Pada Akhirnya Aku Menyerah

Pada Akhirnya Aku Menyerah
BAWAAN BAYI 2


__ADS_3

" Baiklah Mas yang salah, Mas minta maaf. Sebagai tanda permintaan maaf Mas, kamu mau apa?" Tanya Rangga menatap Sandia.


" Aku ingin...." Sandia menjeda ucapannya sambil memikirkan sesuatu.


" Ingin apa sayang hmm?" Tanya Rangga halus.


" Aku ingin Mas gendong aku sampai bawah, terus suapi aku makan, perutku lapar." Sahut Sandia.


" Uluh kasihan anak papa kelaparan ya, gara gara mama bobok terus dedek jadi kelaparan gini. Baiklah akan Mas lakukan, sekarang cuci muka dulu terus kita ke bawah." Ucap Rangga di balas anggukkan kepala oleh Sandia.


Sandia menuju kamar mandi, setelah mencuci wajahnya ia kembali menghampiri Rangga.


" Ayo! Mas gendong. Mau gendong di belakang apa depan ala bridal style? Biar kaya' menggendong tuan putri gitu." Ujar Rangga memberi penawaran.


" Bridal style." Sahut Sandia.


Rangga menggendong Sandia ala bridal style, Sandia mengalungkan tangannya ke leher Rangga. Ia menatap Rangga dengan penuh cinta.


" Mas ternyata Mas tampan juga kalau di lihat dari dekat gini." Ucap Sandia mengelus pipi Rangga.


" Kalau di lihat dari jauh gimana? Jelek ya?" Tanya Rangga.


" Enggak juga sih. Kamu tetap tampan mesti di lihat dari segi manapun." Sahut Sandia.


Rangga menuruni satu per satu anak tangga dengan hati hati.


" Suami siapa dulu? Suaminya nyonya Sandia Mahardika harus tampan dan baik hati donk!" Sahut Rangga.


" Hmm narsis." Gumam Sandia.


" Sekali kali nggak apa apa, lagian Mas tampan sejak lahir kok." Sahut Rangga. Ia berjalan menuju meja makan lalu menurunkan Sandia di meja makan.


" Tunggu di sini sebentar! Mas ambilkan makanannya dulu." Ucap Rangga.


Rangga mengambilkan makanan untuk Sandia. Nasi putih, bening bayam, ikan gurameh dan ayam goreng.


" Sekarang saatnya makan yang banyak, sarapan double makan siang biar dedeknya nggak kelaparan lagi." Ucap Rangga meletakkan makanan di meja depan Sandia.


" Kok nggak ada sambalnya Mas? Nggak enak lah Mas." Ujar Sandia.


" Nggak baik makan pedas untuk wanita hamil sayang, nanti kalau dedeknya kepanasan gimana? Mending makan ini aja, ini enak kok." Ujar Rangga.


" Mual Mas kalau makan ikan gini tanpa sambal." Ujar Sandia.


" Mas suapi pasti terasa nikmat dan di jamin tidak akan mual." Ujar Rangga.


Rangga menyuapi Sandia dengan telaten. Sandia makan dengan lahap tanpa memuntahkan makanannya.


" Pintar istri Mas ini." Ucap Rangga setelah Sandia menghabiskan makanannya.

__ADS_1


" Mas aku mau minum jus anggur campur susu sama es." Ucap Sandia.


" Oke sayang Mas akan buatkan untukmu." Sahut Rangga.


Rangga mulai membuat jus anggur sesuai permintaan Sandia. Sekitar sepuluh menit ia menyelesaikan pekerjaannya, Rangga segera membawa jus itu lalu mendekati Sandia.


" Astaga!!" Gumam Rangga saat melihat Sandia yang tertidur dengan kepala bersandar di lenganya di atas meja.


" Ya ampun... Benar benar jadi ratu tidur istriku ini. Makan aja belum minum udah tidur lagi." Ujar Rangga.


Rangga kembali menggendong Sandia ke kamarnya. Ia merebahkan Sandia di atas kasur lalu menyelimutinya. Ia mengambil ballpoint dan secarik kertas lalu menulis sesuatu di sana.


Mas kembali ke kantor. Jusnya Mas taruh di dalam kulkas. Kalau butuh apa apa telepon Mas saja.


Rangga mencium kening Sandia.


" Mas kembali ke kantor dulu sayang." Ucap Rangga. Setelah itu ia keluar dari kamarnya menuju ke mobilnya.


Rangga melajukan mobilnya menuju kantor. Ia bahkan melewatkan makan siangnya karena mengurus Sandia.


Di tempat lain, tepatnya di rumah Leon. Saat ini Danesha sedang melipat pakaiannya dan pakaian Leon lalu ia letakkan di almari. Tiba tiba terlintas dalam pikirannya ingin makan gado gado sama gulai kambing.


