang penting aku mendapatkan status demi anak ini Rangga."


Ucapan Alifa membuat Rangga dan Sandia terkejut.


" Kau gila Mbak!" Cebik Alifa.


" Rangga." Alifa menggenggam tangan Rangga.


" Bukankah kau berjanji di depan ayahku dan ayahmu untuk menjagaku? Aku menagih janji itu sekarang Rangga. Kau harus menikahiku demi aku dan anakku Rangga, aku mohon! Hanya kau yang aku punya di dunia ini sekarang. Aku tidak tahu harus meminta pada siapa lagi. Aku butuh topangan hidup Rangga, tidak mungkin aku bekerja dalam keadaan hamil muda seperti ini. Aku mohon hiks..." Ucap Alifa sambil terisak.


Bagaimana kelanjutannya? Apakah Rangga akan luluh?


Jangan lupa tekan like koment vote dan kasih 🌹dulu biar author semangat melakukan ceritanya...


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...


Miss U all...


TBC....

__ADS_1


__ADS_2