" Sepertinya enak nih makan dua menu itu. Aku ke resto aja ah sekalian lihat kinerja Risa di sana. Siapa tahu dia berbuat ulah dengan pekerja lainnya." Gumam Danesha.


Danesha mengambil kunci mobilnya, ia berjalan keluar rumah menuju parkiran. Danesha mulai melajukan mobilnya menuju resto dimana ia mempekerjakan Risa.


" Selamat siang Nyonya, kami senang anda datang kemari. Sudah lama sekali anda tidak ke sini, kami semua merindukan anda." Ucap salah satu pegawai wanitanya.


Danesha menghentikan langkahnya, ia menatap pegawai itu lalu tersenyum ke arahnya.


" Aku juga merindukanmu Lia. Kau benar sudah lama aku tidak kemari, tapi tidak ada yang berubah." Danesha mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru resto.


" Satu tahun lebih aku meninggalkan tempat ini dan berkutat di perusahaan kak Geral. Tapi tidak ada masalah ataupun kendala kan tentang operasional resto ini?" Tanya Danesha.


" Tidak Nyonya, semua aman terkendali. Anda punya asisten yang sangat luar biasa." Sahut Lia.


" Dimana pekerja baru yang bernama Risa?" Tanya Danesha.


" Dia sedang istirahat Nyonya." Sahut Lia.


" Bagaimana dia bekerja?" Danesha bertanya lagi.


" Baik, dia orangnya rajin, humble, dan suka membantu pekerjaan yang lainnya Nyonya." Sahut Lia.


" Syukurlah kalau begitu. Minta Juna untuk membuatkan gado gado dan gulai kambing untukku! Aku harap bahan bahannya tersedia di sini." Ucap Danesha.


" Ada Nyonya, akan saya sampaikan pada chef Juna. Kalau begitu saya permisi." Ucap Lia undur diri.


Danesha duduk di meja yang kosong, tak lama Maulana sangat asisten menghampirinya.

__ADS_1


" Tumben bos ke sini? Udah setahun lebih nggak kelihatan batang hidungnya." Ujar Maulana duduk di depan Danesha.


" Gue sibuk Lan, lo kaya' nggak tahu aja pekerjaan gue." Ujar Danesha.


" Ya, setelah lo sibuk di kantor sekarang lo sibuk di rumah nungguin suami lo pulang." Timpal Maulana.


" Ya enggak juga sih! Kadang gue masih ke kantor untuk memeriksa laporan laporan yang membutuhkan tanda tangan gue. Tapi tetap banyakkan di rumah juga sih. Jadi ibu rumah tangga gue." Ucap Danesha.


" Iya gue tahu." Sahut Maulana.


" Nyonya ini pesanannya." Lia meletakkan sepiring gado gado dan semangkok gulai ayam.


" Widih tumben tumbenan nih makan banyak." Ujar Maulana.


" Iya, gue lagi ngidam." Sahut Danesha.


" Apa? Beneran lo lagi ngidam? Cepet amat?" Ucap Maulana tidak percaya.


" Iyalah top cer, bibit premium gitu loh." Sahut Danesha.


" Ya udah gue mau makan dulu, oh ya Lia. Buatkan jus jeruk untukku ya, yang banyak esnya." Ucap Danesha.


" Baik Nyonya." Sahut Lia berlalu dari sana.


Danesha mulai memakan gado gadonya dengan lahap. Maulana yang melihatnya hanya bisa menelan kasar salivanya. Pasalnya Danesha makan seperti orang yang satu minggu tidak makan.


" Danesha lapar atau memang bawaan bayi ya? Makannya lahap amat, mirip orang puasa berhari hari." Batin Maulana menggelengkan kepala.


Setelah menghabiskan gado gado, Danesha memakan gulai kambingnya. Ia makan dengan khidmat tanpa mempedulikan Maulana di depannya. Setelah selesai ia segera meminum jusnya.


" Alhamdulillah kenyang." Ucap Danesha.


Maulana menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Tidak ada sepuluh menit, Danesha menghabiskan semua makanannya.


" Kenapa?" Tanya Danesha menatap Maulana.


" Heran aja, lo makan cepet banget. Doyan apa kelaparan?" Sindir Maulana.


" Kaya'nya doyan deh." Sahut Danesha.


" Busyet, emang bumil gitu ya? Makannya banyak." Ujar Maulana menatap Danesha.


Maulana tidak tahu saja jika ucapannya membuat Danesha tersinggung.


" Lo berani ngatain gue makan banyak? Lo gue pecat."


" Hah???"


TBC...

__ADS_1


__ADS_2